KETIKA CINTA
HARUS BERSABAR
Penulis :
Nurlaila Zahra
Pengantar
Ebook Novel ini layak
untuk dibaca, banyak hikmah/ibroh yang didapatkan. Semoga dengan banyaknya ebook
novel ini akan menjadikan tranformatif dakwah yang tanpa batas.
Satu
Ya
Rabbi, entah siapa yang tadi aku lihat. Malaikatkah? atau mungkin seorang alim
yang menjelma seperti Malaikat? Entahlah. Tapi yang pasti, hatiku langsung
berdetak kencang tatkala kedua mataku menatap tak sengaja wajah putih bersih
nan berwibawa itu yang sempat melintasi penglihatanku. Sampai sekarang, sosok
‘malaikat’ itu masih melekat dalam benakku.
Sore
tadi, Mama mengajakku kerumah salah seorang sahabatnya yang tengah sakit.
Awalnya aku menolak karena memang editan tulisanku belum selesai aku revisi kembali.
Besok lusa harus segera aku serahkan ke pihak penerbit untuk dipelajari dan
untuk selanjutnya di terbitkan menjadi sebuah buku novel yang siap untuk
dibaca.
Aku
seorang penulis novel yang memang belum terlalu termasyhur seperti
Habiburrahman El Shirazy, Azimah Rahayu, Helvy Tiana Rossa, dan masih banyak
nama-nama penulis lainnya yang menjadi penulis idolaku sekaligus menjadi
inspirasiku dalam menulis. Dua novelku sudah beredar di pasaran. Yang pertama
berjudul Kerlingan Hati dan yang kedua berjudul Episode Jingga.
Alhamdulillah kedua novelku itu laris manis di pasaran. Dan sekarang, aku
sedang menggarap novelku yang ketiga yang judulnya masih aku rahasiakan. Tapi
lagi-lagi karena mamaku tersayang mengajakku pergi menjenguk temannya yang
sedang sakit, jadilah aku merubah semua jadwalku duduk didepan komputer untuk
merevisi ulang novelku, untuk ikut mama pergi menjenguk temannya. Mau bilang
apa lagi? toh kalau mama sudah beralasan,”Dinda, nanti kalau sampai penyakit
mama kumat di jalan, bagaimana?”. Hfh…tak tega rasanya kalau sampai penyakit
asma mama kumat ditengah jalan. Semoga saja tidak.
Aku
berangkat bersama mama tepat setelah shalat Ashar kami tunaikan. Aku tidak
pernah tahu teman mama yang satu ini. Mama bilang dia itu bernama Ibu Rahayu.
Teman mama semasa kuliah dulu. Aku hanya mendengarkan mama bercerita banyak
tentang sahabatnya itu yang katanya lumayan cantik dan mempunyai seorang suami
yang juga tampan dan seorang anak laki-laki yang menurut mama sangat cocok
untuk dijadikan seorang menantu.
”Bu
Rahayu itu punya seorang anak laki-laki. Mama lupa namanya siapa. Tapi yang
pasti dia itu cocoklah untuk dijadikan seorang menantu”
Hfh…aku
hanya menghela nafas mendengar celotehan mama yang menurutku hanya sebuah
pengharapan seorang ibu yang menginginkan anak perempuannya segera menikah.
Menikah.
Semua gadis yang sudah cukup umur juga pasti berharap ingin segera mempunyai
pendamping hidup yang sesuai dengan kriterianya. Ya…minimal seseorang yang
baik, sholeh, bertanggung jawab, dan dapat menerima keadaan diri apa adanya.
Tapi kalau memang belum jodoh mau diapakan lagi? Aku hanya berharap seorang
yang soleh yang bersedia menjadi suamiku.
*
* *
Tepat disebuah rumah
bernuansa minimalis kami turun dari mobil yang aku kendarai sendiri. Diluar
sudah ada seorang perempuan paruh baya yang membukakan pintu rumah untuk kami.
Ibu itu lalu menyuruh kami masuk karena dia sudah tahu bahwa kami akan datang
untuk menjenguk Ibu Rahayu. Sekantong buah-buahan aku serahkan padanya. Diapun
segera mengantar kami memasuki kamar Bu Rahayu.
Di
dalam aku melihat seorang ibu yang sudah sedikit tua dengan wajah pucat pasinya
berbaring diatas tempat tidur berselimutkan kain yang sangat tebal. Kepalanya
ia tutup dengan sebuah kerudung pendek. Dialah Bu Rahayu. Senyumnya segera
menyambut kami ketika ia lihat wajah kami nampak dari balik pintu. Mama dan Bu
Rahayu segera berpelukan tatkala keduanya dipertemukan kembali setelah beberapa
tahun tidak bertemu. Tangis kebahagiaanpun membuncah disana. Aku hanya bisa
menatap mereka dengan penuh haru. Beberapa saat lamanya aku menjadi orang yang
terasing didalam kamar itu.
Tiba-tiba
Bu Rahayu menegurku dengan sapaan yang lembut. Tegurannya itu membuat aku
tersadar dari lamunanku.
”Ini
pasti Dinda ya?” Tanya Bu Rahayu.
”I..iya
bu..” Jawabku tergagap. Aku segera meraih tangannya dan kucium. Aku kembali
tersenyum padanya.
”Sudah
besar ya? Berapa usia kamu sekarang?” Tanya Bu Rahayu lagi yang membuat aku
ragu-ragu untuk menjawabnya.
”Ehm...27
tahun bu” Sahutku tanpa semangat yang membara. Entah mengapa setiap kali ada
seseorang yang menanyakan berapa usiaku, aku selalu menjawabnya tanpa mempunyai
semangat. Mungkin karena sampai sekarang aku belum juga menikah.
”Tahu
darimana Lis kalau aku sakit?” Tanya Bu Rahayu pada Mama. Aku menarik kursi
yang disediakan oleh ibu tua tadi sambil mendengar jawaban Mama.
”Dari
Rudi. Kebetulan kemarin aku bertemu dia di pasar. Dan dia bilang katanya kamu
sakit. Memang kamu sakit apa sih Yu?” Mama balik bertanya.
”Tahulah
Lis. Aku juga bingung sendiri dengan sakitku” Jawab Bu Rahayu dengan mata
berkaca-kaca. Sesaat kutangkap sepertinya ada yang mengganjal dalam hatinya.
Diapun mulai bercerita.
”Beberapa
hari yang lalu ada yang menawarkan seorang muslimah padaku untuk dijadikan
istri oleh anakku....”
”Oh
iya, mana anakmu itu? Kok tidak kelihatan? Siapa namanya?” Cerocos Mama
memotong pembicaraan Bu Rahayu. Bu Rahayu menghela nafasnya dan menjawab dengan
nada datar. Aku memperhatikannya dengan seksama.
”Anakku
itu bernama Yusuf Abdul Fattah. Masa kau lupa sih Lis?”
”Oh
iya! Maaf..maaf, namanya juga orang tua. Lanjutkan Yu!” Kata Mama seraya
menyuruh Bu Rahayu untuk melanjutkan ceritanya.
”Aku
sempat melihat gadis itu. Wajahnya cantik, perilakunya baik, ahklaknya pun
bagus. Dia berjilbab, sama seperti Dinda” Lanjut Bu Rahayu sambil melirik
kearahku ketika dia menyebutkan namaku. Aku hanya tersenyum dan meneruskan
mendengar cerita Bu Rahayu.
”Setelah
aku tawarkan pada si Yusuf, lha kok dia malah menolak. Katanya, kurang cocok
dengan seleranya. Asal kamu tahu saja ya Lis, ini untuk yang kelima kalinya dia
menolak untuk dinikahkan. Kamu tahu sendiri, usianya Yusuf itu tidak beda jauh
dengan
usianya Dinda. Apalagi coba yang mau dicari dengan umur segitu
kalau bukan istri. Aku sampai stres memikirkannya dan akhirnya aku jatuh sakit.
Nah itulah penyebab sakitku saat ini” Ucap Bu Rahayu menutup ceritanya.
Sesekali kulihat dia membenarkan posisi duduknya yang bersandar pada sebuah
bantal.
”Sekarang
dia kemana bu?” Tanyaku tiba-tiba saja. Aku juga kaget. Kenapa aku menanyakan
hal itu? Aku sendiri tidak tahu alasannya.
”Sekarang
dia sedang menebus obat ibu di apotik. Perginya sih dari tadi, mungkin sebentar
lagi juga pulang” Jawab Bu Rahayu tenang. Suasana kembali lagi seperti semula.
Mama dan Bu Rahayu kembali larut dalam perbincangan masa lalunya, sedangkan aku
hanya dapat mendengarkan mereka berbincang tentang suatu hal yang baru bagiku.
Beberapa
saat lamanya waktu berjalan, tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara seorang
laki-laki mengucapkan salam dan membuka pintu secara perlahan. Aku, Mama, dan
Bu Rahayu pun segera mengarahkan pandangan kami ke arah suara itu.
Perlahan-lahan pintu itu terbuka dan...Subhanallah! Seorang laki-laki tampan
dengan kemeja dan celana bahannya datang dengan membawa sekantong kecil obat.
Aku
berdiri dari dudukku tanpa melepaskan pandanganku dari laki-laki itu. Sesaat
lamanya aku menatap dia yang sedang mencium tangan Bu Rahayu kemudian
mengatupkan kedua tangannya pada Mama. Aku seperti terbius oleh keindahan
zahirnya. Aku tersadar tatkala dia mengucapkan salam padaku dan mengatupkan
kedua tangannya juga padaku.
”Assalamu’alaikum”
Ucapnya lembut sambil menunduk.
”Wa..wa’alaikummussalam”
Sahutku dengan sedikit tergagap. Aku segera menundukkan pandanganku dari
wajahnya dan kutarik nafasku secara perlahan. Entah mengapa saat ini jantungku
berdebar-debar.
Kudengar
Bu Rahayu memperkenalkan laki-laki itu sebagai anaknya yang bernama Yusuf Abdul
Fattah dan dia juga memperkenalkan Mama sebagai sahabat lamanya dan juga
memperkenalkan aku pada Yusuf. Sesaat aku mencuri pandang padanya.
Astaghfirullah! Ucapku dalam hati. Kembali kutarik nafasku dalam-dalam.
Tak
berapa lama, laki-laki yang kukenal bernama Yusuf itu meminta diri untuk keluar
dari kamar. Aku tak berani lagi menatap wajahnya. Takut dosa. Aku hanya dapat
mendengar suaranya yang dengan lembut mengucapkan salam. Aku menjawab salamnya
dengan pelan. Tak berapa lama, Mama dan Bu Rahayu mengganti topik pembicaraan
mereka dengan masalah Yusuf.
Aku
berusaha mengendalikan perasaanku. Entah mengapa, seperti ada yang berbeda
dalam hatiku setelah aku melihat Yusuf tadi. Aku jadi teringat perkataan Mama.
”Bu
Rahayu itu punya seorang anak laki-laki. Mama lupa namanya siapa. Tapi yang pasti
dia itu cocoklah untuk dijadikan seorang menantu”.
Apa
mungkin bisa ya? Pikirku sudah mulai ngaco kemana-mana.
Sepanjang
perjalanan pulang aku tak bisa memfokuskan fikiranku. Sesampainya dirumah aku
sudah tak memikirkan editan tulisanku di komputer. Yang menjadi pikiranku
sekarang adalah, apakah sosok ”malaikat” itu yang menjadi harapan Mama?
Oh....Rabbi, selamatkan aku dari penyakit hati ini. Teriakku dalam hati.
Adzan
Maghrib sudah berkumandang. Aku segera bergegas ke kamar mandi untuk mengambil
air wudhu.
* * *
Dua
Hari
berganti hari, aku sudah tak lagi memikirkan sosok ”malaikat” itu. Dan aku
berusaha untuk tidak memikirkannya. Kemarin sore aku mendapat sebuah undangan
dari sahabatku, Arini, teman satu kantor. Hari ini dia akan menikah. Aku
tertawa sendiri melihat namanya yang manis bertengger didalam undangan
pernikahannya yang berwarna kuning keemasan, bersebelahan dengan nama seorang ikhwan1
yang sangat aku kenal, Fauzi. Yang jelas-jelas aku ingat dulu
Arini sempat tidak suka pada ikhwan yang mempunyai potongan rambut belah tengah
itu dan berkaca mata.
Menurut
Arini -sebelum akhirnya dia luluh juga pada Fauzi- Fauzi itu sosok seorang
ikhwan yang paling aneh yang pernah ia kenal. Wajahnya yang biasa-biasa saja
dengan aksesoris kaca matanya yang tak pernah ia tinggalkan, membuat Arini ilfill
terhadapnya. Apalagi gaya bicaranya yang menurut Arini seperti perempuan,
semakin menguatkan argumennya bahwa Fauzi itu bukan ikhwan tulen. Aku hanya
tersenyum mendengarnya tanpa bisa memberikan komentar apa-apa soal Fauzi karena
ternyata, diam-diam Fauzi menyimpan perasaan pada Arini.
Aku
tahu hal itu dari Fauzi sendiri. Suatu ketika Fauzi pernah mengirimkan email
padaku yang meminta tolong agar aku mau mengatakan pada Arini kalau dia suka
padanya dan hendak melamarnya. Aku sempat terkejut membaca pesan itu. Jarak
antara ruanganku dengan ruangan Fauzi tidak jauh. Kami memang satu kantor tapi
kami tak pernah bertemu lama walaupun hanya sekedar berbincang-bincang.
Setelah
membaca ulang emailnya, aku segera menulis balasan email untuknya.
Wa’alaikumussalam. Wr. Wb
Fauzi, apa yang bisa aku
lakukan untuk membantumu? Kalau peranku hanya sekedar menyampaikan pesanmu pada
Arini, mungkin aku bisa bantu. Tapi kalau untuk lebih jauhnya, afwan2, lebih baik kamu hubungi saja murabbi3nya.
Kalau kamu mau, aku bisa memberikan alamat dan nomor teleponnya padamu.
Kebetulan aku mengenalnya. Bagaimana? Afwan ya.
Segera
kukirim email itu padanya dan kuketik sms untuknya yang mengatakan bahwa aku
sudah memberikan balasan emailnya. Aku melanjutkan tugasku kembali. Mengedit
beberapa tulisan yang sudah masuk kedalam redaksi kami. Kantor tempat aku
bekerja adalah perusahaan majalah Islam yang cukup terkenal di Jakarta.
Tak
berapa lama ponselku berdering. Kulihat. Satu pesan diterima. Dari Fauzi.
Kubuka. Isinya :
Baiklah Mbak. Aku minta almt & nomor tlp murabbinya
Arini. Smg ini bs membntuku. Krm via email ya Mbak? Syukran4.
Aku
tak membalas smsnya. Segera kubuka buku agendaku dan kucari nama Mbak Nurma,
murabbi Arini. Ketemu. Tanpa berlama-lama, aku langsung mengetik nama,
1
laki-laki
2
maaf
3
guru ngaji
4 terima kasih
alamat, dan nomor telepon Mbak Nurma dan segera kukirim via
email, sesuai dengan permintaan Fauzi. Setelah aku megirimnya, aku kembali
mengetik sms untuknya.
Almtnya sdh aku krm. Smg itu bs mmbntu dlm ikhtiarmu mncri
jodoh y? Smg sukses. Afwan.
Aku
kembali larut dalam kerjaanku yang sedari tadi tertunda oleh urusan Fauzi. Tak
berapa lama kemudian, ponselku berbunyi lagi. Aku tak mengindahkannya. Aku
yakin itu dari Fauzi yang ingin mengucapkan terima kasih padaku. Kerjaanku
sedang banyak-banyaknya dan sebentar lagi tulisan-tulisan ini harus segera
diserahkan kepercetakan.
* * *
Aku
tersenyum sendiri melihat undangan manis yang kini masih tergeletak di atas
meja riasku. Peranku dalam usaha Fauzi menemukan jodohnya hanya sampai disitu.
Aku sungguh tak menyangka kalau Fauzi memang benar-benar menginginkan Arini
menjadi istrinya. Satu hal yang aku ingat saat aku berbincang-bincang dengan
Arini dulu.
”Rin,
membenci seseorang itu boleh saja. Tapi harus sewajarnya. Tidak boleh kita
membenci orang lain tanpa alasan yang tidak jelas. Ingat lho Rin! Janganlah
kamu membenci orang lain dengan sangat membencinya, karena bisa saja suatu hari
kamu jadi menyukainya. Begitu juga sebaliknya. Jika kamu menyukai orang lain ya
sewajarnya saja, sebab bisa jadi suatu hari kamu akan berbalik membencinya.
Saat ini mungkin kamu tidak suka dengan penampilan dan gaya bicara Fauzi. Tapi
bisa jadi suatu saat kamu malah justru berbalik menyukainya. Ingat! Hal itu ada
haditsnya lho Rin”
Sikap
Arini saat itu hanya diam. Mungkin dia sedang memikirkan hal yang baru saja aku
katakan. Dan sekarang, aku sungguh tak percaya. Hari ini dia akan menikah
dengan seorang ikhwan yang dulu sempat ia benci zahirnya.
Hah...jodoh
memang sulit ditebak. Yang setiap hari bertengkar, ternyata dikemudian hari
malah menjadi jodoh. Sedangkan yang sudah lama menjalin hubungan, malah putus
ditengah jalan. Yap! Aku jadi lebih yakin kalau jodoh itu memang rahasia Allah.
Dan bisa saja jodoh yang tengah disiapkan Allah untukku adalah seseorang yang
tidak pernah aku duga sebelumnya.
Diluar,
Mama mengetuk pintu kamarku dan minta izin untuk masuk. Akupun mengizinkan. Dia
berdecak kagum ketika melihat aku berdandan sangat beda hari ini.
”Wah...wah!!
Mau kemana sih kamu Din? Pagi-pagi begini sudah rapi sekali? Ada acara apa?”
Tanya Mama sambil matanya terus memandangiku dari atas kebawah.
”Tuh,
lihat saja Ma!” Jawabku sambil menunjuk sebuah undangan berwarna kuning
keemasan diatas meja riasku. Tanganku sibuk mengaitkan peniti di jilbabku. Mama
mengambil undangan itu dan membacanya.
”Undangan
pernikahan, Arini Musdalifah dengan Fauzi Nur Alamsyah” Ucap Mama mengeja
huruf-huruf yang terangkai dengan indah di undangan tersebut.
”Oh...ini
Arini yang pernah main kesini ya Din? Yang pernah konsultasi sama kamu masalah
lamaran....siapa itu?”
”Fauzi
Ma!” Sahutku.
”Iya
Fauzi. Lha kok jadi nikah begini? Katanya nggak suka, kok jadi nikah?” Tanya
Mama penasaran.
5 Kelompok pengajian
6
perempuan
”Ma, jodoh itu rahasia Allah. Kita
nggak tahu dengan siapa nantinya kita akan menikah. Kalau Arini tadinya nggak
suka sama Fauzi, tapi kalau memang Allah sudah menggarisakan jodohnya mereka ya
mau diapakan lagi?” Jawabku meyakinkan Mama.
Mama hanya mengangguk-angguk pelan
sambil terus membaca undangan Arini. Tiba-tiba ia menyampaikan sesuatu padaku
yang membuat hatiku bertanya-tanya.
”Oh iya Din, nanti malam keluarganya
Bu Rahayu akan datang kesini”
”Keluarganya Bu Rahayu?” Tanyaku
dengan menatap wajah Mama dengan serius.
”Iya. Bu Rahayu yang tempo hari pernah
kita jenguk. Kamu ingat kan?”
Aku mengangguk pelan. Mana mungkin
aku lupa. Dari kunjungan itu aku melihat sesosok manusia alim bernama Yusuf
Abdul Fattah. Yang menjadi maksud pertanyaanku pada Mama barusan adalah untuk
apa Bu Rahayu datang kemari dengan membawa serta keluaganya? Aku mencoba
bertanya pada Mama.
”Untuk apa mereka kemari Ma?”
”Ya sekedar silaturrahimlah. Kan
sudah lama tidak bertemu. Sekalian ada yang mau kami bicarakan” Jawab Mama yang
memberikan sebuah tanda tanya besar untukku. Membicarakan apa?
”Siapa saja yang nanti datang bersama
Bu Rahayu?” Tanyaku makin penasaran.
”Nggak banyak. Ya Bu Rahayu,
suaminya, dan anaknya yang kemarin” Jawab Mama tenang, tapi tidak bagiku.
Tiba-tiba saja hatiku berdebar hebat ketika Mama menyebutkan ”anaknya yang
kemarin”.
”Nanti jangan pulang malam-malam ya?
Ikut temuin Bu Rahayu dengan keluarganya” Ucap Mama sambil beranjak pergi dari
hadapanku. Aku masih terpaku dengan ucapan Mama. Dia ikut? Sosok ”malaikat” itu
nanti malam akan datang? Oh Rabbi, kenapa aku ini? Kenapa aku jadi gelisah
seperti ini?
Aku segera membereskan
barang-barangku dan langsung bergegas pergi menuju pesta walimatul ursy-nya
Arini dan Fauzi. Tak lupa aku membawa sebuah bingkisan untuk mereka. Sejenak
aku lupakan dulu rasa tidak tenangku.
* * *
Sepulang dari walimatul ursy-nya
Arini, aku langsung di ajak oleh Shanti, teman satu halaqah5ku
ke Istora Senayan karena disana sedang ada acara pameran buku Islami atau
Islamic Book Fair. Hari ini terakhir diadakan. Kupikir tidak ada salahnya
menghabiskan waktu disana sambil membeli beberapa buku untuk referensi novel
terbaruku.
Selepas
Ashar aku langsung menuju kesana. Suasana disana sangat penuh oleh ikhwan dan akhwat6
yang berjubel ingin masuk. Aku dan Shanti bahkan hampir
terpisah karena sesaknya orang yang berebut masuk. Yang aku tahu dari pusat
informasi disana, hari ini ada temu penulis novel bestseller ”Ayat Ayat
Cinta”, Habiburrahman El Shirazy, jadi pantas saja kalau banyak orang yang
berbondong-bondong datang untuk melihat Kang Abik secara langsung.
7
Saudaraku (untuk laki-laki)
Aku yang mendengar hal itupun segera
mencari tempat lokasi temu penulis ”Ayat Ayat Cinta”.
Secara, aku juga sangat mengidolakan Kang Abik sebagai penulis inspirasiku
dalam menulis novel.
Beberapa
buah buku referensi telah aku dapatkan. Kebanyakan dari buku yang aku beli
adalah novel dan beberapa buku penunjang untuk bahan penulisan novelku. Lain
lagi dengan Shanti. Dia lebih tertarik dengan buku-buku yang membahas tentang
perjalanan hidup Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Secara, dia itu adalah
seorang guru agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Islam Taman Qur’aniyah di
daerah Poltangan, Jakarta Selatan.
Di
saat langkahku tengah mendekati ruang Anggrek, tempat dimana acara temu penulis
”Ayat Ayat Cinta” digelar, aku melihat sosok ”malaikat” yang pernah kulihat
dirumah Bu Rahayu. Dialah Yusuf. Dia berdiri di stand Penerbit Cakrawala sambil
membuka lembar demi lembar buku yang dipegangnya. Disebelahnya berdiri seorang
ikhwan yang tengah mengajaknya berbicara.
Entah
ada angin apa, tiba-tiba saja Shanti menarik tanganku dan membawaku ke stand
Penerbit Cakrawala. Dia bilang ingin membeli sebuah buku karangan Dr. ’Aidh bin
Abdullah alqarni dengan judul Jangan Takut Hadapi Hidup. Aku terkejut
dibuatnya. Yusuf belum beranjak dari tempatnya berdiri. Sedangkan aku berdiri
persis membelakanginya. Dia tidak tahu kalau aku ada dibelakangnya. Atau
mungkin, kalaupun dia melihatku, bisa saja dia tidak mengenaliku atau lupa
padaku.
Shanti
masih saja mencari buku yang dia maksudkan. Sedangkan aku pura-pura
melihat-lihat buku yang sekarang ada dihadapanku. Samar-samar aku mendengarkan
dia berbicara dengan temannya.
”Suf,
ente bener hari ini nggak mau ikut ane kerumah Sandi? Ente nanti nyesel lho!”
Ucap temannya Yusuf dengan semangat.
”Bener
akhi7, ana nggak bisa ikut nih. Hari ini ana mau pergi sama orang
tua kerumah teman mereka” Jawab Yusuf dengan nada penuh penyesalan.
”Ente
jadi ikut sama orang tua ente? Kirain cuma main-main. Jadi dong nyebar
undangan?” Tanya temannya yang tiba-tiba saja membuat hatiku bertanya-tanya.
Undangan?!
”Ah,
antum jangan begitu dong. Ana lagi pusing nih memikirkan permintaan orang tua”
Sahut Yusuf.
”Lagi
sih ente. Ane bilang buru-buru lamar si Alifa, eh ente bilang nanti-nanti dulu.
Ya terima deh nasib dijo...”
”Sstt!!”
Tiba-tiba Yusuf memotong pembicaraan temannya itu.
”Udah
yuk ah, ana mau langsung pulang nih. Nanti Ibu marah, terus jatuh sakit lagi”
Lanjutnya menutup perbincangan dia dan temannya. Aku semakin bertanya-tanya.
Ada masalah apa sebenarnya dengan Yusuf? Apa yang diminta orang tuanya padanya?
Shanti
menyadarkanku dari pertanyaan yang belum sempat aku temukan jawabannya. Dia
sudah mendapatkan buku yang diinginkannya. Baru beberapa langkah aku menuju
ruang Anggrek, tiba-tiba ponselku berdering. Kuangkat. Dari Mama.
”Ya
Ma?” Sapaku langsung pada Mama.
”Din, kamu dimana sekarang? Cepat pulang. Sebentar lagi
keluarganya Bu Rahayu akan segera datang” Ucap Mama dengan nada sedikit kesal.
”Iya
Ma. Sebentar lagi Dinda akan pulang. Mama tunggu sajalah dirumah. Paling Bu
Rahayu juga akan telat datangnya” Ucapku meyakinkan Mama. Sebab aku tahu, Yusuf
saja masih ada di Senayan.
”Sok
tahu kamu. Dari dulu itu Bu Rahayu orangnya selalu tepat waktu. Sudahlah jangan
membantah. Pokoknya sebelum Maghrib, kamu harus sudah sampai dirumah” Ucap Mama
sambil menutup teleponnya. Sepertinya Mama agak marah padaku. Mau diapakan
lagi. Dengan berat hati aku langkahkan kakiku menuju keluar Istora Senayan dan
itu artinya aku tidak jadi melihat Kang Abik secara langsung. Tapi satu yang
masih aku pikirkan. Apa kira-kira yang diminta oleh orang tuanya Yusuf pada
Yusuf?
*
* *
Tiga
Sampai
dirumah tepat ketika azan Maghrib berkumandang. Mama menyuruhku untuk segera
mandi dan langsung menunaikan shalat Maghrib. Kuturuti apa kata Mama. Papa yang
hendak pergi ke masjid tak pernah sedikitpun berkomentar tentang kerepotan Mama
menyuruhku ini dan itu.
Selepas
mandi dan shalat Maghrib, Mama lagi-lagi menyuruhku dengan suatu hal yang
menurutku aneh.
”Din,
coba kamu pakai ghamis kamu yang warna biru tua ini. Sepertinya bagus deh!”
Pintanya sambil mengambil sebuah ghamis yang dimaksudkan dari dalam lemariku.
”Untuk
apa sih Ma? Ini kan hanya acara silaturahim saja kan? Nggak usahlah pakai baju
yang berlebihan. Kayak mau pergi saja” Tolakku tanpa mau mengindahkan
permintaan Mama. Kuperhatikan ghamis biru tua itu yang menurutku lebih cocok
dipakai keacara walimahan.
”Eh,
malam ini kamu harus tampil cantik. Pokoknya harus spesial. Awas kalau tidak.
Mama akan marah sama kamu. Dipakai ya?” Pinta Mama sekali lagi. Aku hanya Bisa
termenung sendirian dikamar sambil memikirkan perkataan Mama barusan. Apa sih
yang sebenarnya diinginkan Mama dariku? Sehingga aku harus mengenakan ghamis
itu.
Kuturuti
saja permintaan Mama. Aku masih tidak mengerti ada apa dibalik semua kedatangan
keluarga Bu Rahayu malam ini.
Pukul
tujuh malam kurang lima belas menit keluarga Bu Rahayu datang. Aku heran, apa
mereka sudah shalat Maghrib? Mama dan Papa menyambut kedatangan mereka dengan
hangat. Aku tidak ikut menyambut mereka karena aku sedang sibuk membuatkan
minum dibelakang.
Hatiku
tiba-tiba saja berdesir tatkala Mama menyebut nama Yusuf . Ya, dia datang malam
ini. Jantungku yang seolah tenang, kini menjadi berdegup dengan kencangnya.
Kutarik nafas dalam-dalam lalu kuhembuskan. Dari ruang tamu, Mama memanggil
namaku.
”Dinda!!
Kesini sebentar. Temui dulu ini keluarga Bu Rahayu!” Teriak Mama.
”Iya
sebentar Ma!” Sahutku sembari mengelapkan tanganku pada sebuah kain. Aku
bergegas melangkah menemui mereka diruang tamu. Sekali lagi kutarik nafasku
dalam-dalam lalu kuhembuskan.
Wajah yang pertama kali kulihat adalah wajah Bu Rahayu,
kemudian laki-laki bertubuh besar dengan kumis diwajahnya. Mungkin dia
suaminya. Aku tak berani mengalihkan pandanganku pada Yusuf. Kuraih tangan Bu
Rahayu lalu kucium. Dan kukatupkan kedua tanganku pada suaminya dan....Yusuf
pastinya. Bu Rahayu memuji penampilanku.
”Wah!!
Malam ini Dinda cantik sekali. Cocoklah” Ucap Bu Rahayu padaku. Ucapan itu
membuat sebuah tanda tanya besar dihatiku. Cocok?!
”Ah,
Bu Rahayu bisa saja. Terima kasih atas pujiannya” Sahutku sambil meminta diri.
Aku ingat aku sedang membuatkan minum dibelakang. Mereka mengizinkan. Tiba-tiba
saja kedua mataku beradu pandang dengan Yusuf. Uh!! Bergetar rasanya hati ini.
Kutarik nafasku dan kuhembuskan ketika sudah sampai didalam.
Di
belakang, aku lanjutkan membuat minum. Kutata kue-kue di atas piring yang tadi
siang Mama beli di pasar. Samar-samar kudengar perbincangan Mama, Papa, dan
keluarga Bu Rahayu di depan. Biasalah, membincangkan masa lalu.
Sambil
membawa lima cangkir air teh hangat dan 2 toples kue-kue kering, aku melangkah
keruang tamu. Wajahku masih menunduk. Tak berani aku mengangkat kepalaku. Bu
Rahayu dan suaminya yang kuketahui bernama Pak Sardi mengucapkan terima kasih
padaku, kecuali Yusuf. Dia hanya diam. Aku memberikan senyumku pada Bu Rahayu
dan suaminya.
Aku
berbalik kebelakang sebelum akhirnya aku mendengar Yusuf mengucapkan terima
kasih padaku. Aku menoleh sesaat dan mengangguk padanya. Aku kembali kebelakang
dengan perasaan yang tak menentu. Yang pasti, perasaan senang itu tiba-tiba
saja merasuki jiwaku.
Aku
kembali kebelakang dan kuambil dua piring berisi kue-kue yang tadi sudah
kutata. Kusuguhkan pada mereka dan kembali kebelakang lagi. Awalnya Mama
menyuruhku untuk tetap tinggal diruang tamu tapi aku menolaknya.
Kudengarkan
dengan jelas perbincangan mereka dari ruang tengah. Sambil memainkan sebuah
sendok, aku mendengar Pak Sardi bersuara.
”Ya,
tujuan kami datang kesini ini kan, selain untuk menyambung silaturrahim juga
untuk membicarakan suatu hal yang sangat penting, menyangkut anak-anak kita
yang sudah besar-besar. Betul tidak Pak, Bu?”
”Ya
ya, betul betul” Sahut Papa.
”Saya
yakin Bapak sama Ibu pasti sudah tahu apa tujuan kami datang kesini” Lanjut Pak
Sardi.
”Saya
hendak melamar putri kalian untuk anak kami, Yusuf. Bagaimana Pak, Bu?”
”Prang!!”
Sendok yang tadi aku mainkan terjatuh. Ya, sendok itu terjatuh karena aku
terkejut mendengar perkataan Pak Sardi barusan. Dadaku sesak. Mulutku serasa
kelu dibuatnya. Keringat dingin tiba-tiba saja membasahi sekujur tubuhku.
Perlahan aku mendengar jawaban Papa.
”Ya,
kami sangat senang atas keinginan Bapak dan Ibu untuk menjadikan anak kami
sebagai menantu. Merupakan suatu kebanggaan bagi kami bisa berbesan dengan
Bapak dan Ibu. Dengan senang hati kami menerima pinangan itu. Semoga ini
menjadi langkah awal untuk kebaikan kita bersama”
”Amin!”
Jawab semuanya serentak.
Dalam hati aku bertanya-tanya. Kenapa Papa tidak menanyakan
hal itu padaku dulu? Kenapa Papa menerima pinangan itu secara sepihak tanpa mau
berkompromi dulu denganku? Tapi, biarpun Papa tidak menanyai hal itu kepadaku
dulu juga, sebenarnya aku mau menerimanya.
Oh,
senangnya hatiku!! Ternyata Yusuf menyukaiku. Jodoh memang benar-benar rahasia
Allah. Aku tidak menyangka bahwa jodohku adalah seseorang yang baru saja
kukenal. Tapi, bagaimana dengan sifat-sifat Yusuf? Aku kan belum begitu
mengenalnya. Ah! Setelah menikah nanti, kami akan sama-sama belajar sifat kami
masing-masing. Oh Rabbi, senangnya hati ini. Tiba-tiba aku mendengar Mama
memnggil namaku.
”Dinda!
Kesini sebentar Nak!”
Aduh!
Bagaimana ini? Aku panas dingin. Kakiku gemetar dan sulit untuk diajak
berjalan. Tapi mau tidak mau aku harus memenuhi panggilan Mama.
”Iya
Ma, sebentar” Sahutku sambil menata diri agar tidak tampak gugup. Aku menunduk.
Kuberanikan diriku menatap wajah Yusuf, yang kini telah menjadi calon suamiku.
Dia masih menunduk. Aku beristighfar dan duduk disamping Mama.
”Kamu
sudah mendengar kan, Apa yang barusan kami perbincangakan?” Tanya Mama sambil
mengusap-usap bahuku. Aku mengangguk pelan.
”Lalu
bagaimana dengan kamunya? Menerima tidak?” Tanya Mama yang sebenarnya ingin
langsung kujawab ”Mau..mau!!” Tapi aku malu. Aku lebih memilih untuk diam
sejenak sambil menatap satu per satu wajah yang ada diruang tamu, terutama
Yusuf. Lalu aku bersuara.
”Dengan
segala kerendahan hati, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang aku miliki,
maka dengan menyebut nama Allah....” Kutarik nafasku perlahan.
”Aku
menerimanya” Lanjutku.
Lega
rasanya hati ini. Semua yang ada diruang tamu tertawa bahagia. Kecuali, Yusuf.
Aku menatapnya dengan penuh tanya. Ada apa dengannya? Dia hanya menunduk.
Sesekali bibirnya tersenyum ketika matanya menatap wajah Mama atau Papa. Tapi
sepertinya, senyumnya berbeda. Senyum yang aku tangkap darinya, seperti bukan
senyum kebahagiaan. Tidak. Pasti saat ini dia sedang menutupi rasa gugupnya,
sama seperti aku. Setiap orang kan pasti berbeda-beda dalam menyembunyikan rasa
gugupnya.
Aku
tepis perasaan itu. Yusuf juga pasti mempunyai perasaan yang sama terhadapku.
Saat ini aku hanya ingin melewati malam yang indah ini bersama keluarga
besarku. Papa, Mama, Pak Sardi, dan Bu Rahayu mulai membicarakan semua proses
pernikahan. Aku sangat bahagia malam ini.
* * *
Empat
Semuanya
sudah ditentukan. Prosesi pernikahan jatuh pada tanggal 23 April 2007. Akad dan
walimatul ursy-nya akan diadakan bersamaan di Masjid Raya At Taqwa Pasar
Minggu. Baju pengantin yang nantinya akan aku dan Yusuf kenakan pun sudah
ditentukan. Dan mahar, aku minta agar Yusuf cukup memberikan aku seperangkat
alat shalat, satu buah Al-Qur’an, sebuah cincin emas, dan hafalan surat Al
Ikhlas.
Setelah
semua selesai dan beres dengan rapi, Yusuf dan keluarganya pamit pulang. Aku
pun ikut mengantarkan mereka sampai depan pintu. Aku masih belum menemukan
senyum yang berarti dari Yusuf. Sampai pulang pun dia tak
sedikitpun menatapku. Aku mulai berpikir yang macam-macam.
Setelah
mereka pulang, aku langsung membereskan cangkir-cangkir dan piring-piring yang
kotor diatas meja. Tiba-tiba Mama memberikan sebuah amplop putih padaku.
”Apa
ini Ma?” Tanyaku heran.
”Surat
dari calon suamimu” Jawab Mama membuat hatiku berbunga-bunga. Aku tertawa
sendiri menerima surat itu. Mataku mulai berair. Segera saja kupeluk erat tubuh
Mama.
”Makasih
ya Ma? Akhirnya aku menemukan jodohku” Ucapku sedikit serak.
”Iya.
Mama doakan supaya kamu selalu bahagia” Sahut Mama sambil membelai kepalaku
yang masih tertutup jilbab. Aku beranjak kekamarku untuk menaruh surat dari
Yusuf di atas meja belajar. Tak sabar rasanya ingin cepat-cepat membukanya.
Tapi aku harus mencuci dulu semua piring-piring kotor didapur.
Setelah
selesai, aku langsung bergegas melangkah kekamar. Amplop putih itu kini seperti
harta yang paling berharga untukku. Tak rela rasanya bila harus kehilangan
kata-kata dalam surat yang ditulis Yusuf untukku. Sekarang aku yakin, Yusuf
bersikap seperti itu tadi karena dia merasa gugup. Buktinya sekarang aku
menerima surat darinya. Lebih tepatnya lagi, surat cinta dari kekasihku.
Oh...aku jadi romantis begini. Sejak bertatap muka dengannya, hatiku ini memang
sepenuhnya dipenuhi rasa cinta padanya Kubuka
perlahan surat itu. Isinya,
Assalamu’alaikum.
Wr. Wb
Kepada yang terhormat
Dinda Altharina Puteri
Di tempat
Aku sengaja menulis surat ini dengan tulisan tanganku
sendiri. Berharap kau bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Aku tak
tahu lagi apa yang harus aku lakukan ketika orang tuaku memaksaku untuk
menikah denganmu. Asal kau tahu saja, pinangan atas dirimu sebenarnya bukan
aku yang menginginkan, melainkan orang tuaku.
Mereka bilang, sejak pertama kali melihatmu, hati mereka
langsung tergerak untuk menjadikanmu sebagai menantu. Lagi pula orang tuaku
dan orang tuamu berteman sejak lama. Tapi maaf, itu semua diluar kemauanku.
Dan maaf sekali lagi, aku tidak pernah berniat menikahimu. Semua ini adalah
rencana orang tuaku dan orang tuamu untuk menjodohkan kita.
Aku tahu hal ini adalah hal bodoh yang pernah aku lakukan
sepanjang hidupku. Aku juga tahu bahwa jika semua ini benar-benar terjadi,
maka akan banyak orang yang aku bohongi. Terlebih lagi, aku akan menjadi
seorang pecundang dan pengecut karena telah menyakiti perasaanmu.
Tapi aku juga tidak bisa berbuat lebih banyak lagi sebab
melihat kondisi ibuku yang sudah sangat lemah, aku takut bila aku menolak
permintaanya, sakitnya akan semakin parah. Asal kau tahu saja, dua hari yang
lalu ibuku masuk rumah sakit karena aku menolak permintaannya.
|
Jadi aku mohon,
bantulah aku memainkan sandiwara ini didepan orang tua kita masing-masing.
Aku tahu segala sesuatunya itu akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah
Azza wa Jalla, tapi aku tak bisa berbuat banyak lagi untuk hal ini.
Aku merasa, belajarku
selama beberapa tahun tentang Islam sia-sia saja karena akhirnya aku harus
membohongi banyak orang atas kepura-puraanku mencintaimu. Maaf sekali lagi.
Pernikahan bukanlah
suatu hal yang main-main untuk dijalankan. Terlebih lagi bila tidak dilandasi
dengan rasa cinta. Sesungguhnya, ada ’nama’ lain yang mengisi relung hatiku.
Dan sepertinya, mulai saat ini aku harus menghapus ’nama’ itu dan berusaha
menggantinya dengan ’namamu’.
Jika memang tak ada
cara lain lagi untuk kita mencegah kebohongan ini, maka sebagai langkah
awalku dalam menjalankan kehidupan baruku nanti, aku ceritakan semuanya ini
padamu. Jujur. Tidak ada yang ditambahkan atau dikurangkan. Aku tidak mau
mengawali semua ini dengan kebohonganku pada dirimu. Maafkanlah aku yang tak
mencintaimu.
Mungkin ketika
membaca surat ini, matamu sudah dipenuhi dengan air mata. Aku akan berusaha
mengganti air matamu itu dengan usahaku untuk dapat mencintaimu. Maaf,
beribu-ribu maaf aku minta kepadamu.
Tolonglah malam ini
kau shalat tahajud dan minta kepada Allah agar memberikan yang terbaik untuk
kita. Aku tak sanggup, bila selamanya harus menyakitimu. dengan kepalsuan
cintaku.
Dan tolong jangan
ceritakan hal ini pada siapapun. Aku yakin kau mengerti seperti apa posisiku.
Sekian dulu surat dariku. Bila semua ini kurang berkenan dihatimu, mohon
dibukakan pintu maafmu untukku. Afwan
Wassalamu’alaikum.
Wr. Wb
Dari Seorang Pengecut
Yusuf Abdul Fattah
|
Remuk redam rasanya jiwa ini ketika aku membaca surat itu.
Air mata sudah tak dapat lagi kubendung. Aku merasa hatiku hancur
berkeping-keping. Aku merasa dunia ini menjadi gelap di penglihatanku. Orang
yang aku cintai ternyata tidak pernah mengharapkanku. Dan sikapnya yang tadi
kulihat janggal, ternyata benar adanya. Tiba-tiba aku merasa bahwa Yusuf adalah
manusia terjahat yang pernah aku temukan selama hidupku. Tapi spekulasi itu
tetap tidak bisa mengalahkan perasaanku yang sejak awal sudah dipenuhi rasa cinta
padanya.
Sekarang aku mengerti apa yang diminta oleh Bu Rahayu
padanya. Dan sekarang aku lebih mengerti apa yang dibicaraknnya pada temannya
di book fair tadi. Yang dimaksudkan menyebar undangan adalah undangan
pernikahanku dengan Yusuf. Dan
’nama’ lain yang dimaksudkannya adalah nama ... Alifa. Nama
seorang akhwat yang tadi disebut-sebut oleh temannya Yusuf. Oh Alifa, mengapa
tiba-tiba aku jadi merasa cemburu padamu? Sebenarnya seperti apa sosok dirimu
sehingga membuat Yusuf jatuh hati padamu?
Aku merasakan air mata kembali menetes membasahi kedua
pipiku. Sebuah berita menggembirakan yang baru saja aku dengar beberapa saat
lalu, tiba-tiba saja berubah bagai kilat yang menyambar yang menghantam tubuhku
dan membuatnya hancur berkeping-keping. Kalau saja aku tahu hal ini dari awal,
aku tidak akan pernah mau menerima lamarannya. Tapi, aku juga tidak mau melihat
Bu Rahayu jadi jatuh sakit. Oh Ya Rabbi, tolonglah hambaMu ini.
Aku bangkit dari dudukku. Aku berusaha mengumpulkan kembali
sisa-sisa kepingan hatiku yang tadi hancur berserakan. Kulirikkan mataku ke jam
dinding. Sudah cukup malam dan aku teringat, aku belum shalat Isya. Sekuat
tenaga aku berdiri dan melangkahkan kakiku ke kamar mandi untuk mengambil air
wudhu. Mataku memerah tapi kutahan untuk menangis dihadapan Mama dan Papa.
Mereka tidak boleh tahu akan hal ini.
Malam ini akan kuadukan semuanya pada Dzat Yang Maha
Memberikan rasa, agar Yusuf dapat menemukan arti dari sebuah makna cinta
sejati.
* * *
Hari ini hari Minggu. Pagi ini aku kelihatan lesu dan tidak
berdaya. Seusai shalat subuh, tilawah qur’an beberapa halaman, dan wirid
ma’tsurat aku langsung bergegas mandi dan membereskan rumah. Hari ini aku ingat
ada jadwal liqa8 pukul sepuluh nanti. Seusai membereskan rumah, aku langsung
membuat sarapan seperti biasanya. Makan satu meja bersama Mama dan Papa.
Di tengah menyantap nasi goreng yang kubuat, tiba-tiba Papa
menegurku.
”Din, kamu kenapa? Sepertinya lesu sekali pagi ini?” Tanya
Papa mengejutkanku dari lamunan. Kupandangi wajah Papa dengan tatapan hampa.
”Iya nih Din. Mama perhatikan dari tadi kok kamu diam saja.
Seharusnya kamu senang dong, kan semalam baru dilamar oleh Yusuf. Dapat surat
lagi darinya” Imbuh Mama melanjutkan. Tiba-tiba aku teringat akan surat dari
Yusuf yang isinya sangat menghancurkan hatiku. Aku termenung sendiri sambil
menatap segelas susu putih kepunyaanku. Andaikan saja hatiku ini bisa seputih
susu itu.
”Din! Ada apa sih kamu?” Tegur Mama padaku. Aku kembali
tersadar dari lamunanku.
”Ehm....Pa, Ma, ada yang mau aku bicarakan” Ucapku tanpa
pikir panjang lagi. Hatiku semakin galau.
”Mau membicarakan apa?” Tanya Papa.
Kutarik nafasku dalam-dalam.
”Setelah semalaman aku berpikir ulang kembali, aku
memutuskan untuk.... menolak lamaran Yusuf”
”Apa?!” Teriak Papa dan Mama berbarengan.
”Iya Pa, Ma, aku memutuskan untuk tidak menikah dengan
Yusuf” Kataku lagi mempertegas perkataanku sebelumnya.
8 ngaji
”Kamu sudah ngaco apa? Hari pernikahan dan segala
persiapannya itu sudah ditentukan, Dinda. Lagi pula, kenapa tiba-tiba kamu
menolaknya? Bukankah semalam kamu kelihatan bergembira sekali menerima lamaran
Yusuf? Bahkan Yusuf sampai menuliskan surat cinta untukmu. Lalu apa yang
menyebabkanmu sampai berubah pikiran?” Tanya Mama dengan penuh ketegasan.
Andai saja Mama dan Papa tahu apa isi surat itu, pasti kalianpun
akan melakukan hal yang sama sepertiku. Bahkan aku yakin, Papa dan Mama tidak
akan rela melepaskan aku pada seseorang yang tidak mencintaiku. Tapi aku tidak
akan memberitahukan semua ini pada kalian. Cukup aku saja yang menderita.
”Dinda?” Tegur Mama.
”Ya Ma? Ehm....”
Sesungguhnya aku tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan
Mama. Ya Allah, jawaban apa yang harus aku berikan pada Mama dan Papa?
”Ehm...A, aku merasa kurang pantas saja Ma bersanding dengan
Yusuf. Aku merasa, lebih baik dia bersanding dengan wanita lain saja dari pada
dengan aku” Jawabku sekenanya.
”Tapi Din, dia itu jelas-jelas sudah memilihmu untuk menjadi
pendampingnya. Jadi untuk apa lagi kau menolaknya?” Tanya Papa penuh ketegasan.
Aku diam seribu bahasa. Dalam hati aku menjawab pertanyaannya.
”Yang sebenarnya memilihku bukanlah Yusuf Pa, tapi orang
tuanya. Orang tuanya yang menginginkan aku jadi menantunya, bukan Yusuf”
Aku hanya bisa menunduk dan pasrah dalam ketidak
berdayaanku. Sejurus do’a kupanjatkan pada Yang Kuasa agar semuanya bisa
berjalan dengan baik. Mama kembali bersuara.
”Din, usiamu sudah menginjak 27 tahun. Mau cari yang seperti
apa lagi kalau yang seperti Yusuf saja kamu tolak?” Ucap Mama berusaha
meyakinkanku. Aku rasa pertanyaan Mama tak perlu kujawab. Aku hanya menjawabnya
dalam hati.
”Aku hanya ingin mencari suami yang sholeh dan dapat
mencintaiku apa adanya, Ma” Ucapku dalam hati.
Aku beranjak pergi dari hadapan Mama dan Papa. Mereka hanya
bisa memandangiku berjalan kekamar. Di kamar, kubuka buku harianku dan kutuliskan
semua kegundahanku dalam buku itu dengan air mata berlinang. Tanpa kusadari air
mataku itu jatuh membasahi tulisanku.
Aku tak sanggup lagi dengan keadaan ini. Tapi aku kembali
ingat, bahwa Allah tidak akan pernah memberikan suatu cobaan kepada hambaNya
diluar batas kemampuan hambaNya. Dan sampai sekarang aku selalu ingat salah
satu ayat itu yang terdapat di Surat Al Baqarah. Kalau memang Allah sudah
mempercayakan cobaan itu padaku, maka aku yakin akupun bisa mengatasinya. Allah
tidak pernah salah dalam bertindak. Mana mungkin Allah salah? Mungkin ini
adalah sebuah cobaan atas diriku untuk mencapai tingkat derajat taqwa yang
lebih tinggi. Jika aku sabar menghadapinya, itu berarti aku lulus. Tapi kalau
tidak, maka aku belum bisa mencapai derajat taqwa yang lebih tinggi itu.
Aku yakin, setiap manusia itu mempunyai kadar kesanggupannya
masing-masing. Dan yang tahu kadar itu hanyalah Allah swt. Bahkan manusia pun
belum tentu mengetahui kadar itu, karena manusia hanya bisa mengeluh dan
mengeluh tanpa mau berpikir kenapa
Penerbit Ebook
Allah memberikan cobaan itu. Yang manusia bisa lakukan
hanyalah meratapi nasib yang sudah ada tanpa mau berusaha untuk mengubahnya.
Padahal kalau diingat-ingat lagi, Allah itu mengikuti prasangka hambaNya.
Pertanyaannya bukan, Kenapa Allah memberikan cobaan ini? Tapi lebih tepatnya
lagi, Apa hikmah dibalik cobaan yang Allah berikan? Dan tugas seorang manusia
itu ialah mencari hikmah yang terkandung dari semua cobaan yang telah Allah
berikan. Itulah sikap manusia sejati.
Dan aku? Aku akan berusaha untuk menjadi manusia sejati itu.
Aku tidak boleh kalah oleh keadaan. Biar bagaimana pun, hidup ini masih dan
harus terus berjalan. Aku yakin, akan ada hikmah dibalik semua cobaan ini.
Ya, saat ini, bagiku, mencintai calon suamiku adalah cobaan
untukku. Dan pastinya, akan ada suatu kebaikan yang terkandung jika aku
bersabar dalam mencintainya. Dan janji Allah itu pasti, Innallaha Ma ’ashshobirin.
Allah itu selalu bersama orang-orang yang sabar. Sabar dalam beribadah, sabar
dalam melakukan perbuatan, sabar dalam mengarungi kehidupan, dan sabar bila
kita mencintai seseorang yang tidak mencintai kita. Sabar, sabar, dan sabar.
Itulah yang sekarang sedang berusaha aku lakukan. Aku akan selalu bersabar,
menanti pintu hatinya terbuka untuk dapat menerima cintaku.
Pukul sembilan kurang sepulih menit. Aku harus bersiap-siap
pergi liqa ketempat Mbak Rianti, murabbiku. Hari ini aku ada jadwal kultum. Aku
tak mau terus menerus memikirkan masalahku dengan Yusuf sementara masalahku
yang lain masih menunggu uluran tangan untuk aku selesaikan. Aku jadi mempunyai
tema kultum yang baru untuk aku sampaikan kepada teman-teman. Tema itu adalah
tentang kesabaran. Apa itu sabar, kenapa kita harus sabar, dan apa gunanya kita
bersabar, semuanya akan aku bahas di forum halaqah nanti. Sekalian aku akan
meyampaikan kabar gembira sekaligus menyedihkan untukku. Gembira karena
sebentar lagi aku akan menikah. Dan menyedihkan karena laki-laki yang
menikahiku sesungguhnya tidak mencintaiku. Tapi kabar menyedihkan itu tak akan
aku sampaikan nanti. Cukup hanya aku, Yusuf, dan Allah saja yang tahu.
Rabbi, kuatkanlah diriku. Izinkanlah aku meraih derajat
taqwaMu, Ya Allah......
* * *
Lima
Hari pernikahan itu tiba. Aku dan Yusuf didandani ala
pengantin Jawa karena keluargaku dan keluarganya berasal dari Jawa. Lebih
tepatnya lagi, aku dari Jawa Timur dan Yusuf dari Jawa Tengah. Aku mengenakan
pakaian khas Jawa tapi tetap terbalut oleh jilbab syar’i. Para undangan banyak
sekali yang hadir. Tak terkecuali orang-orang dari pihak penerbit yang selama
ini berjasa dalam menerbitkan dua novelku. Diantara para undangan yang hadir,
ada yang mengaku kalau mereka adalah penggemar setia novelku. Aku tak tahu dari
mana mereka tahu acara pernikahanku ini. Tapi yang pasti aku sangat senang
karena mereka sangat peduli padaku. Aku hanya bisa mendo’akan mereka supaya
mereka bisa menemukan jodoh mereka dengan cinta.
Aku duduk bersanding dengan Yusuf. Kulihat wajah Yusuf tak
seperti orang yang sudah menikah pada umumnya. Wajahnya terlihat murung dan tak
bersemangat. Dan yang mengetahui penyebab kemurungannya itu hanya aku pastinya.
Sesekali dia melebarkan senyumnya pada orang yang memberikannya selamat. Senyum
keterpaksaan tentunya.
Disela-sela waktuku menerima ucapan selamat dari para tamu,
aku melihat sosok seorang akhwat berjilbab lebar datang menghampiriku dan Yusuf
bersama dengan dua
Penerbit Ebook
orang temannya. Aku dan Yusuf berdiri. Setelah mendekat,
akhwat itu dan dua orang temannya mengatupkan tangannya pada Yusuf sambil
memberikan ucapan selamat padanya. Akhwat berjilbab lebar itu begitu cantik.
Dia lalu menjabat tanganku dan memelukku dengan erat seraya berkata,
”Barakallah ya? Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah,
wa rahmah” Ucapnya pelan. Dua orang akhwat yang mengiringinya melakukan hal
yang sama terhadapku. Aku hanya tersenyum pada mereka dan mengucapkan terima
kasih. Aku tak tahu siapa mereka. Tiba-tiba Yusuf bersuara,
”Syukran ya Alifa sudah mau datang” Ucap Yusuf pada akhwat
berjilbab lebar tadi yang kuketahui bernama Alifa. Alifa hanya mengangguk dan
segera meminta diri. Dua akhwat yang mengiringinya pun mengikutinya.
Kini aku tahu siapa Alifa yang pernah disebut-sebut oleh
temannya Yusuf waktu di book fair tempo hari. Kini aku tahu siapa Alifa yang
disarankan oleh temannya Yusuf itu untuk segera dilamarnya. Dan kini aku tahu,
siapa ’nama lain’ yang ada di hatinya Yusuf, yang mulai saat ini harus ia ganti
dengan namaku. Nama itu adalah Alifa. Gadis itu adalah Alifa. Dan impiannya
yang sebenarnya juga adalah Alifa. Bukan diriku.
Aku hampir saja meneteskan air mata kalau saja Mama tidak
mengajakku untuk berphoto bersama. Dalam keramaian pesta pernikahanku, aku
merasa sepi. Sepi sekali. Mulai hari ini, aku harus menjalani kehidupanku yang
baru dengan seorang suami yang tidak pernah mencintaiku. Aku merasa sendiri
saat ini. Hanya kesabaran yang dapat menguatkan aku. Sekali lagi, hanya
kesabaran yang dapat menguatkan aku.
* * *
Enam
Selesai akad dan walimatul ursy, Yusuf membawaku ke Hotel
Maharani yang terletak di kawasan Mampang Prapatan. Masih dengan busana
pengantin lengkap, aku dan Yusuf memasuki kamar malam pertama kami. Kamar yang
begitu indah, megah, mewah, dan harum. Tapi semua itu sia-sia saja kalau malam
ini aku dan Yusuf hanya bisa menatapi keindahan kamar itu dengan perasaan
hampa.
Aku tak tahu kenapa Yusuf membawaku ke hotel ini. Sebelum
masuk ke kamar, Mama, Papa, dan orang tua Yusuf ikut mengantarkan kami. Setelah
dirasa cukup, merekapun pulang. Tinggal aku dan Yusuf yang kini ada di dalam
kamar. Mau apa juga bingung. Aku memutuskan untuk mengganti pakaianku dengan
pakaian biasa yang sudah disiapkan dikamar. Entah siapa yang menyiapkan. Aku
mandi, berganti pakaian, dan mengambil air wudhu. Tak lupa aku mengajak Yusuf
untuk shalat sunnah dua rakaat. Diapun menuruti.
Tak lama shalat sunnah, azan maghrib berkumandang. Segera
saja Yusuf berpamitan padaku untuk melakukan shalat Maghrib dan Isya di masjid
terdekat. Aku mengizinkannya. Tapi sebelum itu, aku memintanya untuk membacakan
do’a yang pernah Rasulullah ajarkan. Diapun mau. Perlahan dia mencium keningku
dan membacakan do’a yang pernah Rasulullah ajarkan, di atas ubun-ubunku.
Sejurus kemudian aku dapati mataku basah dengan air mata. Aku ucapkan terima
kasih padanya. Setelah itu dia melangkah keluar dan hilang dari pandanganku.
Aku langsung menunaikan kewajiban shalat Maghribku di kamar
sambil menunggu Yusuf pulang dari masjid. Aku masih merasakan kehampaan disini.
* * *
Pukul delapan malam lebih lima belas menit Yusuf tiba
kembali dikamar. Aku yang selepas shalat Isya lalu tilawah sebentar, segera
bergegas untuk tidur. Tak ada pembicaraan yang berarti antara aku dan Yusuf.
Aku bangkit dari tempat tidur dan mengambilkan segelas susu putih untuknya. Dia
menerimanya dengan ekspresi biasa-biasa saja lalu mengucapkan terima kasih
padaku. Saat ini aku masih mengenakan jilbabku. Aku masih belum bisa tampil apa
adanya di hadapannya.
Aku kembali lagi ke tempat tidur dan memiringkan tubuhku
disana. Aku membelakangi Yusuf yang tengah menikmati susu putih buatanku tadi.
Kami masih terjaga oleh diam. Sesaat lamanya kami melewati waktu dengan kondisi
seperti itu. Tiba-tiba Yusuf bersuara dan memulai pembicaraan.
”Maafkan aku ya Din?” Ucapnya pelan.
Aku masih terkejut mendengar dia bersuara. Aku tak
menjawabnya dan hanya diam sambil mendengarkan dia kembali bersuara.
”Aku memang seorang lelaki pengecut yang tidak mempunyai
nyali untuk menghadapi semua kenyataan ini. Kenyataan bahwa aku harus membohongi
kedua orang tuaku, membohongi kedua orang tuamu, menyakiti hatimu, dan terlebih
lagi, aku harus menyakiti Allah karena telah melakukan hal ini. Aku
sungguh-sungguh lelaki yang tak berguna. Bahkan ketika aku sudah menjadi
seorang suami pun, seorang imam bagi dirimu, aku tidak bisa sedikit pun
membahagiakanmu. Aku memang pengecut”
Aku dengar suara itu dengan perasaan gamang. Aku tak bisa
berucap apa-apa. Perlahan aku rasakan kedua mataku basah. Segera aku
membasuhnya.
”Maaf, jika karena diriku, kamu harus merelakan
kebahagiaanmu tergadaikan oleh sikapku ini. Mungkin kamu tidak akan menemukan
kebahagiaan itu bersamaku. Tapi aku selalu berharap, kelak kaupun bisa
menemukan kebahagiaanmu itu” Ucap Yusuf lagi pelan.
”Bagaimana mungkin aku bisa bahagia, bila orang yang aku
cintai tidak bahagia” Ucapku menyahuti perkataan Yusuf. Aku tak mendengar dia
berucap.
”Aku memang memiliki dirimu, tapi aku tidak memiliki
cintamu. Aku memang bukan siapa-siapa dihatimu, tapi aku berharap....kau tidak
lagi memikirkan Alifa” Sambungku sekenanya.
”Alifa?!” Tanya Yusuf kaget.
”Dari mana kau tahu tentang Alifa?”
Aku bangkit dari tidurku dan kuhadapkan wajahku padanya.
Wajah yang penuh kecemburuan pada seorang wanita yang bernama Alifa.
”Kau tidak perlu tahu darimana aku tahu tentang Alifa, yang
terpenting, aku hanya minta satu darimu, tolong lupakan Alifa. Biar
bagaimanapun, aku istrimu yang sah. Dan seperti seorang istri pada umumnya, aku
tidak terima kalau kau masih saja terus memikirkan perempuan lain. Aku bukannya
egois, tapi aku hanya ingin membantumu untuk tidak menyakiti Allah lebih banyak
lagi. Aku yakin kaupun mengerti akan hal ini” Jelasku sambil menatap kedua
matanya yang jeli.
Kembali aku rebahkan tubuhku di tempat tidur dengan
membelakanginya. Kutarik selimut untuk menutupi tubuhku dan kumatikan lampu
yang ada diatas meja kecil disamping tempat tidur. Aku berusaha memejamkan
mataku sebisanya. Dalam hati kecilku, aku masih berharap Yusuf mau menyentuhku
dan menganggapku sebagai seorang istri. Biar bagaimanapun, akupun sama seperti
seorang istri pada umumnya, menginginkan kebahagiaan atas dirinya di malam
pertama pernikahannya. Melakukan ibadah bersama sebagaimana sepasang suami
istri pada umumnya. Memadu kasih dengan kerelaan hati dan jiwa, diiringi dengan
munajat sepasang pengantin yang tengah dimabuk cinta dan berharap pahala yang
banyak dari Allah swt. Dapat melahirkan generasi pilihan yang dapat menegakkan
kalimat Allah di muka bumi ini.
Tapi semua harapanku seolah sirna ketika Yusuf lebih memilih
untuk tidur membelakangiku dan mematikan lampu yang ada disebelahnya. Keadaan
kamar saat itu gelap seketika. Aku tak bisa merasakan apapun kecuali sakit yang
tiba-tiba saja menyusup dalam dada. Aku ingin menjerit, aku ingin berteriak,
tapi aku kembali sadar, bahwa ini hanya sebuah ujian yang Allah berikan
untukku. Dan aku yakin, akan ada berlimpah-limpah hikmah yang akan aku dapat
jika aku bersabar karenanya.
Rabbi, kuatkanlah aku malam ini........
* * *
Waktu seolah lamban sekali berputar. Malam ini, aku
benar-benar tidak bisa tidur. Entah dengan Yusuf. Berkali-kali aku merasakan
tempat tidur yang kami tiduri bergoyang karena Yusuf sering sekali
membalik-balikkan tubuhnya. Sedangkan aku masih dengan posisiku yang semula.
Aku merasakan pegal yang teramat sangat di bagian pinggangku karena semalaman
aku tidur dengan posisi miring membelakanginya.
Kuraih ponselku yang tergeletak diatas meja kecil dekat
lampu. Kunyalakan. Ternyata baru pukul setengah tiga pagi. Sudah bosan rasanya
aku dengan keadaan seperti ini. Ingin berbuat sesuatu, tapi apa? Tiba-tiba aku
merasakan Yusuf bangkit dari tempat tidur. Entah dia berjalan kemana. Aku
enggan menolehkan kepalaku untuk melihat sedang apa dia sekarang.
Sejurus kemudian aku mendengar dia bersuara.
”Din, aku mau ke masjid. Mau shalat tahajud lalu menunggu
hingga subuh datang” Ucapnya padaku. Aku dengar dia melangkahkan kakinya menuju
pintu keluar. Aku bingung harus berbuat apa. Seketika saja aku bangkit dari
tidurku dan berlari mengejarnya. Aku berdiri di depan pintu untuk menghadangnya
keluar. Segera saja aku kunci pintu. Kuncinya aku cabut dan kupegang dengan
erat.
”Kau tidak boleh kemana-mana!” Ucapku tegas. Aku menatapnya
dengan tajam. Kulihat pandangannya seolah bertanya-tanya akan sikapku.
Sedangkan aku masih berdiri di depan pintu sambil mengatur nafasku.
”Kenapa aku tidak boleh? Aku hanya ingin pergi ke masjid
untuk shalat tahajud dan menunggu hingga subuh datang. Aku hanya ingin shalat”
Ucap Yusuf seolah mempertegas pernyataannya yang pertama tadi.
”Kau tidak boleh kemana-mana sebelum kau melakukan tugasmu
sebagai seorang suami!” Kataku sambil diiringi dengan nafasku yang tersengal-sengal.
Aku yakin
tatapanku begitu meyakinkan untuknya. Dia tidak bersuara
sedikitpun. Tapi raut wajahnya begitu memperlihatkan kebertanya-tanyaannya. Aku
kembali berucap.
”Subuh masih dua jam lagi dan kau masih punya waktu untuk
menunaikan tugasmu sebagai seorang suami yang bukan seorang pengecut!”
Matanya tidak berkedip sedikitpun dan wajahnya terlihat
hampa. Bibirnya bergerak sedikit tapi tidak mengucapkan apapun. Aku terus saja
menatap wajahnya. Tiba-tiba mataku basah dan sejurus kemudian aku menangis
sejadi-jadinya. Aku menangis karena memikirkan tindakan dan perkataanku barusan
padanya. Aku tersadar. Mana mungkin Yusuf mau memenuhi permintaanku sedangkan
rasa cinta untukkupun dia tidak punya. Yusuf memandangiku yang sedang menangis.
Tak sedikitpun dia berpikir untuk menghampiriku untuk sekedar menghapus air
mataku.
Ditengah tangisku aku berucap,
”Mungkin aku egois karena tidak memimikirkn perasaanmu, dan
mungkin aku egois karena seakan-akan aku memaksakan cintamu padaku. Tapi aku
ingin tanya, apakah pernah kau memikirkan perasaanku ketika pertama kali aku
tahu kalau kau tidak mencintaiku? Apakah pernah kau memikirkan perasaanku ketika
surat darimu yang aku kira surat cinta, ternyata adalah surat yang isinya
begitu menyakitkan untukku? Apakah pernah kau memikirkan perasaanku ketika kau
menyebutkan ada ’nama lain’ di hatimu dan itu bukan aku? Apakah pernah kau
memikirkan perasaanku ketika di malam-malam menjelang hari pernikahanku, bukan
kebahagiaan yang aku rasakan melainkan kesedihan demi kesedihan yang terus
menyayat hatiku? Apakah tak tergerak sedikit saja hatimu, ketika kau melihat
air mataku jatuh di malam pertama pernikahanku? Apakah pernah kau
memikirkannya??!” Tanyaku sambil terus menangis.
Aku tertunduk lemas didepan pintu kamar sambil sesenggukkan.
Berkali-kali aku hapus air mataku tapi air mata itu keluar begitu saja seiring
dengan hatiku yang semakin sakit akan sikap Yusuf yang biasa-biasa saja
terhadapku. Sesaat lamanya aku menangis dan Yusuf juga hanya bisa menundukkan
kepalanya tanpa berbuat apapun. Aku semakin gemas dibuatnya. Dia memang
laki-laki yang pengecut. Untuk hal ini saja dia tidak bisa mengambil keputusan.
Akhirnya aku putuskan untuk membiarkannya pergi. Aku buka
pintu dan kupersilahkan dia untuk pergi. Kemana saja yang dia mau tanpa harus
memikirkan diriku.
”Pergilah!” Ucapku tanpa memandang wajahnya.
”Pergilah kemanapun kau suka. Pergilah ketempat yang bisa
membuatmu tenang. Pergilah agar kau tidak selalu melihat diriku. Pergilah tanpa
kau harus memikirkan diriku disini. Aku tidak akan memaksamu. Pergilah!!”
Perintahku dengan suara agak serak.
Lagi-lagi kurasakan air mataku jatuh membasahi pipiku.
Segera saja kuhapus. Sesaat kemudian aku mendengar dia melangkahkan kakinya
mendekat kearahku. Tiba-tiba dia memelukku dengan sangat erat. Aku terkejut
dibuatnya. Air mataku semakin deras membasahi pipi. Di dalam pelukannya aku
berucap,
”Pergilah! Aku sudah bilang aku tidak akan memaksamu.
Pergilah! Jangan biarkan hatimu tersakiti oleh perbuatan yang sebenarnya tidak
ingin kau lakukan. Pergilah! Pergilah!” Ucapku sambil terus menangis. Yusuf
semakin erat memelukku. Sejujurnya, aku merasakan kehangatan berada dalam
pelukannya.
Tiba-tiba Yusuf menutup pintu kamar dan menguncinya. Tanpa
berucap sepatah katapun dia mengajakku ke tempat tidur. Kududukkan tubuhku di
pinggirannya dan diapun duduk di hadapanku. Tangannya menghapus air mataku. Dia
menatapku dan berucap,
”Subuh masih dua jam lagi dan aku masih punya waktu untuk
menunaikan tugasku sebagai seorang suami. Dan akan aku buktikan, bahwa aku
bukan seorang pengecut”.
Aku mengerti apa yang diucapkannya. Aku tak menyahuti
perkataannya lagi. Perlahan dia melepas jilbab yang aku kenakan. Dia membuka
ikatan rambutku dan perlahan tangannya menyentuh kancing-kancing bajuku.
Dia merebahkan tubuhku. Dan dalam kegelapan malam, aku dan
Yusuf melakukan ibadah itu bersama. Melakukannya dengan penuh kekhusyukkan,
ketenangan, meskipun aku tahu, tak ada cinta yang dia berikan untukku. Tapi
sungguh, malam ini aku benar-benar menjadi seorang istri. Aku selalu berharap,
Allah masih bersedia memberikan sedikit pahalaNya atas ibadahku dan Yusuf malam
ini.
Ya Allah, berkahi malam ini untukku dan suamiku. Amin.
* * *
Tujuh
Tiga hari kami berada di hotel. Tak banyak waktu yang kami
gunakan untuk melakukan segala aktivitas yang biasanya dilakukan oleh pasangan
suami istri yang sedang berbulan madu pada umumnya. Jalan-jalan bersama,
melihat pemandangan suasana malam di beranda kamar hotel, atau sekedar sarapan
bersama sambil bercerita hal-hal yang indah yang Bisa membangkitkan
keromantisan dalam berumah tangga. Semua itu hanya impian belaka bagi
kehidupanku yang sekarang. Selepas shalat Subuh, Yusuf pergi keluar dan baru
akan kembali setelah waktu dhuha sudah hampir hilang. Sedangkan aku, kuhabiskan
waktuku sendirian di dalam kamar sambil membaca buku atau tilawah qur’an sambil
sedikit menghafalnya.
Tadi pagi Yusuf tak pergi kemana-mana. Dia bilang tugasnya
disekolah sudah menumpuk. Dia tak ingin tidak masuk mengajar lebih lama lagi
karena kasihan murid-muridnya. Ya, Yusuf memang seorang guru fisika di Sekolah
Menengah Pertama Labschool di kawasan Kebayoran. Dari sekolahnya sebenarnya
mengizinkan dia untuk libur sampai lima hari, tapi dengan alasan banyak kerjaan
yang tertunda kalau dia libur sampai lima hari, akhirnya dia memutuskan untuk
pulang hari ini. Akupun menerima keputusannya dan berusaha menerima alasannya
juga.
Semua barang sudah dikemas dengan rapi. Tak banyak barang
yang kami bawa sebab kami datang kesini langsung dari pesta walimatul ursy.
Hari ini kami sepakat untuk pulang kerumah orang tua Yusuf yang terletak di
kawasan Cawang, Jakarta Timur. Setelah dirasa cukup, kamipun pulang
meninggalkan hotel. Tak banyak yang kami perbincangkan selama dalam perjalanan
pulang, bahkan seolah tak ada topik yang enak untuk dibahas bersama. Suasana
didalam taksi benar-benar hening, sunyi, dan senyap. Sesekali supir taksi yang
kuketahui bernama Pah Burhan, berseloroh mengenai cerita-cerita lucu. Aku dan
Yusuf hanya tersenyum kecil lalu kembali diam. Kadang-kadang Yusuf menimpali
dan menyahuti celotehan Pak Burhan itu. Aku jadi tak berselera.
Di sekitar kawasan Jalan MT. Haryono taksi yang kami
tumpangi berhenti. Bukan karena mogok atau kehabisan bensin, tapi karena macet
tengah menghadang kami. Cukup lama taksi terjebak oleh kemacetan itu. Ditengah
hiruk pikuk kota Jakarta, tiba-tiba saja Pak Burhan mengeluarkan pertanyaan
yang membuatku dan Yusuf saling bertatap muka.
”Oh iya, kalian ini suami istri kan?” Tanyanya sambil
melihat kaca spion yang ada di atas kepalanya. Aku dan Yusuf mengangguk.
”Kenapa memang Pak?” Tanya Yusuf.
”Ah tidak. Saya takut saja kalau kalian ini bukan suami
istri tapi kok keluar dari hotel. Ternyata kalian memang benar-benar suami
istri. Syukurlah” Ucap Pak Burhan sambil sesekali membasuh peluh yang mengalir
di pelipisnya. Suaranya menunjukkan sekali keciri khasannya bahwa dia ini orang
Batak.
”Kenapa Bapak bertanya seperti itu?” Tanyaku tiba-tiba.
”Tidak. Tidak kenapa-kenapa. Habis saya perhatikan dari
tadi, kalian ini kok hanya diam-diaman saja tanpa berbicara sedikitpun. Kenapa
rupanya kalau saya boleh tahu?” Tukas Pak Burhan.
Aku dan Yusuf terdiam. Aku mengalihkan pandanganku kearahnya
dan diapun begitu. Lalu kami mengembalikan pandangan kami ke luar. Aku tak tahu
jawaban apa yang harus aku berikan untuk pertanyaan Pak Burhan yang sebenarnya
bisa aku jawab dengan jawaban, ”Kami seperti ini karena suami saya tidak
mencintai saya Pak”. Tapi aku hanya bergumam dalam hati. Pak Burhan kembali
bertanya.
”Waduh!! kalian ini kenapa malah diam lagi? Kalau memang
saya tidak boleh tahu, ya tidak apa-apa. Tapi kalau saya boleh saran, janganlah
suami istri itu saling diam dan acuh tak acuh. Tidak baik itu. Kalian itu
dipertemukan oleh Allah dan sepatutnyalah kalian bersyukur akan hal itu. Kalau
memang kalin punya masalah, maka selesaikanlah secara baik-baik. Dibicarakan
apa permasalahannya lalu carilah jalan keluarnya secara bersama-sama. Dan semua
itu butuh komunikasi yang kuat. Tidak diam-diaman seperti ini. Macam mana pula
kalian ini. Saya ini hidup berkeluarga itu sudah hampir 36 tahun, tapi keadaan
rumah tangga saya dan istri baik-baik saja, karena kami selalu membicarakan
apapun yang menurut kami mengganjal dihati. Seperti itulah kalian berdua.”
Jelas Pak Burhan panjang lebar.
Aku yang mendengarnya benar-benar tersentuh. Memang benar
apa yang di katakan Pak Burhan. Segala sesuatunya itu memang harus dibicarakan
agar tidak ada kesalah pahaman. Tapi apa yang mau dibicarakan kalau semuanya
sudah jelas kalau keadaan seperti ini disebabkan oleh ketidak mampuan suamiku
untuk mencintaiku. Aku perhatikan Yusuf hanya terdiam. Mungkin diapun tengah
memikirkan perkataan Pak Burhan barusan.
”Kalau saya boleh tahu lagi, sudah berapa lama kalian ini
menikah?” Tanya Pak Burhan lagi mengejutkanku. Kuarahkan pandanganku padanya.
Kali ini Yusuf menjawab,
”Baru tiga hari Pak”
”Wah! Wah! Wah! Baru tiga hari rupanya. Pengantin barulah
kailan. Kuucapkan selamat ya? Berarti, ke hotel kemarin itu untuk bulan madu
ya? Wah! Bergembiralah kalian. Berapa ronde sudah kalian mainkan?” Tanya Pak
Burhan membuatku bingung.
”Berapa ronde apanya Pak?” Yusuf balik bertanya.
”Ah! Masa kalian tidak mengerti. Itu, ronde kalian bermain
cinta. Masa tidak mengerti. Kaulah anak muda. Pura-pura saja kau tidak
mengerti. Tapi maklumlah aku, namanya juga pengantin baru. Jadi masih perlu
banyak belajar” Tukas Pak Burhan santai. Aku dan Yusuf saling berpandangan
sesaat lalu kembali terdiam.
Taksi sudah mulai berjalan. Kamipun terlepas dari jebakan
macet. Yusuf lebih memilih diam tanpa mau menjawab pertanyaan Pak Burhan tadi.
Aku sendiri memikirkan perkataan Pak Burhan.
”Namanya juga pengantin baru, jadi masih perlu banyak
belajar”
Ya, aku dan Yusuf memang masih harus banyak belajar. Belajar
untuk lebih sabar dalam menghadapi kenyataan hidup, belajar untuk lebih bisa
menerima keadaan kami satu sama lain, belajar untuk bisa lebih bersyukur atas
segala nikmat yang diberikan Allah, dan belajar untuk lebih bisa menghargai
dalam mencintai. Belajar, belajar, dan belajar. Itulah yang sekarang sedang aku
dan Yusuf usahakan dalam mengisi hidup ini.
Utlubul ilma minal mahdi ilallahdi.9
* * *
Sesampainya dirumah, aku dan Yusuf langsung disambut hangat
oleh orang tua Yusuf yang kini telah menjadi mertuaku, dan juga orang tuaku
yang kini telah menjadi mertua Yusuf. Mereka begitu bergembira melihat
kedatangan kami. Aku peluki Mama dan Papa dengan penuh kerinduan. Entah
mengapa, aku benar-benar merindukan mereka. Tak lupa aku memeluk Bu Rahayu yang
tak lain adalah ibu mertuaku dan mencium tangan Pak Sardi yang tak lain adalah
ayah mertuaku. Hari itu kami habiskan dengan memperbincangkan hal-hal kecil
seputar pernikahan dan bulan madu kami selama tiga hari di hotel.
Setelah cukup lama di rumah mertuaku, Mama dan Papa
memutuskan untuk pulang. Mulai hari ini, aku telah resmi menjadi bagian dari
keluarga Pak Sardi dan Bu Rahayu. Sebelum mereka pulang, aku memeluk mereka
dengan erat sambil menangis di pelukannya. Sungguh, aku tak bisa menahan tangis
haruku ketika mereka memutuskan untuk melepasku dan menyerahkanku pada Yusuf
dan keluarganya. Mereka hanya menenangkanku dengan ucapan-ucapan yang tidak
bisa aku terima dalam hati.
”Sudahlah Din. Kamu ini sudah berkeluarga. Ikutlah apa yang
suamimu bilang. Jangan sampai mengecewakannya ya? Mama dan Papa akan
sering-sering menghubungimu. Kami yakin kamu akan bahagia hidup bersama mereka.
Ya?”
Itulah perkataan yang diucapkan Mama sebelum dia pulang
bersama Papa. Aku memandangi mereka dari kejauhan. Semakin lama mereka hilang
dari pandanganku. Jauh, jauh, dan akhirnya hanya tinggal bayangan mereka saja
yang selalu aku ingat dalam pikiranku.
Aku, Yusuf, dan orang tuanya masuk kembali ke dalam rumah.
Hari sudah semakin malam. Ayah mertuaku memutuskan untuk segera tidur. Aku dan
Bu Rahayu membereskan gelas-gelas dan piring kotor untuk dicuci di dapur. Yusuf
masih tenang di depan televisi sambil menonton siaran berita malam. Tak pernah
ada senyum yang mengembang di wajahnya.
Aku membantu ibu mertuaku mencuci piring. Kami banyak berbincang
tentang pengalaman beliau selama berumah tangga dengan Pak Sardi. Dari
perbincangan itu aku
9 Tuntutlah ilmu dari buaian hingga keliang lahat
banyak menemukan pelajaran-pelajaran baru dalam berumah
tangga. Bagaimana caranya membuat suami bahagia, apa yang harus dilakukan
seorang istri jika suaminya marah, dan masih banyak lagi yang ibu mertuaku beri
tahukan padaku soal kehidupan suami istri. Termasuk hal-hal intim yang menurut
sebagian orang tabu untuk dibicarakan.
Aku melihat sosok Bu Rahayu begitu terbuka. Begitu ramah dan
baik dalam bersikap. Kelembutannya sebagai seorang ibu tidak mengalahkan sikap
ketegasannya dalam bertindak. Apa yang menurutnya benar, ya maka dibenarkannya.
Tapi jika menurutnya salah, maka diapun tak segan-segan memberikan peringatan
pada siapapun dengan tegas dan baik tapi tidak terkesan menghakimi.
Hal itu aku ketahui ketika dia bercerita tentang Yusuf yang
ketika kecil sering membuat onar dengan teman bermainnya. Suatu ketika, orang
tua temannya itu pernah mengadu pada Bu Rahayu kalau Yusuf telah memukul
anaknya itu sampai berdarah. Sebagai ibu yang adil dan bijaksana, Bu Rahayu
memberikan hukuman yang setimpal pada Yusuf. Dia akhirnya jera dan tidak
mengulangi perbuatannya lagi.
Diam-diam aku salut pada ibu mertuaku. Dia sosok yang
sekarang ini menjadi pengganti Mama di kehidupan baruku. Dia pula yang secara
tidak langsung dapat menguatkanku dalam menghadapi masalahku dengan Yusuf.
Tak terasa waktu sudah beranjak malam mendekati dini hari.
Aku dan ibu mertuaku memutuskan untuk segera tidur. Di ruang tamu tidak lagi
aku dapati Yusuf disana. Mungkin sudah masuk kamar. Semua lampu sudah
dimatikan. Sebelum masuk kekamarnya, Bu Rahayu memberikan senyumannya padaku.
Aku membalasnya. Aku masih berdiri di depan kamar Yusuf yang kini juga menjadi
kamarku. Kutarik nafasku dalam-dalam dan kupejamkan mataku. Perlahan kusentuh
gagang pintu kamarku dan mulai kubuka. Tiba-tiba saja dari dalam, Yusuf
membukanya dan mendapatiku tengah terkejut menatap wajahnya.
”Kenapa berdiri saja disitu? Ayo masuk!” Perintahnya padaku.
Aku hanya mengangguk dan mengikutinya masuk ke kamar. Dia merebahkan tubuhnya
di atas tempat tidurnya yang empuk. Lampu yang ada disebelahnya sudah
dimatikan. Cahaya yang ada tinggal dari lampu yang ada disebelah tempat aku
tidur. Aku belum mau mematikannya. Aku membuka jilbabku dan aku duduk di depan
cermin. Kusisiri rambutku perlahan sambil memandangi Yusuf dari balik cermin.
Tubuhnya membelakangiku.
Setelah selesai menyisir, aku melangkah ketempat tidur dan
bersiap untuk tidur. Posisiku sama seperti posisi dia membelakangiku. Kumatikan
lampu yang ada disebelahku dan kupejamkan mataku. Suasana malam ini begitu dingin.
Selimut yang menutupi tubuhku dan Yusuf seolah tak bisa memberikan rasa hangat
yang lebih pada hatiku yang semakin membeku. Dalam pejam malamku, aku berdo’a,
”Ya Allah, kuatkanlah aku untuk bisa menghadapi semua
kenyataan ini. Amin”
* * *
Delapan
Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti
jam, hari berganti hari, dan minggu berganti minggu. Tak terasa sudah lima
bulan lamanya aku hidup sebagai seorang istri. Menjalani hidup ini dengan
seorang suami yang sampai sekarang belum bisa
menerimaku sebagai istrinya. Sampai sekarang pula tak pernah
sedikitpun aku lihat sebuah kilatan cinta dimatanya untukku. Tak pernah ada
tatapan mesra penuh kehangatan yang dia berikan padaku ketika dia pulang dari
kerjanya ataupun ketika aku pulang dari kewajibanku bekerja di sebuah
perusahaan majalah Islam. Karena hal ini juga, novel ketigaku yang harusnya
sudah rampung beberapa bulan yang lalu, kini harus rela tertunda karena masalah
hatiku.
Suasana di rumah dan di kantor sangat berbeda sekali. Di
rumah tak bisa aku temukan kemesraan seikitpun dari suamiku, Yusuf. Tetapi
dikantor, aku justru menemui Arini dan Fauzi yang kian hari kulihat kian mesra.
Tak jarang aku mendengar cerita Arini tentang Fauzi, suaminya, yang menurutnya
sangat lembut dan mesra sekali pada dirinya. Aku semakin iri dibuatnya.
Andai saja Arini tahu apa yang aku alami selama hidup
berumah tangga, aku yakin Arinipun akan menangis dibuatnya. Dia adalah tipe
perempuan yang mudah sekali menangis bila melihat atau mendengar kabar atau
berita yang menyedihkan. Saat ini dia tengah mengandung dua bulan, hasil buah
cintanya dengan Fauzi. Aku hanya bisa tersenyum kecil kala mendengar ceritanya
tentang pengalamannya selama dia mengandung. Tak jarang aku dibuatnya
kebingungan tatkala dia menanyaiku kapan aku mau menyusulnya. Aku kembali
tersenyum dan hanya menjawab,
”Do’akan saja ya Rin? Mudah-mudahan Allah berkenan
menitipkan bidadari kecilNya padaku dan suami”
”Amin”, Sahut Arini mengamini.
Mengingat hal itu, aku jadi teringat akan bulan maduku
bersama Yusuf di hotel Maharani lima bulan yang lalu. Aku ingat betul, sejak
kejadian itu sampai sekarang, kami baru melakukannya lima kali. Ya, bisa
diperhitungkan dalam sebulan itu hanya sekali kami melakukannya. Maka tak
jarang, sebelum subuh aku terbangun untuk makan sahur agar keesokannya aku kuat
melakukan shaum10. Hal itu sengaja aku lakukan untuk menahan keinginan
biologisku yang tak tersalurkan.
Terkadang pula sebelum aku makan sahur, aku terlebih dulu
melaksanakan shalat tahajud dan sedikit bermunajat pada Sang Maha Pencipta.
Meminta kekuatan untuk bisa menjalani hidup ini, meminta kesabaran agar aku
bisa lebih tabah menerima keadaan suamiku, dan tak lupa, meminta kepada Sang
Maha Pemberi nikmat agar berkenan menitipkan bidadari kecilNya padaku. Bidadari
kecil yang sudah lama aku nantikan. Bidadari mungil yang sebenarnya sudah aku
impikan sebelum aku menikah. Bidadari cantik yang sesungguhnya menjadi
harapanku ketika kelak aku hidup bersama seorang suami. Bidadari yang mungkin
kini akan lama hadir dalam kehidupanku.
Ditengah munajatku kepadaNya, tak jarang air mataku jatuh
membasahi putihnya warna mukena yang kukenakan. Selesai bermunajat, aku tutup
tahajudku dengan shalat witir 3 rakaat lalu kemudian aku makan sahur. Seadanya
saja. Biasanya setelah sahur, aku mengambil buku harianku dan kutuliskan semua
keadaan hatiku disana. Tentang Yusuf suamiku, tentang alasanku melakukan puasa
sunnah, dan tentang harapan-harapanku di masa depan.
Terkadang ayah dan ibu mertuaku bertanya padaku kenapa
sering sekali melakukan puasa sunnah. Aku hanya menjawab,
10 puasa
”Ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan banyak
melakukan ibadah-ibadah sunnah”
Biasanya ayah dan ibu mertuaku hanya mengangguk-angguk
pelan.
Aku juga sering mandi sebelum subuh. Hal itu aku lakukan
agar mereka tak menaruh curiga padaku. Mereka pasti akan berpikir kalau aku
mandi sebelum subuh, itu artinya semalam aku dan Yusuf baru memadu kasih. Aku
hanya ingin mereka berpikiran yang baik-baik terhadap aku dan Yusuf. Itulah
hal-hal yang sering aku lakukan ketika aku masih tinggal dirumah mereka.
Tapi kini, hal itu tak perlu lagi aku lakukan. Beberapa hari
yang lalu aku dan Yusuf memutuskan untuk mengontrak rumah di darerah Lenteng
Agung. Tak besar memang, tapi aku rasa inilah yang terbaik yang harus kami
lakukan.
Tempat tidur, lemari pakaian, komputer, bufet, televisi,
kursi, dan meja, semuanya telah tertata dengan rapi dirumah kontrakan baruku.
Mama, Papa, Ayah, dan Ibu mertuaku turut membantuku merapikan rumah. Mereka
benar-benar mengira kalau kehidupanku dan Yusuf amatlah bahagia, sampai-sampai
kami memilih untuk mengontrak rumah karena ingin belajar hidup mandiri. Aku
hanya bisa meminta do’a restu mereka agar aku dan Yusuf memang benar-benar Bisa
menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya dirumah ini.
* * *
Malam ini Yusuf tengah bergelut dengan laptopnya. Aku
sendiri tak tahu apa yang sedari tadi dikerjakannya. Selepas Maghrib tadi dia
sudah mulai duduk di depan laptop sambil mengetik beberapa tulisan yang ada
dihadapannya. Beberapa lembar kertas berserakan di meja dan itu membuatnya
tampak sangat sibuk. Sepertinya tak ada jeda untuk dia melakukan aktivitas
lain. Dia menjeda kegiatannya tatkala azan Isya berkumandang dari masjid dekat
rumah baru kami. Masjid Al Mustofa namanya. Kali ini dia memilih untuk shalat
Isya dirumah ketimbang di masjid. Alasannya kalau di masjid, selesai shalat
tidak Bisa langsung pulang karena bapak-bapak disana sering mengajaknya
berbincang-bincang terlebih dahulu. Kalau itu sampai terjadi, maka malam ini
dia harus ekstra lembur karena banyak sekali ketikan yang yang harus
diselesaikan.
Selesai shalat Isya, dia kembali lagi bergelut dengan
laptopnya di ruang tamu. Aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya padanya
sambil membawakan segelas wedang jahe untuknya agar tidak masuk angin, karena
malam ini ia harus lembur.
”Ngetik apa sih Mas, dari tadi? Sepertinya kelihatan sibuk
sekali?” Tanyaku sambil memanggilnya dengan sebutan ’Mas’. Ya, memang semenjak
aku menikah dengannya, aku memanggilnya dengan sebutan ’Mas’. Diapun tidak
keberatan aku memanggilnya seperti itu.
Mendengar pertanyaanku tadi, dia sepertinya agak kesal.
Wajahnya tak tampak seguratpun senyuman. Mungkin karena dia yang sudah sibuk,
ditambah lagi dengan pertanyaanku yang sebenarnya tidak Bisa membantunya.
Mungkin. Itu hanya sebuah kemungkinan saja dariku. Dia menjawabnya tanpa
mengalihkan pandangannya dari laptop.
”Ngetik soal buat UTS11 besok” Jawabnya singkat.
”Memang sebanyak itu?” Tanyaku lagi.
11 Ujian Tengah Semester
Dia hanya mengangguk. Aku terdiam sesaat lalu beranjak pergi
dari hadapannya.
”Jangan tidur terlalu malam ya? Khawatir besoknya kurang fit
malah tidak Bisa ngajar. Wedang jahenya jangan lupa diminum, biar kamu tidak
masuk angin. Aku tidur duluan ya?” Ucapku sebelum beranjak pergi ke kamar.
Lagi-lagi dia hanya mengangguk lirih. Aku jadi merasa
kasihan padanya. Ketika aku hendak membuka pintu kamar, dia bersuara.
”Terima kasih ya? Dinda” Ucapnya sambil memandang kearahku.
Spontan akupun menoleh padanya dan memberikannya senyuman. Diapun tersenyum
kecil dan kembali lagi mengetik. Aku masuk ke dalam kamar dengan perasaan
bahagia. Entah mengapa mendengar dia memanggil namaku seolah mendadak berubah
menjadi panggilan sayang untukku. Dinda. Ya, nama itu seolah menjelma menjadi
panggilan, ’Dindaku sayang’.
Ah, andai saja itu benar-benar terjadi, pasti saat ini aku
tengah berbahagia dengan kehidupan baruku. Tapi paling tidak, mendengar dia
memanggil namaku saja aku sudah sangat senang. Malam ini, aku Bisa tidur
nyenyak.
”Terima kasih ya? Dinda” Suaranya terus menggema di
telingaku, sampai aku memejamkan mata.
* * *
Sembilan
Di tengah pejam malamku, tiba-tiba aku terbangun. Aku
merasakan haus yang tak tertahankan. Akhirnya aku bangkit dari tidurku dan
melangkah keluar kamar. Betapa terkejutnya aku melihat suamiku tengah tertidur
di depan laptopnya. Kulirik jam dinding. Pukul sebelas malam. Aku terenyuh
melihatnya. Kuhampiri dia. Wajahnya begitu lelah terlihat. Wedang jahe yang
tadi aku buatkan untuknya juga sudah habis diminumnya. Aku juga melihat ketikan
di komputernya. Masih banyak yang belum ia selesaikan. Aku bingung. Apa yang
harus aku lakukan untuk membantunya?
Sejenak aku berpikir. Tiba-tiba aku mempunyai ide untuk
menghubungi Mas Bambang, temannya Mas Yusuf di tempatnya mengajar, untuk
mencari tahu tentang soal-soal yang tengah diselesaikannya sekarang. Mas
Bambang itu mengajar pelajaran matematika. Tapi, apa tidak terlalu malam untuk
menghubunginya? Apa tidak mengganggunya? Ah, ini kan untuk kebaikan juga. Kalau
sampai soal-soal ini tidak selesai malam ini juga, maka besok tidak ada soal
fisika yang bisa dikerjakan. Aku putuskan untuk menghubungi Mas Bambang melalui
ponsel Mas Yusuf yang tergeletak di meja dekat laptopnya. Kucari nama Mas
Bambang lalu kupanggil. Busmillah.
Sesaat lamanya yang kudengar hanya nada sambung. Kuulangi
lagi. Alhamdulillah diangkat.
”Ada apa Suf? Malam-malam kok mengganggu saja” Ucap Mas
Bambang dengan nada kesal. Terdengar sekali suaranya yang baru saja terbangun
dari tidurnya.
”Maaf Mas, saya Dinda, istrinya Mas Yusuf” Tukasku agak
pelan. Takut Mas Yusuf terbangun.
”Oh, maaf...maaf. Saya pikir Yusuf. Ada apa ya, menelepon
malam-malam?” Tanya Mas Bambang terdengar kaget ketika dia tahu yang
meneleponnya adalah istrinya Yusuf, bukan Yusuf.
”Maaf ya Mas, sebelumnya. Saya hanya ingin tahu mengenai UTS
besok. Apa mata pelajaran Mas Yusuf itu akan diujikan besok pagi, Mas ya?”
”Oh...iya. Pelajaran fisika itu akan diujikan besok bersama
pelajaran Bahasa Indonesia. Ada apa rupanya ya?” Tanya Mas Bambang ingin tahu.
”Tidak Mas, tidak ada apa-apa. Ehm...setiap soal pelajaran
itu mendapat jatah berapa nomor ya Mas?”
”Setiap soal pelajaran itu mendapat jatah 50 nomor, kecuali
matematika, hanya 40 nomor” Jelas Mas Bambang singkat. Kulirikkan mataku ke
layar laptop. Soal yang diselesaikan Mas Yusuf baru 27 nomor. Berarti kurang 23
nomor. Jumlah yang cukup besar bila harus diselesaikan malam ini juga.
Mengingat waktu terus berputar dan malam semakin larut menjelang.
”Ya sudah Mas, terima kasih kalau begitu. Maaf ya mengganggu
malam-malam” Ucapku masih dengan pelan.
”Ya...ya, tidak apa-apa” Sahut Mas Bambang.
”Makasih sekali lagi Mas, ya. Assalamu’alaikum”
”Wa’alaikumussalam” Jawabnya menutup pembicaran.
Aku langsung bergerak cepat. Kuputar laptop kearahku. Kubaca
dengan seksama konsep soal-soal fisika yang ada dihadapanku. Setelah cukup, aku
mulai mengetiknya dengan melanjutkan soal yang ada. Dengan teliti aku
membacanya dan mengetiknya. Agak sulit juga rupanya karena banyak
istilah-istilah fisika yang masih sangat asing bagiku. Namun karena niatku
ingin membantu suamiku, maka aku harus benar-benar berusaha untuk menyelesaikan
soal-soal ini.
Waktu terus bergulir hingga jam dinding sudah menunjukkan
pukul satu malam lewat lima belas detik. Alhamdulillah semuanya sudah selesai.
Setelah kuteliti ulang dan kurasa benar, soal-soal itu kumasukkan kedalam flash
disk, lalu kuprint semuanya di komputerku yang ada di di dalam kamar.
Alhamdulillah wa syukurillah, lima lembar soal dengan kertas ukuran folio,
huruf times new roman dengan ukuran 12 font, telah selesai aku ketik. Lega
rasanya hati ini karena akhirnya soal-soal ini sudah selesai. Aku tersenyum
bangga.
Kuletakkan lima lembar soal itu di atas meja. Kubereskan
semua kertas-kertas yang ada disana dan kumatikan laptopnya. Setelah semua
beres, aku berniat melaksanakan shalat tahajud. Sebelum kuberanjak ke kamar
mandi, kusempatkan mataku menatap wajah Mas Yusuf. Begitu bersih dan bersahaja.
Tapi sayang, tak pernah kutemukan pancaran cinta yang dia berikan untukku. Oh,
ingin sekali rasanya aku menyentuh wajahnya, membelai rambutnya, dan...mencium
pipinya. Ya, menciumnya. Aku ingin sekali menciumnya. Sampai sekarang belum
pernah aku merasakan ciuman hangat darinya. Tapi, ah, kuurungkan saja niatku
untuk menciumnya diam-diam. Aku tak ingin menciumnya karena terpaksa. Biarlah.
Jika memang seumur hidup aku tidak akan pernah mendapatkan ciuman itu, aku akan
berusaha untuk ikhlas. Hanya dengan keikhlasan dan kesabaran, aku akan
menjalani hidup ini.
Ku langkahkan kakiku ke kamar mandi untuk mengambil air
wudhu.
* * *
”Dinda, apa semua ini kamu yang mengerjakan?” Tanya Mas
Yusuf ketika dia baru saja terbangun dari tidurnya. Aku melongok keruang tamu
dari balik dinding dapur dan balik bertanya padanya seolah-olah tidak mengerti
apa yang ditanyakannya.
”Mengerjakan apa?”
”Soal-soal UTS ini?” Jawabnya dengan raut wajah yang tampak
bingung sambil membaca dengan seksama kertas-kertas soal yang dimaksud.
”Oh! Iya, itu aku yang mengerjakan. Kenapa, ada yang salah?”
Mas Yusuf terdiam sejenak. Dia mengerutkan keningnya. Kedua
alisnya hampir saja bertemu ketika membaca soal-soal itu.
”Ehm....Tidak, tidak ada yang salah fatal. Hanya saja ada
beberapa kata yang salah penulisannya” Jawabnya sambil memandang kearahku
kemudian menunduk lagi memeriksa soal-soal itu.
”Syukurlah kalau begitu” Sahutku sambil meneruskan
aktivitasku memasak nasi goreng dan telur dadar. Aku kembali berkata pada Mas
Yusuf.
”Hari semakin siang, Mas. Kau belum shalat Subuh” Ucapku
lagi pada Mas Yusuf. Sekedar mengingatkan kalau dia memang belum shalat Subuh.
”Astaghfirullahal’adzim” Ucapnya terdengar di telingaku. Tak
lama kemudian dia bergegas masuk ke kamar mandi tanpa membawa handuk. Dia
melewatiku dengan terburu-buru.
Nasi goreng yang kubuat sudah matang. Kuangkat dan kusajikan
menjadi dua piring. Telur dadarnya pun senantiasa menghiasinya. Kusajikan semuanya
di atas meja makan. Dari kamar mandi terdengar Mas Yusuf sedang mandi.
Sepertinya dia lupa kalau dia tidak membawa handuk. Mungkin awalnya dia hanya
berniat untuk mengambil air wudhu. Tapi karena sudah terlanjur di kamar mandi,
ya sekalian saja dia mandi. Tanpa ingat kalau dia lupa membawa handuk.
Setelah meletakkan dua piring nasi goreng di meja makan, aku
bergegas mengambil handuk dan menyerahkannya pada MasYusuf.
”Mas, ini handuknya!” Ucapku dari luar kamar mandi sambil
mengetuk pintunya.
Tak lama dia membuka sedikit pintu kamar mandi dan
mengulurkan tangannya seraya mengambil handuk yang aku berikan padanya.
”Terima kasih” Ucapnya pelan sambil menutup pintu kamar
mandi.
Aku kembali lagi ke meja makan dan menatanya dengan rapi.
Setelah kurasa beres semua, aku beranjak ke kamar untuk menyiapkan pakaian Mas
Yusuf yang akan dia kenakan untuk berangkat mengajar. Kemudian aku merapikan
diriku untuk segera bersiap-siap pergi ke kantor.
Setelah keluar dari kamar mandi, Mas Yusuf langsung masuk ke
kamar dan mengunci pintunya. Aku sudah menunggunya di meja makan untuk sarapan.
Tak lama kemudian dia keluar kamar dengan mengenakan pakaian yang tadi sudah
aku siapkan.
”Sudah shalat Mas?” Tanyaku ketika dia baru saja keluar dari
kamar.
Dia hanya mengangguk kemudian duduk di salah satu kursi yang
ada di sebelahku. Di hadapannya sudah ada sepiring nasi goreng lengkap dengan
telur dadar dan ketimun serta tomatnya yang kuiris tipis-tipis. Di sebelah nasi
gorengnya sudah aku siapkan segelas teh manis hangat untuk menghangatkan
perutnya.
Dia melahapnya dengan terlebih dahulu membaca Bismillah.
Akupun menemaninya makan. Tak ada perbincangan yang berarti ketika kami sedang
makan. Entahlah. Mungkin sampai detik ini, perasaannya terhadapku belum
berubah. Masih dingin dan acuh. Padahal sebenarnya, aku ingin sekali
mendengarkan dia berucap sepatah kata saja padaku. Kata apa saja itu. Yang
penting aku mendengar dia memanggil namaku seperti semalam. Rasanya indah
sekali.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam lewat dua puluh
lima menit. Mas Yusuf menyudahi makannya dengan menenggak teh manis hangat
buatanku. Setelah itu dia beranjak mengambil sepatunya dan memakainya di ruang
tamu. Semua kertas soal yang aku ketik semalam sudah dia masukkan ke dalam
tasnya. Setelah semuanya dirasa cukup dan dirasa tidak ada yang tertinggal, dia
bangkit sambil membawa tasnya.
Aku mengiringi langkahnya dari belakang. Setelah di depan
pintu dia berbalik kearahku. Aku mencium tangannya dengan penuh ketulusan. Dia
menatap wajahku dengan biasa-biasa saja. Aku menatapnya.
”Hati-hati di jalan ya? Jangan ngebut” Pesanku sebelum dia
berangkat.
Lagi-lagi dia hanya mengangguk pelan tanpa menyahut
sedikitpun. Dia melangkah kearah motornya sambil mengucapkan salam. Aku pun
menjawabnya. Namun tiba-tiba dia menghentikan langkahnya dan berbalik
menghampiriku.
”Ada apa lagi? Ada yang tertinggal?” Tanyaku dengan penuh
kebingungan.
Dia menggeleng kemudian bersuara,
”Tidak ada yang tertinggal namun ada yang terlupa...”
Jawabnya membuat aku tambah bingung.
”Apa yang terlupa? Biar aku ambilkan” Ucapku.
”Tidak usah kau ambilkan. Aku hanya lupa mengucapkan terima
kasih padamu atas bantuanmu menyelesaikan soal-soal UTS ini. Sungguh, kalau tak
ada dirimu, mungkin pagi ini aku akan kuwalahan menyelesaikan soal-soal ini
sendirian sambil di kejar-kejar waktu. Terima kasih ya karena sudah meluangkan
waktu malammu untuk menyelesaikan pekerjaanku. Suatu saat, pasti akan kubalas”
Ucapnya panjang lebar membuat aku terhenyak.
”Tidak perlu seperti itu. Memang sudah menjadi tanggung
jawabku sebagai seorang istri untuk membantu suaminya” Sahutku menimpalinya.
Dia mengangguk pelan dan kembali berkata,
”Ya. Kalau begitu aku berangkat. Assalamu’alaikum”
”Wa’alaikumussalam”
Dia pun menaiki motornya dan sejurus kemudian dia menyusuri
jalanan dan menghilang dari pandanganku. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang
merasuki jiwaku. Sesuatu yang menetes di kedalaman hatiku yang kemudian
membuatnya menjadi segar kembali. Entah apa itu. Aku yakin, itulah cinta.
Cintaku yang kian hari kian mendalam pada sosok suamiku. Cinta yang bisa
menguatkanku dalam keberadaanku bersamanya.
Aku pun masuk kedalam dan bersiap-siap untuk berangkat
kerja.
* * *
Sepuluh
Ponselku berdering ketika aku tengah sibuk dengan
pekerjaanku di kantor. Awalnya aku kurang menghiraukannya karena memang
pekerjaanku benar-benar menumpuk. Tapi ponsel itu terus berdering mengeluarkan
ringtone ’Merah Saga’nya Shoutul Harokah, nasyid kegemaranku. Kuangkat.
Ternyata dari Mas Yusuf. Pikiranku tiba-tiba teralih sejenak pada Mas Yusuf
yang kini tengah menanti jawaban telepon dariku.
”Assalamu’alaikum. Ada apa Mas?” Tanyaku segera tanpa
basa-basi.
”Wa’alaikumussalam. Nanti sore ada acara di Bumiwiyata Depok.
Kita ketemu disana jam 5 ya? Malamnya kita menginap di rumah Ibu” Jawabnya
singkat dengan cepat. Ibu yang dimaksud adalah ibunya. Aku baru menyadari, dia
tak sedikitpun menyebut namaku.
”Acara apa memangnya Mas?”
”Acara bedah buku bersama Penerbit Al Kautsar. Bintang
tamunya ada Shoutul Harokah dan Izzatul Islam. Sekalian aku mau cari-cari buku
disana” Sahutnya datar.
”Oh. Ya sudah kalau begitu, kita ketemu disana jam 5 ya?”
”Ya. Assalamu’alaikum” Ucapnya mengakhiri pembicaraan.
Diapun langsung menutup teleponnya tanpa mendengar dulu jawaban salamku.
”Wa’alaikumussalam”
Aku terdiam sejenak sesaat sambil memikirkan apa yang baru
saja aku alami tadi. Mas Yusuf meneleponku. Dia mengajakku pergi bersama ke
sebuah acara. Inilah untuk yang pertama kalinya selama lima bulan aku menikah
dengan Mas Yusuf, dia mengajakku pergi bersama. Suatu hal yang sebenarnya sudah
lama sekali aku impi-impikan. Pergi ke sebuah acara bersama seorang suami yang
Bisa menggandengku dan menuntunku. Seperti apa yang sering aku lihat. Tapi
apakah nanti dia mau menggandeng dan menuntunku seperti apa yang aku
impi-impikan selama ini? Entahlah. Aku tidak mau terlalu berharap banyak
padanya.
Kuselesaikan kembali pekerjaanku. Tak lama kemudian ponselku
berdering lagi. Kali ini satu pesan diterima. Kubuka. Ternyata dari Mas Yusuf
lagi. Bibirku tersenyum kecil sambil membaca isi pesannya.
Tunggu sj di dpn pintu msk dan jgn kmn2 smp aku dtg.
Aku membalasnya.
Baiklah. Aku janji tak akan kmn2 smp kau dtg.
Aku bahagia sekali. Mudah-mudahan saja ini langkah awal
untuk memperbaiki hubungnku dengan Mas Yusuf.
Waktu berlalu begitu cepat. Pekerjaanku sudah selesai.
Selepas shalat Ashar aku langsung bergegas pergi menuju Bumiwiyata Depok. Jarak
antara kantorku ke Depok lumayan jauh, jadi aku putuskan untuk berangkat
selepas shalat Ashar agar Mas Yusuf tak terlalu lama menungguku. Dari arah
Rawamangun aku naik mobil angkot jurusan Pasar Minggu. Setelah sampai di Pasar
Minggu, aku turun dan menyambung lagi dengan Bus jurusan Depok. Alhamdulillah
aku mendapat satu kursi pertama di dekat pintu. Di daerah Poltangan, banyak
penumpang yang turun, namun tak sedikit pula orang yang berebut untuk naik.
Disaat yang bersamaan aku melihat ada seorang ibu tua yang
naik dengan membawa beberapa kantong plastik yang aku perkirakan isinya sangat
banyak karena cara ibu tua itu membawanya sangat berat. Dia memutarkan
pandangannya kesemua tempat duduk yang
ada. Penuh. Semua kursi terisi. Ada satu yang kosong di
dekat supir. Ibu itu hendak menghampirinya sebelum akhirnya seorang pemuda naik
ke dalam Bus dan mendudukkan dirinya disana terlebih dahulu.
Ibu itu sudah di dera keletihan yang teramat sangat. Peluh
di wajahnya menggambarkan sekali kalau dia benar-benar letih dan memerlukan
tempat duduk untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah tua. Aku mengalihkan
pandanganku ke semua penjuru Bus. Tak ada yang mau peduli pada ibu itu. Ada
seorang perempuan muda yang asik menelepon sambil tertawa-tawa, ada juga
kulihat seorang lelaki yang usianya aku perkirakan baru 30 tahunan sedang
membolak balikan koran yang tengah dibacanya sambil sesekali melirikkan kedua
matanya ke arah ibu tadi lalu pura-pura kembali membaca.
Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung bangkit dari dudukku
dan kupersilahkan ibu itu untuk duduk di kursi yang tadi aku tempati. Aku
menemukan kebahagiaan yang tiada terkira terpancar di wajahnya.
”Terima kasih ya Nak?” Ucapnya pelan sambil menata barang
bawaannya di pangkuannya. Aku mengangguk pelan dan tersenyum padanya. Bus melaju
kencang di jalan raya. Terus berjalan menyisiri belahan kota Jakarta. Sejenak
aku berpikir tentang semua orang yang ada didalam bus. Kenapa mereka begitu
tega melihat seorang ibu yang sudah tua ini berdiri sambil menahan letih dan
peluhnya sambil menunggu ada yang mau bangkit dan memberikan tempat duduknya
untuknya, sementara banyak dari mereka yang masih sangat muda dan masih gagah,
duduk dengan nyamannya sambil memperhatikan ibu itu dengan tatapan biasa-biasa
saja. Tak ada sedikitpun dari mereka yang merasa kasihan melihat ibu itu dan
tersentuh hatinya lalu bangkit dan memberikan tempat duduknya untuknya. Apa
mereka tak menyadari berapa banyak pahala yang tengah Allah siapkan bagi mereka
kalau saja mereka mau sedikit saja berbagi pada orang lain yang membutuhkan.
Tiba-tiba aku teringat akan sebuah hadits Rasulullah yang
pernah murabbiku sampaikan, tentang ’amal kebaikan’ di halaqah pekan kemarin.
”Dari Abu Hurairah ra. berkata, Nabi saw. Bersabda, Barang
siapa yang melepaskan seorang mukmin dari kesusahan dunia, maka Allah akan
membebaskannya dari kesusahan di hari kiamat. Barang siapa yang memudahkan
orang yang sedang mengalami kesulitan, maka Allah akan memudahkan kepadanya di
dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan
menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hambaNya
selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barang siapa yang menempuh suatu
jalan untuk memperoleh ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju
surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu rumah Allah (masjid); membaca
kitab Allah, dan mempelajarinya bersam-sama, melainkan akan turun kepada mereka
ketentraman, rahmat Allah akan menyelimuti mereka, para malaikat berkerumun di
sekelilingnya, dan Allah akan memuji mereka di depan (para malaikat) yang
berada di sisiNya. Barangsiapa amalnya lambat (kurang), maka nasabnya tidak
akan dapat menyempurnakannya12 ”
Aku ingin sekali mencium bau surga itu. Aku ingin sekali
melihat indahnya surga yang Allah janjikan itu. Aku ingin sekali. Apakah
mereka-mereka yang tengah terduduk itu tidak menginginkan surga itu? Aku yakin
mereka pasti menginginkannya. Tapi aku lebih
12 HR. Muslim
yakin lagi, meskipun mereka mengetahui berapa besar balasan
yang akan Allah berikan, mereka akan memilih untuk tetap duduk daripada harus
berpanas-panasan sambil berdiri sementara mereka sudah mendapatkan tempat duduk
yang enak.
Menurutku, mereka itu sombong. Mereka menganggap pahala
mereka sudah banyak jadi tak perlu lagi memberikan tempat duduk pada ibu tua
tadi demi mendapatkan sebuah pahala. Dan lebih celakanya lagi, pemikiran
seperti itulah yang kini sudah tersetting di pikiran mereka masing-masing. Dan
mereka juga beranggapan bahwa ibu tua tadi pasti juga akan mengerti kalau
mereka tidak berkenan bangkit, itu karena mereka juga sama-sama lelah. Tapi
menurutku, kadar kelelahan mereka berbeda. Mereka bisa menahan rasa lelah
mereka, tapi kalau ibu tua tadi? Bisa-bisa dia pingsan kalau terlalu lelah
berdiri. Hah, aku hanya bisa berdo’a agar mereka semua bisa lebih mengerti pada
jalan dan tujuan hidup mereka masing-masing.
Jalanan tidak terlalu macet untuk di lalui kendaraan. Ya
memang kadang-kadang mobil yang aku tumpangi berhenti sejenak tapi itu tidak
lama. Meskipun misalnya mobil yang aku tumpangi terjebak macet, aku berusaha
untuk tetap sabar. Aku tak ingin menyalahkan siapapun atas kemacetan yang
terjadi. Macet ya macet. Hanya kadang banyak orang yang mempunyai persepsi yang
berbeda-beda mengenai macet itu sendiri.
Ada yang menyalahi pemerintah karena kurang bijak dalam
mengatasi masalah kemacetan, atau malah justru menyalahi pengguna jalan dan
kendaraan yang kurang Bisa bertanggung jawab dalam menggunakan jalan. Entahlah.
Semua itu hanya pendapat dari masing-masing orang. Yang pasti untukku, macet ya
macet. Biar bagaimana pun kita berkeluh kesah tentang kemacetan, semua itu
tidak akan menyelesaikan masalah. Malah justru Bisa membuat masalah baru pada
diri kita yang menggerutu tanpa tujuan yang jelas kepada siapa keluhan itu
ditujukan. Lebih baik bersabar dan bertawakal karena hal itu Bisa membawa kita
pada dua keuntungan. Keuntungan yang pertama, kita Bisa memperoleh pahala atas
kesabaran kita, dan keuntungan yang kedua, kita akan awet muda jika kita selalu
berpikiran positif pada segala hal, termasuk kemacetan.
Yang pasti, sebagai manusia dan rakyat biasa, kita hanya
Bisa berdo’a kelak kota Jakarta ini bisa mendapatkan seorang pemimpin yang benar-benar
bisa memikirkan kepentingan rakyatnya dan dapat menyelesaikan permasalahan
dengan adil dan bijak.
Bumiwiyata sudah di depan mata. Aku turun dari bus dengan
perasaan senang. Aku menyeberang jalan dan sampai di depan Bumiwiyata. Disana
sudah banyak akhwat yang berjilbab lebar dan ikhwan dengan celananya yang
semata kaki dan dagunya yang berjenggot tipis. Aku teringat pesan dari Mas
Yusuf agar aku menunggunya di depan pintu masuk sampai dia datang. Aku pun
menunggunya.
Banyak yang datang namun tak sedikit pula yang keluar. Aku
memandangi mereka dengan biasa saja. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan
pukul 17 lewat 15 menit. Aku sudah mulai gelisah. Kuputuskan untuk menelepon
Mas Yusuf di menit ke 25. Tak ada jawaban.
”Telepon yang anda tuju, untuk sementara tidak dapat di
hubungi. Cobalah beberapa saat lagi, atau tinggalkan pesan setelah nada
berikut”
Itulah jawaban yang aku dengar berkali-kali dari operator
telepon. Ada apa dengan Mas Yusuf? Aku benar-benar gelisah. Tiba-tiba ada
seorang akhwat yang sangat aku kenal sekali wajahnya, bahkan tak pernah bisa
aku lupa, menghampiriku sambil tersenyum.
”Assalamu’alaikum” Ucapnya dengan lembut.
”Wa’alaikumussalam” Jawabku sambil melemparkan senyum
padanya.
”Afwan kamu Dinda kan, istrinya Yusuf?”
”Iya. Kamu pasti Alifa” Jawabku menimpalinya.
”Iya aku Alifa. Kamu masih ingat aku? Bukankah kita belum
pernah berkenalan?”
”Bagaimana mungkin aku lupa. Suamiku kan pernah menyebut
namamu ketika kamu datang ke pernikahanku”.
”Oh, syukurlah kalau kamu masih ingat. Aku pikir kau tak
akan mengenaliku”
”Tenang saja. Aku selalu berusaha untuk mengingat
orang-orang yang pernah aku kenal. Oh iya, kamu ikut acara ini?”
”Iya. Kamu sendirian? Yusufnya mana?”
”Mungkin sebentar lagi akan sampai. Tadi kami janjian untuk
bertemu disini”
”Oh begitu” Sahut Alifa datar. Aku mengangguk sambil
tersenyum.
”Oh iya hampir lupa” Tukasnya padaku. Dia mengambil sesuatu
dari tasnya.
”Ini” Ucapnya sambil memberikan sebuah undangan pernikahan
berwarna biru tua padaku. Aku menerimanya.
”Ini undangan pernikahanku. Datang ya?” Sambungnya. Aku
menatapnya sesaat lalu kubuka undangan itu. Disitu tertera nama Alifa Oktaviana
menikah dengan Guntur Maulana.
”Selamat ya?” Ucapku padanya. Dia mengangguk.
”Kalau begitu aku ke dalam dulu ya? Jangan lupa datang
bersama suamimu di hari pernikahanku nanti” Ucapnya sebelum pergi
meninggalkanku.
”Insya Allah nanti aku sampaikan” Sahutku. Alifa tersenyum
dan pergi dari hadapanku. Kulihat lagi jam tanganku. Sudah pukul 17 lewat 30
menit tapi Mas Yusuf belum juga datang. Kemana dia?
Tak lama berselang aku mendapati seorang ikhwan yang dulu
pernah aku lihat di book fair. Dia temannya Mas Yusuf yang pernah berbincang
dengannya. Aku melihatnya tepat ketika dia melihat kearahku. Dia mengangguk dan
menghampiriku.
”Assalamu’alaikum. Yusufnya kemana ukh13?” Tanyanya padaku.
Aku menggeleng, ”Wa’alaikumusslam. Belum datang”.
”Oh...Bukannya bareng?”
Aku menggeleng lagi sambil mengarahkan pandanganku kearah
jalan. Siapa tahu Mas Yusuf sudah datang.
”Tadi sih ana ketemu dia di sekolah terus dia bilang mau
pergi jenguk Mas Bambang yang lagi sakit. Tapi dia nggak bilang mau datang
kesini” Jelasnya.
”Memang Mas Bambang sakit apa? Antum tahu kapan dia pergi
jenguk Mas Bambang?” Tanyaku.
”Tadi pagi kakinya Mas Bambang tersiram air panas, jadi tadi
dia tidak mengajar. Kayaknya abis Ashar tadi deh Yusuf jalan. Soalnya dia
bilang, pulang dari rumah Mas Bambang dia mau langsung kerumah ibunya. Mau
nginep katanya. Tapi nggak tahu juga sih”
Aku terdiam sejenak.
13 Ukh adalah sapaan seperti mbak atau kak. Sekedar untuk
menghormati seorang perempuan.
”Randi!! Ayo!” Teriak salah seorang memanggil ikhwan yang
kini ada di hadapanku yang kutahu bernama Randi.
”Afwan. Ana duluan. Asslamu’alaikum” Ucapnya lalu melangkah
menghampiri seseorang yang tadi memanggilnya.
”Wa’alaikumussalam” Sahutku.
Pikiranku semakin kacau. Apa Mas Yusuf lupa dengan janjinya?
Apa Mas Yusuf lupa kalau aku sekarang tengah menantinya disini? Oh Tuhan, apa
yang sebenarnya terjadi? Mengapa Engkau mendatangkan Randi kesini untuk
memberikan kabar yang membuatku bimbang?
Sesaat lamanya aku terdiam sampai akhirnya aku menyadari
kalau rintik-rintik hujan telah membasahi pakaianku. Segera saja aku ambil
payung dari dalam tas dan kubuka untuk melindungi tubuhku dari hujan. Kalau
saja Mas Yusuf tidak menyuruhku menunggunya disini, pasti aku sudah masuk
kedalam lebih dulu. Dan kalau saja aku tidak berjanji untuk menunggunya sampai
ia datang, pasti saat ini aku sudah berada di dalam tanpa harus berdiri disini
ditemani hujan yang turun semakin deras.
Langit sudah semakin mendung dan azan Maghrib pun
berkumandang. Dengan berucap bismillah aku melangkahkan kakiku kedalam diiringi
niat kalau aku hendak menunaikan shalat Maghrib dan bukan bermaksud untuk
mengingkari janjiku pada Mas Yusuf.
Setelah shalat Maghrib, aku kembali lagi kedepan. Dengan
harapan Mas Yusuf pasti datang. Hujan sudah mulai reda, namun masih ada
sisa-sisa gerimisnya yang membasahi jilbabku. Aku sudah mulai letih. Aku
berniat menghubungi Mas Yusuf kembali. Tapi kuurungkan. Akhirnya aku putuskan
untuk mengiriminya pesan yang isinya,
Mas, bkn mksudku ingin mengingkari janjiku u/ menunggumu
disini smp kau dtg. Tp sungguh, aku sdh tk kuat lagi berdiri disini u/
menunggumu. Jd aku hrp, kau mau mengizinkanku u/ plg skrg.
Kukirim segera. Alhamdulillah pengiriman berhasil. Allah
selalu ada bagi hamba-hambaNya yang bersabar. Tak lama kemudian satu pesan aku
terima. Dari Mas Yusuf. ternyata. Isinya,
Aku segera kesana. Kau jgn kmn2. Kali ini aku janji. Afwan
Tiba-tiba air mataku jatuh membasahi ponsel yang kupegang.
Aku berusaha untuk meluruskan pikiranku. Aku berusaha untuk tetap memikirkan
hal-hal baik tentang Mas Yusuf, tapi kenapa air mata ini masih saja membasahi
wajahku? Sekuat tenaga aku yakinkan diriku kalau Mas Yusuf hanya terlupa. Dan
bukan karena dia tidak mencintaiku makanya dia lupa pada janjinya.
Seperempat jam aku menunggunya akhirnya dia datang juga.
Entah bagaimana lagi raut wajahku saat ini. Yang pasti aku berusaha untuk tetap
tersenyum melihat kedatangannya.
”Maaf ya, maaf banget. Tadi aku lupa kasih tahu kamu kalau
Mas Bambang itu sakit. Tadi pagi kakinya tersiram air panas waktu mau menyeduh
kopi, jadi tadi dia tidak mengajar. Lalu guru-guru yang lain mengjak aku untuk
menjenguknya. Kamu tidak marah kan?” Cerocosnya begitu dia sampai di hadapanku.
Aku memandanginya lekat-lekat tanpa bisa menjawab
sedikitpun. Aku bingung harus menjawab apa. Aku memang marah dan kesal padanya,
tapi aku juga tidak mau dia tahu kalau aku marah padanya. Aku putuskan untuk
menggeleng sambil berucap, ”Iya”
”Maksudnya?” Tanyanya tidak mengerti.
”Coba kamu pikirkan kembali apa jawabanku barusan. Kalau kau
mengerti, pasti kau tahu apa maksud dari jawabanku” Sahutku dengan nada datar.
Aku sudah lelah. Dia terdiam. Acara di Bumiwiyata sudah selesai. Orang-orang
sudah berhamburan keluar. Aku teringat Alifa yang memberikan undangan
pernikahnnya padaku. Aku segera mengambilnya dari dalam tas dan memberikannya
pada Mas Yusuf.
”Nih” Ucapku sambil menyodorkan undangannya.
”Apa ini?” Tanyanya sambil meraih undangannya dariku.
”Undangan pernikahan Alifa” Jawabku. Dia membukanya dan
membacanya. Tak lama dia berucap datar.
”Mungkin inilah yang terbaik”
Aku hanya diam. Dia mengembalikan undangannya padaku dan
menyuruhku naik ke motornya. Sambil naik aku berkata,
”Sebaiknya kita tidak usah kerumah ibu. Tidak enak rasanya
datang kesana dengan pakaianku yang basah. Lebih baik besok saja kita
kesananya”
”Baiklah” Sahutnya.
Motor yang kami tumpangi segera berbaur dengan kendaraan
lainnya di jalan raya. Sepanjang jalan kami hanya diam sambil mengintrospeksi
diri masing-masing. Adakah surga yang tadi aku impi-impikan bisa aku cium
baunya? Adakah surga yang telah Allah janjikan itu, bisa juga kami rasakan?
Entahlah. Hanya waktu yang dapat menentukan. Hanya kesabaran dan kekuatan yang
dapat menunjukkan segalanya dengan jelas. Aku hanya bisa berdo’a dalam diamku.
* * *
Hari pernikahan Alifa tiba. Aku dan Mas Yusuf pergi kesana
bersama-sama. Setelah kemarin aku menyerahkan revisi novelku yang ketiga pada
pihak penerbit, aku langsung membeli kado pernikahan untuk Alifa.
Mas Yusuf terlihat murung. Entah apa yang dipikirkannya saat
ini. Apa mungkin dia masih menyimpan nama Alifa dalam hatinya? Entahlah. Aku
tak bisa berbuat apa-apa. Di depan sebuah rumah berbentuk seerhana, Mas Yusuf
menaruh motornya dengan beberapa motor lainnya yang sudah terparkir lebih dulu
disana. Setelah menulis nama kami di buku tamu dan memberikan bingkisanku pada
dua orang wanita berjilbab ayu yang duduk disana, kami masuk kedalam menemui
Alifa dan suaminya.
Senyuman penuh kehangatan terpancar di wajah cantik nan
menawan Alifa. Dia benar-benar tidak bisa memungkiri kalau hari ini dia begitu
bahagia. Bahagia karena hari ini dia sudah resmi menjadi seorang istri, bahagia
karena hari ini adalah hari pernikahannya, dan bahagia karena dia dan suaminya,
saling mencintai.
Tapi Alifa tidak sadar dan tidak menyadari, kalau ada
seseorang yang hatinya begitu hancur melihat dia bersanding dengan orang lain.
Dia adalah suamiku sendiri. Sebagai seseorang yang sudah hidup bersamanya
selama lima bulan lebih, aku sudah bisa melihat ada kemurungan lain yang aku
tangkap di wajahnya yang sendu. Mungkin dia berpikir, ’seharusnya aku yang ada
di pelaminan itu dan bukan lelaki yang bernama Guntur itu’.
Astaghfirullah!! Aku tak mau su’udzan pada suamiku. Kembali
kuluruskan niatku. Aku memasuki halaman rumahnya yang sudah di penuhi oleh para
tamu. Undangan laki-laki dan undangan wanita di pisah oleh hijab.
Aku bersalaman dengan Alifa dan memeluknya dengan erat
seraya mengucapkan kalimat yang sama seperti yang pernah ia ucapkan padaku saat
menikah.
”Barakallah ya Alifa? Semoga menjadi keluarga sakinah,
mawaddah, wa rahmah”
”Syukran ya?” Ucapnya.
Aku mengangguk dan tersenyum. Mas Yusuf hanya bersalaman
pada Guntur tanpa berucap sepatah katapun padanya. Aku mengerti perasaannya.
Sebelum kami beranjak pergi, Alifa meminta kami untuk berfoto bersama. Aku
berdiri disamping Alifa dan Mas Yusuf berdiri di samping Guntur. Tinggi badanku
hampir sama dengan Alifa dan sepertinya tinggi badan Mas Yusuf pun tak jauh
beda dengan Guntur.
Setelah berfoto, aku dan Mas Yusuf meminta diri. Aku
mengambil hidangan di tempat akhwat dan Mas Yusuf mengambil hidangan di tempat
ikhwan. Setelah menghabiskan makanan kami, Mas Yusuf memberikan isyarat matanya
padaku sambil mengangguk pelan. Menandakan bahwa dia ingin segera pulang. Aku
pun menurutinya.
Sebelum pulang, sekali lagi kami berpamitan pada Alifa dan
Guntur. Dia menyayangkan kami yang terkesan buru-buru sekali. Tapi apa boleh
buat, Mas Yusuf sudah mengajakku pulang. Setelah berpamitan, kami pulang dengan
perasaan kami masing-masing. Menatap kembali senyum Alifa yang terlihat begitu
bahagia.
* * *
Sebelas
Tiga bulan telah berlalu dari hari itu. Dan malam ini, aku
kembali meneteskan air mataku. Suami yang aku bangga-banggakan selama ini
ternyata berbohong padaku. Kenapa seseoang yang taat beragama,rajin beribadah
dan membaca Al-Qur’an, serta seorang yang terbiyah seperti dia bisa
membohongiku? Aku tak pernah habis pikir. Tadi pagi dia mengatakan padaku bahwa
dia tidak bisa ikut hadir dalam acara munasoroh Palestine di Monas. Tapi
ternyata, diantara ribuan, bahkan puluhan ribu ikhwan yang datang pada acara
itu, kedua mataku menangkap sosok seorang ikhwan yang sudah lebih dari 8 bulan
ini hidup bersamaku. Aku melihat suamiku tengah mengibarkan bendera Palestina,
lengkap dengan topi dan ikat kepalanya yang bertuliskan ’Save Palestine’. Dia
mengibarkan bendera itu dengan penuh semangat dan ghirah yang selalu membakar
jiwa. Entah mengapa Allah swt menampakkannya di penglihatanku di tengah
kerumunan orang-orang itu.
Remuk redam rasanya jiwa ini ketika aku sadar dia
membohongiku. Berkali-kali aku yakinkan diriku bahwa orang yang aku lihat itu
bukan suamiku. Tetapi ketika kutatap sekali lagi wajahnya yang samar-samar
kulihat dari kejauhan dan dari kerumunan orang, aku mantapkan hati bahwa dia
memang suamiku. Ikhwan itu memang benar-benar Mas Yusufku. Melihat hal itu,
langsung saja aku palingkan wajahku dan mengajak Nadia, sahabatku untuk
beranjak pergi dari awal tempatku berdiri. Aku tidak mau Nadia sampai tahu kalau
ternyata Mas Yusuf menjadi salah satu pengibar bendera Palestina disana. Sebab
dari awal aku sudah terlanjur bilang padanya bahwa Mas Yusuf tidak bisa hadir
karena ada urusan di sekolahnya. Nadia pun percaya. Dan aku
tidak ingin kepercayaan Nadia itu berubah menjadi ketidakpercayaan padaku atau
pun suami, karena dia telah melihat Mas Yusuf disana.
Dengan gontai kulangkahkan kakiku keluar dari kerumunan
orang-orang yang sedang bersemangat itu. Kuajak serta Nadia dari sana dengan
alasan aku lelah dan ingin mencari minum pelepas dahaga. Dan kebetulan saja,
waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 WIB, menandakan bahwa sebentar lagi azan
zuhur akan berkumandang. Segera saja kuajak Nadia untuk pergi dari Monas menuju
masjid terdekat, Masjid Istiqlal. Disana sudah banyak ikhwan / akhwat yang
berpeluh dan berkeringat tengah membanjiri Masjid Istiqlal untuk melaksanakan
shalat Zuhur. Aku dan Nadia mencari tempat wudhu wanita dan mengambil wudhu
disana. Cukup mengantri memang, tapi akhirnya aku dan Nadia bisa mengambil air
wudhu sebelum azan Zuhur berkumandang.
Kuselonjorkan kakiku dan kusandarkan punggungku kesalah satu
tiang masjid ketika aku dan Nadia sudah mendapatkan posisi yang cukup nyaman
untuk shalat. Sambil menunggu azan berkumandang, kunikmati sebotol air mineral
yang tadi aku beli sambari angin sepoi-sepoi dan semriwing membelai-belai
wajahku. Diwaktu yang sama, kulihat Nadia juga melakukan hal yang sama
sepertiku. Kulemparkan senyum padanya lalu kuarahkan kembali pandanganku lurus
kedepan. Angin sepoi-sepoi terus saja membelai lembut wajahku ketika tiba-tiba
saja kedua mataku basah dengan air mata. Aku teringat kembali dengan Mas Yusuf.
Kenapa dia berbohong padaku? Apa dia tidak mau pergi keacara itu bersamaku
sehingga dia harus berdusta? Atau apa? Sekuat tenaga kuluruskan pikiranku dan
sebenarnya aku tak ingin bersu’udzan padanya. Tapi.....
Seketika air mataku jatuh membasahi wajahku. Aku tersadar.
Ternyata azan Zuhur tengah berkumandang. Aku segera mempersiapkan diri untuk
melaksanakan shalat Zuhur bersama Nadia dengan terlebih dahulu melaksanakan
sunnah rawatib 2 rakaat. Nadia menjadi imam dan aku menjadi makmum. Setelah
shalat Zuhur kami melaksanakan shalat sunnah rawatib lagi 2 rakaat lalu kembali
istirahat sebentar. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 13.00, kami memutuskan
untuk pulang. Diperjalanan Nadia banyak sekali bercerita tentang hal-hal yang
lucu. Aku ingin sekali tertawa tapi tidak bisa. Bayang-bayangku tentang Mas
Yusuf kembali mengusik pikiranku. Hal itu mengalahkan semua rasa dan
pemikiranku yang kala itu tengah mendengarkan cerita Nadia. Aku hanya bisa
tersenyum kecil tanpa bisa berkomentar apa-apa. Dan ketika Nadia bertanya padaku
tentang sikapku, aku hanya menggeleng dan menjawab,
”Nggak. Aku enggak kenapa-kenapa. Terus bagaimana
kelanjutannya?”
Lalu Nadia pun melanjutkan ceritanya. Aku hanya
mendengarkannya dengan pikiran yang entah kemana perginya. Nadia mengajakku
mampir sebentar ke warung somay yang ada di Stasiun Gondangdia. Aku
menurutinya. Aku memesan satu porsi tapi tidak habis. Nadia membayarnya dan aku
pun memberikan uang sepuluh ribuan padanya. Awalnya dia menolak tapi kupaksa
dan akhirnya dia menerimanya.
Kami naik keatas dan membeli tiket. Nadia yang membelinya.
Jurusan Lenteng Agung dan Pasar Minggu. Di Stasiun Gondangdia sudah banyak
sekali orang yang beratribut Palestina. Entah bajunya, kerudungnya, atau topi
dan pin yang mereka kenakan. Memang, semangat saudara-saudara kita di Palestina
tidak pernah surut untuk melawan penjajah Israel, sampai mereka takluk dan
menyatakan menyerah pada rakyat Palestina.
Ya...memang masa-masa itu belum tahu kapan tapi yang pasti
saat-saat itu akan ada masanya. Dan aku yakin Allah pasti akan menepati
janjiNya. Sebagaimana dijelaskan dalam wahyuNya, surat Al-Baqarah ayat 85-86.
”Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu
sebangsa) dan mengusir segolongan dari kamu kampung halamannya, kamu bantu
membantu terhadap mereka dengan perbuatan dosa dan permusuhan, tetapi jika
mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir
mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebagian alkitab
(Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang
yang berbuat demikian darimu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan
pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah
tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. Itulah orang-orang yang membeli
kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa
mereka dan mereka tidak akan ditolong”
Dari jarak beberapa meter aku melihat seorang akhwat yang
sepertinya aku kenal. Dia sedang berbincang dengan beberapa teman akhwatnya
sesama aktivis. Aku berusaha mengingatnya sekuat tenaga. Tapi siapa dia?
Alhamdulillah setelah berpikir keras, aku mengingatnya. Dia adalah sahabatnya
Alifa. Dia pernah datang bersama Alifa ke pesta pernikahanku. Ingin sekali
rasanya aku mendekatinya dan menanyakan kabar Alifa padanya. Dengan langkah
yang pasti, aku mengajak Nadia untuk menghampirinya.
”Assalamu’alaikum” Ucapku padanya.
”Wa’alaikummussalam” Sahutnya bersama dengan beberapa
temannya.
”Afwan, ana mau tanya, apa anti temannya Alifa?” Tanyaku
sambil mengarahkan pandanganku pada orang yang kumaksud.
”Oh, iya ana temannya Alifa. Ana Ririn. Afwan, anti istrinya
akh Yusuf kan?”
”Iya. Ehm, ana mau tanya, bagaimana kabar Alifa sekarang?
Apa dia tidak ikut munasoroh? Atau mungkin dia pergi dengan suaminya ya?”
Wajah ukhti yang ada dihadapanku terlihat muram.
”Ada apa ya Rin?” Tanyaku langsung padanya.
”Ehm...keadaan Alifa sekarang tidak begitu baik” Jawabnya
dengan nada sedih.
”Memang dia kenapa?”
Ririn mulai menjelaskan.
”Seminggu setelah pernikahannya, suaminya meninggal akibat
kecelakaan kereta api. Mobil yang dikendarainya mogok dan terjebak di rel
kereta api. Dan pada saat yang bersamaan, kereta datang melintas dan
Guntur....” Ririn memutus perkataannya. Aku hanya bisa diam sambil meringis
mendengarnya. Dalam hati aku terus beristighfar.
”Lalu keadaan Alifa sekarang bagaimana?” Tanyaku setelah
tadi aku sempat terkejut mendengarnya.
”Keadaan terakhir yang aku tahu, dia kini terbaring di rumah
sakit karena stres. Awalnya dia bisa menerima kenyataan ini, tapi makin kesini,
kondisinya semakin parah. Dia tidak mau makan dan minum, sampai akhirnya sakit.
Dia terus memikirkan kematian suaminya yang sangat tragis. Dan pada akhirnya
dia harus dilarikan ke rumah sakit karena kondisi tubuhnya semakin lemah dan
parah” Jelas Ririn.
Aku diam sejenak lalu bertanya di rumah sakit mana Alifa
dirawat. Setelah Ririn memberitahukan dimana Alifa dirawat, aku segera meminta
diri untuk beranjak dari
tempatku berdiri kini. Nadia bertanya padaku siapa Alifa.
Aku menjelaskan padanya tentang Alifa. Sekedarnya tanpa menceritakan padanya
kalau Alifa itulah yang sebenarnya menjadi impian Mas Yusuf.
* * *
Tanpa terasa kereta yang kami tunggu-tunggu sudah datang.
Segera saja aku dan Nadia menjejalkan diri masuk kedalamnya. Alhamdulillah bisa
masuk dengan selamat. Di sekeliling kami hampir semua berjilbab putih. Sangat
bisa ditebak bahwa kami habis melakukan aksi munaoroh Palestine di Monas. Aku
tak peduli dengan tatapan orang-orang lain pada kami. Aku hanya ingin
cepat-cepat sampai dirumah dan merebahkan tubuh ini diatas tempat tidur.
Biasanya sepulang aksi-aksi seperti ini, ada semangat baru
yang terpatri dalam diriku untuk kembali bangkit merencanakan hari esok. Tapi
sekarang, entah mengapa tiba-tiba semangat itu seakan pudar. Terhapus oleh
bayang-bayang Mas Yusuf yang tadi aku lihat dan juga bayang-bayang Alifa yang
kini mungkin tengah terbaring tak berdaya dirumah sakit. Tapi aku berharap
Alifa pun sudah sembuh dan bisa bangkit merajut hari-hari barunya.
Menuju stasiun Tebet, alhamdulillah ada dua orang perempuan
yang bangkit dari duduknya dan segera saja aku gantikan tempat duduknya bersama
Nadia. Kulihat kesekeliling tidak ada orang yang mungkin lebih pantas
mendapatkan tempat duduk itu. Aku mengucap syukur karena akhirnya bisa duduk.
Beberapa menit kemudian datang kehadapanku seorang perempuan tua yang mengais
rezeki dengan cara menyapu lantai kereta dengan sapu kecilnya. Pakaiannya
compang camping namun tetap berkerudung, menandakan bahwa dia seorang muslim.
Di pinggangnya terdapat sebuah tas untuk menaruh uang hasil menyapu yang dengan
ikhlas diberikan oleh penumpang kereta.
Dia menadahkan tangan kanannya padaku. Hatiku tersentuh dan
langsung ku keluarkan uang lima ribu rupiah dan kuberikan padanya. Nadia pun
ikut mengeluarkan uang seribu rupiahnya untuk diberikan pada ibu itu. Wajahnya
begitu berseri-seri saat menerima uang dariku dan Nadia. Dia pun mengucapkan
terima kasih dan kembali menyapu bagian yang lain dari lantai kereta. Nadia
mungkin heran melihatku memberikan ibu tadi uang lima ribu rupiah. Dia lantas
menanyakan perihal tersebut padaku.
”Kamu memberikannya uang lima ribu Nda?” Tanyanya dengan
memanggilku dengan sebutan ’Nda’. Ya, memang hanya Nadia yang memanggilku
dengan kosakata terakhir dari namaku, ’Nda’.
”Apa menurutmu, uang lima ribu rupiah itu besar?” Tanyaku
balik padanya.
Nadia mengangguk.
”Menurutku itu terlalu besar Nda. Apa tidak ada uang kecil?”
”Ada. Tapi bagiku, uang lima ribu itu tidak ada artinya bila
dibandingkan dengan semua nikmat yang telah Allah berikan padaku. Uang lima
ribu itu hanya sebagai ungkapan rasa syukurku saja pada Allah swt karena paling
tidak, Dia masih berkenan mengizinkan aku untuk dapat hidup enak dan nikmat
tanpa harus bekerja keras seperti yang ibu tadi lakukan. Aku hanya ingin
membagi rasa syukurku ini pada orang-orang yang memang pantas untuk
menerimanya. Lagi pula dia bukan hanya mengemis, tapi juga
secara tidak langsung dia sudah membantu kita dengan
membersihkan lantai kereta ini. Benar kan Nad?” Jelasku pada Nadia.
Nadia mengangguk lagi.
Sesaat lamanya kami diliputi kebisuan. Hanya angin yang
berhembus dari jendela kereta yang berbisik-bisik membelai wajah kami. Tepat di
Stasiun Tebet banyak penumpang yang turun, namun hanya sedikit orang yang naik.
Alhasil kereta menjadi agak sedikit lengang. Banyak penumpang yang tadinya
berdiri kini mendapat tempat duduk. Mataku menangkap jelas dua orang laki-laki
berpakaian rapi yang sepertinya tidak ada kerutan sedikitpun di baju dan jas
mereka. Dengan masing-masing membawa tas agak besar mereka berdiri tak jauh
dari pintu masuk kereta. Mereka terus berbincang-bincang sampai kereta mulai
berjalan kembali. Namun kemudian mereka masuk agak kedalam sehingga tak
terlihat lagi oleh pandanganku.
Beberapa menit setelah kereta melaju di rel-nya, tiba-tiba
terdengar suara bentakan hebat yang dilayangkan oleh seorang laki-laki.
”Hei! Perempuan tua jalang! Berani-beraninya kau mengotori
sepatuku dengan sampah busukmu itu. Pantaslah tanganmu itu kuinjak karena kau
telah mengganggu kami dengan sapu bututmu itu. Enyahlah kau dari hadapanku,
dasar perempuan tak tahu diri!” Bentak salah seorang dari penumpang yang aku
tidak tahu siapa dia. Aku bangkit dari dudukku sesaat untuk mengetahui siapa yang
berani berbuat kurang ajar pada seorang perempuan yang dibilang jalang olehnya.
Ternyata yang berbuat hal yang memalukan itu adalah salah
seorang dari dua orang penumpang laki-laki yang berpakaian rapi dengan membawa
tas agak besar yang tadi sempat aku perhatikan. Dan perempuan tua yang dihina
olehnya adalah ibu tua yang tadi menadahkan tangannya padaku dan Nadia. Ibu tua
itu duduk menangis sambil mengusap-usap tangannya yang katanya terinjak oleh
orang yang menghinanya tadi. Aku sungguh tak tega melihatnya. Orang yang
berpakaian rapi yang satunya lagi mengusap-usap bahu temannya itu. Aku harap
dia bisa menyadarkan temannya itu yang sudah berbuat kurang ajar pada ibu tua
itu.
Tapi ternyata dugaanku salah. Dengan setali tiga uang, orang
yang satunya lagi malah ikut-ikutan mencaci ibu tua itu.
”Hei! Pergi kau dari sini. Seperak pun tak akan aku berikan
uangku untukmu. Pergi kau! Dasar perempuan tua tak tahu diuntung. Mengganggu
saja! Pergi kau!!” Ucapnya dengan nada yang lebih tinggi dari orang yang
sebelumnya.
Semua penumpang yang ada di dalam kereta mengarahkan
pandangannya pada dua orang laki-laki dan ibu tua itu. Sungguh, aku jadi naik
pitam. Aku sungguh tak tega melihat dua orang itu menghina ibu tua itu. Aku
harus bertindak. Tapi apa? Semua orang yang ada dalam kereta tidak berani
bertindak. Ini sudah keterlaluan. Ini sudah termasuk perbuatan zalim. Dan
kezaliman harus segera di musnahkan.
Setelah kurasa tak ada yang cukup berani meluruskan
kesalahan dua orang itu, akhirnya aku putuskan untuk membela ibu tua itu yang
aku rasa dia tidak bersalah.
”Cukup-cukup!!” Teriakku sambil berjalan kearah ibu tua itu.
Aku rasa semua yang ada disana sedang memperhatikanku. Sebenarnya aku sangat
takut dan gemetar, tapi aku yakin aku bertindak yang memang seharusnya dilakukan
oleh setiap muslim yang melihat
kemungkaran dan kezaliman. Dua laki-laki itu mengarahkan
tatapan sinis padaku. Jujur, pada saat itu aku hanya bisa pasrah pada Allah
swt.
”Tidak sepantasnya kalian sebagai seorang yang
berpendidikan, berperilaku seperti itu. Saya yakin kalian ini pasti seorang
yang berpendidikan bukan? Apakah pantas kalian berdua menghina ibu ini dengan
hinaan yang sebenarnya sangat tidak patut keluar dari mulut kalian sebagai
seorang yang berpendidikan? Apakah hanya karena sepatu bagus kalian yang
mengkilap, kalian merasa pantas menghina ibu ini? Apakah hanya karena kemeja
dan celana kalian yang licin, lalu kalian merasa benar untuk mencaci makinya?
Kalau hanya karena itu semua kalian merasa benar melakukan hal itu, maka
sebenarnya yang hina bukan ibu ini, melainkan kalian” Ucapku dengan tegas
sambil membantu ibu tua itu untuk berdiri.
”Apa maksud perkataanmu hei?” Tanya salah seorang dari dua
laki-laki itu yang mengenakan kemeja berwarna biru tua.
”Apa kurang jelas apa yang saya ucapkan tadi? Kalau kalian
merasa benar melakukan hal itu, maka kalian pun tak lebih tinggi dari seorang
pecundang. Kalian menghina seorang ibu yang sudah tua renta ini tanpa sebuah
rasa tak tega sedikitpun. Hanya karena dia tak sengaja mengotori sepatu kalian,
lantas kalian menghinanya. Apakah harga diri kalian hanya sebatas sepatu kalian
yang mengkilap itu?”
”Hei! Tutup mulutmu perempuan berjilbab. Tahu apa kau
tentang harga diri. Hah?” Kali ini laki-laki yang mengenakan kemeja merah marun
yang bertanya padaku.
”Apakah kalian tidak pernah berpikir sedikitpun tentang
kehidupannya ketika mata kalian melihat dia mencari sesuap nasi dengan
membersihkan gerbong kereta ini? Kemana hati nurani kalian tatkala tangan tua
rentanya menyingkirkan sampah-sampah yang kita buang sembarangan disini? Saya
tanya, apakah pekerjaannya itu mengganggu kalian? Apakah pekerjaannya itu
menyusahkan kalian sehingga kalian harus marah padanya? Apakah kalian bisa
menjawabnya? Hah?!”
Dua lelaki itu diam seribu bahasa sambil saling
bertatap-tatapan. Aku masih terus saja merangkul ibu tua itu tanpa sedikitpun
rasa geli dalam diriku karena pakaian yang dikenakannya sangat kotor.
”Apa yang dilakukannya itu adalah sebuah perbuatan yang
terpuji. Kita yang membuang sampah sembarangan lalu dia yang membersihkannya,
apa kita tidak malu? Sebagai seorang yang berpendidikan dan beragama, apakah
pantas kalian menghina seseorang yang justru telah mengajarkan kita akan
pentingnya kebersihan? Coba kalian pikir, kata-kata yang kalian lontarkan tadi
bisa jadi sangat menyakitkan hatinya. Coba kalian perhatikan air mata yang
mengalir di wajahnya. Itu menandakan bahwa hatinya sangat perih. Demi
mendapatkan sesuap nasi untuk mengganjal perutnya hari ini, dia sampai rela
menahan rasa sakit di hatinya karena ucapan kalian. Belum lagi tangannya yang
terinjak oleh salah satu diantara kalian. Dia telah berjasa membersihkan tempat
ini agar kita nyaman berada di dalamnya, tapi apa yang kalian berikan padanya?
Sebuah cacian dan hinaan. Bahkan untuk mengeluarkan uang seribu dua ribu saja
kalian tidak bersedia, kalian malah menghujaninya dengan cacian”
Itulah ucapan yang aku lontarkan pada dua lelaki yang kini
hanya bisa diam mematung sambil menatap wajahku dan ibu tua yang kini ada di
sampingku. Aku yakin semua orang tengah memandangi kami berempat. Aku kembali
berkata pada dua lelaki itu.
”Saya yakin kalian seorang muslim. Terlihat dari gantungan
tas kalian yang berlambangkan Allah. Apakah kalian tidak menyadari bahwa iman
kalian belum sempurna?”
”Hei, jangan bicara sembarangan. Kami orang yang beriman dan
hanya Allah Tuhan kami” Sahut lelaki berkemeja merah marun.
”Kalau kalian merasa benar-benar beriman, seharusnya kalian
bisa lebih mencintai saudara kalian sesama muslim. Rasulullah bersabda, Belum
sempurna iman seseorang dari kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana
ia mencintai dirinya sendiri14. Kalau memang kalian mencintai diri kalian,
seharusnya kalian juga bisa mencintai saudara kalian sesama muslim sehingga
kalian benar-benar bisa merasakan manisnya kesempurnaan iman itu. Saya yakin
kalian pasti tidak mau memikul kebohongan dan dosa yang nyata bukan?”
”Apa maksudmu dengan kebohongan dan dosa yang nyata?” Kali
ini laki-laki berkemeja biru tua yang bertanya.
”Allah berfirman dalam Qur’anNya, Dan orang-orang yang
menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat,
maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata15. Saya
harap, kalian bisa memahami ayat itu. Dalam ayat yang lain, Allah juga
mengingatkan kita agar jangan mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi,
mereka yang diolok-olok itu lebih baik dari pada mereka yang mengolok-olok.
Mohon diingat akan hal itu.
”Saya hanya ingin mengingatkan kalian agar tidak sombong.
Apa yang kalian lakukan itu adalah perbuatan yang sombong dan tidak mensyukuri
nikmat yang Allah berikan. Coba sedikit saja tundukkan hati kalian dan sedikit
berpikir, bagaimana kalau semuanya berbalik dan kalian atau keluarga kalian
yang sekarang ada di posisi ibu ini. Apa perasaan kalian saat ini? Saya yakin
kalian tidak bisa menjawabnya karena jawaban itu sudah kalian telan
mentah-mentah bersama hinaan-hinaan kaliantadi. Harusnya kalian bersyukur
karena Allah masih memberikan kesempatan pada kalian untuk hidup enak sehingga
kalian tidak perlu susah-susah mencari uang seperti yang ibu ini lakukan.
Tolong kalian buang kesombongan kalian itu. Allah bisa marah karena pakaianNya
kalian pakai. Kesombongan adalah dosa besar yang menyebabkan iblis di usir dari
surga. Rasulullah bersabda, Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari
kiamat bagaikan semut kecil dalam wujud manusia. Mereka dikepung oleh kehinaan
dari seluruh arah. Mereka digiring ke sebuah penjara dalam neraka Jahanam16.
Mereka ditutupi oleh api paling panas dan diberi minuman dari nanah penduduk
neraka17.
”Jadi sekali lagi saya mohon, buanglah rasa angkuh kalian.
Jangan sampai jabatan dan kedudukan kalian saat ini membuat kalian gelap mata
dan akhirnya terjebak dalam bayang-bayang neraka jahannam yang tengah menanti
orang-orang yang sombong. Saya melakukan hal ini, karena saya tidak tega
melihat ibu ini dicaci dan dihina. Sepatutnyalah kalian menghormatinya karena
biar bagaimanapun, dialah yang lebih dulu menempati
14 HR. Bukhari dan Muslim
15 QS. Al-Ahzab : 58
16 Seharusnya, ‘Mereka digiring ke sebuah penjara dalam
neraka Jahanam bernama Bulas’.
17 Seharusnya, ‘Mereka ditutupi oleh api paling panas dan
diberi minuman dari nanah penduduk neraka, yaitu Thinatul Khaba’
dunia ini dibanding kita. Ibu ini telah mengajarkan kita
akan banyak hal. Tentang kebersihan, kesabaran dalam menghadapi hidup, dan
sebuah usaha dan kerja keras yang juga di iringi dengan ikhtiar, tawakal, dan
rasa syukur. Betapa hidup ini harus dijalani tanpa mengenal kata putus asa.
Itulah muslim sejati”
Dua lelaki berkemeja licin itu tampak berkaca-kaca. Raut
wajahnya terlihat sekali kalau mereka sangat menyesal. Mereka saling
bertatap-tatapan kemudian mereka mengaku sangat menyesal dengan tindakannya
terhadap ibu tua itu. Setelah mengucapkan terima kasih padaku, mereka menyalami
ibu tua yang kini ada disampingku sambil meminta maaf padanya dan memberinya
dua lembar uang seratus ribuan.
Ibu tua itu menghapus air matanya. Dia tersenyum padaku dan
mengucapkan terima kasih. Aku balik tersenyum padanya dan terdengar tepukan
tangan yang diiringi dengan pekikan takbir dari penumpang kereta yang hampir
seluruhnya adalah mereka yang mengikuti aksi munashoroh Palestine di Monas.
* * *
Tepat di stasiun Pasar Minggu baru ibu tua itu turun. Aku
kembali lagi pada Nadia. Ada beberapa orang mengucapkan selamat padaku. Nadia
menyampaikan rasa salut dan kagumnya padaku. Aku sampaikan padanya bahwa
sungguh saat aku mengucapkan kata-kata itu, yang terbersit dalam pikiranku
adalah bagaimana caranya agar dua lelaki itu bisa mengerti arti kehidupan ini.
Dan sejujurnya aku katakan bahwa sampai saat ini hatiku masih berdegup kencang.
Di stasiun Pasar Minggu Nadia turun. Aku hanya mengucapkan
terima kasih dan tersenyum padanya. Kereta terus melaju dan terus membawaku
beserta orang-orang yang ada dalam kereta menuju stasiun yang satu ke stasiun
yang lain. Banyak yang turun namun tak sedikit pula yang terus memadati sesaknya
kereta. Stasiun Lenteng Agung sebentar lagi. Aku bersiap-siap untuk turun.
Setelah sampai aku pun turun. Aku keluar satsiun dan menghentikan angkot
berwarna coklat. Tepat di sebuah sekolah rumah makan padang aku turun dan
membayar angkotnya.
Dirumah kontrakanku yang mungil, aku mencurahkan segalanya.
Teringat kembali semua kejadian yang aku alami hari ini. Aku yang melihat Mas
Yusuf di Monas, pertemuanku dengan sahabatnya Alifa dan mengabarkan aku kalau
Alifa saat ini tengah dirawat di rumah sakit karena suaminya meninggal, juga
kejadian di kereta tadi yang membuatku semakin mengerti arti hidup ini.
Setelah istirahat sejenak, aku mandi dan shalat Ashar. Mas
Yusuf belum juga pulang. Aku menyempatkan diri memasak sayur sawi dan
menggoreng telur untuk makan malam Mas Yusuf. Tapi sampai Maghrib tiba, dia
belum pulang-pulang juga. Masakanku sudah dingin. Sebenarnya aku ingin
menghubunginya tapi aku khawatir dia akan menjawab pertanyaanku dengan jawaban
yang tidak semestinya. Akhirnya kuurungkan niatku.
Kulihat jam dan azan Isya berkumandang. Aku putuskan untuk
segera shalat dan mengadu PadaNya. Aku ingin sekali menangis. Menangis dengan
sungguh-sungguh di hadapan Rabbku. Menangis dengan air mata yang sejak tadi
siang kutahan. Aku tak pernah sesedih ini. Rasanya sakit seperti teriris-iris
pisau sembilu. Aku kecewa padanya.
Kucurahkan semua perasaanku dalam buku harianku. Diatas buku
itu kugoreskan tinta hitamku. Berharap agar perasaanku yang kini gundah dapat
berubah menjadi lebih tenang.
Hanya buku harianku yang selama ini selalu menemaniku
melewati hari-hari yang baru aku jalani bersama Mas Yusuf. Suamiku yang aku
tahu tidak pernah mencintaiku. Suamiku yang aku tahu berbohong padaku tadi
siang. Remuk rasanya jiwa ini. Sejadi-jadinya aku menangis sambil terus
mencurahkan perasaanku di dalam buku harianku.
Kurasa mataku bengkak. Aku sudah mulai mengantuk tapi Mas
Yusuf belum juga pulang. Tidak menelepon ataupun mengirimkan sms sekedar
memberitahukan dimana dia sekarang. Kuseka air mataku dan aku beranjak mengunci
pintu depan. Mas Yusuf membawa kunci rumah yang satu lagi. Aku melihat kembali
makanan yang tadi aku masak. Sudah sangat dingin. Aku masukkan sayur kedalam
penghangat nasi dan telurnya kubiarkan diatas meja makan yang kututup dengan tudung
saji.
Aku kembali lagi kekamar dan bersiap untuk tidur. Namun baru
sekitar 15 menit aku memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara pintu rumah
dibuka. Aku yakin itu Mas Yusuf. Kudengar dia melangkah masuk kedalam kamar.
Aku masih memejamkan mata sambil memiringkan tubuhku membelakanginya. Aku
putuskan untuk tidak bangun dan menyambut kedatangannya. Aku kahawatir dia
melihat mataku yang bengkak lalu dia menanyakan alasannya.
Kumantapkan hati untuk tidur malam ini. Dan Mas Yusuf?
Biarlah dia makan sendiri malam ini. Toh, nasi, sayur, dan telurnya sudah aku
siapkan di meja makan. Biar bagaimana pun, aku hanya ingin menjadi istri yang
baik dan berbakti pada suami. Meskipun hatiku sakit. Tapi untuk malam ini,
maafkan aku Mas jika kamu makan sendiri. Aku tak sanggup melihat wajahmu.
Di luar, hujan turun secara perlahan mengantarkan deras yang
tiada terkira. Dalam pejam malamku aku berdo’a,
”Ya Allah, ampuni segala dosa-dosaku dan dosa-dosa suamiku.
Berikanlah kami kekuatan untuk bisa tetap bertahan di jalan IstiqomahMu. Amin”
* * *
Sisa-sisa hujan masih terus saja mengguyur kota Jakarta. Dan
pagi ini pun hujan masih terus turun dengan derasnya. Sebagian kota Jakarta
sudah ada yang tergenang banjir. Aku lihat di berita pagi yang menyebutkan
bahwa sebagian kawasan di Jakarta sudah terendam oleh banjir setinggi 1-2
meter. Kebetulan hari ini adalah hari ahad, jadi tidak ada kegiatan yang
mengharuskan aku keluar rumah. Dan aku putuskan untuk tetap dirumah dan kembali
duduk di depan komputer untuk meneruskan tulisanku.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB. Kulihat Mas
Yusuf sedang menonton televisi. Aku sedang memasak nasi goreng untuk sarapan
paginya. Setelah itu kami sarapan bersama tanpa perbincangan yang berarti.
Hanya suara penyiar berita di televisi yang mengisi kebisuan kami. Selesai
sarapan aku memasak tumis kangkung dan menggoreng tempe. Tak lupa sambal goreng
yang menjadi pelengkap menu masakan hari ini. Selesai masak pukul 08.45. Aku
bergegas membersihkan tubuhku dari sisa asap masakan. Aku berencana meneruskan
tulisanku setelah shalat dhuha nanti.
Hujan belum juga reda sementara petir terus saja
bersahut-sahutan di langit sana. Aku masuk ke kamar dengan sebelumnya menatap
Mas Yusuf yang tengah membaca koran di ruang tamu. Televisinya dimatikan,
mungkin karena takut tersambar petir. Aku shalat dhuha di kamar, bermunajat
sebentar, kemudian langsung menghidupkan komputerku.
Aku mulai terhanyut dalam lautan kata-kata sebelum Mas Yusuf
memanggilku karena ada telepon dari pihak penerbit.
Aku keluar dan menerima telepon itu. Tak berapa lama, aku
menyudahinya. Dari pihak penerbit memintaku untuk membuat ucapan terima kasih
karena novel ketigaku akan segera diterbitkan. Hatiku senang tiada terkira.
Berkali-kali kuucap rasa syukur yang teramat dalam pada Allah swt. Di tengah
derasnya hujan yang belum juga berhenti, aku mendapatkan berita yang
menyejukkan hatiku.
Aku kembali ke kamar untuk meneruskan tulisanku. Kulihat
kini Mas Yusuf tengah meringkuk di atas tempat tidur membelakangi diriku.
Kuposisikan diriku di depan layar komputer. Baru beberapa baris aku mengetik,
Mas Yusuf membalikkan tubuhnya dan bertanya padaku.
”Ada apa dari pihak penerbit menelepon?”
”Memberi tahu kalau novelku yang ketiga akan segera di
proses” Jawabku singkat tanpa memalingkan wajahku dari layar komputer.
Tiba-tiba aku berinisiatif membuatkan susu hangat untuk Mas Yusuf. Aku menoleh
sesaat ke arahnya yang tengah bersandar di kepala tempat tidur sambil membaca
buku. Aku beranjak keluar kamar untuk membuat susu hangat kemudian ku berikan
padanya.
”Nih Mas. Susu hangat untuk menghangatkan tubuh” Kataku
sambil menyodorkan segelas susu padanya. Dia menerimanya dan meminumnya sedikit
demi sedikit. Aku masih duduk di pinggir tempat tidur sambil menatapnya. Aku
begitu mencintainya. Apakah dia juga merasakan hal yang sama sepertiku? Kutepis
segera pemikiranku. Aku kembali tertuju pada komputerku sebelum Mas Yusuf
menggamit tanganku dan menyuruhku untuk tetap duduk.
Aku tak tahu apa yang hendak dia lakukan. Dia beranjak dari
tempat tidur lalu mematikan lampu yang ada di kamar dan menutup semua gorden di
jendela kamar. Tiba-tiba jantungku berdetak kencang. Apa yang hendak ia
lakukan? Dia berjalan ke arahku dan pada saat yang sama, dia mengajakku
bercinta. Yang aku ingat, terakhir kami memadu kasih.....3 minggu yang lalu.
Hatiku kembali berdebar. Mataku menatap penuh tajam ke arah matanya.
Di tengah derasnya hujan, Mas Yusuf membawaku ke taman
surga. Di pojok kamar sana, komputer belum sempat aku matikan. Aku masih belum
mengerti kenapa Mas Yusuf mengajakku bercinta. Jujur, ini adalah kado terindah
untuk novelku yang ketiga. Atau mungkin, ini adalah penebus rasa bersalahnya
karena kemarin dia telah berbohong padaku. Entahlah.
* * *
Dua Belas
Dua hari setelah hari itu, sepulang dari kantor aku
memutuskan untuk menjenguk Alifa di Rumah Sakit Pasar Rebo. Keadaan Alifa belum
sempat aku beri tahukan pada Mas Yusuf. Setelah turun dari angkot berwarna
merah, aku langsung masuk kedalam rumah sakit. Menaiki lift dan menuju lantai
lima ruang melati.
Di kamar 603 aku dapati seorang ibu paruh baya tengah duduk
di sebelah seorang perempuan berwajah manis yang sangat ku kenal, Alifa.
Mungkin ibu itu adalah ibundanya. Sambil tertunduk dia membaca surat Yasin dengan
suara pelan. Aku memasuki kamar itu sambil mengucapkan salam dengan pelan. Ibu
paruh baya itu mengangkat kepalanya kemudian berdiri menghampiriku.
Kucium tangannya sambil berkata.
”Ibu, saya Dinda, sahabatnya Alifa”
”Oh..iya, iya. Terima kasih sudah mau datang menjenguk
Alifa” Sahut ibu paruh baya itu dengan suara agak sedikit serak. Di matanya
terdapat butiran-butiran kecil air mata. Mungkin dia habis menangis. Entahlah.
Sejurus kemudian aku mengalihkan pandanganku pada Alifa.
Gadis cantik nan ayu itu kini terbaring lemah tak berdaya di kasur rumah sakit.
Wajah terlihat pucat dan tubuhnya tampak begitu kurus yang di tutupi dengan selimut
tebal. Jilbabnya kini agak sedikit pendek dari biasanya. Namun dia tetap
terlihat cantik bagi siapa saja yang memandangnya.
Setelah menatap Alifa yang hanya bisa memejamkan matanya,
aku mulai bertanya pada ibu paruh baya yang tak lain adalah ibunda Alifa. Dia
bernama Bu Ratih.
”Sejak kapan Alifa masuk rumah sakit Bu?” Tanyaku sambil
terus berdiri di samping Alifa.
”Sejak keadaannya semakin parah Nak. Ya...sekitar dua minggu
yang lalu. Awal masuk kesini sih masih bisa makan, minum, shalat, bicara juga masih
bisa sedikit-sedikit. Tapi makin kesini, kondisinya semakin....” Bu Ratih
memutuskan kata-katanya. Air mata yang berusaha ditahannya kini tak dapat lagi
terbendung. Aku langsung mengeluarkan tisu dan kuberikan padanya sambil
mengelus-elus bahunya.
”Sabar ya Bu?” Ucapku padanya.
Bu Ratih hanya mengangguk sambil menghapus air matanya.
Tanpa terasa kedua mataku basah. Sejurus kemudian timbul perasaan yang
tiba-tiba saja menyusup ke dalam sukmaku. Aku begitu sedih melihat Alifa
terbaring koma.
Sesaat lamanya aku berada disana, tiba-tiba ada seorang
dokter cantik yang datang untuk memeriksakan keadaan Alifa. Dia bernama dokter
Melisa. Dokter itu bersama dua orang perawatnya. Yang satu mengenakan kerudung
dan yang satu lagi tidak. Suster yang mengenakan kerudung memeriksa denyut nadi
Alifa lalu menuliskan sesuatu pada kertas yang dibawanya. Sedangkan suster yang
satu lagi hanya berdiri sambil membawa beberapa obat-obatan di meja dorongnya.
Dokter Melisa memeriksa mata Alifa dengan senter kecil. Dan
sesekali dia mengecek selang infus yang yang menghubungkan cairan infus ke
tubuh Alifa. Cairannya sudah hampir habis dan dia menyuruh suster yang tidak
mengenakan kerudung untuk mengganti cairan infus yang sudah habis dengan cairan
infus yang baru.
Setelah memeriksa keadaan Alifa, dokter Melisa berbincang
sedikit dengan Bu Ratih.
”Bagaimana dok keadaanya? Apa ada kemajuan?” Tanya Bu Ratih
penuh harap.
Dokter cantik itu menggeleng.
”Belum ada perubahan apa-apa. Bahkan keadaannya semakin
menurun kalau tidak secepatnya dilakukan tindakan” Jawab dokter itu tenang.
”Tindakan apa dok?” Tanyaku menimpali.
”Tindakan untuk mencarikan seseorang yang mau berpura-pura
menjadi suaminya. Saat ini dia memerlukan belaian lembut dan kasih sayang dari
seorang suami. Maklumlah, Ibu Alifa ini baru seminggu menikah bukan? Masa-masa
itu adalah masa-masa dimana pasangan pengantin baru sedang mesra-mesranya.
Makanya wajar jika dia stres kemudian
sakit seperti ini. Selain kondisi fisiknya yang lemah,
batinnya juga sangat terguncang tatkala dia harus menerima kenyataan pahit
bahwa suaminya yang baru seminggu dinikahinya harus pergi dengan kondisi yang
sangat tragis” Jelas dokter Melisa sangat detail. Aku mendengarkannya dengan
seksama.
”Lalu bagaimana dengan kandungannya dok?” Tanya Bu Ratih
yang tiba-tiba saja mengejutkanku.
”Kandungan? Jadi...saat ini Alifa sedang hamil?”
”Iya” Sahut dokter melisa.
”Usia kandungannya baru dua bulan. Alhamdulillah janin yang
ada dalam kandungannya tidak mengalami penurunan. Tapi kalau dibiarkan terus
seperti ini, saya tidak bisa menjamin kalau usia kandungannya bisa bertahan
lama. Maka dari itu, harus ada yang mau berpura-pura atau mungkin ada seorang
laki-laki yang berkenan menikahinya dan bersedia menjadi suami keduanya
menggantikan suami pertamanya yang meninggal. Sehingga Ibu Alifa bisa merasakan
kembali kasih sayang dari seorang suami yang memang seharusnya ia dapatkan
sejak pertama pernikahannya” Jelas Dokter Melisa kembali.
Aku hanya terdiam tak berbicara apa-apa. Aku dan Bu Ratih
mengucapkan terima kasih tatkala dokter Melisa dan dua perawatnya pergi
meninggalkan kami. Aku teringat ucapan dokter Melisa barusan,
”Tapi kalau dibiarkan terus seperti ini, saya tidak bisa
menjamin kalau usia kandungannya bisa bertahan lama. Maka dari itu, harus ada
yang mau berpura-pura atau mungkin ada seorang laki-laki yang berkenan
menikahinya dan bersedia menjadi suami keduanya menggantikan suami pertamanya
yang meninggal”
Aku juga teringat perkataan dokter Melisa yang terus
terngiang dalam ingatanku.
”Sehingga Ibu Alifa bisa merasakan kembali kasih sayang dari
seorang suami yang memang seharusnya ia dapatkan sejak pertama pernikahannya”
Alifa memang seharusnya mendapatkan kasih sayang itu, tapi
Allah telah mengambil suaminya dari sisinya. Sedangkan aku? Nasibku sungguh
kontras sekali dengan kehidupan Alifa. Sudah hampir setahun aku menikah namun
sampai detik ini aku belum juga mendapatkan kasih sayang itu. Kasih sayang yang
memang seharusnya aku dapatkan dari seorang suami.
Bu Ratih mengejutkanku dengan tegurannya.
”Nak Dinda”
”Eh...Ya Bu?” Sahutku.
”Kenapa melamun?”
Aku menggeleng.
”Tidak Bu. Ehm..kalau begitu saya pamit pulang dulu ya Bu?
Saya do’akan semoga Alifa bisa secepatnya melalui ujian ini dan semoga Alifa
bisa lekas sembuh”
”Terima kasih ya Nak?’ Ucap Bu Ratih.
Aku mengangguk sambil tersenyum padanya.
Sebelum pulang aku sempatkan menyentuh tangan Alifa yang
kurus dan pucat itu. Dalam hati aku berucap padanya,
”Aku akan membantumu, Alifa. Insya Allah”
Setelah berucap sedikit pada Alifa, aku segera pulang dengan
terlebih dahulu berpamitan pada Bu Ratih.
”Yang tabah ya Bu? Saya yakin, Allah pasti akan memberikan
jalan keluar atas semua ujian ini. Dan saya pun akan membantu Alifa sebisa saya
mampu. Insya Allah. Assalamu’alaikum”
”Wa’alaikumusslam. Terima kasih ya Nak Dinda?”
Aku tersenyum padanya kemudian keluar menuju lift. Setelah
keluar dari rumah sakit, di dalam angkot merah yang aku tumpangi, tiba-tiba aku
mempunyai sebuah rencana yang mungkin bisa membuat Alifa tersadar dari komanya.
Sebuah rencana yang akan aku jalankan untuk membantu Alifa dan bayi yang tengah
dikandungnya.
* * *
Setelah sampai dirumah, tak kutemukan Mas Yusuf di setiap
sudut rumah. Mungkin dia masih mengajar di sekolah. Aku beristirahat sejenak
kemudian mandi dan shalat maghrib. Selesai itu aku sedikit tilawah sebentar
sebelum tiba-tiba saja rasa cemas itu menyusup ke dalam dada. Kemana Mas Yusuf
sampai petang begini belum pulang? Tak biasanya dia pulang mengajar sampai
malam seperti ini. Tak memberi kabar atau pun sms.
Kusudahi tilawahku yang baru beberapa lembar. Kuraih
ponselku yang tergeletak diatas tempat tidur lalu kuhubungi Mas Yusuf. Tak ada
nada sambung dari ponselnya. Kemana dia? Sekali lagi aku hubungi dia dan yang
menjawab hanya suara operator telepon seluler.
”Maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif. Cobalah
beberapa saat lagi atau tinggalkan pesan setelah nada berikut....”
Aku coba berkali-kali tetap tidak bisa. Kuputuskan untuk
mengiriminya sms. Semoga saja ketika ponselnya sudah aktif, dia segera membaca
pesanku dan langsung membalasnya. Sungguh, malam ini aku tak bisa tidur dengan
tenang.
Awalnya aku ingin menanyakan keberadaan Mas Yusuf pada
mertuaku, tapi kuurungkan. Aku tak ingin mereka cemas lalu memikirkan hal ini.
Aku juga tidak mempunyai nomor telepon teman-temannya kecuali Mas Bambang.
Ya, aku akan coba menghubungi Mas Bambang dan kutanyakan
keberadaan Mas Yusuf padanya.
”Halo...” Ucap Mas Bambang dari sebrang sana.
Aku menjawabnya dan segera saja aku bertanya padanya perihal
Mas Yusuf. Tapi lagi-lagi aku harus memendam harapku. Mas Bambang sendiri tidak
tahu dimana Mas Yusuf sekarang. Yang dia tahu sepulang dari mengajar pukul dua
siang, dan Mas Yusuf langsung pulang dengan tergesa-gesa.
Setelah mengucapkan terima kasih pada Mas Bambang, aku
segera menutup teleponnya. Yang menjadi pikiranku, mengapa Mas Yusuf pulang
dengan tergesa-gesa? Apakah jangan-jangan, dia sudah mengetahui kondisi Alifa
sekarang dan dia pergi menjengknya?
Ah! Aku tak mau memikirkan hal itu. Biarlah waktu saja yang
menunjukkan segalanya. Dan saat ini, sebaiknya aku ingin tidur dan
mengistirahatkan tubuh ini yang sudah seharian beraktivitas.
* * *
Pukul satu malam aku terbangun. Ada kehausan yang teramat
sangat ketika aku merasakan sadar dari tidurku. Aku beranjak dari tempat
tidurku menuju ke dapur. Setelah minum untuk menghilangkan dahagaku, aku
kembali ke kamar. Duduk di tepi tempat tidur sambil termenung sendirian. Aku
masih memikirkan dimana Mas Yusuf malam ini. Aku takut terjadi apa-apa padanya.
Sambil menatap photo pernikahanku yang dipajang di meja
kecil disamping tempat tidurku, tiba-tiba aku menangis. Entah apa yang
membuatku menangis. Aku ingin shalat tahajud.
Setelah mengambil air wudhu aku langsung melaksanakan shalat
tahajud dan bermunajat padaNya untuk keselamatan Mas Yusuf dimana pun dia
berada. Lalu aku lanjutkan dengan tilawah Al-Qur’an beberapa lembar. Setelah
itu aku menutupnya dengan shalat witir tiga rakaat.
Kulepas mukenaku dan ku ganti dengan jilbab hitam. Aku
berdiri di depan jendela kamarku sambil membuka sedikit gorden yang
menutupinya. Di luar gelap. Jalanan hanya di terangi dengan beberapa lampu neon
yang tersambung oleh rumah warga.
Ku putar kembali ingatanku satu tahun yang lalu. Ingatanku
ketika keluarga Mas Yusuf datang kerumah untuk melamarku, lalu surat dari Mas
Yusuf yang kukira surat cinta ternyata surat yang amat menyakitkanku, dan
berbagai sikap-sikap Mas Yusuf yang sampai sekarang tidak bisa aku mengerti
kenapa dia belum bisa menerimaku sebagai seorang istri. Semua ingatan-ingatan
itu membuat mataku basah dan akhirnya aku menangis.
Aku melangkah ke meja kerjaku. Sambil mendudukan tubuhku di
kursinya, kuambil kembali buku harianku. Tiba-tiba aku melihat sebuah tape
recorder yang sudah sejak lama kutaruh di laci. Didalamnya terdapat sebuah
kaset kosong yang aku ingat, kaset itu pernah aku gunakan untuk mewawancarai
seorang narasumber untuk keperluan majalah di tempatku bekerja.
Kuurungkan niatku untuk menulis di buku harian dan aku
putuskan untuk merekam suaraku di tape recorder itu. Akan kukeluarkan seluruh
perasaanku selama ini tentang hatiku, tentang Mas Yusuf, dan tentang Alifa.
Tape recorder aku nyalakan dan aku mulai bercerita.
“Tuhanku,
Hanya Engkau sajalah yang mengetahui isi hatiku. Hanya
Engkau sajalah yang menjaga hati dan perasaanku sehingga aku bisa kuat dan
tegar sampai saat ini.
Tuhanku,
Aku sudah tak tahu lagi bagaimana rasanya mencintai dan
dicintai. Hatiku telah membeku. Satu tahun sudah aku hidup sebagai seorang
istri. Hidup tanpa kasih sayang dan perhatian dari seorang suami yang aku
kasihi. Hidup penuh kegamangan dan kepasrahan dalam menanti cintanya untukku.
Rabbi,
Sungguh aku sangat mencintainya. Sungguh aku sangat
menyayanginya. Tapi kenapa sampai saat ini tak sedikit pun rasa cinta itu ia
berikan padaku? Apakah ada yang kurang dalam pengabdianku padanya selama ini?
Apakah ada yang tak diinginkannya dariku sebagai seorang istri?
Sudah cukup sabar rasanya aku menahan semua ini. Menahan
rasa cinta yang tak kunjung terbalas olehnya. Katakan padaku Ya Allah, kapan
sekiranya dia mau membukakan pintu hatinya untukku?
Malam ini aku sendiri. Dan lagi-lagi aku harus mengeluarkan
air mataku untuknya yang sekarang entah berada dimana. Aku lelah Ya Allah.
Bahkan untuk tetap mencintainya saja, kurasa aku sudah tak sanggup lagi. Tapi
tak sedikit pun aku berniat menghilangkan dia dari ingatanku. Biarlah aku
menanggung derita ini diatas rasa cinta yang kuusahakan untuk tetap bertahan.
Ya Allah,
Aku sudah memaafkan segala sikapnya selama ini padaku. Tapi
aku mohon, janganlah Engkau mencatat segala perbuatannya itu sebagai sebuah
kezhaliman. Sungguh, aku sudah memaafkannya dan aku ikhlas dengan semua keadaan
ini. Aku hanya ingin Kau menempatkan dia di tempat yang layak di sisiMu. Aku
mohon.
Ya Allah,
Selama aku menjadi istrinya, mungkin banyak kekurangan yang
hadir pada diriku yang tidak ia sukai. Aku mohon, bantulah aku memperbaiki
semuanya. Bantulah aku membahagiakan dirinya, meskipun hal itu amat sangat
menyakitkan untukku.
Sekiranya Engkau mengizinkan, biarkanlah aku berbagi cinta
pada yang lain. Biarkanlah aku berbagi hidup pada hambaMu yang lain, yang
namanya sudah sejak lama bertahta di kedalaman relung hatinya. Tegarkanlah
hatiku ketika aku harus menyaksikan waktu membawa suamiku pergi pada bunga yang
lain. Kuatkanlah imanku ketika aku harus berbagi suami pada yang lain, pada
Alifa.
Aku hanya berharap satu pahala dariMu. Karena aku tahu,
Alifa membutuhkan seorang suami dan bayi yang ada dalam kandungannya butuh
seorang ayah. Jika sosok itu adalah suamiku, maka dengan segenap hati dan jiwa,
aku bersedia.”
Seusai merekam suaraku dalam tape recorder sambil terisak,
kusimpan kaset rekaman dan tape recordernya di dalam laci mejaku. Kuseka air
mataku dan aku kembali tidur dengan perasaan yang masih gundah memikirkan Mas
Yusuf.
* * *
Pagi hari ketika jam sudah menunjukkan pukul 06.00, pintu
rumah ada yang membuka. Aku yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung
melangkah ke ruang tamu.
”Dari mana Mas?” Tanyaku pada seseorang yang ternyata adalah
Mas Yusuf.
Dia hanya diam sambil membuka kaos kakinya di kursi. Tanpa
menjawab pertanyaanku dia malah berjalan ke kamar. Aku mengikutinya.
”Mas, kamu dari mana aku tanya?”
”Sudahlah!” Bentak Mas Yusuf mengejutkanku.
”Kamu selalu mau tahu saja urusanku”
Aku benar-benar kaget mendengar bentakan Mas Yusuf yang
bagai anak panah menikam jantungku. Aku masih terdiam sementara Mas Yusuf
kembali bersuara.
”Yang pasti aku tidak berselingkuh karena hal itu tidak
mungkin aku lakukan”
”Ya aku tahu hal itu” Sahutku berusaha untuk tenang.
”Lagipula tak pernah sedikit pun aku berpikir kalau kamu
selingkuh. Kita sama-sama orang yang beriman.Aku hanya ingin tahu dari mana
saja kamu semalam sampai tidak
pulang? Tidak kasih kabar atau pun sms. Aku telepon hand
phone mu tidak aktif. Akhirnya aku kirim sms. Apa telah kau baca?”
Lagi-lagi dia hanya diam sambil menganggukkan kepalanya.
”Lalu kenapa tidak kau balas untuk memberitahukan dimana
kamu berada? Sungguh aku khawatir dengan keadaanmu. Ingat Mas, walau pun kamu
tidak mencintaiku, tapi biar gimana pun aku ini istri kamu. Jadi wajar jika
kamu tidak pulang semalaman tanpa kabar, akan ada seorang wanita yang membasahi
bantalnya dengan air mata dan itu adalah aku. Katakan Mas, dari mana kamu
semalam dan kenapa tidak membalas sms ku?”
Mas Yusuf terdiam sesaat lalu menjawab dengan ragu-ragu.
”Aku...aku habis dari rumah Bule Rinta...”
”Bule Rinta?!” Putusku dengan penuh tanya.
”Ada apa dengan Bule Rinta?”
”Kemarin, dirumahnya ada acara....selametan anaknya yang mau
di khitan..” Jawab Mas Yusuf tenang.
”Selametan? Dirumah Bule Rinta ada selametan?”
Mas Yusuf mengangguk pelan sambil mengganti pakaiannya.
”Kenapa kamu tidak memberi tahu aku kalau dirumah Bule Rinta
ada selametan? Kalau aku tahu kan aku bisa datang. Kenapa kamu tidak memberi
tahu aku Mas? Kenapa kamu pergi sendiri?”
”Ya...ya, karena acara kemarin baru hanya selametan. Nanti
kalau acara khitanannya akan dilaksanakan baru aku kasih tahu” Jawab Mas Yusuf
seolah tak bersalah.
”Kamu terlalu Mas” Ucapku sambil menahan tangisku di
tenggorokan.
”Kamu anggap apa aku? Apa kata keluarga kamu ketika mereka
melihat kamu datang sendiri? Apa kamu juga ingin membuat mereka jadi membenci
aku? Ingat Mas, mereka tahunya kita saling mencintai. Dan kamu juga harus
ingat, aku ini istri kamu. Wanita yang sudah sah kamu nikahi setahun yang lalu.
Aku harap kamu tidak melupakan hal itu.
”Tolonglah Mas. Untuk urusan keluargamu janganlah tertutup
padaku. Setahun Mas, sudah setahun kita menikah. Tapi sejujurnya, aku tidak
pernah merasakan bahagianya menjadi seorang istri. Katakan padaku Mas, apakah
ini kesalahanku jika kau tidak mencintaiku? Apakah ini kesalahanku jika kau
menikahiku? Dimana letak kesalahanku sehingga kau tega menghukumku seberat ini?
Dimana Mas?”
Tak terasa air mataku jatuh menetes. Aku tak kuat lagi
menahan air mata ini. Aku menunduk sementara Mas Yusuf hanya diam di tempatnya
berdiri kini.
”Mungkin sudah saatnya aku mengatakan hal ini” Ucapku dengan
penuh ketegasan. Ku seka air mataku. Mas Yusuf terlihat penasaran.
”Di dalam biduk rumah tangga kita memang tidak pernah ada
cinta yang menghiasi. Tapi aku berharap tidak pernah ada pula kata perceraian
di antara kita. Karena Allah sangat membenci hal itu. Tapi kalau hal ini
dibiarkan, aku tahu hatimu akan sakit selamanya. Jadi aku mempunyai saran
untukmu agar kau bisa hidup bahagia tanpa harus menceraikan aku karena aku
tidak ingin kau menceraikanku.....”
”Apa maksudmu?” Tanya Mas Yusuf penasaran.
Aku terdiam sejenak sambil menghela nafasku. Kutatap kedua
matanya.
”Nikahi Alifa......”
”Apa?! Apa maksud perkataanmu?” Tanya Mas Yusuf
menghampiriku.
”Nikahi Alifa karena kini dia sudah menjadi seorang
janda...” Ucapku menegaskan.
”Janda?! Alifa sudah menjadi janda?”
”Ya. Sudah tiga bulan Alifa menjadi seorang janda. Seminggu
setelah pernikahannya suaminya meninggal akibat kecelakaan kereta api. Sekarang
kondisi Alifa menurun dan kini dia dirawat dirumah sakit”
”Menurun?”
”Ya. Kondisi itu disebabkan karena dia tidak bisa menahan
stres dan tekanan batin atas kepergian suaminya. Dan satu-satunya jalan agar
dapat menolong Alifa dari koma, adalah mencarikan seorang suami untuknya yang
dapat menggantikan kasih sayang suaminya yang seharusnya ia dapatkan sejak
pertama ia menikah”
”A, aku tidak mengerti apa yang kamu katakan...”
”Alifa butuh kamu untuk dapat mengembalikan semangat
hidupnya. Dan bayi yang ada dalam kandungannya butuh seorang ayah. Waktunya
tidak banyak lagi. Kalau terlambat, maka dokter pun tidak bisa menjamin kalau
Alifa bisa selamat dan bayi dalam kandungannya juga akan bertahan lama”
Mas Yusuf terlihat cemas sekali. Mungkin dia tidak mengira
kalau Alifa akan bernasib seperti ini. Dia tak bisa berkata apa-apa.
”Aku mohon Mas. Terimalah tawaranku ini. Jika kau melakukan
hal ini, maka akan banyak jiwa yang kamu tolong. Kau menolong Alifa dari status
jandanya, kau menolong bayi yang ada dalam kandungannya dari status yatim, kau
menolong hatimu dari kekosongan cinta akan seorang istri, dan kau pun
menolongku untuk membahagiakan suamiku, kamu. Aku mohon” Ucapku dengan penuh
harap padanya.
Mas Yusuf melangkahkan kakinya keluar kamar. Entah apa yang
dipikirkannya saat ini. Dia duduk di ruang tamu sambil termenung. Raut wajahnya
tampak cemas dan bingung. Tiba-tiba dia bangkit dari duduknya.
”Tapi tidak semudah itu untuk berpoligami. Lagi pula tidak
pernah terpikir sedikit pun dalam benakku kalau aku ingin menikah lagi. Hanya
kamu istriku dan satu-satunya istriku...”
”Istri yang tidak pernah diperlakukan seperti seorang istri?
Istri yang tidak pernah merasa bahwa dirinya itu seorang istri?”
Mas Yusuf terdiam menatapku. Kulangkahkan kakiku
menghampirinya.
”Aku hanya ingin kamu bahagia. Kamu memang tidak bisa
menemukan kebahagiaan itu denganku, tapi kamu masih punya kesempatan untuk bisa
hidup bahagia dengan Alifa. Selain itu kamu juga bisa memberikan kebahagiaan
pada Alifa dan bayi yang dikandungnya. Kamu mengerti kan Mas?”
Aku rasakan mataku basah. Setetes bening tiba-tiba saja
mengaliri pipiku.
”Aku harap kamu bisa mempertimbangkan saranku. Ini demi
kebaikan kita semua. Aku yakin jika orang tua kita mengetahui hal ini, mereka
pasti akan mengerti. Sepulang kerja nanti, aku tunggu jawabanmu”
Setelah itu aku masuk ke dalam kamar sambil mengunci
pintunya. Aku tak kuat menahan sesak ini. Di balik pintu aku menangis. Aku
begitu sedih. Semua perasaan bercampur menjadi satu.
”Rabbi....kuatkan aku.......”
* * *
Tiga Belas
Waktu berjalan begitu cepat rasanya. Aku masih ingat betul
seperti apa raut wajah Mas Yusuf ketika dia mengetahui keadaan Alifa saat ini.
Dari kantor aku langsung pergi kerumah sakit untuk menjenguk
Alifa. Kondisinya tidak begitu baik dari waktu aku menjenguknya pertama kali.
Tak lama aku disana. Namun kali ini aku bertemu dengan mertua Alifa dan
beberapa anggota keluarganya. Satu informasi lagi, sampai sekarang belum ada
seorang laki-laki pun yang mau menikahi Alifa. Aku hanya bisa mengelus dada dan
berucap dalam hati, kalau saja mereka tahu siapa yang nantinya hendak menikahi
Alifa.
Setelah dari rumah sakit aku langsung pulang kerumah. Jujur,
aku sudah tidak sabar mendengar jawaban Mas Yusuf. Tapi sampai maghrib
menjelang, Mas Yusuf belum juga pulang. Aku coba menghubunginya lewat hand
phone tapi tidak aktif. Mungkin dia pergi lagi kerumah Bule Rinta, atau
mungkin, dia pergi menjenguk Alifa di rumah sakit? Entahlah, aku sudah mulai
cemas.
Tiba-tiba hand phone-ku berdering. Kulihat satu nomor yang
tidak kukenal. Kuangkat.
”Assalamu’alaikum”
”Wa’alaikumussalam. Apa benar ini Ibu Dinda?” Suara seorang
laki-laki tak kukenal menjawab salamku.
”Iya benar, saya Dinda. Maaf ini siapa ya?”
”Saya Pak Azril, petugas kepolisian”
”Petugas kepolisian?”
”Iya. Saya ingin memberitahukan bahwa suami ibu yang bernama
Yusuf saat ini ada di rumah sakit...”
”Di rumah sakit? A, ada apa dengannya Pak?” Tanyaku dengan
panik.
”Tadi siang suami ibu kecelakaan. Motor yang dikendarainya
menabrak pembatas jalan dan akhirnya dia terpental sejauh lima belas meter dari
lokasi kejadian. Kondisinya saat ini sangat kritis dan dia belum sadarkan diri”
Suara petugas kepolisian itu bagaikan sebuah petir yang
menyambar tubuhku. Aku bingung harus berbuat apa. Setelah polisi itu
memberitahukan dimana Mas Yusuf dirawat sekarang, aku langsung bergegas pergi
kesana. Tiba-tiba aku teringat. Mas Yusuf dirawat di rumah sakit yang sama
dengan rumah sakit dimana Alifa dirawat. Apa mungkin Mas Yusuf berniat
menjenguk Alifa disana dan akhirnya dia kecelakaan di tempat yang tak jauh dari
rumah sakit?
Belum sempat aku menemukan jawaban itu, aku langsung pergi
ke Pasar Rebo untuk mengetahui kondisi Mas Yusuf sekarang. Di dalam taxi aku
tak bisa berhenti menangis. Mungkin supir taxi yang membawaku ke rumah sakit
melihatku dengan heraan, kenapa dari tadi aku menangis? Diapun tak berani
menanyakan perihal itu padaku.
Setelah aku membayar ongkos taxinya aku langsung berlari ke
ruang UGD18 untuk mencari suamiku, Mas Yusuf. Kupandangi semua pasien yang ada
di ruang itu, dan...ada. Di pojok ruangan aku melihat Mas Yusuf tengah
terbaring tak berdaya bersama dua orang polisi yang kini menemaninya. Segera
saja aku menghampirinya.
”Permisi Pak. Saya Dinda, istrinya Yusuf” Ucapku pada dua
orang polisi itu.
18 Unit Gawat Darurat
”Oh, anda yang bernama Dinda. Silahkan, ini suamimu” Sahut
seorang polisi yang mengenakan jaket tebal dan berkumis. Aku mengangguk pelan
dan segera mengalihkan pandanganku pada Mas Yusuf.
Di keningnya terdapat perban yang membalut lukanya. Di
tangan kanannya pun terdapat sebuah jarum yang ditusukkan untuk mengaliri
cairan infus kedalam tubuhnya. Wajahnya penuh luka memar. Mungkin saat
kecelakaan, wajahnya terhantam benda keras.
”Bagaimana keadannya Pak?” Tanyaku pada salah satu polisi
itu.
”Coba Mbak tanyakan saja keadaan suami Mbak pada dokter atau
suster yang ada disana” Jawab polisi itu sambil menunjuk kearah seorang dokter
dan dua orang perawatnya.
Aku mengangguk dan menghampiri dokter itu. Setelah dokter
itu memberitahukan kondisi Mas Yusuf sekarang, aku langsung disuruh mengurus
administrasi agar Mas Yusuf bisa segera dipindahkan ke ruang rawat inap.
Aku menurut saja.
Karena aku tidak membawa uang banyak di tas, aku mengambil
tabunganku di ATM. Setelah urusan administrasi selesai, Mas Yusuf segera dipindahkan
ke ruang rawat inap kelas satu. Aku hanya ingin Mas Yusuf mendapat perawatan
yang benar-benar intensif agar dia bisa cepat sembuh.
Air mataku tidak bisa berhenti sampai Mas Yusuf di pindahkan
ke ruang rawat inap. Aku teringat Alifa. Sebelumnya aku sempat bertanya pada
polisi yang tadi menemani Mas Yusuf, dimana lokasi kecelakaan itu. Dan polisi
itu mengatakan bahwa lokasi kejadian itu tak jauh dari Rumah Sakit Pasar Rebo.
Maka dari itu Mas Yusuf dibawa kesini.
Aku sempat mengaitkan kejadian itu dengan keadaan Alifa saat
ini. Mungkin saja Mas Yusuf telat pulang kerumah karena hendak menjenguk Alifa.
Aku pun menyempatkan diri menjenguk Alifa yang berada satu lantai dibawah
lantai Mas Yusuf dirawat kini. Kondisinya masih belum menunjukkan perubahan. Sampai
sekarang belum ada satu orang pun yang mau menikahinya. Kalau saja orang tua
Alifa tahu siapa yang sebenarnya hendak menikahi putrinya itu, mereka pasti
akan terkejut. Tapi sayang, kondisi Mas Yusuf pun tak jauh berbeda dengan
kondisi Alifa saat ini.
Aku kembali lagi ke kamar Mas Yusuf. Aku duduk disampingnya
sambil memandangi wajahnya yang pucat. Tanpa terasa air mataku jatuh menetes.
Di sela-sela waktu itu aku teringat, aku belum shalat Isya. Kuputuskan untuk
mencari masjid terdekat.
Setelah shalat Isya, aku berdiam diri sejenak di masjid.
Merenungi segala kejadian yang baru saja aku alami. Tiba-tiba aku teringat, aku
belum memberi kabar pada orang tua dan mertuaku.
Kupencet nomor telepon orang tuaku dan kuberitahukan keadaan
Mas Yusuf saat ini. Mereka benar-benar tidak menyangka akan hal ini dan mereka
berniat menjenguk Mas Yusuf malam ini juga. Tapi aku bilang bahwa mereka tidak
usah menjenguk Mas Yusuf sekarang karena hari juga sudah larut. Mereka
memahami.
Setelah menghubungi orang tuaku, aku langsung menghubungi
mertuaku. Mereka tidak bisa menahan tangis haru saat aku beri tahu bahwa Mas
Yusuf kecelakaan. Sama seperti orang tuaku, mereka ingin menjenguk Mas Yusuf
sekarang tapi aku juga melarang mereka dengan alasan hari sudah semakin malam.
Tapi ibu mertuaku bersi keras dan ingin tetap menjenguk Mas Yusuf malam ini
juga.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku pun hanya bisa menangis
saat ibu mertuaku menyuruhku untuk tabah. Malam ini adalah malam yang sangat
menyedihkan untukku.
Kuputuskan untuk kembali ke kamar dan menemani Mas Yusuf
disana. Aku ingin memberikan seluruh kasih sayangku padanya sampai dia tahu
kalau aku benar-benar mencintainya.
* * *
Hari-hari aku lalui dengan kesabaran dan keikhlasan. Sudah
dua hari Mas Yusuf dirawat dan sampai sekarang dia belum sadarkan diri. Dokter
bilang ini disebabkan oleh reaksi obat yang masuk kedalam tubuhnya. Mungkin
beberapa jam lagi dia akan sadar kembali. Tapi aku tidak bisa menahan rasa
cemasku padanya.
Di setiap shalatku, selalu aku menyebut namanya di akhir
do’aku agar Allah berkenan menyembuhkannya. Aku tak kuasa menahan air mataku
kala aku menatap wajahnya.
Sudah dua hari ini aku menemani Mas Yusuf. Aku sudah meminta
izin cuti pada pihak kantor. Alhamdulullah mereka mengizinkan. Semalam dari
pihak penerbit yang hendak menerbitkan novelku juga kembali menghubungi karena
aku lupa memberikan prakata ucapan terima kasih pada mereka. Aku sampaikan
alasanku kenapa aku sampai lupa. Alhamdulullah juga mereka mengerti dan
berencana mengundurkan proses penerbitan novelku.
Selama aku menemani Mas Yusuf, aku selalu menyempatkan diri
menjenguk Alifa juga dikamarnya. Masih tak ada perubahan. Terakhir aku menemuinya,
aku diberi tahu oleh pihak keluarganya bahwa ada seorang laki-laki yang datang
menjenguk Alifa membawa serta kedua orang tuanya.
Laki-laki yang datang itu hendak meminang Alifa sebagai
istrinya. Dia bersedia membantu Alifa mempertahankan hidupnya. Tapi ketika
kutanya siapa laki-laki itu, pihak keluarga Alifa tidak bisa memberi tahu siapa
dia. Semua itu mereka lakukan atas permintaan laki-laki itu. Aku pun tidak bisa
berbuat apa-apa.
Aku kembali ke kamar. Tak terasa matahari sudah
menyembunyikan dirinya di peraduannya. Tadi siang ayah dan ibu mertuaku datang
menjenguk Mas Yusuf. Selepas Ashar, mereka pulang. Dan tinggal aku sendiri di
dalam kamar menemani Mas Yusuf yang belum juga sadar sampai detik ini.
Selama dia tak sadarkan diri, aku yang membasuh tubuhnya
dengan handuk kecil basah. Aku tak kuasa melihat tubuhnya yang penuh luka
akibat kecelakaan itu. Dokter bilang memang tidak ada yang serius tapi aku
sebagai istrinya benar-benar khawatir akan keadaannya saat ini.
Dari luar, terdengar azan Maghrib berkumandang. Aku lansung
bergegas mengambil air wudhu dan langsung menunaikan shalat Maghrib di samping
tempat tidur Mas Yusuf.
Selesai shalat, aku bermunajat pada Tuhan semesta alam. Ku
adukan semua gundah gulanaku saat ini. Sambil ditemani air mata yang terus
mengalir dari ujung mataku, aku berdo’a untuk kesembuhan Mas Yusuf. Dan tak
lupa juga kebaikan atas pernikahanku. Aku mengharapkan yang terbaik dari
keputusan yang nantinya akan Mas Yusuf berikan padaku. Apakah dia bersedia
menikahi Alifa atau tidak. Aku juga masih memikirkan siapa laki-laki yang
datang dan hendak meminang Alifa itu.
Aku sudah merelakan sepenuhnya hatiku pada Rabb penggenggam
hati seluruh makhluk di dunia ini, Allah Swt. Aku benar-benar ikhlas kalau
nantinya Mas Yusuf sadar dan dia memutuskan untuk berkenan menikahi Alifa.
Semuanya aku ucapkan dengan penuh pengharapan bahwa Allah berkenen memberikan
yang terbaik untukku, Mas Yusuf, dan Alifa.
Kusudahi doa panjangku. Kulanjutkan dengan membaca Al
Ma’tsurat dan tilawah Qur’an beberapa lembar. Selesai itu, kulipat sajadah dan
kuletakan di pinggir kursi. Dengan masih mengenakan mukena, kuhampiri Mas Yusuf
dengan mata yang sedikit memerah akibat menangis.
Kuseret kursi yang ada dan kududukkan tubuhku disana. Kubetulkan
selimut yang menutupi tubuhnya. Sesaat kutatap wajahnya yang begitu putih dan
bersih. Perlahan kuberanikan diri menyentuh tangannya. Kugenggam dengan erat
seperti tak ingin melepasnya.
Inilah untuk yang pertama kalinya aku menggenggam tangan suamiku
setelah setahun pernikahan. Kuciumi tangannya sambil berucap kata-kata mesara
untuknya. Sekali lagi aku tak kuasa menahan tangisku. Tangis yang begitu
menyedihkan untukku. Sedih karena Mas Yusuf belum juga sadar dan sedih karena
sampai saat ini, Mas Yusuf belum juga bisa menerimaku sebagai istrinya.
* * *
”Saya terima nikahnya dan kawinnya, Alifa binti Sukirman
dengan mas kawin tersebut. Tunai” Ucap Mas Yusuf dengan lantang.
Semua yang hadir memberikan tepuk tangan yang meriah.
Diantara semua tamu yang hadir, mungkin hanya aku saja yang merasakan kepedihan
dalam dada. Aku menatap Mas Yusuf dan Alifa dengan perasaan hancur.
Setelah akad nikah, Alifa membawa Mas Yusuf pergi
meninggalkan aku sendiri. Aku duduk terdiam tanpa menghalangi mereka pergi.
Mataku menangkap wajah Mas Yusuf tidak memancarkan kebahagiaan. Sedangkan
Alifa, dia amat bahagia membawa Mas Ysuf pergi dari hadapanku.
Aku menangis atas ketidak berdayaanku mencegah Alifa pergi
membawa Mas Yusuf.
Tiba-tiba, aku terbangun dari tidurku. Astaghfirullah!
Ternyata semua hanya mimpi. Aku tertidur di tepi tempat tidur. Kuingat kembali
mimpiku barusan. Mimpi tentang pernikahan Mas Yusuf dengan Alifa. Aku masih
belum memikirkan bagaimana jadinya kalau hal itu sampai terjadi. Tapi yang aku
herankan, kenapa dalam mimpi itu, Mas Yusuf terlihat tidak bahagia?
Kembali kupandangi wajah Mas Yusuf.
Kuseka air mataku. Sekuat tenaga aku berusaha untuk tegar.
Kuletakkan tangannya di tempat tidur. Kembali kutatap wajahnya. Sejurus
kemudian, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Dan....Subhanallah. Aku
menciumnya.
Aku mencium bibirnya. Dan ini juga untuk yang pertama
kalinya aku menciumnya setelah setahun pernikahan. Aku mencium bibirnya yang
hangat. Ada perasaan bahagia, senang, cemas, dan takut. Seketika jantungku berdegup
kencang. Ingin rasanya sekali lagi aku menciumnya tapi aku takut.
Aku takut kalau dia sampai tidak ridho dengan apa yang
barusan aku lakukan padanya, Allah pasti akan murka terhadapku. Karena Ridho
Allah adalah ridho suami. Bila suami tidak ridho, maka Allah pun tidak ridho
pula.
Tiba-tiba ada perasaan berdosa yang seketika menyusup
kedalam hatiku. Apakah aku berdosa bila menciumnya tanpa seizinnya? Rabbi
maafkan aku.
Perlahan kumundurkan kakiku sambil menggeleng. ”Maafkan aku
Mas, maafkan aku” Ucapku pelan.
Aku berbalik dan duduk di sofa yang tersedia disana. Sambil
termenung, aku membuka mukenaku dan menggantinya dengan jilbab coklat.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, aku melihat Mas Yusuf
menggerakkan jarinya. Oh Tuhan, apa dia sudah sadar?
Aku hampiri dirinya sambil menggenggam tangannya.
”Mas Yusuf? Mas sudah sadar?” Tanyaku dengan perasaan senang
bercampur cemas.
Perlahan kulihat kedua matanya terbuka sedikit demi sedikit.
Dan...Alhamdulillah, dia bangun. Aku berucap syukur pada Allah Swt karena telah
menyadarkan Mas Yusuf. Air mata begitu saja mengalir dari mataku. Aku melihat
Mas Yusuf menggerakan bibirnya.
”D..Dinda. A, aku ha..us” Ucap Mas Yusuf lirih sambil
terbata-bata. Aku segera mengambilkan air putih yang ada di samping tempat
tidurnya dan membantunya minum melalui sedotan.
Setelah minum, dia menatapku dengan tatapan hampa. Tak ada
senyuman atau pun ekspresi wajah yang lain. Aku takut dia sadar ketika aku
menciumnya tadi. Aku sungguh takut. Tapi sejurus kemudian, aku berpikir untuk
memberi tahu dokter bahwa Mas Yusuf sudah sadar.
Aku melangkah keluar untuk memanggil dokter dan meninggalkan
Mas Yusuf di kamar. Namun baru beberapa langkah aku keluar kamar, tiba-tiba aku
melihat semua benda yang ada dihadapanku seolah berputar. Kurasakan mual yang
teramat sangat diperutku. Seketika kepalaku pusing dan tubuhku lemas.
Ketika kupaksakan diriku untuk terus melangkah, tiba-tiba
kurasakan tubuhku melayang dan terjatuh di lantai. Kulihat semua gelap.
Samar-samar kulihat ada beberapa orang suster berlari mengahmpiriku. Tapi aku
sudah tak kuat lagi bangun. Kurasakan tubuhku diangkat. Makin lama aku tak tahu
apa yang terjadi kemudian.
* * *
Perlahan kubuka mataku yang tadinya sulit untuk kubuka.
Namun kupaksakan karena memang aku ingin bangun dari tidurku. Awalnya gelap,
lalu perlahan cahaya itu mulai masuk dan menembus kornea mataku. Aku merasakan
kehangatan di keningku. Sebuah kecupan hangat tengah mendarat disana.
Yang aku dapati, seorang laki-laki tengah mencium keningku.
Samar-samar aku melihatnya. Setelah aku perhatikan dengan seksama, aku menyadari
ternyata laki-laki itu adalah suamiku. Ya, dia adalah Mas Yusufku. Oh Tuhan,
kekasihku tengah mencium keningku. Apakah ini nyata?
Aku hanya terdiam merasakan kecupan bibir Mas Yusuf di
keningku. Lalu kemudian dia menatap wajahku lekat-lekat.
”kamu sudah sadar?” Tanyanya lembut. Aku mengangguk pelan.
”Ya” Suaraku terdenganr begitu lirih.
Dia tersenyum. Kulanjutkan perkataanku.
”Kau menciumku?”
Mas Yusuf mengangguk sambil tersenyum.
”Karena kau adalah istriku.” Jawabnya dengan nada yang
sangat menyenangkan hatiku. Tapi aku masih belum mengerti apa maksudnya.
”Bukankah....”
”Sstt!” Mas Yusuf segera menempelkan jari telunjuknya ke
bibirku. Aku melihat ada yang berbeda dari kedua matanya. Di dalamnya terpancar
sebuah seuatu yang aku tidak mengerti apa sesuatu itu. Mas Yusuf kembali
berucap,
”Sudah dua hari kamu pingsan dan tidak sadarkan diri. Kamu
ingat?”
Aku berusaha mengingatnya kemudian mengangguk.
”Iya aku ingat. Waktu itu aku ingat kamu sadar dari koma,
dan aku langsung memanggil dokter untuk segera memeriksamu. Namun kemudian,
tiba-tiba saja aku merasakan mual di perutku. Kepalaku pusing dan tubuhku
lemas. Seketika aku merasakan tubuhku melayang dan terjatuh di lantai. Setelah
itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Tapi yang pasti aku ingat, aku belum
shalat Isya” Jelasku.
”Ya, kamu pingsan karena terlalu lelah menjagaku setiap
hari. Dokter dan perawatnya segera membawamu untuk diperiksa” Ucap Mas Yusuf
yang wajahnya hampir mendekati wajahku.
”Maafkan aku Mas...” Lirihku.
”Untuk apa?”
”Kemarin saat kamu tidak sadarkan diri, aku...aku sempat
menciummu. Aku harap kau tidak marah padaku. Dan semoga kau ridho atas
perbuatanku itu”
Mas Yusuf terdiam menatap wajahku. Aku semakin takut. Namun
tiba-tiba dia tersenyum dan berkata dengan manis padaku.
”Kenapa aku harus marah padamu?”
”Ja, jadi kamu nggak marah sama aku?” Tanyaku yang kemudian
disusul dengan gelengan kepala dan senyuman Mas Yusuf. Aku tersenyum senang.
Hatiku lega setelah mendapat pengakuan darinya.
”Aku adalah suamimu dan kau adalah istriku. Tidak perlu
merasa takut atas perbuatanmu. Insya Allah, Allah akan meridhoinya. Justru aku
yang harusnya minta maaf padamu”
”Untuk apa?” Tanyaku pura-pura tidak mengerti.
”Maaf jika selama ini aku tidak sepenuhnya menjadi suami
yang bertanggung jawab, jika aku sering menyakiti hatimu sehingga sering
membuatmu menangis di tengah malam”
Hah!! Aku terkejut. Dari mana Mas Yusuf tahu kalau aku
sering menangis di tengah malam? Aku masih bingung dengan pernyataan Mas Yusuf
sementara dia terus melanjutkan kata-katanya.
”Maafkan jika selama ini aku selalu membuat kamu terbangub
sebelum fajar untuk makan sahur, karena aku tidak bisa memenuhi kewajibanku
sebagai seorang suami untuk memuaskanmu”
Aku semakin terkejut. Mengapa Mas Yusuf tahu hal itu? Aku
tidak pernah menceritakan hal itu pada siapapun. Tapi, kenapa Mas Yusuf tahu?
”Sekali lagi maaf, karena aku pernah berbohong padamu...”
”Berbohong apa Mas?” Tanyaku tidak mengerti. Mas Yusuf coba
menjelaskan.
”Tempo hari, sewaktu ada munashoroh Palestine di Monas, aku
bilang padamu kalau aku ada urusan di sekolah sehingga tidak bisa pergi kesana
bersamamu. Aku memang ada urusan, namun setelah itu aku pergi kesana bersama
teman-temanku. Dan aku tahu, kau melihatku disana kan? Tapi karena kau tidak
mau aku melihatmu yang memergoki aku, makanya kamu segera mengajak temanmu
untuk pergi dari sana. Iya kan? Aku benar-benar minta maaf atas hal itu. Aku
sungguh menyesal” Jelas mas Yusuf dengan nada penuh penyesalan.
Aku masih terbaring di atas tempat tidur rumah sakit dan air
mataku mengalir begitu saja bagaikan anak sungai. Aku lihat Mas Yusuf menunduk
sambil menangis. Aku menghapus air matanya dengan tanganku. Dia meraihnya dan
menciumnya. Aku jadi terharu. Lantas, segera saja aku menanyakan dari mana dia
bisa tahu semua hal itu, dan dia menjawab.
”Buku harianmu. Aku sudah membca semua tulisanmu yang ada
disana. Juga kaset rekaman itu. Aku sudah mendengarnya. Aku mohon segala maafmu
atas kesalahanku selama ini” Pintanya sambil terisak dan terus menciumi
tanganku. Aku pun semakin sedih dan ikut terisak juga. Sesaat lamanya kami
terdiam dalam lautan kesedihan. Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya
padanya.
”Mas, apa...apa semua itu berarti, kau sudah bisa menerimaku
sebagai istrimu?”
Perlahan kutatap kedua mata Mas Yusuf. Butir-butir cinta itu
masih tersisa disana. Aku perhatikan dan dia mengangguk. Ya Rabbi, kekasihku
mencintaiku. Dan itu berarti, cintaku terbalas. Ini untuk yang pertama kalinya
aku merasakan cinta yang sesungguhnya. Cinta seorang suami kepada istrinya. Aku
merasa menjadi wanita yang paling berbahagia. Aku tersenyum dan Mas Yusuf pun
tersenyum. Bahkan lebih manis dari biasanya.
Kupandang lekat-lekat wajah itu.
”Apa yang akhirnya membuatmu bisa mencintaiku?”
”Karena kau adalah anugrah terindah yang pernah Allah
berikan untukku. Kau jiwaku, kau nafasku, kau nadiku, dan kau adalah hidupku.
Betapa bodohnya aku yang telah membiarkan kau menderita selama ini. Aku baru
menyadari, kalau aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Tidak akan ada yang
bisa menggantikan kamu dalam hatiku. Tidak akan ada”
”Termasuk Alifa?” Tanyaku dengan tiba-tiba.
”Ya. Termasuk Alifa.” Jawab Mas Yusuf tenang.
”Lalu apa keputusanmu mengenai Alifa? Saat ini dia
membutuhkanmu Mas...”
Mas Yusuf terdiam sejenak.
”Sebelum aku menjawabnya, izinkan aku berterima kasih
padamu. Terima kasih atas kesabaranmu selam ini padaku. Terima kasih karena kau
telah mencurahkan seluruh cintamu padaku. Teriam kasih karena kau tak
henti-hentinya menemaniku dan mendo’akanku selama aku tak sadarkan diri. Dan
terima kasih...”
”Sstt!” Sahutku menyela perkataannya. Kucoba menempelkan
jariku di bibirnya.
”Kau sudah terlalu banyak mengucapkan terima kasih padaku.
Hanya dengan rasa cintamu padaku pun, itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada rasa
tidak enak dalam hal percintaan. Aku benar-benar mencintaimu Mas...” Ucapku
pelan.
”Terima kasih sekali lagi, karena sebentar lagi aku akan
menjadi seorang ayah...” Ucapnya senang.
Aku terdiam mendengar ucapan Mas Yusuf barusan. Aku tak
sanggup berucap satu katapun. Yang ada malah lelehan air mata yang mengalir di
wajahku lalu menyerap ke jilbab yang aku kenakan sekarang.
Aku benar-benar terkejut mendengarnya.
”Kamu hamil, sayang....” Ucap Mas Yusuf lagi dengan penuh
kemesraan.
Air mataku kembali mengalir membasahi jilbabku dan kini
semakin deras.
”Kau tidak membohongiku?” Tanyaku seolah ingin penegasan.
Mas Yusuf menggeleng.
”Aku tidak bohong. Kau sungguh-sungguh hamil. Saat ini kau
tengah mengandung anakku. Anak kita. Buah cinta kita”
Kuberikan senyumanku pada Mas yusuf. Aku hamil. Aku
benar-benar hamil. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu. Oh Tuhan, terima
kasih. Kau telah memberikan kebahagiaan ini padaku.
”Kemarin kamu pingsan karena terlalu letih. Dan setelah
diperiksa oleh dokter, ternyata kamu tengah mengandung. Usia kandunganmu baru
dua bulan. Kamu harus jaga kesehatan ya?’ Pinta Mas Yusuf padaku.
Aku mengangguk dengan air mata yang terus meleleh. Mas Yusuf
menghapusnya dengan sentuhan hangatnya.
Namun tiba-tiba aku tersadar. Kebahagiaanku belum sepenuhnya
menjadi milikku. Masih ada satu yang mengganjal. Tentang Alifa. Kejadian yang
baru saja aku alami memang suatu kebahagiaan yang sangat aku impikan.
Kebahagiaan karena akhirnya Mas Yusuf bisa mnerimaku dan mencintaiku, dan
kebahagiaan karena aku hamil.
Tapi biar bagamanapun, aku harus bertanggung jawab atas
permohonanku pada Mas Yusuf yang memintanya untuk menikahi Alifa. Aku harus
siap dengan segala konsekwensinya. Aku benar-benar ikhlas kalau saat ini Mas
Yusuf menyatakan kesediaannya untuk menikahi Alifa.
Aku terdiam dari tangisku dan mulai bertanya,
”Mas...”
”Hm?...”
Kuhela nafasku sesaat.
”Mencintaimu adalah suatu hal yang sangat membahagiaakan
untukku. Apalagi ketika kau sudah bisa menerimaku sebagai istrimu. Jelas
kebahagiaanku semakin lengkap, apalagi sebentar lagi kita akan menjadi orang
tua bagi anak kita. Tapi aku tidak mau egois. Saat ini, aku ingin mendengar
keputusanmu tentang penawaranku untuk kau menikahi Alifa. Biar bagaimanapun,
dia membutuhkanmu. Dan bayi yang tengah dikandungnya, juga butuh seorang ayah.
Aku harap kau bisa memberikan keputusan yang terbaik. Aku hanya ingin membagi
kebahagiaanku pada Alifa”.
Kulihat Mas Yusuf menundukkan kepalanya. Perlahan dia
berdiri dari duduknya.
”Kau tunggulah disini sebentar. Aku akan keluar untuk
memberikan jawaban dan keputusanku terhadap penawaranmu” Ucap Mas Yusuf pelan
lalu pergi keluar kamar sambil menyisakan rasa penasaran untukku. Apa yang
hendak suamiku lakukan?
Sambil menatap langit-langit kamar rumah sakit, aku menunggu
Mas Yusuf datang dengan membawa jawaban dan keputusannya. Sungguh, saat ini aku
begitu resah.
Tiba-tiba Mas Yusuf datang. Aku menoleh kearahnya. Tak ada
yang berubah darinya. Juga tak ada yang dibawanya. Kuperhatikan wajahnya.
”Apa keputusanmu Mas?” Tanyaku dengan serak menahan tangis.
Dia menghampiriku tanpa menjawab. Dia memandang keluar kamar
dengan wajah berseri-seri. Aku tambah tak mengerti. Akupun ikut memandang
keluar kamar.
Masih dalam kondisi berbaring di tempat tidur, perlahan aku
melihat sebuah bayangan datang menghampiri kamarku. Bayangan siapa itu?
Tiba-tiba, aku melihat sosok yang sangat aku kenal muncul
dihadapanku dengan menggunakan kursi roda. Dan orang yang mendorong kursi
rodanya juga adalah orang yang sangat aku kenal.
Dia Alifa dan Randi. Alifa duduk di kursi roda berbalut
ghamis coklat dan jilbab hitam, dan yang mendorongnya adalah Randi. Orang yang
kukenal sebagai sahabat Mas Yusuf. Orang yang dulu kutahu menyuruh Mas Yusuf
untuk segera menikahi Alifa. Orang yang dulu sempat menegurku pada saat acara
di Bumiwiyata, Depok. Kenapa mereka datang bersamaan?
”Alifa?! Randi?! Kalian....” Ucapku tergagap.
”Ya. Alifa sudah menikah dengan Randi” Sahut Mas Yusuf
mengejutkanku.
”Apa?”
”Ya Dinda. Aku sudah menikah dengan Randi. Dia telah
membantuku untuk tetap hidup. Dia juga sudah membuatku menjadi seperti ini.
Alhamdulillah, Randi sudah berkenan menjadi suamiku” Ucap Alifa sambil Randi
mendorong kursi rodanya mendekatiku.
Mas Yusuf dan Randi pergi keluar kamar meninggalkan aku dan
Alifa berdua.
Sambil menggenggam tanganku, Alifa berkata,
”Aku tahu kamu wanita yang sangat mulia hatinya. Aku sudah
dengar semua dari Yusuf. Kamu menyuruhnya untuk menikahiku bukan? Niat baikmu
untuk menjadikanku sebagai istri kedua Yusuf sangat aku hargai. Jujur,
sebenarnya kalau aku tahu yang hendak menikahiku adalah Yusuf, aku tidak akan
menerimanya...”
”Kenapa?”
”Karena aku tidak mau melihat kamu bersedih. Aku yakin
hatimu pasti hancur ketika Yusuf sampai menikahiku. Untung saja sebelum Yusuf
memberikan keputusannya karena dia mengalami kecelakaan dan koma, Randi datang
dengan sebongkah rasa kasihan dan cintanya untukku. Aku juga tidak mengerti
kenapa aku bisa seperti ini. Kepergian Mas Guntur memang menyisakan luka yang
mendalam untukku. Sampai aku harus dirawat di rumah sakit dan mengalami koma.
Dokter bilang, penyakitku ini disebabkan karena aku
mengalami tekanan batin yang begitu mendalam sehingga harus ada yang mau
menikahiku dan bersedia menjadi suami keduaku. Aku juga tidak tahu kenapa aku
bisa seperti itu. Tapi memang, setelah Randi menikahiku dan dia mulai
membisikkan kata-kata mesranya untukku, seolah ada setetes embun pagi yang
mengaliri tubuhku. Aku mulai bereaksi. Ketika Randi menyentuh tanganku dan
membelaiku, perlahan aku seperti menemukan kembali semangat hidupku.
Memang aku sempat terkejut ketika kubuka mata, yang kulihat
bukanlah Mas Guntur, tapi Randi. Sahabatku sendiri yang kini telah menjadi
suamiku. Awalnya aku sempat drop lagi tapi dokter segera memberikan obat
untukku. Dan akhirnya aku sudah bisa menerima
semua kenyataan ini, kalau Mas Guntur sudah tiada dan yang
menggantikannya adalah Randi.
Terima kasih ya? Karena biar bagaimanapun, kau sudah berniat
baik padaku dengan menyuruh Yusuf agar mau menikahiku dan berkenan menjadi ayah
bagi anak yang tengah kukandung ini. Dan selamat ya? Akhirnya kau juga akan
menjadi seorang ibu”
Alifa menjelaskan semuanya dengan tenang. Aku tersenyum
padanya. Aku baru ingat, ternyata laki-laki yang dimaksudkan keluarga Alifa
yang hendak menikahi Alifa adalah Randi. Seseorang yang tanpa sengaja telah
menyelamatkan hati dan cintaku ternyata adalah Randi. Karena dia, akhirnya aku
tidak jadi menjadi istri tua. Terima kasih Randi.
”Kapan kamu menikah dengannya?” Tanyaku.
”Kemarin. Bahkan Yusuflah yang menjadi saksi pernikahan
kami”
Diam-diam ada perasaan syukur yang menyusup kedalam diriku.
Tak berapa lama, Mas Yusuf dan Randi masuk lagi ke kamar.
Aku tersenyum pada mereka dan kuucapkan selamat pada Randi. Kami pun berbincang
bersama di kamar itu. Penuh keceriaan dan tawa yang kami ciptakan saat itu.
* * *
Empat Belas
Setelah dokter mengatakan kondisiku sudah cukup pulih,
akhirnya dia mengizinkanku untuk segera pulang. Begitu juga Mas Yusuf. Beberapa
luka di bagian kepala dan lengannya juga sudah mulai mengering.
Kami melewati hari-hari baru kami sebagai suami istri. Lebih
tepatnya lagi suami istri yang baru menemukan mahligai cintanya. Aku sangat
bersyukur sekali karena kesabaranku dalam mencintai Mas Yusuf akhirnya
menemukan buahnya. Kini aku sudah memetik buah itu. Cinta itu, kini sudah
menemukan peraduannya. Tak henti-hentinya aku berucap syukur pada Sang Maha
Pencipta.
Kini, tak ada lagi sorot kebencian pada mata Mas Yusuf. Kini
tak ada lagi sosok seorang suami pengecut dalam kehidupanku. Yang ada hanyalah
seorang pahlawan sejati yang siap menemaniku kemanapun kakiku melangkah. Terima
kasih, Ya Allah.
Malam ini, aku dan Mas Yusuf sudah berada di sebuah beranda
di salah satu kamar hotel yang dulu pernah kami jadikan sebagai tempat malam
pertama kami satu tahun yang lalu. Dengan ditemani sinaran bintang-bintang,
kami memulai kembali kisah cinta kami yang sempat tertunda karena sebuah
keegoisan.
Malam ini, kami serasa seperti kembali menjadi sepasang
pengantin baru. Saat Mas Yusuf menatapku penuh mesra, rasa berdebar-debar itu
tiba-tiba muncul dalam diriku. Tapi inilah cinta. Aku sangat menikmati debar-debar
itu. Tatapannya, belaiannya, dan kecupannya, ini adalah untuk yang pertama
kalinya dia melakukannya dengan penuh keikhlasan hati dan kerelaan jiwa.
Malam semakin larut dan dia mulai mengajakku kembali ke
kamar. Entah mengapa, keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Aku ikuti
langkahnya. Kini, dia menuntunku untuk sampai di tempat tidur. Aku tersenyum
padanya.
Dengan ditemani temaram lampu kamar dan indahnya sinaran
bulan sabit di langit luar sana, Mas Yusuf kembali membuktikan bahwa dia bukan
laki-laki pengecut. Dia bisa
menjalankan tugasnya sebagai seorang suami. Dan itu ia
lakukan tanpa menunggu subuh datang terlebih dahulu. Aku merasakan menjadi
makhluk Tuhan yang paling dikasihi.
Ditengah ibadah berdua kami, tiba-tiba dering hand phone ku
berbunyi. Sambil terus melakukan ibadah itu, kuraih hand phone ku dan kulihat
sekilas. Dari pihak penerbit. Aku tak berniat mengangkatnya dan segera ku
matikan dengan me-non aktifkan-nya.
Peluh kami kembali bersatu lagi. Merembas ke dalam seprei
biru yang kini menutupi tempat tidur kami. Inilah kesucian cinta yang telah
tertanam sejak lama yang kurawat dengan air kesabaran. Inilah buah yang kupetik
hasilnya ketika cintaku pada Mas Yusuf harus bersabar.
Kini, lagi-lagi aku harus bersabar untuk menanti datangnya
bidadari kecil yang beberapa bulan lagi akan hadir ke duani ini untuk menemani
kehidupan kami sebagai Abi dan Bunda.
Bulan dan bintang memantulkan sinar gemerlapnya pada diri
dua insan yang tengah dimabuk cinta. Semoga ibadah ini bisa memberikan
keberkahan pada kehidupan rumah tanggaku dengan Mas Yusuf nantinya.
Rabb, Terima kasih.
` Alhamdulillah,
Selesai di Kantor Deptan
Kamis, 08 Mei 2008
Untuk mereka yang menganggap bahwa kecantikan adalah
segalanya. Ingat, wanita yang beriman itu lebih baik, dari wanita yang cantik,
namun tak beriman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar