Selasa, 13 Agustus 2013

Bidadari Untuk Ikhwan



Bidadari untuk ikhwan

(Fajar Agustanto)



Kata Pengantar

Puji syukur kepada Allah yang telah menghantarkan segala apa yang ada dimuka

bumi ini menjadi berarti. Tidak ada satupun sesuatu yang diturunkan-Nya menjadi siasia.

Sungguh kami sangat bersyukur kepada-Mu Yaa Rabb. Hanya denganmulah, tulisan

novel ini dapat kami selesaikan.

Novel Bidadari untuk Ikhwan adalah novel yang menjadikan transformasi dalam

keberadaan novel-novel Islam. Saya menjadikan novel Bidadari untuk Ikhwan sebagai ebook.

Adalah hanya untuk dakwah. Sesaat, setelah beberapa bulan tidak ada tanggapan

dari penerbit-penerbit Islam. Akhirnya saya memutuskan untuk meng-ebookkan novel

ini, dan beberapa novel islam yang lain. Karena permintaan dari beberapa teman-teman

yang sudah membaca, dan mereka mengatakan bagus. Akhirnya saya menerbitkan karya

saya dengan cara yang murah. Novel yang saya tulis sendiri. Novel ini berkaitan dengan

novel Aku menggugat Akhwat & Ikhwan.

Seandainya ada teman-teman yang ingin mengirimkan novelnya untuk dijadikan

e-book dan dipublikasikan di website kami. Kami siap untuk menerbitkan novel anda,

dengan catatan. Semua yang ada di novel ini gratis, tidak ada biaya dalam pengorbitan.

Dan seandainya ada penerbit yang akan mengorbitkan novel anda, maka silakan anda

mengkonfirmasikannya kepada kami.

Sungguh tiada maksud lain, selain untuk berdakwah. Jika memang buku-buku kita

tidak bisa diterbitkan oleh para penerbit. Kenapa kita tidak menerbitkan karya kita

dengan cara kita sendiri. Semoga niat kita selalu terjaga dari indahnya dunia, dengan

selalu mengazamkan niat dalam dakwah.

Wassalamu’alaikum

Fajar Agustanto



JILID 1

“Akhi Khalid, antum sudah sholat dhuhur?” aku terbangun dari lamunanku saat Andi

teman satu LDK (Lembaga Dakwah Kampus) menepuk pundakku.

“Akh, antum mengagetkan ana aja! Oh iya, ana belum sholat dhuhur nich!” aku

menjawab sambil memakai tas ransel hitamku kembali, yang saat itu masih tergelatak

dilantai.

“Akh, kalau gitu ayo kita kemasjid sekarang!” ajak Andi.

Aku hanya hanya menganggukkan kepala, sambil berdiri dan berjalan menuju masjid

kampus yang jaraknya tidak begitu jauh dari fakultasku.

Hem, nikmat benar air wudhu yang membasahi kulit-kulitku ini. Terasa semua

ringan dalam membasuh semua kotoran-kotoran dunia. Iqhomat sudah mengumandang,

tanda sholat akan dimulai.

“Benar-benar cantik, wanita tadi! Siapa dia? Aku baru melihatnya sekarang!” lamunku.

“Allahu Akbar!” aku tersentak saat Imam mengucapkan takbir rukuk.

“Masya’ Allah, aku sedang sholat!” sertamerta pun aku langsung membuang jauh-jauh

pikiran yang telah menjauhkan aku dari kekhusyu’anku dalam sholat.

***

Kebutuhan rohaniku telah aku laksanakan, sekarang waktunya untuk kebutuhan

jasad ini. Dholim, jika aku mengacuhkan kebutuhan tubuh ini.

“Akhi, antum sudah makan?” tanyaku pada Ridwan teman satu LDK, yang sedang

duduk-duduk diserambi masjid.

“Ana, belum makan Akh! Kenapa, mau ngajak makan? Tapi ingat Akh, ana kalau makan

nggak suka kalau dikantin kampus kita ini!” ucap Ridwan

aku tersenyum sambil mengatakan “nggak suka, apa kemahalan?”

“hehehe, antum sudah tahu rahasianya yach!” Ridwan mengatakan sambil tertawa

“Kita kan sama-sama mahasiswa, tahulah yang dipikirkan! dan kita kan Al-Ikhwan

(saudara)! Jadi kita harus lebih mengetahui keadaan saudaranya sendiri!” kataku sambil

bernada sok mengejek

Ridwan tertawa sambil mengatakan “antum ini, ada-ada saja! Benar juga, kita Al-Ikhwan

(saudara) jadi harus lebih tahu! Sekarang, Antum harus tahu kalau ana lagi boke’! Jadi

antum harus mentraktir ana!”

 “Akh, antum! kapan punya uangnya? Boke’ kok terus! Ok lah, sekarang ana traktir”

kataku sambil tertawa dan mengajak Ridwan disebuah warung. Tentunya yang murah dan

enak.

***

Hem, sepi sekali dikontrakan! Mungkin teman-teman masih ngisih kajian atau

mengikuti kajian pikirku dalam hati. Aku merogoh saku celana, mencari kunci kontrakan.

“Ini dia!” kataku. Aku buka pintu sambil berucap salam, tetap tidak ada yang menjawab

salamku. Mungkin memang teman-teman masih aktif dalam kegiatan masing-masing.

Biasanya kalau jam-jam tidur siang ini, teman-teman masih lebih aktif untuk berdakwah.

Biasanya Yanto, Deni, Heri dan Samsul selalu pulang sore, karena banyaknya aktifitas di

SKI (Sie Kerohanian Islam) fakultas mereka. Alhamdulillah kegiatanku sekarang sudah

tidak sepadat seperti mereka, mungkin teman-teman mengerti kalau aku sekarang lebih

disibukkan rencana untuk mengerjakan skripsi. Sehingga amanah-amanah dakwah, tidak

begitu banyak dibebankan kepadaku. Dulu, saat masih banyak-banyaknya aktifitas

dakwahku. Aku banyak sekali mempunyai binaan, mulai dari kajian anak-anak SD, SMP,

SMA, anak-anak jalanan sampai kajian para preman yang sudah tobat. Tapi

alhamdulillah sekarang lebih berkurang, sekarang aku hanya mengisi kajian ditempat

para preman saja.

Pernah suatu hari, aku meminta tolong teman-teman untuk mengisi kajian para

preman. Ternyata teman-teman banyak yang belum siap untuk mengembangkan dakwah

dikalangan para preman. Sehingga kajian untuk para preman, masih tetap aku yang

mengisi. Memang sangat unik sekali saat bertemu dengan preman-preman itu, saat-saat

pertama mengenal mereka. Entah apa yang membuat para preman ini sadar, akan

pentingnya mengenal Islam lebih dalam. Perjumpaan yang sangat unik, saat aku selesai

mengisi kajian ditempat anak-anak yang kurang beruntung, aku berjalan sendirian

diperkampungan kumuh itu.

Disebuah pinggiran kali, aku berpapasan dengan tiga para preman. Mereka

melihatku dengan tatapan yang tajam, seakan aku adalah mangsa yang siap untuk

diterkam, dan tentunya sangat lezat. Jantungku berdetak kencang, aku merasakan

ketakutan saat berhadapan dengan para preman. Tak pelak aku pun beristikfar dalam hati

dan meminta perlindungan kepada sang Maha pelindung. “Sesungguhnya mereka itu

tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya,

karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu

benar-benar orang yang beriman (Ali Imran 175).” Aku teringat dengan apa yang

difirmankan Allah, sungguh dahsyat apa yang kurasakan setelah mengingat Ali Imran

ayat 175. Tubuhku seakan siap menjadi tentara Allah yang akan menghadang para

segerombolan kaum Bani Israil.

“Hai kamu! Kesini” teriak salah satu preman itu, memanggilku.

Dengan santai aku pun mendatangi ketiga preman itu “ada apa Bang?” jawabku.

 “Jadi ini yach, Guru ngaji itu!” ucap salah satu preman yang berada ditengah.

“Iya Bos, dia salah satu dari guru ngaji itu!” jawab salah satu preman disebelahnya.

Aku hanya diam dan menatap mereka, serta bersiap siaga jika mereka akan berbuat

sesuatu kepadaku.

“Apa benar kamu guru ngaji, yang ngajar digubuk sana?” tanya preman yang dipanggil

Bos, dan kemungkinan dia memang memang Bos preman didaerah kumuh ini.

“Iya benar!” jawabku singkat dan mantap, sambil sedikit menganggukan kepala.

“Hem, aku sudah mendengar kalakuan kalian pada anak-anak disini!” ucap si Bos

preman itu. “apa kamu nggak takut, sama kami!” ucapnya lanjut, dengan sedikit agak

membentakku.

Saat itu aku hanya sedikit tersenyum lalu mengatakan “maaf kalau saya mengganggu atau

ada kelakuan saya dan teman-teman yang tidak mengenakkan, kami mengajar kesana

hanya untuk meningkatkan keilmuan anak-anak, serta mencari pahala yang dijanjikan

oleh Allah swt! Tidak ada maksud lain selain itu.” Ucapku tenang dan tegas

“Jadi, kamu memang benar-benar tidak takut pada kami!” Bos preman itu membentak

keras kepadaku

“Maaf, bukan bermaksud seperti itu! Saya dan teman-teman, mengajar dengan

keIkhlasan. Bukan mencari permusuhan!” jawabku mencoba untuk menenangkan

mereka.

“Dasar bocah. Kamu sudah berani menginjak daerah kami!” ucap salah satu preman yang

berambut gondrong.

“Sudah sikat saja!” ucap preman yang berbadan ceking, berambut cepak sambil langsung

bergerak mengepungku, tidak terkecuali preman yang berambut gondrong itu. Si Bos

preman hanya melihat dan diam saja.

Darah sudah mendidih, luapan emosi sudah menerjang pada ketiga preman itu. Aku juga

sudah bersiapsiaga menerima serangan dari kedua preman itu.

“Tak ada yang saya takuti selain Allah swt, jikalau saya mati disini! Maka akan banyak

tentara Allah yang akan menghajar kalian! Dan saya syahid dijalan-Nya” ucapku keras

Saat si preman gondrong akan menyerang, terdengar teriakan keras “HENTIKAN”. Kami

menoleh pada Si bos preman itu. “Sudah, hentikan!” perintahnya lagi.

Aku masih tetap bersiapsiaga jika sewaktu-waktu mereka menyerangku.

Si Bos preman itu mendatangiku, lalu dia tersenyum sambil berkata “Hai anak muda,

siapa namamu?”

“Khalid, Khalid Hendriansyah!” ucapku tenang dan tetap tegas.

“Baru kali ini, saya berhadapan dengan anak muda yang berani!” ucap Si bos preman,

selanjutnya dia mengatakan “sebenarnya beberapa kali, ada anak muda yang

mengajarkan ngaji pada anak-anak diperkampungan kumuh ini. Tetapi mereka adalah

anak muda yang munafik, mereka mengatakan kebesaran Tuhannya tetapi mereka

menakuti manusia. Mereka takut pada kami, para preman! Saat aku melihat kamu, aku

ingin menguji keberanianmu, aku ingin menguji keimananmu, ingin menguji kekuatan

kepercayaanmu kepada Tuhanmu. Dan menguji, apakah kamu dari golongan anak muda

yang munafik itu? Sungguh luar biasa keberanianmu, engkau tak takut akan kematian.

Bahkan engkau mencari kematian, kematian diatas nama Tuhanmu! Dan ternyata kamu

bukan dari golongan anak-anak muda yang munafik itu.”

Nih preman gak tau kali ya, kalau aku sebenarnya juga takut! Tapi Alhamdulillah,

dengan pertolongan Allah swt, rasa takutku pun menjadi sebuah keberanian. Ucapku

dalam hati.

Si Bos preman mendekat kepadaku, lalu menepuk pundakku sambil mengatakan “hai

anak muda, kami tidak ingin ada orang yang mengajarkan anak-anak kami tentang

bagaimana mengenal Tuhan, sedangkan dia sendiri tidak mengenal-Nya. Kami ingin

anak-anak kami di didik oleh orang-orang yang memang mengerti tentang Tuhan. Tidak

takut akan ancaman manusia, tetapi dia lebih menakuti ancaman-ancaman Tuhannya.

Sehingga anak-anak kami nantinya, menjadi seorang pemberani dalam hidup. Dan

termasuk dari golongan orang-orang yang shaleh.” Si bos preman itu memandangi aku,

layaknya berharap kepadaku, berharap tentang ajaran kebenaran. Berharap akan

datangnya cahaya keIlahian. Setelah itu Si bos berkata “Khalid, jangan kamu kira bahwa

kami tidak perduli dengan masa depan anak-anak kami! Kami berpenampilan seperti ini,

karena kami ingin melindungi daerah ini, dari preman-preman yang lain! Dengan seperti

ini kami lebih leluasa untuk bergerak.”

Aku tersenyum saat Si bos preman itu menatap tajam penuh makna, penuh pengharapan

dari orang yang menginginkan kebenaran. “Insya Allah, saya akan mendidik anak-anak

dilingkungan sini dengan ilmu yang pernah saya dapatkan! Saya hanya menginginkan

keridhoan Allah saja dalam berjuang, bukan yang lainnya.” Ucapku.

“Terima kasih, Khalid! Dan jika kamu butuh apa-apa silakan panggil kami.” Ucap Si bos

preman sambil akan beranjak pergi.

Saat dia akan beranjak pergi, serta merta pun aku langsung memanggil Si bos “maaf, saya

belum tahu nama Abang!”

Si bos preman membalikkan tubuhnya menghadap aku, dia tersenyum sambil menjawab

“Panggil aku, Jamal! Sampai jumpa Khalid”

Saat hendak Si bos preman alias Bang Jamal melangkah meninggalkanku, aku berteriak

“Assalamua’alaikum, Bang”

Bang Jamal menoleh, sambil tersenyum dan menjawab “Walaikumsalam” setelah itu dia

pergi.

Aku tertegun sesaat, pikiranku menerawang mengingat apa yang dikatakan Bang

Jamal “Kami tidak ingin ada orang yang mengajarkan anak-anak kami tentang bagaimana

mengenal Tuhan, sedangkan dia sendiri tidak mengenal-Nya.” Sungguh luar biasa apa

yang diucapkan Bapak Jamal. Tiada kata yang seindah dengan pengingatan keras, seperti

apa yang diucapkan Bang Jamal. Sungguh aku benar-benar takut, takut jika tidak dapat

mengemban amanah ini. Sebuah ucapan yang harus diperhitungkan, meski ucapan itu

diucapkan oleh orang-orang jalanan atau bahkan seorang preman.

Tiada hal yang harus kita singkirkan, dari pernyataan seorang preman yang begitu

agung. Mungkin pernyataan Bang Jamal, layak disetarakan dengan Aristoteles atau

mungkin Imam Ghazali, sungguh pernyataan yang tidak dapat diduga dari mulut seorang

yang masih tidak begitu mengenal tentang kebenaran dari Tuhan. Tapi tetap, Bang Jamal

adalah Jamal, bukan Aristoteles atau bahkan Imam besar Al Ghazali.

Yang aku tahu, dijaman seperti sekarang ini pernyataan yang di ucapkan oleh

Bang Jamal sangat langka. Kita lebih banyak tahu, tentang orang-orang yang selalu

berpikiran sempit tentang ajaran-ajaran kebenaran ini, Islam. Apalagi menganggap

bahwa, anak-anak yang mempelajari agama Islam, adalah anak-anak yang ketinggalan

jaman. Mereka mungkin lupa dengan apa yang dikatakan Imanuel Kant, bahwa tingkatan

paling tinggi dari estetika dan etika, dari derajat manusia adalah rasa keimanan yang

tinggi terhadap agamanya (relegius).

Setelah aku kenal bang Jamal, terjadi banyak hal yang memang membuatku

kagum dengan Dia. Sosok preman yang satu ini memang beda dengan preman-preman

yang lainnya. Dia tidak pernah meminta uang apapun didaerah kekuasaannya, apalagi

hanya sebatas uang keamanaan. Tetapi tetap kerjanya Bang Jamal, jadi bodyguardnya

pemilik hotel. Kata Bang Jamal sich, pemilik hotel itu takut, takut kalau ada yang bikin

gara-gara dihotelnya. Jadi akhirnya Bang Jamal yang diminta perlindungannya.

Sungguh memang ironis dinegara kita ini, para penegak hukumnya sudah tidak

lagi dapat diandalkan sebagai penegak hukum yang sebenarnya. Hingga akhirnya orangorang

yang punya uang pun, lebih aman dijaga preman dan satpam. Setalah sering

bertemu, akhirnya aku beranikan diri untuk mengajak Bang Jamal bikin kajian khusus

para preman-preman. Luar biasa tanggapan bang Jamal, ternyata sangat menerima sekali

ajakanku itu “ini yang ditunggu-tunggu dari dulu, jarang ada pengajian buat para

preman!” ucap Bang Jamal saat itu.

Tiada hal yang dapat menggembirakan hati ini, kecuali ajakan untuk berbuat baik

disambut dengan kebaikan pula. Sejak saat itulah, aku sering mengisi kajian para premanpreman.

Dan akhirnya aku banyak tahu, nama-nama dari preman diwilayahku sendiri.

Lambat laun kajian para preman yang aku adakan semakin ramai saja, karena para

preman ini sering mengajak teman-teman preman lainnya untuk ikut ngaji juga. Beberapa

preman yang masih baru mengikuti kajian, banyak yang canggung. Sehingga sesekali ada

celetukan yang kadang jorok, lucu, atau bahkan mengharukan. Mengharukan, karena

ternyata banyak para preman ini yang tidak dapat membaca Al Qur’an, “baca Al Qur’an!

La wong baca koran aja susah kok” itulah celetukan menyayat hati. Dinegara yang

katanya sebagian besar umat Islam ini, ternyata tidak sedikit yang belum bisa membaca

Al Qur’an. Tapi tertera dengan jelas di KTPnya (Kartu Tanda Penduduk), ISLAM. “Jadi,

sebenarnya yang benar ini, yang mana? Islam KTP apa KTPnya yang Islam. Kalau Islam

KTP sich masih punya identitas keIslamannya, nah kalo KTPnya yang Islam berarti yang

Islam itu?.” Gumamku dalam hati

Hari-hari yang aku lalui dengan para preman, ini sungguh memberikan kesan

yang tersendiri. Kesan yang membuatku kagum dengan semangat mereka, semangat yang

ingin lepas dari jeratan syetan. Sungguh besar rahmat Allah, disaat banyak orang yang

menjauhi agama Islam, tetapi mereka dengan berbondong-bondong belajar agama yang

haq ini, Islam. Mereka tidak merasa malu dengan keIslamannya, bahkan hari demi hari

mereka menjadi bangga dengan apa yang mereka peroleh.

Sejak saat itu aku sering main kerumah bang Jamal, tak jarang pun bang Jamal

main-main ketempat kosku. Beberapa teman-teman aktivis dakwah sempat kaget, dengan

jalinan pertemananku dengan bang Jamal. Sampai-sampai Deni, dengan ceplas-ceplosnya

mengatakan

“Akh, Khalid! Antum punya banyak binaan preman, kok gak disuruh untuk lebih

meningkatkan keimanannya! Sehingga dandanan para preman itu menjadi lebih sopan

lagi”

“Sebenarnya, gini Akh! Seseorang diberikan peringatan tidak harus langsung, kita harus

mengetahui kadar keimanan dari seseorang yang akan kita beri peringatan. Ana takut,

kalau ana memberikan peringatan yang keras kepada mereka, akhirnya menjadi lari

dengan dakwah kita. Cukup tunjukkan perilaku kita saja, biar mereka meniru apa yang

kita perbuat, dan tidak usah banyak berkata-kata! Karena sesungguhnya, Islam adalah

agama prilaku! Maka berikan contoh, karena sesungguhnya contoh itu yang mudah untuk

ditiru.” Memang ucapan Deni benar, tetapi suatu hal yang mendasar, yang diajarkan

Rasulullah kepada umatnya adalah rasa kasih dan sayang serta memberikan peringatan

dengan lemah lembut. Juga memberikan amanah kepada seseorang, dengan sesuai

tingkatan keimanannya. Tidaklah seorang yang bijak, jika menyeruhkan kebenaran tetapi

dia sendiri tidak melakukan. Tidaklah kebenaran itu akan terwujud, jika kebenaran itu

hanya berada pada ucapan-ucapan semata. Tidaklah ucapan-ucapan kebenaran akan

terwujud, jika perilaku si pengucap menyimpang dari perkataan kebenarannya. Orang

bijaklah, yang menyerukan tentang kebenaran, dan dia mengetahui kebenarannya serta

mengetahui kadar iman dari seorang yang akan diserunya.

Hari demi hari, pertemanan kami sangat dekat. Bang Jamal, sudah aku anggap

sebagai kakakku sendiri. Sehingga rasa kekeluargaan kami terasa begitu kental. Istri bang

Jamal, mbak Surtini juga sudah mengikuti kajian ibu-ibu yang diadakan oleh temanFajar

teman akhwat kampusku. Apalagi Joko, putra bang Jamal ini lebih senang datang ke

kajian dari pada pergi ke sekolah “sekolah itu bosenin, Ustad! Masa kerjanya cuman

belajar melulu, nggak ada mainnya.” Itulah kata Joko saat aku tanya. Tapi memang, Joko

menjadi anak yang lebih cepat menangkap pelajaran agama daripada pelajaran-pelajaran

yang lainnya. “saya kan pengen kaya’ ustad Khalid!” akunya polos. Saat Joko

mengatakan itu dengan polos, badan ini menjadi benar-benar bergetar. Beribu tanya

dihatiku “apakah aku layak dijadikan contoh, bagi Joko?” sering juga bang Jamal

mengatakan kepadaku, “Khalid, Joko benar-benar kagum dengan kamu! Sering aku tanya

tentang cita-citanya, dia selalu berkata. “aku pengen jadi ustad. Kayak, ustad Khalid!”

aku mohon jangan sampai kamu kecewakan Joko!.” Sungguh ucapan bang Jamal menjadi

cambuk bagiku. Cambuk yang selalu mengingatkan aku, untuk selalu mendekatkan diri

pada Allah Azza wa jalla.

Beberapa kali saat aku mengisi kajian ditempat anak-anak yang kurang

beruntung. Selalu ada semangat baru bagiku, untuk dapat meningkatkan kualitas mereka.

Terutama kualitas dari pengetahuan agama mereka. Mungkin seperti itulah Allah,

memberikan kenikmatan berdakwah padaku.

Saat aku sedang mengisi kajian, aku didatangi oleh orang-orang yang tidak

dikenal. Sesekali mereka menanyakan tentang data-data daerah kumuh ini pada salah satu

RT. Setelah mereka mendapatkan data-datanya, mereka langsung pergi. Dan setelah itu

tak lama muncul sebuah kegiatan kemanusian, berupa pembagian sembako dan alat-alat

masak gratis. Dan anehnya kegiatan itu sangat mengetahui seluk beluk dari daerah

kumuh ini. Sehingga mereka dengan leluasa membagikan sembakonya kepada penduduk.

Entah dermawan mana yang membagikan sembako itu, yang aku harapkan tidak ada

maksud yang lain selain kegiatan kemanusiaannya.

Pertama-tama kegiatan pembagian sembako itu bersifat biasa-biasa saja, tetapi

lama kelamaan kegiatan sembako menjadi kegiatan kajian rutin. Entah siapa yang

mengusulkan kajian itu, tak pelak kajian keIslaman yang aku dan teman-teman adakan,

menjadi sedikit peminatnya. Apalagi kajian ibu-ibu yang diselenggarakan oleh para

akhwat kampus.

Saat aku sedang mengadakan kajian rutin para preman, aku mencoba untuk

mengorek beberapa keterangan tentang para dermawan-dermawan yang membagikan

sembako. Dengan mengorek keterangan dari para preman, aku bisa leluasa mendapatkan

banyak ketarangan yang sangat berharga.

“Bang Jamal, tahu nggak kajian yang dilaksanakan setiap jum’at malam itu?” tanyaku

“Iya saya tahu, Khalid!” jawab bang Jamal saat itu

“Saya cuma ingin tahu, berapa banyak orang-orang yang datang disana?” tanyaku

“Sangat banyak yang datang kesana, Khalid! Bahkan beberapa dari kita pun pindah ke

kajian mereka” ucap bang Jamal

 “Benar, banyak sekali warga kita yang ikut kajian mereka! Kabarnya sich, orang-orang

yang ikut kajian mereka itu dikasih uang saku plus oleh-oleh kalau pulang” ujar Dadang

preman gondrong anak buah bang Jamal.

“Loh, lalu kenapa bang Dadang nggak ikut kajian mereka?” tanyaku dengan heran

“Saya kok, merasa ada yang ganjil yach di kajian itu!” kata bang Jamal

“Benar Bos!” ucap bang Dadang. Selanjutnya dia mengatakan “saya pernah melihat

mereka yang wanitanya memakai jilbab. Seperti teman-teman mas Khalid yang pake

jilbab besar-besar itu! Tetapi saat saya melihat terus, ternyata saat masuk kedalam mobil,

mereka melepas jilbabnya. Dan disitu ada tiga wanita, empat laki-laki. Mereka terlihat

tertawa lepas, para wanita itu dipeluk oleh laki-lakinya! Saat itu saya sebenarnya mau

hajar mereka karena bertingkah tidak baik dan saya kira itu juga melecehkan ajaran

Islam. Tetapi saya urungkan, karena waktu itu saya sendirian. Takut juga, kalau

dikeroyok mereka!”

“Dasar, penakut kamu! Siapa yang ajari kamu jadi pengecut begitu” bentak bang Jamal,

“kenapa kalau takut nggak bilang! Bisa aku hajar mereka. Aku nggak pernah ajari kamu

sebagai pengecut kan?” bang Jamal terlihat sangat emosi, melihat perilaku bang Dadang

yang menurutnya pengecut.

“Sabar bang, sabar!” ucapku sambil memegangi tangan bang Jamal. “sebenarnya bang

Dadang nggak salah bang, Islam mengajarkan kita untuk berani menindak kezaliman.

Tetapi Islam juga mengajak kita untuk bisa membuat strategi. Kalaulah bang Dadang saat

itu melawan mereka, dan setelah itu bang Dadang dihajar oleh mereka atau bahkan

dibunuh oleh mereka! Maka saat ini kita tidak akan tahu perbuatan yang dilakukan oleh

mereka. Dengan begini kita akhirnya tahu apa yang dilakukan oleh mereka. Tetapi

seandainya jika bang Dadang melawan mereka, meskipun bang Dadang kalah atau

bahkan mati. Maka bang Dadang akan mendapatkan pahala, dan kematian bang Dadang

adalah syahid. Surga adalah balasan bagi orang-orang yang syahid. Untuk saat ini

sebaiknya kita pantau kelakuan mereka, para pembagi sembako itu!” ucapku tegas.

Semua yang hadir saat itu terlihat setuju sambil menganggukkan kepalanya. Sejak

saat itu, aku dan teman-teman lebih intensif memusatkan perhatianku pada gerak-gerik

para dermawan itu. Dan bang Jamal, sebagai spionaseku untuk mengorek semua kegiatan

yang dilakukan oleh mereka.

“Ada maksud apa dibalik semua ini?” itulah sebuah pertanyaan besar, bagi kami

para aktivis dakwah ini. Dan pada saat itu, muncul ideku untuk ikut kajian para pembagi

sembako itu. .

***

Saat itu jum’at malam, pengajian diadakan ditempat rumah Bapak RT. Banyak

sekali yang datang menghadiri. Saat akan masuk ke tempat pengajian, para penyambut

tamu sudah bersiap memberikan makanan. Makanan-makanan yang memang lezat-lezat

itu mengundang sekali untuk disikat. “hem, bagaimana tidak senang! Yang hadir saja

dikasih makanan lezat kayak gini” gumamku sendirian.

Saat itu Samsul yang aku ajak untuk menghadiri kajian tersenyum, lalu mengatakan

“Wah, Akh. Dakwah kita memang kalah canggih yach!”

Saat aku melihat sekeliling, terlihat memang tidak ada yang perlu dicurigai.

Hanya saja, memang terlihat beda sekali dengan sistem kajianku. Terlihat beda karena

aku bisa melihat para wanita yang juga ikut dalam kajian jum’at itu. Mereka mungkin

lupa untuk menggunakan hijab (batasan/penutup) antara wanita dan pria.

Saat aku melihat sekitar, mataku melihat sosok seorang gadis berjilbab lebar yang sedang

membagikan makanan kecil kepada para wanita. “siapa dia? Kayaknya aku mengenal

dia! Hem, dimana yach?” pikirku. Memang aku merasa mengenal wajahnya.

Seorang ustad memakai sorban, naik ke mimbar yang sudah disediakan. Terlihat memang

meyakinkan sekali orang itu. “oh namanya, kyai Badrul!” gumamku saat kyai itu

mengenalkan namanya diawal pembukaan, baru kali ini aku mengenal kyai Badrul.

Beberapa saat setelah lama ustad itu berceramah, dia langsung berkata “sesungguhnya

agama Islam itu agama yang pasrah! Jadi sesungguhnya, orang-orang yang pasrah adalah

orang-orang yang beragama Islam. Meskipun dia tidak beragama Islam, kalau dia pasrah

kepada Tuhannya, maka dia orang Islam” kata kyai Badrul yang saat itu sedang

berceramah didepan mimbar.

Sontak saja aku dan Samsul yang mengikuti kajian itu, saling berpandangan. Wajah

Samsul terlihat geram “Akh, ini nggak bisa dibiarin! Ini namanya pendangkalan

akhidah!” ucapnya lirih.

“Tenang, Akh. Jangan gegabah, kita lihat dulu maksud dari kyai yang baru kita kenal ini”

jawabku lirih pula.

“Sesungguhnya, Islam itu adalah rahmat bagi seluruh alam! Jadi, untuk bisa menjadi

agama yang rahmat, orang Islam haruslah saling menghormati dengan agama yang

lainnya. Agar tercipta kehidupan saling menghormati, ucapkanlah selamat jika ada agama

lain yang sedang merayakan perayaan! Karena Islam agama rahmat, ucapan selamat itu

adalah ucapan rahmat!” kata kyai Badrul saat masih berada diatas mimbar.

Sontak pun aku dan Samsul saling memandang “Akh, ini memang nggak bisa dibiarkan!

Ini sudah pendangkalan akhidah” ucap Samsul padaku

“Iya benar, ini memang sudah pendangkalan akhidah umat Islam! Entah kyai mbeling

dari mana dia, dengan seenaknya ngomong kejamaah umat Islam seperti itu!” ucapku

lirih

 “Akh, setelah ini kita harus gerak cepat! Sebelum banyak orang yang akan didangkalkan

akhidahnya” pintaku ke Samsul.

“Iya, kita harus gerak cepat!” jawab Samsul pasti.

Saat kyai Badrul selesai berceramah, datang beberapa bingkisan makanan.

Bingkisan makanan itu dibagikan untuk oleh-oleh para jamaah yang hadir disitu. Saat

pembagian sembako itulah aku melihat, sosok cantik yang berjilbab lebar itu lagi. Aku

benar-benar menatapnya, sambil mengingat-ingat dimana aku pernah berjumpa dia.

Aku kaget saat Samsul menyikutku pelan, sambil berkata “Akh, antum jangan lihat

akhwat terus! Ingat, pandangan pertama itu dari Allah tetapi selanjutnya dari syetan! Tapi

akh, memang tuh akhwat cantik juga yach!”

“Ana, nggak melihat akhwatnya! Ana cuma melihat wajahnya” ujarku

“Hem, dibilang ngelihat akhwat nggak mau! Tapi malah bilang, melihat wajahnya

akhwat. Ini malah lebih parah, Akh!” ujar Samsul sambil tersenyum.

“Yee, akh. Antum seharusnya dengerin ana dulu, jangan langsung potong pembicaraan

ana. Ingat Rasulullah itu pantang memotong pembicaraan orang!” ucapku kecut.

“hehe, begitu aja marah! Ana kan cuma bercanda, Akh!” ucap Samsul sambil

cengengesan.

“Akh, sebenarnya ana merasa pernah bertemu dengan tuh Akhwat! Tapi ana lupa

dimana?” ucapku dengan mengingat-ingat kembali.

“Hem, coba di ingat lagi! Ana juga heran, kenapa ada akhwat yang ikut kyai mbeling

kayak gitu, ya akh!” ucap Samsul sembari mengambil makanan yang dibagikan saat awal

masuk pengajian.

“Yee, antum ini gimana! Masa benci kyainya, tapi memakan pemberian kyai Badrul”

kataku dengan nada bercanda mengejek.

“Hem, selama makanan ini nggak haram, kan boleh dimakan! Ingat Akh, ambil kuenya

jangan ambil akhidahnya” jawab Samsul sambil mengunyah kue lalu tersenyum.

Aku tersenyum sambil mengatakan “Dasar, mahasiswa kontrakan!”

Saat aku masih melihat kearah wanita itu, wanita berjilbab itu menatapku sambil

terlihat menajamkan matanya kearahku. Tak lama setelah beradu pandang denganku,

wanita berjilbab itu langsung meninggalkan tempat dengan tergesa-gesa. “Akh, ana rasa

akhwat itu mengenal ana! Antum tadi lihat nggak ekspresi wajahnya, saat ana beradu

pandang dengan akhwat itu! Dia terlihat terkejut, dan dia langsung meninggalkan tempat

pembagian oleh-oleh untuk para jamaah! Akhwat itu terlihat sangat terburu-buru sekali”

ucapku serius.

“Iya akh, tuh akhwat gimana nggak lari! Lah antum, ngelihatin akhwat kayak mau

gebukin maling. Terang aja dia lari!” setelah itu Samsul terlihat serius sambil

mengucapkan “Atau mungkin dia terpesona kali akh, sama antum. Biasalah, siapa yang

nggak terpesona dengan antum. Pangeran tampan dari negeri kodok” ucap Samsul

dengan masih mengunyah kue yang hampir habis, sambil cekikikan sendiri.

“Hem, nih Ikhwan! Becanda mulu’, apa nggak ingat kalau sering tertawa itu bisa

mematikan hati!” jawabku jengkel.

Sambil cengengesan Samsul mengatakan “Afwan akh, afwan!”

Saat kami semua sudah mendapatkan bingkisan masing-masing, dan bergegas

pulang. Dan pada saat kami akan pulang, aku menyempatkan memeriksa bingkisan yang

sedang berada digenggamanku. Dan ternyata “masya Allah, berisi uang saratus ribuan”

gumamku dalam hati.

JILID 2

Waktu terus bergulir, roda kehidupan terus berjalan. Dengan rasa malas aku

berjalan menuju ruang kamarku. Dirumah kontrakan yang kusam ini, rumah ini

mengingatkanku pada rumah yang ada didesa. Rumah tua, yang dihuni oleh Ayah, Ibu

dan Nurul adikku yang masih duduk dibangku SMU. Entah sekarang bagaimana keadaan

Ayah dan Ibu, semoga mereka baik-baik saja. Aku juga kangen dengan Nurul, kangen

saat bertengkar dengan Nurul.

Kuletakkan tas yang sudah lama berada dipunggung ini, sambil duduk dalam

kasur kusam yang selalu menyangga dalam setiap tidurku. Rasa penat melanda dalam

setiap relung pikiranku, ditambah dengan rasa capek yang mendera ditubuhku. Ingin

rasanya aku langsung terbuai dengan mimpi-mimpi indah. Mimpi-mimpi bertemu dengan

para syuhada, dan bertemu dengan bidadari surga. Kalau mimpi yang kedua itu, pasti

selalu ditunggu-tunggu. Saat aku lihat kaset IZIS (IzatullIslam) dengan bungkus dan

segel yang belum terbuka. Karena memang baru aku beli kemarin, berada diatas tape

Simbaku. Tape yang kubeli dengan menabung selama dua tahun, dan barang termahal

pertama sampai saat ini yang bisa aku beli. Dengan santai aku ambil kaset itu, serta

membuka bungkus dan segel kaset lalu memasukkan kaset kedalam tape.

“Dimana dicari pemuda kahfi

Terasing demi kebenaran hakiki

Dimana jiwa pasukan badar berani

Menoreh nama mulia perkasa abadi

Umat melolong di gelap kelam

Tiada pelita penyinar terang

Penunjuk jalan kini membungkam

Lalu kapankah fajar kan datang

Mengapa kau patahkan pedangmu

Hingga musuh mampu membobol bentengmu

Menjarah menindas dan menyiksa

Dan kita hanya diam sekedar terpana”

Sayup suara nasyid IZIS, serta hembusan kipas angin mini. Membuatku melayang

jauh dan terbang, terbang bersama segerombolan cahaya-cahaya yang terang. Tak

seberapa lama suara “Assalamualaikum”

Dengan lirih aku menjawab sambil tersenyum “Walaikumsalam”. Aku benar-benar

merasa dalam segerombolan keindahan-keindahan yang datang kepadaku, datang dan

saling berpelukan. Memelukku erat, pelukan persaudaraan yang sangat erat dan kental.

Tak lama aku mendengar suara

“Akh, Akhi! Bangun. Sudah jam empat sore! Bangun, Akh. Apa antum sudah sholat

Ashar!”

Aku mencoba untuk membuka mata, tapi mata ini terasa sangat berat untuk

membukanya. Dan tubuh ini benar-benar sangat payah, serta sangat susah untuk

digerakkan. Tak seberapa lama, aku pun bisa mengontrol diri. Ternyata Yanto sudah

berada dikamarku. Sambil melihat kaset baruku. IZIS.

“Hem antum mengagetkan ana aja, akh!” ucapku dengan rasa yang sangat malas sambil

bersandar pada dinding kasur yang terlihat cat-catnya mengelupas.

“Antum tadi jawab salam ana, tapi ana lihat antum masih memejamkan mata!” jawab

Yanto sambil membolak-balikkan kaset IZIS.

“Loh! Jadi antum tadi, yang salam! Ana kira itu salamnya cahaya-cahaya indah yang baru

ana lihat tadi” jawabku sambil mengusap-usap mataku.

“Iya itu ana! Wah, antum bermimpi apaan Akh? Nggak bermimpi ketemu bidadari di

surga kan?” jawab Yanto dengan senyum.

“Antum itu ada-ada saja, Akh! Antum dari mana, kok jam segini baru pulang?” tanyaku

“Ana, dari ikut kajian! Biasalah, hari ini ana kan Liqo’!” Ucap Yanto. Setelah itu dia

melanjutkan perkataannya “Akh, antum punya kasetnya IZIS yach? Wah pasti boleh

dipinjam nich!”

“Antum, satu rumah kok pake’ pinjam-pinjaman segala! Kalau mau pinjam ya ambil aja,

tapi setelah itu dikembalikan, jangan seperti biasanya! Atau antum putar di tape ana aja,

tape antum kan rusak akh!” ujarku sambil beranjak untuk berwudhu.

Tak lama setelah aku berwudhu, terdengar IZIS mengumandang keras.

“Berkobar tinggi panaskan bumi

Membakar ladang dan rumah kami

Darah Syuhada mengalir suburkan negri

Tiada kata lagi….

Kami harus kembali!”

Saat aku lihat, ternyata Yanto memutar kaset IZIS sambil bernasyid dan

mengepalkan tangannya dengan bersemangat. Sungguh memang luar biasa, nuansa yang

ditimbulkan oleh nasyid. Nasyid bukan seperti lagu Islam yang lainnya, nasyid adalah ruh

dari setiap perjuangan para mujahid. Nasyid tidak seperti lagunya Gigi, yang

mengumandang keras tetapi tidak bersemayam dihati. Apalagi nasyid tidak seperti lagulagunya

Dewa, yang bernada sombong seperti pemainnya. Nasyid bukanlah seperti lagulagu

lainnya, karena nasyid punya pembeda, pembeda dari lagu cengeng percintaan yang

memabukkan.

“Akh, tolong kecilkan! Ana mau sholat” pintaku

 “Akh, biar sholat antum lebih semangat lagi, jadi biar saja nasyid ini berkumandang

keras” ucap Yanto yang tetap mengangkat tangan sambil mengepalkannya.

“Akh, ternyata antum perlu diruqyah kalau gitu! Jangan-jangan ada jin bersamayam

ditubuh antum” gumamku kesal

“Hehe… afwan akh, tadi kan cuman bercanda!” jawab Yanto dengan mengecilkan suara

tape.

Aku menggelar sajadah, bersiap untuk menghadap sang khalik. Menghadap sang maha

pemaaf. Menghadap sang Maha dari segalah maha yang ada di alam semesta ini.

***

Cuaca diluar sangat cerah, terasa mentari tersenyum dengan sinarnya. Panasnya

tidak terik, tetapi tidak pula mendung. Udara tidak panas, dan pula tidak dingin. Cuaca

benar-benar sangat bersahabat. Terbukti, banyak sekali hilir mudik orang-orang yang

lewat kontrakanku, terlihat wajah-wajah yang segar. Wajah-wajah yang siap menghadapi

hari yang lebih baik. Insya Allah.

“Akh, antum kok nggak siap-siap? Apa nggak ada kuliah!” tanya Heri

“Ana ada bimbingan jam sembilan! Jadi sekarang bisa nyantai-nyantai dulu” ucapku

“Wah yang lagi mau kelar kuliahnya, udah bersiap-siap nggak akh?” tanya Heri, sambil

menyeruput teh hangatku.

“Emang, maksud antum apa akh? Bersiap-siap untuk apa?” jawabku

“Iya, berusaha bersiap-siap untuk melanjutkan sunnah Rasulullah! Menyempurnakan

agama kita”

“Sunnah Rasulullah! Yang mana?” tanyaku heran

“Akh, antum kayak nggak tahu aja! Itu loh akh, sekretaris antum dulu, perlu

diselamatkan!” ucap Heri serius

“Ha..? maksud antum apa sich, akh?” tanyaku penasaran

“Antum, harus menyelamatkan ukhti Farah dari fitnah dunia. Juga dari orang-orang jahil

yang ingin menjahilinya! Jadi antum harus cepat menyelamatkan ukthi Farah! Nikahi

ukhti Farah” jawab Heri sambil tertawa.

Dengan tersenyum aku menjawab “Antum itu ada-ada aja! Kenapa bukan antum saja

yang menyelamatkannya!”

Heri tertawa sambil mengatakan “Akh, kalau ana sich gampang! Tapi ana

mempersilahkan senior dulu. Dan lagi, Ukhti Farah kan termasuk jajaran-jajaran bidadari

Allah yang bisa dibilang sempurna! Apa antum nggak tertarik dengan Ukhti Farah?”

“Akh, udah nggak usah seperti itu! Ukhti Farah itu wanita yang paling sempurna.

Makanya ana takut mendekati wanita-wanita sempurna, seperti akhwat yang satu itu”

jawabku sekenanya

“Antum, takut apa minder! Udah, ana berangkat dulu. Ana takut terlambat.

Assalamu’alaikum” jawab Heri sambil tertawa, sambil ngeloyor pergi

“Walaikumsalam” jawabku sambil tersenyum

Ukhti Farah, akhwat yang bisa dibilang sempurna. Semua terdapat pada

keagungan wanita, berada padanya. Aku tidak melihat kecantikan wajahnya, sebelum aku

melihat kelembutan hatinya. Aku memang belum pernah melihat wajah ukhti Farah, aku

hanya mendengar keagungan kecantikannya dari teman-teman kuliahku. Teman-teman

yang masih meninggikan kecantikan wajah, teman-teman yang masih belum tertarbiyah.

Tetapi saat dia menjadi sekretarisku pun, aku masih belum tahu kecantikan wajahnya.

Yang aku tahu, sungguh benar-benar kecantikan yang sempurna saat aku mengetahui

sikap dia. Dan mulai dari situlah aku benar-benar tidak membutuhkan lagi kecantikan

wajahnya, aku tidak butuh lagi mengetahui wajah cantiknya. Aku tidak butuh lagi

kecantikan pada jasadnya. Yang aku butuhkan, adalah kecantikan seorang wanita pada

dalam dirinya, pada tanggung jawabnya sebagai wanita. Yaitu wanita yang mempelihara

aurat-auratnya atas fitnah dunia.

Banyak akhwat yang aku kenal, tetapi memang tidak sesempurna ukhti Farah.

Dulu saat aku masih senang dengan cara jahilia, yaitu mengetest akhwat. Banyak akhwat

yang sering aku telphone. Dan banyak juga, akhwat yang dengan nada santai tetapi

benar-benar menghanyutkan. Bicaranya santun, tetapi topik pembicaraannya tidak pantas

untuk dibicarakan oleh seorang akhwat apalagi kader dakwah. Ada lagi seorang akhwat

yang tergesa-gesa menjelaskan sesuatu masalah, lebih-lebih lagi si akhwat memposisikan

dirinya sebagai orang yang paling tahu dan paling beriman. Ada juga akhwat yang

menjelaskan agama Islam, tetapi si akhwat menjelaskannya layaknya seorang marketing.

Sungguh memang benar-benar lucu. Dan kadang pula menjengkelkan dengan para

akhwat yang sok suci dan sok yang paling tahu itu. Tetapi itu dulu. Saat terakhir aku

menelephone ukhti Farah. Selesailah sudah perjalanan mengetest kemampuan para

akhwat. Dengan nada bicara yang santun, topik yang bagus dan bisa memposisikan

dirinya sebagai seorang yang sama dengan lawan bicaranya. Setelah itu, sebuah nasehat

yang bagus dari ukhti Farah

“Afwan, akh! Ana merasa, antum bukanlah ikhwan yang belum tertarbiyah. Ana takut

antum adalah ikhwan yang senangnya mengetest akhwat. Ana cuma mau berpesan

kepada antum, sebaik-baik muslim itu adalah seorang yang bisa menghormati muslim

satu dengan muslim yang lainnya. Dan bukan saling mengetest kemampuan

kepintarannya!”

Saat itulah, akhirnya aku benar-benar paham. Bahwa sesungguhnya, sakitlah hati

seseorang manakala seseorang itu merasa dikerjain oleh saudaranya sendiri. Akhirnya,

aku tidak pernah lagi mempunyai keinginan untuk mengetahui tingkat kemampuan

saudaraku sendiri. Biarlah tingkat kemampuan dalam kepintarannya yang akan

membimbing dia menjadi seorang muslim yang sejati. Seorang muslim sejati tidak akan

memposisikan dia sebagai orang yang paling pintar dan beriman, seorang muslim sejati

tidak akan tergesa-gesa dalam menjelaskan sesuatu hal, seorang muslim sejati tidak akan

memberi sebuah penjelasan layaknya seorang marketing produk. Karena Islam adalah

agama perbuatan, maka perbuatanlah yang akan mencontohkan muslim yang baik atau

muslim yang buruk.

Sejak saat itu aku memang benar-benar tertarik dengan ukhti Farah, bukan tertarik

karena wajahrnya. Tapi aku tertarik dengan keteduhan bahasa bicaranya, keteduhan yang

mungkin membuat manusia benar-benar ingat akan adanya siksa neraka. Sungguh benarbenar

wanita yang sempurna. Tapi aku sadar bahwa aku bukanlah ikhwan yang pantas

untuk dia. Untuk wanita sesempurna ukhti Farah.

***

“Gimana Lid, dosen pembimbing kamu! Enak nggak?” sapa Hendra, teman kuliahku dari

belakang sambil menepuk pundakku. Saat sedang berjalan menuju fakultasku.

“Eh, kamu Hen! Tak kira siapa” jawabku sambil tersenyum

Dia tersenyum lalu berkata “Hem, dosen pembimbingku, nggak enak Lid! Masa aku

kalau mau ketemu harus janjian dulu. Dan nggak pernah ada di ruang dosen”

“Hem emang siapa, dosen pembimbing kamu Hen?” tanyaku sambil berjalan.

“Itu, Pak Hartono!” jawab Hendra

“Hem, pantes Hen! Pak Hartono kan super sibuk. Tapi enak loh Hen, Pak Hartono kan

orangnya sabar banget!” terangku

“Iya sich, tapi kalau gini terus aku nggak akan tepat waktu mengerjakan skripsiku” keluh

Hendra dengan wajah terlihat pasrah.

“Ya, nggak gitu Hen. Kalau kamu janji dulu sama beliau, kan beliau nanti bisa

menyesuaikan jadwalnya” sergahku sambil tersenyum

“Hem,” Hendra manggut-manggut. “oh yach, dosen pembimbingmu siapa Lid?”

“Dosen pembimbingku, Pak Susilo!” jawabku sambil tersenyum

“Ha.. Pak Susilo! Yang bener kamu Lid?” Hendra memandangku tak percaya

“Iya. Pak Susilo! Kenapa?”

“Jadi kamu, satu-satunya mahasiswa yang dosen pembimbingnya Pak Susilo!” Hendra

masih terlihat tidak percaya.

Aku tersenyum sambil menjawab “iya..!”

“Ha…! Kamu mau dibimbing si Prof killer itu? Apa kamu dulu nggak milih

pembimbing?”

“Aku memang milih Prof. Susilo Nugroho! Kasihan beliau nggak ada yang milih”

gumamku sambil tersenyum.

“Kamu gila, atau gimana sich Lid? Milih kok yang killer kaya dia” ucap Hendra sambil

menggeleng-gelengkan kepala.

“Sebenarnya sich, aku milih Pak Susilo karena dia kan guru besar di fakultas kita!

Apalagi dia kan juga guru besar di Universitas ini. Jadi aku beruntung Pak Susilo mau

menjadi pembimbingku” kilahku sembari tersenyum banggga.

“Sekarang kamu ada keperluan apa kekampus? Apa ikut SP (Semester Pendek)?” tanya

Hendra

“Hem sorry kalau Khalid ikut SP! Aku kan mau ketemu sama dosen pembimbing yang

baik hati” jawabku sambil tersenyum.

“Ok deh, met ketemu sama Prof killer itu! Lid aku mau ke kantin dulu yach.” Ucap

Hendra sambil menepuk pundakku.

“Ok.”

Kantor dosen sudah terlihat didepan mata, tinggal beberapa langkah aku sudah

masuk dikantor yang dipenuhi pembimbing-pembimbing intelektual.

“Permisi, mbak! Pak Susilo sudah datang belum?” sapaku pada mbak Dina, pengurus

secretariat.

“Ada, Lid. Masuk aja! Pak Susilo di mejanya” jawab mbak Dina.

“Terima kasih, mbak!”

Aku langsung menuju mejanya Pak Susilo. Benar Pak Susilo sudah berada di

mejanya, sedang mengerjakan sesuatu. Hatiku berdegup tak beraturan. Ini pertama

kalinya aku berhadapan langsung dengan Pak Susilo.

“Selamat siang, Pak!” sapaku

Dia menatap dingin padaku sembari menjawab sapaanku “Siang!” selanjutnya bertanya

dengan tatapan yang dingin “Ada perlu apa?”

Jantungku saat itu benar-benar berdegup kencang, layaknya seorang ikhwan yang

sedang ditawari Murrabi untuk menikah. Bertemu dengan pakar hukum yang satu ini,

membuatku merasa sangat canggung. Bagaimana tidak canggung, Pak Susilo merupakan

tetua dari para dosen hukum difakultasku. Dan beliau merupakan dosen yang tidak

diragukan kemampuannya. Selain kemampuannya, yang membuat dia benar-benar

disegani oleh semua mahasiswa dan dosen difakultasku, adalah ketegesannya dalam hal

apapun. Termasuk masalah nilai. Pak Susilo tidak dapat diganggu gugat masalah nilai. Di

fakultasku banyak sekali dosen yang mudah merubah nilai, entah karena apa mereka

dapat merubah nilai. Tapi untuk Pak Susilo, sebuah nilai ujian tidak dapat diganggu

gugat, dan tidak dapat dirubah. Aku benar-benar senang dengan prinsip dosen yang satu

ini. Karena, meskipun aku jarang sekali mengikuti perkuliahan beliau. Tetapi aku tetap

bisa mengerjakan ujian-ujian yang diberikan oleh beliau. Dan nilaiku bisa dikatakan

sangat memuaskan. Karena saat itu memang aku sangat sibuk dalam organisasi, sehingga

jarang sekali aku masuk kuliah. Tetapi aku tetap mempelajari semua mata kuliah.

Sehingga aku tidak ketinggalan dengan mahasiswa yang lainnya.

“Saya Khalid, Pak! ” jawabku tenang

“Hem jadi kamu, mahasiswa yang sok pintar itu yach!” ucap pak Susilo sinis.

Aku hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kecut. Jantung ini semakin berdegup

kencang. Apalagi kata-kata Professor killer ini benar-benar menyakitkan.

“Khalid, mahasiswa yang sukanya menuntut. Mahasiswa yang sukanya demonstrasi.

Mahasiswa yang sukanya manantang para dosen. Apalagi sok idealis!” pak Susilo berkata

tanpa melihatku, sambil merapikan beberapa berkas-berkasnya.

Darah muda mulia memuncak. Ucapan sang Professor sudah tidak dapat didiamkan.

Keras sekali penghinaannya padaku. Saat aku akan mengucapkan sesuatu, pak Susilo

berdiri sambil menghadapku. Dengan nada mengejek “baik, kalau kamu ingin saya

menjadi dosen pembimbing kamu! Saya ingin sekarang juga, memberikan soal kuis

kepada kamu. Jika seandainya jawaban kamu tujuh puluh persen banar, maka saya

bersedia. Tetapi jika kurang dari itu, maka saya akan bilang ke dosen-dosen yang lain

untuk tidak menerima seorang mahasiswa yang hanya suka omong besar!”

Aku benar-benar tertantang dengan ucapan pak Susilo. “baik, saya siap!” jawabku

enteng.

Terlihat pak Susilo masih mamandang sinis kearahku.

Dalam hati aku berfikir, bahwa ini saatnya aku menunjukkan kemampuanku

didepan dosen sacara langsung. Aku ingin membuktikan, meskipun aku jarang mengikuti

kuliah, tapi aku tetap bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh para dosen.

Meskipun aku tidak pernah masuk, bukan berarti aku tidak kuliah, apalagi tidak bisa

mengerjakan soal-soal kuliah. Kuliah hanya aku anggap sebagai alat mengambil ijazah

saja, karena kuliah yang sebenarnya adalah mendapatkan pengetahuan dari sumber

manapun. Dan inti dari kuliah adalah belajar. Jadi, bukan berarti orang yang tidak kuliah

tingkat keilmuannya rendah. Apalagi menganggap bahwa orang yang tidak kuliah, tidak

belajar.

Pak Susilo memberikan lembaran kertas yang berisi soal-soal kepadaku. “Ini kerjakan!

Saya kasih kamu waktu satu jam” ucap pak Susilo tegas.

Pak Susilo duduk tak jauh dari hadapanku. Dengan tenang aku mengambil kertas itu,

santai aku mengerjakan soal-soal yang diberikan pak Susilo. Meskipun memang banyak

soal-soal yang sulit, tetapi aku tetap yakin bahwa aku bisa mengerjakannya. Sebuah

pertaruhan yang sangat berat, antara sebuah nama baik, nilai dan soal-soal ujian. Jikalau

aku tidak bisa mengerjakan soal-soal itu, yang akan terjadi adalah sebuah petaka buruk

bagiku apalagi untuk organisasi dan teman-teman yang sangat mempercayaiku.

“Baik, waktu sudah habis!” ucap pak Susilo mengagetkan aku.

Untung semua yang aku kerjakan sudah selasai, tetapi entah benar apa tidak. Aku

tidak tahu, hanya Allah swt dan pak Susilo yang tahu. Kertas soal dan jawaban aku

serahkan. Dengan teliti sekali pak Susilo memeriksa jawaban soal-soal kuis. Wajahnya

terlihat sangat dingin, dan terkesan sangat acuh sekali. Berkali-kali terlihat pak Susilo

menggeleng-gelengkan kepala, sambil terlihat kecewa. Aku hanya diam, menatap kosong

kedepan. Menyesali kesombongan, kesombongan yang membuat aku jatuh pada lubang

yang tak termaafkan, kesombongan yang membuat harga diriku runtuh terpinggirkan

dalam jiwa yang tak tenang.

“KHALID!” ucap pak Susilo dengan mengeraskan suaranya, aku sedikit kaget waktu itu.

Setelah itu pak Susilo berkata “Hem, benar ternyata. Aku sangat meragukan kemampuan

kamu. Ternyata kemampuanmu, lebih dari yang saya bayangkan!”

Aku masih diam, tidak mengerti tentang ucapan pak Susilo.

“Khalid, aku memang sudah menduga. Bahwa kamu memang mahasiswa yang brilian,

saat banyak dosen-dosen yang meragukan kemampuanmu dalam menerima perkuliahan.

Saya mengetahui kamu memang mahasiswa pintar. Jadi, akhirnya saya yakin bahwa

kamu benar-benar mahasiswa yang pintar” ucap pak Susilo dengan tersenyum puas.

Selanjutnya pak Susilo melanjutkan ucapannya “sekarang, kamu bisa menunjukkan judul

skripsi yang akan kamu pakai”

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar, ucapku berulang-ulang dalam hati. Sungguh

tiada suatu yang lebih menggembirakan dalam hati kecuali, seorang professor yang

merekomendasi ilmuku. Merekomendasi tentang apa yang aku peroleh dari belajarku.

Aku merasa benar-benar memenangkan sebuah pertarungan. Memenangkan sebuah

pertarungan yang mempertaruhkan sebuah kehormatan. Memenangkan sebuah pemikiran

baru, bahwa kuliah bukan berarti harus kuliah.

“Perspektif hukuman mati dalam Hukum Pidana Positif dan Hukum Islam” jawabku

Sambil mengernyitkan dahinya pak Susilo berkata “Hem, kayaknya bagus. Apa kamu

sudah dapat bahan-bahannya?”

“Hem, Insya Allah sudah Pak! Tinggal di ketik” ucapku mantab

“Ok, saya tunggu! Saya sudah percaya dengan kamu, dan saya tidak meragukan

kemampuan kamu” ucapnya tegas.

“Baik Pak, kalau gitu saya permisi dulu!”

“Baik, saya akan tunggu hasil-hasil yang sudah kamu tulis”

Setalah berdiri, aku langsung berpamitan. Tetapi saat aku akan berpamitan. Pak Susilo,

memanggilku “Khalid, saya orang Islam! Perlakukan saya seperti orang Islam”

“Oh maaf pak, Assalamualaikum” ucapku saat berpamitan

Pak Susilo tersenyum sambil menjawab “Walaikumsalam”

Tekad maju penuh kemanangan, senandung nasyid kunyanyikan dalam hati

“Langkah ini langkah-langkah abadi

Menapak gagah laju tanpa henti

Langkah ini langkah-langkah abadi

Menapak gagah laju tanpa henti”

Sebuah kemulian yang diberikan oleh Allah Azza wa jalla. Pada para mujahid dan

mujahidah yang melaju menegakkan kebenaran menyingkirkan kebathilan. Dan Allah

pasti akan menolong hambanya yang telah berjuang didalam agama-Nya.



JILID 3

Aku keluar dari sekretariat dosen, dengan penuh kemenangan. Kemenangan awal

yang akan diikuti oleh perjuangan yang lainnya.

“Hey, Khalid! Gimana bimbingan dengan si Prof killer itu?” sapa Hendra, yang saat itu

berada disampingku.

“Alhamudillah, semua beres!” ucapku penuh kemenangan

“Wah, enak ya kalau aktivis” ujar Hendra

Aku tersenyum sambil mengatakan “makanya, kenapa dulu nggak jadi aktivis!”.

Belum tahu dia tentang perjuanganku untuk mempertahankan nama baik. Dan

belum tahu dia kalau keteganganku saat menghadapi Professor Susilo Nugroho bagaikan

tawaran untuk menikahi seorang akhwat, ucapku dalam hati.

“Kamu mau kemana sekarang, Lid?” tanya Hendra

“Mau, kesekretariat LDK! Kenapa? Mau ikut!” jawabku enteng

“Nggak! Sebenarnya aku ada perlu sama kamu, kalau kamu nggak repot!”

“Wah, ada perlu apa nich? Nggak kok, aku nggak repot!”

“Lid, gimana kita kalau duduk disitu!” Hendra menunjukkan tempat duduk di taman

fakultas hukum. Yang saat itu beberapa tempat duduk yang masih dipenuhi mahasiswamahasiswi

yang sedang berkumpul. Entah apa yang mereka lakukan.

Aku mengangguk setuju.

Setelah duduk di kursi paten beton. Hendra langsung mengatakan sesuatu yang

mengganjal hatinya “Sebenarnya gini Lid!” Hendra mengatakan tentang sesuatu yang

mengganjal pada hatinya. Sesuatu yang membuat dia resah. Membuat dia merasa

bingung harus ditanyakan kemana sebuah persoalan yang berada pada rongga pikirannya.

“Lid, aku mendapat SMS juga mendapat berita dari temanku. Akan ada sebuah

penyerangan besar yang ditujukan kepada orang-orang Kristen. Akan ada sweeping

besar-besaran yang dilakukan oleh umat Islam kepada orang-orang Kristen. Dan setiap

wanita Kristen akan diperkosa, laki-lakinya akan dibunuh!” ucap Hendra serius.

Hendra adalah seorang penganut Kristen yang sangat dekat danganku. Seorang

Kristen yang sangat mendukung tentang Hak Asasi dalam beragama. Seorang yang tidak

suka menghalalkan segala cara untuk menggapai tujuannya. Seorang yang toleran dalam

beragama.

“Boleh aku lihat SMSnya?” pintaku

Hendra langsung mengambil HPnya. Dan langsung memperlihatkan SMS gelap itu

kepadaku. “Assalamualaikum, untuk orang Islam semua. Seruan untuk mensweeping

umat Kristen. Kita habisi mereka. Kita perkosa wanita-wanitanya, kita bunuh lakilakinya.

Jangan ada ampun kepada umat Kristen yang kita temui. BUNUH mereka.

Allahu Akbar 5x”

Setelah membaca SMS itu, aku tersenyum.

“Kenapa kamu tersenyum, Lid? Apa ada yang lucu?” terlihat Hendra merasa tersinggung

dengan senyumanku.

“Kawan, saat kamu memperlihatkan SMS itu dan aku tersenyum, bukan aku bermaksud

menyinggungmu. Tapi senyumanku tertuju pada si pengirim SMS itu. Karena

sesungguhnya perkataannya bukan seperti orang Islam yang beriman. Dalam Islam tidak

pernah dihalalkannya untuk membunuh siapapun bahkan umat agama lain. Selama tidak

ada suatu alasan yang syar’I, atau sebuah hukuman. Maka tidak diperbolehkan orang

Islam membunuh. Juga, bermaksiat dalam Islam sangat berdosa besar. Apalagi

memperkosa wanita. Masya Allah. Itu sangat diharamkan pada umat Islam. Karena Allah

sangat murka pada orang-orang yang bermaksiat. Sesungguhnya kawanku, umat Islam

jika mengucapkan takbir, itu terbiasa dengan 3x kali. Tapi disitu janggal, dengan

mengucapkan takbir 5x. Berarti, si pengirim SMS itu tidak mengetahui pasti tentang

kebiasan orang-orang Islam. Bukan berarti aku mengatakan si pengirim SMS itu orang

beragama lain, tetapi bisa juga orang yang mengirim SMS itu adalah orang-orang Islam

tetapi yang tidak beriman. Dan apakah engkau tahu? Bahwa aku tidak pernah dikirim

SMS yang berbunyi seperti itu. Padahal aku adalah termasuk orang-orang yang

memperjuangkan agamaku!” jelasku panjang lebar.

“Tapi umat Kristen diisukan, bahwa mereka telah memurtadkan orang Islam. Apakah isu

itu tidak membuat orang-orang Islam sangat membenci umat Kristen?”

“Kawanku, apakah engkau menyangkal bahwa umat Kristen tidak memurtadkan umat

Islam?” tanyaku balik kepada Hendra

Hendra menunduk lesu, setelah itu menghembuskan nafas panjang “Iya, aku akui. Bahwa

memang ada sebagian besar orang-orang Kristen yang menghalalkan segala cara untuk

memurtadkan orang Islam. Mereka berfikir bahwa umat selain Kristen, adalah dombadomba

yang tersesat. Aku sudah berungkali menolak dogma itu, kepada kalanganku. Tapi

apalah dayaku,” Hendra menghela nafas panjangnya, setelah itu dia melanjutkan

perkatannnya “Aku hanya seorang anak pendeta yang telah terasing dari agamaku sendiri.

Tetapi aku masih yakin bahwa dogma itu harus dirubah. Semua umat beragama adalah

orang-orang yang ber Tuhan. Dan semua orang beragama adalah orang-orang yang baik.”

 “Kawan, bukan berarti jika umat Kristen memurtadkan umat Islam. Dan umat Islam

membenci umat Kristen semua! Sesungguhnya yang kita benci bukan umat Kristen

semuanya, tetapi kelakuan yang telah dilakukan oleh segelintir umat Kristen yang

menghalalkan segala cara untuk menempuh tunjuannya. Kawan, kita memang

diperbolehkan untuk bersyiar, kita memang diperbolehkan untuk berdakwah. Tetapi

tujuan kita adalah memberikan sebuah pengetahuan yang benar, tentang arti sebuah

kebanaran itu sendiri. Kita boleh memberikan sebuah bantuan kepada orang lain. Tetapi

kawan, kita harus ingat tentang keikhlasan. Keikhlasan adalah sebuah maksud tanpa ada

tujuan tertentu selain tujuan untuk diridho’I oleh Tuhan kita. Bukanlah itu sebuah

keIkhlasan, manakala kita membantu seseorang dengan tujuan untuk menarik mereka

menuruti apa yang kita inginkan. Ada sebuah hal yang menarik dari sebuah kisah dua

sahabat Rasulullah Muhammad Saw. Dia adalah Abu Bakar dan Bilal. Abu Bakar adalah

orang yang membeli seorang budak muslim yang saat itu teraniaya dengan harga yang

sangat mahal, dia adalah Bilal. Sungguh saat itu Bilal sudah dizalami oleh orang-orang

Quraisy. Dengan serta merta Abu Bakar membeli Bilal dengan harga yang sangat mahal

dari budak yang lainnya. Setelah itu Abu Bakar membebaskan Bilal dari perbudakan.

Pada suatu masa, yang pada saat itu Abu Bakar meminta dengan sangat kepada Bilal

untuk menuruti perintahnya. Dengan sangat rendah hati, Bilal mengucapkan

“sesungguhnya wahai sahabat Rasulullah, apa yang engkau inginkan dari pembebasanku.

Apakah engkau ingin aku menuruti perintahmu? Atau kah engkau membebaskan aku

dengan keIkhlasanmu kepada Allah. Jika engkau memerdekakanku agar aku menjadi

milikmu, maka lakukan apa yang engkau inginkan. Jika engkau memerdekakanku karena

Allah, maka biarkanlah aku.” Saat itulah Abu Bakar dengan rendah hati pula mengatakan

“Aku membebaskanmu karena Allah, Wahai Bilal!” sungguh ini adalah sebuah kalimat

keikhlasan yang sangat dalam. Tiada dari sebuah maksud keikhlasan melainkan hanya

kepada Allah lah saja. Jadi sebenarnya, bahwa umat muslim boleh memberikan bantuan

kepada umat Kristen. Tetapi umat Islam diharamkan memaksa umat Kristen untuk

mengikuti keinginan dari umat Islam. Dan seharusnya pun, begitu pula sebaliknya.”

Jawabku panjang lebar.

“Tetapi Khalid, apakah engkau menjamin bahwa tidak akan ada pensweepingan umat

Islam terhadap umat Kristen?” tanya Hendra ragu

“Kawanku, sesungguhnya Islam itu adalah agama damai! Dan sesungguhnya umat Islam

itu, umat yang damai. Tetapi jika umat Islam dizalimi. Tidak ada kata lain selain Jihad.

Aku menjamin bahwa tidak akan ada pensweepingan umat Islam terhadap umat Kristen.

Selama umat Kristen tidak melakukan sebuah kecurangan. Dan tidak akan ada

pembunuhan dan perkosaan terhadap umat Kristen, meskipun jika memang dilakukan

pensweepingan terhadap umat Kristen yang curang. Karena Islam mengharamkan cara

yang bathil. Insya Allah, Kawan.” Jawabku mantap

“Lid, terima kasih atas jawab-jawabmu! Sebenarnya aku sangat khawatir sekali. Aku

khawatir terjadi permusuhan antar agama. Aku tidak menginginkan adanya sebuah

pertikaian antar agama. Yang aku inginkan adalah, kita merdeka dalam memeluk setiap

agama kita. Tidak ada saling memaksakan kehendak dalam beragama. Dengan

berpedoman bahwa semua orang beragama punya hak yang sama dalam menjalankan

agamanya.” Ucap Hendra

Aku tersenyum, sambil mengatakan “Hen! dalam Al Qu’ran, surat Al-Kafirun “Dan aku

tidak pernah menjadi penyembah yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah pula

menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah, untukmulah agamamu dan untukkulah

agamaku” jadi dalam Islam sudah diatur tata cara kehidupan beragama. Selama kita

saling menghormati dan saling memberikan toleransi. Maka tidak akan ada permusuhan

bahkan pertikaian antar agama.”

“Benar, apa yang kamu katakana Khalid! Seharusnya seperti itulah orang-orang yang

beragama. Mereka mengurusi agama mereka masing-masing. Dan apabila saling

memberikan bantuan. Seharusnya bantuan itu diberikan dengan keikhlasan. Tanpa ada

maksud yang lainnya selain untuk mendapatkan pahala dari Tuhan.” ucap Hendra.

Aku mengangguk setuju.

“Lid, atas nama agamaku. Aku meminta maaf atas perilaku segelintir orang Kristen yang

menghalalkan segala cara untuk memuaskan kehendak mereka sendiri”

“Iya, Hen! Sama, aku juga meminta maaf mungkin beberapa dari umat Islam yang begitu

agresif dalam mempertahankan agama Islam. Membuat kamu merasa tidak tenang. Tetapi

sebenarnya apa yang dilakukan oleh umat Islam, hanya untuk mempertahankan saja

bukan menyerang. Dan SMS yang kamu terima itu bukan SMS dari umat Islam. Karena

Umat Islam tidak akan melakukan tindakan sehina itu.” Ucapku

Aku jadi teringat pertemuan awalku dengan Hendra. Saat itu Hendra sangat

tersinggung, saat aku katakan bahwa umat Islam diharamkan untuk mengucapkan

selamat kepada agama lain. Termasuk selamat Natal. Hendra saat itu mengatakan “kalau

begitu Islam tidak memberikan sebuah toleransi beragama”. Sungguh inilah yang selalu

diucapkan oleh kalangan orang yang tidak mengerti Islam. Mereka merasa bahwa ucapan

selamat merupakan sebuah hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Mereka

merasa ucapan adalah sekedar penyejuk hati. Atau sebatas kata-kata yang menyenangkan

orang lain. Padahal, dalam Islam. Ucapan itu merupakan sebuah doa. Jadi umat Islam

seharusnya sangat berhati-hati dalam berucap. Apalagi mengucapkan selamat kepada

agama lain. Dengan santai aku menjelaskan. Bahwa sesungguhnya saat umat Islam

mengatakan selamat kepada agama lain. Maka sesungguhnya umat Islam mendukung

adanya agama tersebut. Padahal dalam ajaran Islam tidak ada sebuah agama yang benar

kecuali agama Islam. Jadi sebuah ucapan selamat berarti membenarkan sebuah agama

selain Islam. Dan itu sangat tidak diperkanankan. Dan ucapan selamat sudah merupakan

sebuah akhidah bagi umat Islam. Jadi jika dalam akhidah sudah tidak diperbolehkan.

Maka kita tidak boleh melakukannya. Seperti halnya umat Kristen yang disuruh umat

Islam untuk sholat Jum’at. Secara otomatis umat Kristen tidak akan diperbolehkan.

Karena itu adalah aturan umat Kristen. Begitu pula sebaliknya jika umat Islam tidak

diperbolehkan mengucapkan selamat Natal. Maka seharusnya umat Kristen mengetahui

bahwa itu adalah bagian dari ajaran umat Islam. Dan seharusnya umat Kristen lebih

toleran kepada umat Islam, dengan tidak mengharapkan ucapan selamat yang diucapkan

oleh umat Islam.

Dengan begitu seharusnya umat Kristen jika mengaku toleran kepada agama lain.

Maka selayaknya mereka tidak memancing-mancing mengucapkan selamat kepada umat

Islam saat hari-hari besar agama Islam. Agar tidak menimbulkan rasa dengki yang timbul

oleh umat Kristen dikarenakan umat Islam tidak mengucapkan selamat kepada umat

Kristen. Karena kita harus ingat, bahwa toleransi beragama itu adalah hal-hal yang

bersifat umum atau muamalah. Bukan toleransi yang bersifat abstrak yang menyangkut

akhidah.

Hendra akhirnya mengerti tentang arti toleransi itu sendiri. Bahkan Hendra

berkali-kali mengucapkan, toleransi umat Islam lebih besar ketimbang toleransi

agamanya sendiri. Sudah lima tahun aku bersahabat dengan Hendra. Sehingga aku tahu

sifat seorang sahabatku itu. Meskipun kami berlainan keyakinan. Tapi kami mampu

memberikan sebuah aktulisasi tentang toleran itu sendiri. “Bukanlah itu sebuah toleransi

beragama, jika toleransi itu menginjak-ngijak keyakinan agama lain dan memaksa

menuruti kehendak dari apa yang kita yakini” itulah perkataan Hendra pada saat itu..

Tak lama setelah perbincangan kami. Pandanganku menangkap seorang wanita. Wanita

yang menggelisahkan hatiku. Wanita yang pernah aku lihat berjalan dihadapanku. Aku

benar-benar terpana melihat wanita itu. Benar-benar cantik. Sungguh benar-benar cantik.

Aku tak menyangka semua ilmuku sirna. Sirna dengan memandang wanita cantik

didepan mata ini.

“Lid, Khalid. kamu melamun! Ada apa?” tanya Hendra dengan memegang bahuku.

“Astagfirllah” ucapku lirih. Disertai ucapan “Subhanallah. Ya Allah sungguh

kebesaranmu menciptakan wanita secantik dia” ucapku dalam hati.

Hendra membalikkan badannya kebelakang. Yang pada saat itu duduknya masih

berhadapan padaku. Serta merta Hendra tersenyum. Lalu berucap “Lid, itu Nova.

Temanku di UK3 (Unit Kerohanian Kristen Katolik)”

“Oh.” Aku hanya mengangguk pelan saat itu

Tak lama Nova mendatangi kami berdua. Wanita yang aku kagumi kecantikannya

mendatangiku. Sungguh aku tidak percaya, dia sekarang berada dihadapanku. Tepat

didepanku.

“Hendra, kamu dicari Wiwid tuh!” ucapnya kepada Hendra.

“Oh, dimana dia sekarang?” Tanya Hendra

“Dikantin Fakultas Ekonomi!” ucapnya lirih.

 “Oh ya, kenalin nich! Temanku” sambil menunjukku

Tak lama dia tersenyum. “Subhanallah, senyumnya cantik sekali” ucapku dalam hati.

Aku membalas senyumannya.

“Nova, Maria Nova lengkapnya!” ucapnya sambil menyodorkan tangannya kepadaku

untuk berjabat tangan.

Tangannya putih sekali. Seputih iklan produk pemutih. Jiwa ini berontak

menerima atau menolak uluran tangannya. Perjuangan akhidah dan nafsu tumpang tindih.

Sungguh, benar-benar inilah yang disebut ujian. Ujian untuk menaikkan tingkat

keimanan. Mungkin karena hal inilah, akhirnya tercipta Liberalisasi Islam. Karena nggak

kuat untuk menyentuh tangan yang putih bersih dan sangat halus.

“Khalid, Khalid Hendriansyah lengkapnya” balasku dengan merapatkan kedua telapak

tanganku kearah dada.

Dengan serta merta Nova menarik tangannya kembali, serta merapatkan kedua telapak

tangannya kearah dadanya. Dia terlihat mengerti apa yang aku maksud.

“Nova ini ketua UK3 loh, Lid!” ucap Hendra dengan nada suara yang bermaksud

tertentu. Entah apa maksudnya, mungkin dia memperingatkanku untuk berhati-hati

dengannya.

Nova saat itu hanya tersenyum simpul.

“Khalid, aku tahu kamu! Kamu adalah aktivis LDK kan?” ucap Nova

Aku tersenyum lalu berkata “iya, kok kamu tahu? Apakah kita pernah ketemu?”

“Iya, kita pernah bertemu! Disuatu tempat, ingat-ingatlah kembali!” jawabnya penuh

maksud yang tersembunyi

“Hem, dimana yach?” tanyaku penuh tanda tanya.

“Ada deh! Pikir dulu aja. Oh ya udah dulu yach, aku masih ada keperluan lagi. Aku tadi

hanya menyampaikan pesannya Wiwid aja kok!” ucap Nova

Saat Nova akan meninggalkan aku dan Hendra. Tatapan matanya terlihat sendu

mengharapkan sesuatu kepadaku. Entah apa itu. Aku tak tahu, karena aku langsung

menundukkan pandanganku.

“iya, hati-hati yach! Kalau ketemu Wiwid bilang, bentar lagi aku kesana. Aku masih ada

urusan sama Khalid” ucap Hendra.

Dewi Aphrodite telah meninggalkanku. Tetapi kecantikannya masih terbayang dalam

rongga pikirku.

“Khalid,” panggil Hendra

“Iya apa Hend!” ucapku

“Cantik, yach?” ucap Hendra

“Siapa?” ucapku berlagak tidak tahu. Meskipun aku tahu yang dimaksud adalah Nova.

“Ah, kamu. Sok! Nova maksudku” ucap Hendra mempertegas

Aku tersenyum, “iya, cantik! Kenapa?” tanyaku balik

“Lid, aku kasihan kepada Nova!”

“Kasihan kenapa?”

“Nova, adalah anak dari Pendeta Joseph”

“Hem! Lalu kenapa?” tanyaku penasaran

“Aku kenal Nova sejak kecil, Lid! Dan rumah Nova berada di sebelah rumahku. Pendeta

Joseph adalah teman Papaku, Lid. Pendeta Joseph sering memukul Nova, jika Nova tidak

mau mengikuti perintah dari Pendeta Joseph. Kamu tahu nggak Lid. Pernah suatu kali

Nova akan dinikahkan sama seorang pengusaha tua kaya yang beragama Islam. Dengan

janji bahwa jika nanti Nova dinikahi, maka Pengusaha itu akan ikut beragama Kristen.

Kamu tahu kan, Lid! Kecantikan Nova memang begitu merona!” ujar Hendra

“Lalu, gimana. Nova jadi nikah dengan pengusah itu?” tanyaku

“Nggak jadi, Lid!”

“Loh, kenapa?”

“Iya, saat itu Nova menolak keras. karena menolak Nova telah dipukul habis-habisan

oleh Pendeta Joseph. Dan keluarganya mengucilkan dia. Nova pernah disekap dalam

kamarnya. Karena kamar Nova berhadapan dengan kamar adikku yang perempuan.

Sehingga aku bisa melihat kondisi Nova pada saat itu. Benar-benar kasihan dia,.

Pakaiannya lusuh, dan dia tidak diberikan makanan apapun. Tapi aku dan adikku sering

melemparkan roti kering dan air kemasan kearah kamarnya. Aku akhirnya mempunyai

inisiatif untuk menyelidiki pengusaha tua tadi. Setelah aku dan teman-teman selidiki.

Ternyata pengusaha tadi mempunyai seorang istri. Setelah kami selidiki, akhirnya kami

tahu kalau sebenarnya kekayaan dari pengusaha itu adalah kekayaan isterinya. Dan saat

itu pun kami memberitahukan kelakuan pengusaha tua itu. Pengusaha tua itu

mengurungkan niatnya untuk memperisteri Nova.” Cerita Hendra dengan serius.

“Hem..!” aku cuma manggut-manggut

“Dan akhirnya, Nova bisa sedikit bernafas lega. Tetapi kayaknya akan ada rencana lain

yang akan dilakukan oleh pendeta Yoseph. Entah itu rencana apa? Aku tak tahu!” ucap

Hendra bingung.

“Hem…! Ya.. sudahlah kita cuma bisa berdoa saja, semoga rencana itu bukan rencana

yang buruk.” Ucapku.

“Sebenarnya, aku juga mau cerita sesuatu kepadamu Lid!”

“Apa, Hend? Masalah tadi? Atau masalah Nova lagi!”

“Ini bukan masalahku yang tadi Lid! Tetapi ini masih ada hubungannya dengan Nova!”

“Apa itu Hen?” tanyaku

“Gini Lid, di UK3 sedang merencanakan program Baksos (Bakti Sosial) ke desa-desa

kumuh. Aku nggak suka dengan program mereka Lid!”

“Loh, kan bagus Hen!” selaku

“Bagus sih bagus. Tapi ada yang janggal dari Baksos itu! Kenapa yang melakukan

Baksos adalah orang-orangnya pendeta Yoseph. Yang aku sesalkan Baksos itu atas nama

dan dana dari kampus. Nah ini kan nggak etis. Seharusnya kalau itu Baksosnya UK3, ya

seharusnya kan mahasiswa-mahasiswi anggota UK3. Bukannya anak buah pendeta

Yoseph. Nah ini yang janggal. Lid. Dan ini sudah dilaksanakan oleh mereka.” Tutur

Hendra serius.

“Oh, jadi seperti itu yach!” ucapku sejenak. Aku jadi teringat cerita bang Jamal dan bang

Dadang kembali. Didesa binaanku juga sedang didatangi orang-orang yang aneh. Aneh

dengan cara pengajaran dan ajarannya. Kalaulah mereka beragama Islam, ajaran mereka

memang mengajarkan Islam. Tetapi paham dari ajaran mereka sangat bertentangan

dengan Islam. Bahkan bisa dikatakan menghina Islam. Aku benar-benar ragu dengan apa

yang diajarkan oleh orang-orang asing itu. Apakah memang mereka benar-benar

mengerti tentang Islam. Ataukah mereka ingin merusak agama Islam. Aku jadi teringat

gadis yang berjilbab itu. Aku jadi teringat wajahnya, wajahnya seperti tak asing lagi

bagiku. Dia seperti?. Oh iya benar. Dia seperti Nova. Benar-benar wajahnya seperti

wajah Maria Nova. Apakah benar dia Maria Nova?. Benar tak salah lagi bagiku. Baik

nanti aku akan minta tolong Deni, si pakar computer itu! Untuk mencocokkan wajah

gadis berjilbab itu dengan Nova gumamku dalam hati.

“Khalid, kamu melamun lagi! Ada apa Lid?”

 “Oh, nggak Hen! Aku cuma lagi mengingat-ingat aja kok!” jelasku

“Apa yang sedang kamu ingat-ingat, Lid?”

Aku hanya tersenyum sambil mengatakan “Ada deh!”

Seketika itu, aku jadi teringat hari ini aku ada kajian. “Hen, sorry! Aku ada perlu

sekarang. Aku ada janji dengan Ustadku. Besok kita lanjutkan lagi ngobrol kita” ucapku

terburu-buru

Hendri tersenyum sambil mengatakan “Ok, Lid! Ya, besok kita lanjutkan.”

Sebelum berangkat ke rumah Ustad Fadlan, aku harus mengambil beberapa buku catatan

dikontrakanku.

***

Perjalanan menuju rumah ustad Fadlan memang agak jauh. Sekitar 4 kilometer

dari tempat kontrakanku. Karena aku nggak punya kendaraan, jadi aku harus berjalan

kaki menuju rumah ustad Fadlan. Meskipun capek, tapi aku yakin bahwa ada perhitungan

tersendiri dari Allah swt, untukku. Tapi sebenarnya, untuk berjalan 4 kilometer masih

belum ada apa-apanya dibanding dengan rumahku yang ada didesa. Saat aku kecil. Aku

dan teman-temanku bahkan sering melihat pasar reboan di alun-alun kota, yang berjarak

10 kilometer dari desaku. Jadi perjalananku kerumah ustad Fadlan masih aku anggap

belum ada apa-apanya. Pernah suatu kali ustad Fadlan menawari aku sepeda mininya

untuk aku bawa. Mungkin sebelum aku diberitahu oleh teman-temanku tentang

kehidupan keluarga ustad Fadlan. Pasti aku akan menerimanya. Tetapi sejak aku

diberitahu dan melihat sendiri kehidupan keluarga ustad Fadlan. Aku jadi semakin

bertambah keimananku.

Sebelum mempunyai rumah yang layak dihuni. Ustad Fadlan adalah seorang

penjual buku-buku Islami. Dan istrinya, Ustadzah Heni. Adalah seorang guru madrasah.

Mereka berdua sangat tawadhu’ dalam menjalani kehidupan. Hingga bahkan sampai saat

ini. Saat mereka berdua sudah mempunyai tempat tinggal yang layak huni, juga beberapa

kekayaan yang diamanahkan kepada beliau berdua. Mereka tetap tawadhu’ dalam

kehidupan. Beliau terlihat tidak pernah lalai dalam mengelola kekayaan hartanya. Bahkan

sepeda mini yang akan diberikan kepadaku adalah sepeda yang setiap harinya dipakai

oleh Ustadzah Heni untuk mengajar di madrasah. Aku benar-benar tidak tega jika harus

menerima pemberian ustad Fadlan. Biarlah kakiku berjalan saat ini, tapi aku akan

berlarian disurga nanti. Berlarian dengan menggunakan kendaraan yang ada disurga

nanti. Semoga, saja.

Siang ini matahari begitu terik. Deru laju motor dan mobil lalu-lalang

disampingku. Debu-debu berhamburan, menerpaku. Membuat langkah kakiku terasa

berat, tetapi aku yakin bahwa ini tidak seberat saat sahabat-sahabat Rasulullah diuji oleh

Allah dengan siksaan kaum Quraisy. Seberat seorang yang menginginkan kesyahidan.

Apalagi tidak seberat batu panas yang ditindihkan kaum Quraisy ditubuh Bilal.

Subhanallah. Langkah kakiku terus melaju menuju deru ilmu yang menunggu. Melaju

pada setiap langkah yang berpahala. Tetap dengan terik yang menyengat kulit.

Saat kaki melangkah, saat tubuh lelah dan saat-saat mentari bersinar terik. Mata

ini memandang pada tubuh kecil. Tubuh hitam legam dengan pakaian yang dekil.

Berusaha untuk meraih harapan dengan berjalan meminta-minta pada setiap mobil dan

motor yang berhenti. Tidak biasanya. Yang aku tahu, diperempatan itu tidak pernah ada

seorang anak kecil yang berada disitu. Tubuh kecil itu sesekali mengusap ingus yang

mengalir pelan dihidungnya. Tak jarang seseorang yang melewatinya, memberikan belas

kasihan kepada dia. Tapi banyak juga yang tidak berempati kepadanya. Seiring dengan

langkah kakiku, anak itu masih tetap dalam naungan sang surya. Sebenarnya aku ingin

mendekatinya, bertanya asal-usulnya dan sekedar untuk memberitahukan bahwa ada yang

perduli dengannya. Tetapi saat itu aku urungkan. Karena aku mempunyai janji pada diri

sendiri, janji untuk memperoleh ilmu lebih dalam lagi. Dan janji pada ustad Fadlan untuk

selalu hadir dimajelisnya, majelis ilmu para pencari kebenaran. Aku putuskan, untuk

menghampiri anak surya itu setelah pulang dari Liqo’ nanti.

Rumah ustad Fadlan sudah tak jauh lagi, tinggal beberap blok saja aku sudah

sampai pada rumah ilmu itu. Rumah yang dihiasi oleh keindahan ajaran Islam

didalamnya. Rumah yang terbina dan sakinah pada para penghuninya. Sungguh benarbenar

rumah idaman.



JILID 4

“Assalamualaikum!” salamku pada penghuni rumah.

“Walaikumsalam!” serentak jawaban para orang-orang yang ada didalamnya.

Ustad Fadlan menghampiriku lalu memelukku. Pelukan yang membuatku

merasakan keindahan persaudaraan. “Khaifa khaluk, akhi?” tanya ustad Fadlan

“Alhamdulillah, be khoir ustad!” jawabku

Setelah itu ustad Fadlan mempersilahkan aku masuk kedalam rumahnya. Ternyata

semua saudara-saudara seimanku pun telah datang lebih awal dariku. Irwan, Hamsah,

Feri, Abidin, Rochim sudah menanti kedatanganku. Setelah aku menyalami mereka

semua. Kajianku pun dimulai.

Ustad Fadlan menerangkan tentang keimanan dengan sangat baik. Tutur katanya

lembut dan mengena pada setiap relung jiwa. Tata bahasa diatur sedemikian rupa agar

tidak menyinggung orang yang mendengarkannya. Sehingga, kita dapat mencerna apa

yang dikatakan oleh ustad Fadlan. Keimanan adalah sebuah unsur untuk dapat

mengetahui, apakah kita memang benar-benar meyakini keberadaan Allah, atau malah

kita tidak meyakini keberadaan Allah.

“Keimanan adalah keyakinan kita terhadap sesuatu, jika kita meyakini adanya

keberadaan Allah. Maka hanya Allah lah yang seharusnya dihati kita. Tidaklah seorang

yang menyatakan diri beriman kepada Allah sedangkan dia masih takut pada selain

Allah. Jikalau kita takut pada selain Allah, maka kita beriman pada apa yang kita takuti

tadi, bukan beriman kepada Allah.” ucapan ustad Fadlan sangat menyentuh kalbuku.

Setelah ustad Fadlan banyak memberikan taujihnya kepada para pencari

kebenaran. Kami berenam ditanya satu-persatu tentang permasalahan yang ada pada

kami. Disinilah ajang curhat para aktivis dakwah. Seorang aktivis dakwah tidak akan

langsung meluapkan masalahnya secara sembarangan kepada setiap orang yang dikenal.

Tiada keluh kesah yang diluapkan kepada manusia, melainkan membuka sebuah wacana

solusi pada setiap individu yang sedang dilanda masalah. Jadi bukan berarti, seorang

aktivis dakwah yang sedang curhat kepada murabbinya adalah orang yang bermental

lemah. Atau bahkan minta dikasihani. Bukan, bukan seperti itu. Seorang aktivis dakwah

yang sedang curhat kepada murabbinya adalah merupakan membuka peluang masalah

yang sedang terjadi pada individu untuk diselesaikan bersama-sama. Sehingga jika ada

seorang aktivis dakwah yang sedang dihadang masalah, selain dia meminta kepada Allah

untuk menyelesaikan masalahnya. Juga membagi ladang pahala bagi saudaranya untuk

menyelesaikan masalahnya.

Dengan begini seorang aktivis dakwah dituntut untuk selalu tahu tentang

permasalahan saudaranya. Sehingga diharapkan, rasa persaudaraan itulah yang

mendorong satu dengan lainnya menciptakan ikatan tali ukhuwah yang sangat erat. Dan

seharusnya tidaklah seorang saudara meminta bantuan atau bahkan belaskasihan kepada

saudara lainnya, tetapi seharusnya aktivis dakwah mengetahui apa yang dibutuhkan

saudaranya dan membantu sebelum saudaranya meminta bantuan atau bahkan yang

menghinakan saudaranya, yaitu meminta belaskasihan.

“Ustad, ana ada permasalahan!” ucap Hamsah.

“Iya, antum ada persoalan apa?” jawab ustad Fadlan dengan lembut.

“Gini, Ustad. Ana ada persoalan tentang ruhiyah ana! Ana rasakan, ruhiyah ana semakin

lama semakin menurun. Ana kok merasa futur, Ustad. Ana masih bingung kenapa iman

ana melemah hari demi hari!” Hamsah sejenak berfikir, lalu melanjutkan keluh kesahnya

“ana menjadi begitu tidak bersamangat untuk berdakwah. Langkah-langkah ana begitu

berat dan gamang dalam setiap dakwah ana! Ana butuh pencerahan kembali, Ustad!”

Hamsah menyelesaikan dengan menghembuskan nafas panjang.

“Hem, iya ana mengerti, Akh! Apa yang antum rasakan memang beberapa kali sering

menghinggapi pada perasaan kita. Kadang kita merasa sangat bersemangat sekali,

sehingga seakan-akan bahwa kekuatan semangat kita tidak akan terbendung! Tetapi

dalam waktu tertentu, ghiroh (semangat) kita menjadi melemah, atau bahkan luntur. Ini

menjadi pelajaran yang baik bagi kita semua!” sejenak Ustad Fadlan tersenyum, lalu

melanjutkan taujihnya “ikhwa fillah, saat ghiroh kita dalam semangat, puncaknya adalah

saat kita tidak dapat mencapai apa yang kita inginkan. Sehingga semangat kita menjadi

kendur, atau melemah. Dan lama kelamaan akan terkikis habis. Maka dari itu, kenapa

kita sangat perlu adanya Liqo’(pertemuan/berkumpul). Dengan adanya Liqo’ semangat

kita yang semula luntur, Insya Allah akan bangkit kembali. Atau kalau lah semangat kita

luntur tidak begitu drastis penurunannya. Ibaratnya adalah handphone yang perlu di

charge. Maka kita juga perlu untuk di charge kembali. Untuk menumbuhkan keimanan

kita kembali. Untuk mengisi melemahnya ruhiyah kita, saat menghadapi permasalahanpermahasalan

yang berat!” ucap Ustad Fadlan dengan sikap tegasnya. “Akhi Hamsah.

Coba pikirkan kembali apa yang membuat ghiroh antum melemah?” tanya Ustad Fadlan.

Hamsah terlihat sedikit mengerutkan dahinya, mencoba untuk memikirkan apa yang

membuat semangat dia luntur. Tak lama setelah itu “Hem, Insya Allah ana sudah

menemukan penyebab permasalahan ana ini ustad!” ucap Hamsah serius.

“apa itu, yaa akhi?” tanya Ustad Fadlan

“akhir-akhir ini banyak Al Akh, yang meminta tolong ke ana untuk mengerjakan sesuatu

yang berhubungan dengan dakwah kita. Karena memang itu profesi ana, sehingga Al Akh

banyak datang ke ana. Ana mengerjakan lebih dulu permintaan Al Akh, ketimbang

pesanan orang lain. Dana-dana yang lebih dulu masuk, ana arahkan semuanya ke pesanan

Al Akh. Sehingga pesanan-pesanan banyak yang terbangkalai. Setelah ana selesai

mengerjakan pesanan Al Akh. Ana jadi tidak bisa mengerjakan pesanan yang lain. Dan

membuat dana-dana dari usaha ana macet. Karena pembayaran dana dari Al Akh, masih



belum dibayar. Usaha ana benar-benar collaps, dan saat ini pesanan-pesanan yang lain

masih tetap belum bisa ana kerjakan, karena berhubungan dengan dana tadi!” Hamsah

mengerutkan dahinya, setelah itu dia melanjutkan perkataannya “dan kemudian ana, jadi

berfikir. Bahwa berdakwah harus siap untuk rugi. Tetapi ana juga berfikir, bahwa jika ana

rugi terus-menerus. Maka usaha ana nggak akan jalan! Mungkin, itu yang membuat ana

futur ustad”

Ustad Fadlan terlihat mengerti dengan apa yang dialami oleh Hamsah. Tak lama setelah

itu, Ustad Fadlan berkata “iya, inilah Akh yang ana sering bilang kepada setiap Al Akh.

Banyak Al Akh yang salah kaprah tentang memahami arti dakwah. Mereka mengira

dengan mangatas namakan dakwah, meraka dengan mudahnya meminta bantuan kepada

Al Akh yang lain. Tetapi bantuan yang diberikan tidak di imbangi dengan kontribusi yang

lain. Kadang setelah Al Akh puas dengan hasil kerja kita, mereka hanya mengucap,

Syukron, Jazakallah atau perkataan yang lainnya. Padahal kontribusi dari dakwah itu ada

imbalbaliknya. Bukannya kita terus mengimbal tanpa ada baliknya. Dan dakwah bukan

berarti harus merugikan kita. Seharusnya imbalbalik dari dakwah itu adalah menciptakan

suasana yang Islami. Contohnya, dalam Islam diharuskan untuk membayar orang yang

telah bekerja sebelum keringat orang yang bekerja itu mengering. Ini merupakan perintah

langsung dari Rasulullah. Sedangkan kalau hanya dibayar dengan ucapan syukron,

jazakallah. Apakah kita dapat memberikan makan anak dan istri kita dengan perkataan

itu! Memang itu juga salah satu penyebab seorang menjadi futur. Sehingga semangat

untuk berdakwah lama-kelamaan akan terkikis habis. Dan perekonomian umat Islam

tidak akan berjaya, jika harus dibayar dengan perkataan! Karena Rasulullah pun bersabda

yang pada intinya, kemiskinan itu akan menyebabkan kekufuran.”

“Wah saya kok jadi tersindir yach!” celetuk Irwan.

“Ggeerrrr........” serempak semua tertawa.

“Kalau kita sich akh, bukan bermaksud untuk tidak membayar. Tapi kita ngutang dulu!”

ucapku.

“Kalau antum berdua sich ana udah tau, antum kan raja ngutang! Biasalah mahasiswa,

ngontrak lagi!” jawab Hamsah. Yang akhirnya membuat kita tertawa lagi.

Ustad Fadlan tersenyum, lalu setelah itu bertanya “Akhi Hamsah. Usaha antum rugi

berapa? Dan butuh dana berapa?”

“Usaha ana sekarang agak tersendat Ustad. Rugi sekitar 4 jutaan!” jawab Hamsah.

Ustad Fadlan mengangguk tanda mengerti, lalu ustad Fadlan beranjak berdiri sambil

mengatakan “Afwan, sebentar ana tinggal kebelakang!”

Serempak kita menjawab “tafadhol, Ustad!”

Aku dan Irwan tersenyum, tak lama Irwan berkata “wah Ustad, tau saja kalau kita sedang

lapar!”

Serentak kami pun tertawa lagi.

“Hehe…. Antum tau juga, apa yang ada dalam pikiran ana!” kataku.

“Dasar.. mahasiswa!” celetuk Feri.

Tak lama Ustad Fadlan datang. Tak lupa membawa boncengannya.

“hehe… Ustad tahu saja kalau kita lagi mengharapkannya!” ucap Rochim

Ustad Fadlan tersenyum. Tak lama Ustad Fadlan berkata “Akh, Hamsah. Ini ana punya

simpanan uang 4 juta. Antum silakan ambil. Kalau misalkan uang dari Al Akh yang lain

sudah dibayarkan. Baru silakan dikembalikan. Kalaulah memang belum dapat

dikembalikan, antum pakai dulu tidak apa-apa.” Ustad Fadlan terlihat sangat tulus sekali

saat memberikan uang itu.

Subhanallah ucapku lirih dalam hati. Sungguh seharusnya, seperti inilah seorang dai.

Seperti apa yang dilakukan oleh Ustad Fadlan. Sebuah contoh yang sangat bagus. Tidak

hanya berdakwah dengan kata-kata, tetapi diimplementasikan dengan perbuatan.

Manakala seorang saudara muslim membutuhkan bantuan. Maka dengan cepat saudara

muslim yang lainnya menolongnya. Inilah yang seharusnya dipegang umat Islam. Saat

saudaranya sedang butuh pertolongan. Sebelum saudaranya meminta bantuan, maka

saudara yang lainnya langsung menawarkan bantuan. Subhanallah.

“Nggak usah, Ustad! Biar ana menunggu uang pembayaran dari Al Akh saja Ustad.” Ucap

Hamsah.

Allahu Akbar ucapku dalam hati. Sungguh memang seharusnya seperti inilah muslim.

Dia tidak mengharapkan bantuan saudaranya yang lain. Selama dia masih bisa bertahan.

Dan bahkan tidak membutuhkan rasa dikasihani oleh saudara yang lainnya. Inilah yang

seharusnya menjadi sebuah contoh. Aku tak habis pikir. Peristiwa sahabat Rasulullah

terulang kembali. Saat terjadi peperangan, beberapa sahabat Rasulullah sangat

membutuhkan air. Tapi apa yang dilakukan oleh sahabat yang membutuhkan air itu. Dia

bahkan mementingkan saudara yang lainnya. Sahabat Rasulullah ini memberikan air

yang sangat dibutuhkan itu pada sahabatnya yang lain. Sungguh peristiwa yang sangat

luar biasa. Tingkatan keimanan yang paling tinggi itsar (mementingkan saudaranya

ketimbang dirinya sendiri) telah dilakukan oleh saudaraku.

“Tidak, Akh! Kelihatannya, antum lebih memerlukan uang itu dari pada ana. Ambil saja,

ana masih belum begitu membutuhkannya” ucap Ustad Fadlan. “sudahlah Akh, terima

saja! Kelihatannya antum lebih memerlukannya ketimbang ana. Biar nanti usaha antum

dapat berjalan lebih optimal” Ustad Fadlan mencoba untuk mempertegas ucapannya.

 “Hem,” Hamsah sedikit berfikir. “kalau begitu syukron Ustad!” jawab Hamsah, sambil

menerima uangnya.

“Afwan!” jawab Ustad Fadlan sambil tersenyum lega.

Sebuah hal yang dapat aku petik hikmahnya. Sebuah fenomena yang membedakan antara

umat muslim dan umat yang lainnya. Sebuah karekter dasar yang seharusnya sudah

tertanam dibenak umat Islam sejak lama. Sebuah tauladan yang telah dicontohkan oleh

Muhammad Rasulullah Saw. Hingga akhirnya, umat Islam lah yang seharusnya berjaya.

“Wah, antum sudah siap untuk usaha lagi nich.” Ucap Abidin.

“Siap usaha, and siap menikah!” timpal Rochim

serempak kami tertawa. Ustad Fadlan hanya tersenyum.

“Iya, kok kalian hanya tertawa! Padahal Rasulullah mengajarkan kepada para pemuda

untuk bersegerah menikah, bagi yang sudah mampu. Dan ana yakin kalian sudah mampu.

Jangan jadi alasan karena nggak punya penghasilan atau pekerjaan yang tetap,

menjadikan kalian menghambat pernikahan! Ingat loh pernikahan itu juga termasuk

membuka pintu rezeki” taujih Ustad Fadlan.

Tak pelak kami pun semua tersenyum, sambil melirik satu sama lainnya.

“Maka dari itu, kalian harus bersegara. Banyak akhwat yang belum menikah loh, Akh!

Masa kalian membiarkan akhwat-akhwat sendiri dalam perjuangannya.” Ucap lanjut

Ustad Fadlan.

Kami masih tetap tersenyum penuh arti. Entah itu senyuman pengharapan, ataukah

senyuman karena malu. Aku tak tahu. Yang penting senyumku adalah senyum

pengharapan. Senyum yang mengharap mendapatkan bidadari untuk menemaniku

berjuang dalam dakwah ini. Aku jujur loh.

Entah sudah berapa lama kami berkumpul. Berkumpul untuk saling mengingatkan

tentang agama yang haq ini. Yang menjadikan kami terus mengingat tentang pentingnya

berdakwah. Apalagi pentingnya jalan menuju surga Ilahi. Dan tak kalah pentingnya

mendapatkan bidadari. Nah kan, bidadari lagi.

Tak terasa mentari sudah akan menyiapkan tempat tidur yang enak. Serta kasur

yang empuk, hingga akhirnya surya pun berangsur-angsur tenggalam dengan membawa

sinar kehangatanannya. Dan menjadi saksi perjuanganku. Perjuangan yang tak akan

pernah henti sampai kapanpun, hingga akhirnya akupun berada diatas sang surya. Tunggu

aku wahai mentari.

***

 “Krriiiiiiiinggg………….” Jam wakerku berbunyi keras sekali. Keras, tetapi tidak

sekeras cambuk malaikat dineraka nanti. Aku terbangun. Aku lihat Lorus, jam wakerku.

Menunjukkan pukul tiga pagi. Saat-saat yang paling dinanti. Dinanti, oleh para malaikat

yang memburu manusia-manusia, yang terbangun dari tidurnya. Dan menegakkan sholat

untuk Rabbnya. Hingga malaikat-malaikat tersenyum, seraya mengatakan “Wahai

Tuhanku, janganlah engkau menyiksa para manusia-manusia yang terbangun disepertiga

malam ini. Saat mereka terbangun dan menyembahmu! Menyembah dengan berharap

kepadaMu. Wahai Rabb, jadikan manusia-manusia ini sebagai mujahid-mujahidahmu.

Yang kelak akan engkau masukkan kesurga, yang telah engkau janjikan nanti”

Aku mencoba untuk bangkit dari tempat tidur. Menapak dengan kaki gontai yang

teramat sangat. Karena rasa kantuk yang datang menggebu. Menggebu-gebu seraya

melarangku untuk datang bersimpuh, meminta ampun dan pertolongan kepada sang

Maha Pencipta alam. Allah Swt. Sungguh ini menjadikan rasa jihad yang sesungguhnya.

Jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan sifat burukku. Tapi, itu bukan jihad yang

sesungguhnya. Karena jihad yang sesungguhnya, adalah melawan penguasa yang zalim

kepada umat Islam. Langkah kakiku terasa berat, tetapi tetap aku berusaha melangkah.

Melangkah dalam setiap langkah yang berpahala. Air kran aku nyalakan, sungguh segar

nikmat dingin air sepertiga malam. Hingga aku kedinginan. Aku basuh semua yang

seharusnya dibasuh, aku bersihkan semua yang seharusnya dibersihkan. Dari tubuhku ini.

Hingga aku menjadi suci. Suci dalam pandangan Ilahi. Wudhu sudah selesai aku lakukan.

Kini aku kembali berjalan. Berjalan menuju kamar kusam, yang terawat rapi.

Kubentangkan sajadah berlambang Ka’bah. Yaa Rabb, aku menghadapmu.

Sayup-sayup terdengar tartil Al Qur’an mengumandang pada masjid dekat

kontrakan. Sudah biasa. Sholat tahajjud, sudah aku selasaikan. Tinggal kini menanti

datangnya shubuh.

Terdengar suara keras dari kamar Deni “BRUAAAK….”

Serentak semua penghuni kontrakan keluar kamar semua.

“Ada apa, Akh?” tanyaku pada saat melihat Yanto yang sudah berada didepan kamar

Deni.

“Ana juga tidak tau, Akh!” jawab Yanto bingung

Kini penghuni kontrakan sudah berada didepan kamar Deni. Yanto, Heri, Samsul juga

termasuk aku.

“Akhi, Deni! Antum kenapa?” panggilku sambil mengetuk pintu kamar Deni.

Tetapi tetap tidak ada jawaban sama sekali. Kami semua menjadi panik. Tak biasanya

seorang Al Akh yang kami panggil, tidak menyahut panggilan kami. Deni tetap tidak

bersuara.

“Udah kita, kita dobrak saja!” usul Samsul, panik.

 “Iya kita dobrak saja!” serentak Yanto dan Heri menyetujui usul Samsul.

Saat pintu akan didobrak. “sebentar-sebentar akh, jangan dobrak dulu! Kita lihat dulu

apakah kamar ini dikunci apa nggak” ucapku, dengan langsung memegang gagang pintu.

“Nah, kan nggak dikunci! Ngapain harus mendobrak segala, habis-habisin energi” ucap

Samsul enteng

“Yee… yang usul dobrakkan antum, Akh!” jawab Heri kesal.

“Udah-udah, kita langsung aja lihat kondisi Akhi Deni sekarang!” ajakku sambil

tersenyum. Tersenyum karena sifat kedua saudara seimanku ini.

Saat kami membuka pintu kamar Deni. Terlihat tubuh Deni terkapar dilantai dengan

barang-barang yang berserakan. Kami semua sangat cemas dengan keadaan Deni.

Dengan cepat aku langsung memeluk tubuh Deni.

“Akh, bangun! Antum kenapa? Akhi, sadar akh!” teriakku. Aku benar-benar sangat

panik. Mengingat bahwa aku adalah yang paling tua dikontrakan.

“Akhi, bangun akh! Sadar Akh” Yanto dengan agak berteriak.

Sedikit demi sedikit Deni membuka matanya. Dengan mengucek matanya dan terlihat

sedikit bingung.

“Ada apa, akh? Kok tumben rame-rame! Tidur ana jadi terganggu.” Ucap Deni dengan

bingung

“Loh antum nggak kenapa-napa, Akh?” tanya Yanto.

“Emang, ana kenapa?” tanya Deni bingung

“Hem, antum nggak ngerasa bikin kita panik yach!” sahut Heri.

“Iya, akh! Tadi di kamar antum terdengar bunyi keras sekali. Seperti ada benda jatuh

dikamar antum!” ucap Samsul.

“Iya! Makanya kami langsung kesini” timpal Yanto

“Bener! Saat kita tiba, antum sudah tergeletak dilantai. Dan barang-barang antum

berserakan semuanya” sahut Heri lagi.

“Ana nggak apa-apa kok. Mungkin, ana terjatuh dari kasur!” jawab Deni sambil

menggaruk-garuk kepalanya.

 “Yee…. Antum itu kebiasaan. Kalau tidur nggak bisa dibangunin. Ya, gini akhirnya!

Sampai-sampai jatuh nggak ngerasa jatuh, saking lelapnya!” ucap Yanto

“Kali aja, emang nggak pernah baca doa sebelum tidur!” timpal Samsul.

“Iya, bener! Pasti, tadi nggak sholat tahajjud” sahut Heri

Deni masih terlihat bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya. Dan terlihat hanya

nyengir karena malu.

“Udah-udah! Sekarang sholat shubuh. Tuh sudah adzan” selaku.

Kami pun beranjak pergi kekamar masing-masing, untuk mengambil sajadah. Setelah itu

kami berangkat pergi ke masjid bersamaan.

***

Selesai pulang dari masjid. Aku langsung mengambil al ma’tsurat. Dzikir pagi dan

petang. Teman-teman kontrakanku, sudah kembali menjalankan aktifitas yang tertunda.

Menjalankan, apa yang sudah menjadi rutinitas mereka. Meneruskan mimpi-mimpi

indahnya. Bertemu dengan bidadari surga. Nahkan, bidadari lagi.

Sudah jadi kebiasaan dikeluargaku. Kalau sudah bangun pagi, sholat shubuh.

Dilarang untuk kembali tidur. Bapakku, bisa ngomel-ngomel seharian. Kalau tahu

anaknya tidur setelah sholat shubuh. Katanya nanti nggak disiplin lah, orang yang tidur

itu nggak dapat rezekilah atau pintu rezeki ditutup oleh Allah. Aku dulu, jengkel juga

sama Bapak. Masa, orang masih ngantuk-ngantuknya tidak boleh melanjutkan tidur.

Malah disuruh untuk mandi. Kan, dingin.

Tapi setelah itu aku benar-benar tahu kenapa Bapak menyuruh keluarga kami

untuk tidak kembali tidur selesai sholat shubuh. Hikmah yang paling mendasar baru aku

ketahui saat ini. Saat aku sudah terbuai dengan kenikmatan dakwah ini. Kenikmatan yang

akan memberikan aku pencerahan kembali. Pencerahan atas nama Rabb penguasa alam.

Atas nama Al Haq dari segalanya. Dari apa yang ada di alam semesta ini. Sang Ilahi.

Pukul 05.30, sudah kebiasanku juga. Setiap pagi harus selalu diselingi dengan

olah raga. Minimal pemanasan otot dan lari pagi. Atau kalau lagi malas, biasanya aku

bermain sepak bola, di komputerku. Bisa untuk melemaskan otot-otot tangan dan

jemarikan!. Setelah itu, baru mandi.

“Tlluuutt….tlluuuut” telfon berdering tepat pukul 06.00. Saat itu aku sedang asyikasyiknya

bermain sepak bola, liga Italy di komputerku. Karena asyik banget, akhirnya

aku biarkan saja. Itung-itung bikin teman-teman bangun, dan mengangkat telphonenya.

Benar juga, akhirnya Deni yang mengangkat telphonnya.

“Akh, Khalid. Ada yang telephone!” panggil Deni.

 “Tumben, ada yang menelephonku pagi-pagi. Biasanya, pagi-pagi seperti ini Samsul

yang dapat telephone. Kadang, para Akhwat yang nelphone Samsul. Ngingetin kalau

siangnya ada Syuro’. Biasalah ketua LDK. Yang pelupa, dan susah diingetin. Gimana

mau ngingetin, ponsel aja kadang masih pinjem teman-teman. Hem, sama kayak aku

dulu.” Aku pause FIFA ku. Lalu melangkah untuk menerima telephone.

“Wah, akhi Khalid! Pagi-pagi sudah ditelphone akhwat. Suaranya merdu loh akh.

Ingatlah akh. Awas, berkhalwat.” Ucap Deni bercanda.

“Hem, kok mikirnya su’udhon terus! Nich ikhwan, lupa sama akhlaq yach?” jawabku

sekenanya, sambil mengambil gagang telphone.

“Afwan, bercanda akh!” jawab Deni.

“Assalamualaikum!” salamku pada seorang yang menelphoneku.

“iya, ini Khalid yach?” jawab si penelphone.

Nih akhwat, di doa’in kok nggak bales doa sich. gumamku kesal, dalam hati. “iya benar,

ini Khalid! Mbak siapa yach?” jawabku.

“Khalid, ini aku! Nova” jawab si penelphone

Aku terpaku, termangu. Nova, gadis cantik yang aku lihat. Gadis, yang membuatku

melupakan kenikmatan untuk menyembah Al Haq. Melupakanku dalam memohon

ampunan dosa-dosaku. Gadis, yang membuat dosa baru buatku. Gadis, yang melenakan

aku dengan Ilahi.

“Hallo, Khalid! Kamu kok diam? Kamu kenapa?” ucap Nova kebingungan.

“Nova? Yang temannya Hendra itu yach?” tanyaku.

“Iya! Apa kamu lupa?” jawabnya singkat

“Oh, iya aku ingat! Kamu dapat nomor telponku dari mana?” tanyaku heran

“Dari, Hendra! Kenapa?”

“Oh nggak apa-apa! Cuman, nanya aja kok. Ada, keperluan apa Nov” ucapku

“Gini, Khalid. Aku pengen tanya-tanya kekamu, tentang Islam! Aku pengen balajar

banyak tentang Islam” Jawabnya

Hem. Ada apa nich, kok nich cewek langsung pengen tanya-tanya tentang Islam.

gumamku dalam hati. Aku langsung teringat. Teringat dengan Nova. Teringat dengan

wajahnya. Teringat dengan akhwat, yang sama persis dengan wajahnya Nova. Teringat

dengan rencanaku memadu-memadukan wajah akhwat itu dengan Nova. Teringat aku

akan meminta tolong sama Deni, untuk mendesain wajah akhwat itu dengan wajahnya

Nova. Tetapi aku harus tetap khusnodhon terhadap Nova. Aku takut, jangan-jangan jika

aku berfikir yang tidak baik maka Allah akan mengabulkan apa yang aku pikir. Karena

Allah kan menurut apa yang diprasangka hambanya. Jadi, aku harus berprasangka baik.

Biar Allah mengambulkan kebaikan itu pula.

“Wah, aku jadi tersandung ee tersanjung! Seorang ketua UK3 mau belajar agama Islam”

jawabku sekenanya.

“Yee… orang mau belajar kok diolok-olok!” ujar Nova, terdengar sinis.

“Nggak! Bukan aku bermaksud mengolok-olok, cuman aneh aja” jawabku

“Nggak anehlah! Seorang yang ingin mengetahui agama orang lain, itukan wajar!”

jawabnya

Kini saatnya aku harus mendakwai orang non muslim. Kini saatnya, aku membuktikan

kebenaran ajaran Islam. Meskipun benak-benak qolbu berontak, bertanya-tanya tentang

kebenaran ketulusan Nova dalam belajar agama Islam. Tapi kalaulah seandainya dia

memang ingin berdebat denganku. Insya Allah, aku sudah bersiapsiaga.

“Hem, Ok deh! Kapan bisa mulai?” tanyaku

“Kamu, punya waktu kapan?” Nova balik bertanya.

“Insya Allah, nanti siang aku ada waktu!” jawabku enteng.

“Kalau jam 8 pagi, gimana?” tawarnya.

“Waduh, sorry! Aku ada bimbingan kalau jam segitu” jawabku.

“Baik, nanti jam 1 siang aku tunggu” jawabnya

“Tempatnya, dimana?” tanyaku

“Enaknya dimana yach? Kalau di kantin gimana?”

“Wah, kalau dikantin nggak kondusif. Lebih baik ditempat yang tenang aja”

“Hem kalau gitu, selesai kuliah aku tunggu kamu di Fakultas ekonomi kelas A”

“Ok, aku akan kesana!”

“Kalau gitu, sampai nantinya yach!”

Saat Nova akan menutup telefonnya.

“Eh, tunggu-tunggu Nov. Jangan ditutup dulu telpnya!” sergahku

“Ada apa, Lid?” Nova terdengar agak heran.

“Enggak, gini loh. Kalau bisa, nanti kamu membawa teman yach! Biar kita nggak

berdua-duaan” pintaku.

“Loh, apa kamu nggak pengen berdua-duaan denganku, Lid? Kan, enak dua-duaan!”

jawab Nova sambil tertawa.

“Maaf, Nov. Kalau gitu aku nggak jadi aja deh! Aku nggak pengen melanggar apa yang

telah diatur oleh agamaku” jawabku ketus.

“Loh, sebentar Lid! Aku tadi cuman bercanda aja kok. Jangan dimasukkan kehati gitu

dong! Ok lah, kalau kamu pengennya seperti itu. Aku akan ajak temenku Rani, Dewi dan

Hendra” jawabnya

“Nah, begitu kan lebih baik! Tidaklah diperbolehkan dalam Islam, laki-laki dan

perempuan itu bercampur baur atau bahkan malah berdua-duaan. Karena itu adalah

mendekati dosa! Dan, kalau untuk bercampur baur. Nanti aku akan atur biar nggak

terkesaan bercampur antara wanita dan laki-laki.” Jawabku mantap.

“Hem. Ok Lid! Aku tungguh, da…..h!”

setelah itu yang terdengar hanya nada “tuttttt……”

Aku tutup telponku. Setelah itu, aku kembali lagi kekamarku. Hilang sudah

semangatku yang tadi telah berkobar-kobar berjuang untuk mengalahkan Roma. Dalam

games FIFAku. Aku matikan games FIFA, setelah itu aku gantikan dengan winamp.

Dengan serta mertapun semangatku kembali berkobar.

“Tujuan kita Allah yang perkasa

Teladan kita Muhammad tercinta

Panduan kita Al Qur’an mulia

Cita-cita kita Syahid dijalan Allah

Islam adalah Satu

Satu iman satu jiwa satu hati

Adilnya tertinggi dihadapan Rabbi

Pada api bagi hindi tirani

Islam adalah Satu

Satu pengorbanan dalam perjuangan

Menggenggam dunia selimuti angkasa

Kibarkan panji-panji kemenangan

Bangkit dan bersatulah

Satukan tekat tuk raih kemenangan

Naungi dunia dengan kedamaian

Dibawah panji Islam nan mulia”

Fajar Agustanto (Blackrock1/Fajar001/Jaisy01)

www.ggs001.cjb.net



JILID 5

“Begini, Lid! Kalau menurut pengamatan saya, ada sebuah hal yang mendasari seseorang

itu acuh tak acuh dengan hukum Islam itu sendiri. Sedangkan ada beberapa hal pola yang

harus kita ketahui, tentang judul skripsi kamu. Nah, saya melihat sebuah fenomena yang

mendasar pada negeri kita ini. Memang, hukum kita ini sangat mudah untuk ditarik ulur.

Atau dalam hal ini, banyak sekali undang-undang karet yang mudah untuk dimainkan

oleh penegak hukum. Entah itu Hakim, Jaksa, Polisi atau bahkan Pengacara sekalipun.”

Prof. Susilo menarik nafas sebentar, setelah itu beliau melanjutkan analisisnya “yang

akhirnya terjadi adalah, sebuah anggapan bahwa hukum kita mudah untuk dibeli. Namun

persoalan yang paling mendasar dalam sebuah permasalah skripsi kamu, bahwa

sesungguhnya hukum Islam itu sendiri masih asing ditelinga orang Islam. Sehingga untuk

memunculkan Hukum Islam, apalagi hukum pidana Islam. Maka seseorang harus dapat

benar-benar paham tentang apa pola-pola keberadaan hukum tersebut. Contohnya, dalam

kasus Umar bin Khattab. Seorang pencuri pun, dapat diampuni hukuman potong

tangannya. Nah, itu terjadi karena kelalaian pemerintahan Umar bin Khattab sendiri.

Dalam hal ini, Umar bin Khattab merasa berdosa karena masih ada rakyatnya yang

kelaparan. Akibat kelaparan itulah seorang dapat mencuri. Ingat, Lid. Rasulullah pun

telah bersabda “sesungguhnya kemiskinan itu menyebabkan kekufuran.” Nah, jika kita

melakukan hukum pidana Islam. Minimal rakyat sudah bisa hidup layak dan

mendapatkan makanan dengan mudah. Sedangkan faktanya, bahwa rakyat negara ini

masih sangat lemah perekenomiannya. Jadi Lid, menurut saya tingkat kesejahteraan

itulah yang mendorong seorang untuk bisa memahami tentang arti the rule of law! Kalau

menurut kamu gimana?”

Sejenak aku berfikir, memikirkan apa yang telah diucapkan oleh guru besar yang

satu ini. Memang analisis beliau terlihat gamblang, jelas dan ringkas. Dan langsung to the

point. Bahwa, kalau menurut penafsiranku tentang analisis beliau. Bahwa sesungguhnya

semua aturan (hukum) dapat ditegakkan jikalau pelaku hukum bisa menikmati

kesejahteraan dari aturan (hukum) tersebut. Dengan kata lain, tingkat perekonomian

masyarakatlah yang menjadi pedoman. Jikalau, sebuah masyarakat sudah mempunyai

tingkat perekonomian yang tinggi maka secara otomatis pendidikan masyarakat pun juga

tinggi. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi, maka secara otomatis hukum akan

berjalan sesuai apa yang diharapkan. Tetapi, ada kejanggalan.

“Hem, begini Pak!” ucapku sambil terlihat memikirkan suatu hal. “Hukum, merupakan

aturan yang harus diterapkan oleh masyarakat. Jikalau hukum itu baik, maka

masyarakatpun ikut baik. Insya Allah!” ucapku

Terlihat Prof. Susilo memandangiku dengan seksama. Memperhatikan setiap ucapanku.

Dan sesekali mengangguk jika beliau setuju dengan pendapatku.

Setelah itu aku mengatakan “sebuah aturan atau hukum, baik yang sudah maupun yang

akan diterapkan kepada masyarakat. Harus melawati titik uji tentang keampuhan hukum

tersebut. Dengan kata lain, bahwa hukum tersebut mempunyai sifat yang haq (benar) dan

tetap serta tidak berubah-ubah. Untuk membuat sebuah kebenaran, maka seseorang

pembuat hukum harus mengetahui kebenaran itu sendiri. Untuk mengetahui kebenaran,

maka pembuat hukum pun harus menjadi orang yang benar. Dan untuk menjadi orang

yang benar, maka pembuat hukum harus melakukan kebenaran atau dalam kata lain

kegiatan kebenaran. Sehingga, akan terjadi stimulus (pembangkit) untuk melakukan

kebenaran itu sendiri. Sehingga para penegak hukum pun dengan serta merta akan

melakukan pembenaran tentang adanya kebenaran. Jikalau nyata-nyata sebuah kebenaran

itu adalah benar.

Dinegara kita ini, tingkat masyarakat untuk memahami hukum memang sangat

rendah. Sama rendahnya dengan apa yang mereka pahami tentang Undang-Undang.

Hukum bagi masyarakat adalah sebuah kerangka penyekat dalam tingkahlaku mereka.

Karena anggapan mereka, hukum merupakan aturan yang terdiri dari pasal-pasal dan

ayat-ayat yang mengekekang kelakuan mereka terhadap orang lain. Hukum dinegara kita

ini, merupakan hukum yang berada pada penafsiran kegiatan kesalahan-kesalahan

manusia. Bukan merupakan tingkat aturan (hukum) tentang melakukan sebuah kebanaran

atau kebaikan. Jadi, masyarakat akan langsung takut manakalah hukum positif tersebut

diperdengarkan oleh mereka. Sikap antipati terhadap hukum positif inilah, yang akhirnya

masyarakat juga antipati terhadap hukum Islam. Masyarakat akan langsung mengatakan

bahwa hukum itu adalah tindakan yang bersifat punishment (hukuman). Bukan tindakan

yang bersifat mangatur hidup agar lebih baik. Jadi antipati seseorang terhadap hukum

Islam, hanya karena mereka tidak mengetahui tetang kejalasan hukum-hukum Islam.

Karena mereka trauma dengan hukum positif (hukum yang ada dinegara) yang bersifat

penghukuman bagi orang yang bersalah. Maka, hukum Islam identik dengan mati, potong

tangan dan lain sebagainya. Inilah yang membuat hukum-hukum Islam menjadi hal yang

menakutkan bagi masyarakat. Padahal hukum Islam itu tidak hanya seperti itu. Islam

banyak mengatur tentang tata cara dalam berbagai hal. Seperti hukum nikah, hukum

pergaulan, hukum jual beli, hukum pidana, hukum perdata dan bahkan untuk memasuki

kamar mandi pun ada hukumnya. Nah, disinilah orang-orang seharusnya memahami

tentang hukum itu sendiri. Hukum Islam mengatur kehidupan, agar menjadi lebih terarah

dan teratur dalam menjalankan kehidupan yang sementara ini. Di dunia.

Ganjaran bagi orang-orang yang melakukan hukum (aturan) Islam. Menjadikan

mereka akan lebih taat kepada Rabb (Tuhan)nya. Saat orang Islam taat kepada hukumhukum

Islam. Maka yang akan terjadi adalah keseimbangan dalam hidup, antara dunia

dan akhirat!” ucapku panjang lebar. “saya sanksi, saat Bapak mengatakan tentang

seorang pelaku hukum akan mentaati hukum manakalah perekonomian masyarakat sudah

tinggi. Terbukti dinegara maju, bahkan Amerika sekalipun. Tingkat pelanggaran hukum

juga tidak kalah banyaknya dengan negara kita. Di Los Angeles, tingkat perkosaan

mereka sangat tinggi. Setiap hari, ada sekitar 3000 wanita yang diperkosa melapor ke

LAPD (Los Angeles Police Depertement). Dan yang tidak melaporpun, sama banyaknya.

Sungguh ironis, jikalau hukum hanya mengatur tentang tingkah laku kesalahan mereka.

Karena hukum yang sesungguhnya, adalah mengatur manusia untuk lebih mencintai

hukum itu sendiri.

Contohnya, seseorang yang membunuh. Dalam hukum Islam, dia harus qishah

(dibalas). Tetapi manakalah si pembunuh dimaafkan oleh keluarga yang dibunuh, maka

pembunuh ini terbebas dari hukuman tersebut. Meskipun dalam hal ini ada peraturan juga

mengenai tata cara pengampunan dalam hukum Islam. Jadi, pandangan masyarakat

tentang hukuman mati dalam Islam. Banyak yang keliru dan salah. Tidak sedikit orang

yang mengatakan bahwa hukuman mati dalam Islam itu kejam. Tetapi, uniknya. Pada

saat ada seorang yang dibunuh, maka secara otomatis keluarga yang menjadi korban akan

menuntut hal yang serupa pada pelaku pembunuhan. Yaitu dibunuh. Jadi sebenarnya,

hukuman mati adalah sebuah fitrah dalam kehidupan. Jadi seseorang yang mengacuhkan

hukuman mati, atau bahkan menganggap hukuman mati adalah sebuah kekejaman atau

bahkan kekejian karena melanggar HAM (Hak Asasi Manusia). Maka seseorang itu,

tidaklah memahami esensi dalam sebuah kehidupan. Dalam Islam, pun telah diatur

tentang hukuman mati tersebut. Membunuh satu orang yang tidak bersalah, bagaikan

membunuh semua manusia yang ada didunia. Itulah esensi hukum Islam.

Sedangkan, apa yang tertera hukuman mati dalam hukum positif. Sangatlah

rancuh. Hukuman seseorang yang membunuh tanpa alasan yang benar. Tidaklah pantas

seseorang itu tetap hidup. Sedangkan, apa yang dilakukan Umar bin Khattab. Adalah

sebuah kebijaksanaan khalifah (pemimpin) dalam melaksanakan tugasnya. Umar bin

Khattab, sangat menjaga rakyatnya dalam masalah apapun. Termasuk kesejahteraan.

Tetapi, sedangkan pemimpin kita? Jadi sebuah pelaksanaan hukum, kalau menurut saya

adalah pada pelaksanaan dari hukum itu sendiri. Dalam pengertian, hukum bukanlah hal

yang mengekang atau membatasi kehendak kita. Tetapi sebenarnya, hukum adalah

sebuah perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari.” Ucapku penuh yakin.

Prof. Susilo tersenyum. Dia menganggukan kepalanya pelan. Tanda setuju.

“Hem, saya paham apa yang kamu maksud Khalid!” ucap Prof. Susilo. “tetapi apakah

hukum positif tidak dapat menjadi sebuah kehidupan hukum sehari-hari?” sanggahnya.

“Saya rasa, begini Pak. Hukum merupakan sebuah pokok kehidupan. Manakalah hukum

itu baik, maka masyarakatnya pun akan baik. Saya ingin menanyakan kepada Bapak.

Apakah dalam hukum positif, terdapat sebuah pengaturan tentang hukum bertingkah laku

yang baik.”

Prof. Susilo terlihat memikirkannya.

Saat itulah aku langsung menjawab sendiri pertanyaanku “tidak Pak! Hukum positif,

tidak mengajarkan kita bertingkah laku yang baik. Tetapi hukum positi hanya, mengatur

orang yang bertingkah laku tidak baik. Atau dalam kata lain. Melanggar hukum. Tetapi

dalam hukum-hukum Islam. Kita pun diatur dalam bertingkah laku yang baik. Dan kita

pun diberitahu akibat dari perilaku yang baik. Maupun yang tidak baik. Jadi hukum,

seharusnya melihat dua hal. Yaitu sebab dan akibat. Bukan hanya hukum bersifat akibat

semata.”

Prof. Susilo tersenyum “Khalid, saya rasa kamu sudah sangat paham tentang masalah ini!

Saya rasa kamu lebih banyak menguasai argumen tentang ini. Dan stigma kamu, tentang

dua hukum itu bagus juga. Saya setuju, dengan argumen kamu.”

 “Terima kasih Pak!” jawabku senang.

“Khalid, sudah! Saya percaya sama kamu. Sekarang, kamu tinggal kerjakan semua

skripsi. Setelah selesai, kasihkan saya. Biar saya koreksi.” Ucap Prof. Susilo.

“Untuk per Babnya gimana Pak? Apa saya nggak perlu bimbingan lagi?” tanyaku heran.

Prof. Susilo tersenyum sambil menggelengkan kepala. Setelah itu beliau berkata “Saya

yakin kamu sudah tidak perlu pembimbing lagi. Saat ini, saya menyatakan diri bukan

pembimbing skripsi kamu. Tetapi saya adalah teman diskusi skripsi kamu. Tetapi untuk

pengesahan legalitas, saya tetap pembimbing kamu”

Masya Allah. Apakah benar, kepintaranku sampai sebegitu hebatnya? Hingga Prof.

Susilo sangat percaya denganku. Yaa Allah. lindungi aku dari sifat takkabur dan ujub.

Ucapku lirih dalam hati.

“Khalid, sejak lama saya ingin bertanya tentang sesuatu?” ucap Prof. Susilo, saat aku

sedang membayangkan apa yang dikatakan oleh Prof. Susilo. Membayangkan tentang

azab Allah, bagi orang-orang yang sombong. Apalagi yang bagi orang yang

membanggakan diri.

Aku sedikit tersentak. “Apa itu Pak? Apakah menyangkut skripsi saya?” tanyaku heran.

“Oh, bukan. Ini diluar skripsi dan kuliah ini” jelasnya.

“Lalu, apa pak?” tanyaku penasaran.

“Khalid, saya sering mendengar aktivis Islam sangat tidak senang dengan hukum positif

negara ini. Saya sering mendengar bahwa hukum positif kita adalah hukum kufur. Jadi,

orang yang mempelajari hukum kufur maka dia kufur juga. Apa benar pernyataan itu

Khalid! Saya benar-benar bingung dengan ucapan seperti itu. Karena saya juga tidak

ingin dibilang kufur.” Tanyanya bingung.

“Pak, memang banyak aktivis Islam yang mengatakan seperti itu. Bahkan beberapa

teman-teman saya pun. Mengatakan seperti itu. Tetapi pada hakekatnya, tujuan orang

belajar itulah yang menjadikan seorang itu kufur apa tidak.” Jelasku.

“Maksudnya?” Prof. Susilo terlihat sangat penasaran.

“Begini, Pak. Seorang yang belajar merupakan sebuah kewajiban bagi Islam. Tak lupa

juga niat untuk belajar itu sendiri. Kalaulah niat sudah menyimpang dari tujuan awal.

Untuk tidak meraih kejayaan Islam kembali. Maka seseorang itu menjadi kufur. Tetapi

jikalau seseorang tetap berpegang teguh pada tujuan awal itu. Yaitu untuk menegakkan

nilai-nilai Islam. Maka Insya Allah, akan mendapatkan berkah dari Allah! Kalaulah

seorang aktivis Islam mengklaim bahwa belajar hukum positif itu haram atau kufur.

Maka seharusnya mereka pun tidak usah tinggal dinegara ini. Karena pada dasarnya

semua aktivis Islam di negara ini, merupakan pelaku pasif hukum positif. Jadi secara

tidak langsung, semua orang yang berada dinegara ini merupakan pelaku hukum positif.

Apalagi, saat mereka terkena kasus hukum. Apakah mereka akan diam? Tidak mereka

pasti akan mencari pengacara untuk membela mereka. Nah, disinilah letak yang

mendasar. Kalaulah semua aktivis Islam apatis dengan hukum positif. Lalu saat aktivis

Islam terkena kasus hukum, siapakah yang akan membela mereka? Siapakah yang akan

membela saudara seiman, jika semua aktivis Islam dihabisi dengan hukum positif ini?”

jelasku berapi-api. Karena, sebenarnya aku sendiri pernah ditanya dan dilecehkan oleh

sesama aktivis Islam yang lainnya. Karena aku berada di fakultas Hukum. Jurusan yang

keliru untuk aktivis Islam. Kata mereka.

“Aktivis Islam, seharusnya tidak apatis dengan hukum positif ini. Karena akan

menjadi bumerang tersendiri seandainya tidak ada orang-orang Islam yang mengerti

tentang hukum positif. Sedangkan kita, masih dikuasai hukum positif! Jadi orang yang

mengeklaim tentang kebenaran kekufuran pada aktivis Islam yang belajar hukum positif

merupakan aktivis Islam yang tidak mengetahui tentang esensi dari belajar itu sendiri.”

lanjutku.

“Iya, benar Khalid. Saya juga beberapa kali berfikir seperti apa yang kamu pikirkan.

Khalid, meskipun saya Professor tetapi gelar ini tidak membuatku mengerti tentang

hukum agama yang saya anuti sendiri. Islam. Saya menjadi lega saat ini. Dan terima

kasih atas penjelasannya, Khalid.” Ucap beliau dengan senyum kelegaan, yang entah

sampai dasar apa kelegaan itu berada. “Baik, kalau begitu kita cukupkan dulu diskusi kita

saat ini. Terima kasih atas beberapa penjelasan kamu, Khalid”

“Alhamdulillah” Ucapku dalam hati. “Baik kalau gitu terima kasih, Pak. Saya pamit dulu,

masih ada beberapa urusan.”ucapku. Setelah itu aku langsung meninggalkan sekretariat

dosen. Tetapi tak lupa untuk mengucapkan “Assalamualiakum” kepada Prof. Susilo.

***

Siang begitu terik, mentari bersinar bagaikan bola api yang membara. Membakar

kulit. Rasanya malas sekali untuk berjalan menuju fakultas ekonomi. Untuk menepati

janji seorang yang ingin mempelajari Islam. Entah itu belajar, atau ajang debat mereka

yang ditujukan kepadaku. Entah, aku tak tahu. Semangat jihad ini menjadi kendur saat

melihat mentari bersinar terik sekali.

Tetapi terik matahari tak pernah mengalahkan tentara Muslim untuk berperang.

Bahkan sengatan panas mentari, bagaikan energi kekuatan yang diberikan oleh sang Ilahi.

Disaat berpuasa pun, tentara muslim berperang. Juga tak luput dari sengatan matahari.

Tetapi mereka tetap semangat, semangat yang membara untuk mendapatkan syurga.

Mendapatkan kenikmatan hidup bahagia diatas sana. Sesuai dengan apa yang telah

dijanjikan bagi para pencari syahid. Tak lupa, pun bidadari surga sudah menunggu untuk

dipeluk mesra. Oleh mujahid-mujahid yang syahid. Nah kan, bidadari lagi!.

Semangatku pun kembali, mengawali jihadku lagi. Tuk, mengharapkan

keridho’an-Nya. Juga mengharapkan surganya, serta tak lupa Bidadari-Nya. Nah kan,

bidadari lagi. Udah deh, pasti bidadari lagi.

Jarak antara fakultas hukum dengan fakultas ekonomi lumayan jauh. Kira-kira

700 meter. Langkahku kembali tegak melaju, menerobos mentari yang bersinar terik.

Memberikan cahaya kepada mahluk yang ada dibumi. Serta memberikan energi

kehidupan bagi mahluk-Nya. Langkahku takkan pernah surut, dengan jiwa yang

bergelora. Menanti surga yang akan dijanjikan-Nya. Pada mujahid dan mujahidah yang

ikhlas berjuang kerana-Nya. Sungguh nikmat rasanya, saat perjuangan tidak pernah

terdistorsi dengan kenikmatan dunia. Tidak terkotori oleh nafsu-nafsu kotor manusia.

Nafsu sesat yang membuat luntur ghiroh perjuangan. Nafsu untuk mendapatkan materi,

nafsu yang membuat manusia terlena karena kenikmatan dunia. Apalagi nafsu untuk

menunjukkan jati diri, pada sang kekasih. Wanita yang dia damba. Bukan kekasih Ilahi,

kekasih yang haq, diatas sana. Diatas segala-galanya. Diatas Arsy yang agung dan mulia.

Sungguh aku menginginkannya. Menginginkan bertemu maha agung diatas Arsy. Allah

swt.

Tetap aku melangkah dalam setiap terik yang menyengat tubuh, menyengat

semua energiku. Tetapi tidak menyerap semangatku. Insya Allah. Setiap langkah, aku

selalu melihat sebuah kejadian yang menyedihkan. Menyedihkan bagi dunia pendidikan

dan memalukan bagi dunia kemahasiswaan apalagi dalam tingkat keimanan. Ironis.

Disetiap jalanku beberapa terlihat dan terlintas mahasiswa-mahasiswi yang sedang asyik

dalam perbincangan. Mereka terlihat sumringah dengan kesanangan mereka. Lucu,

mereka terlihat sangat percaya diri dengan dandanan mereka. Dandanan yang seronok

mengumbar nafsu. Apalagi, terlihat mahasiswa yang memeluk wanita dengan mesra.

Mereka tidak malu. Entah fikiran apa yang ada dihati mereka. Mungkin mereka

terpengaruh dengan para artis-artis yang sukanya cipika-cipiku (red’cium pipi kiri-cium

pipi kanan). Atau mungkin mereka berfikir itu sebuah kemodern. Entahlah, mereka hanya

terlihat lucu saja. Kasihan.

“FAKULTAS EKONOMI” tulisan itu yang tertera besar dihadapanku kini. Aku

langsung saja masuk kelas A. Tak terlalu jauh memang.

“Siang, semuanya!” salamku sambil memasuki kelas.

“Tuh, dia sudah datang!” ucap Hendra sambil menunjukku, terlihat lega.

“Wah lama banget, Lid!” gerutu Hendra.

“Iya, maaf-maaf. Tadi lama! Setelah bimbingan. Aku langsung sholat dhuhur dulu.

Setelah itu, langsung kemari.” Jelasku kepada mereka

Hendra mengangguk, mengerti. Nova hanya tersenyum. Setelah itu Nova

langsung memperkenalkan teman-teman UK3nya.

 “Lid, kenalkan. Ini Rani” Nova menunjuk gadis berkacamata, berkulit putih dan berwajah

oval. Setelah itu Nova memperkenalkan temannya yang lain “ini, Dewi.” Seorang gadis

yang berkulit sawo matang. Berambut panjang berwajah seperti orang indo. Matanya

biru.

“Khalid” ucapku sambil tersenyum dan merapatkan kedua telapak tanganku kearah

dadaku.

“Ok, sekarang langsung aja Lid! Aku pengen bertanya. Lid, aku penasaran dengan Islam.

Sebenarnya Islam agama yang bagaimana sich?” ucapnya

Aku bagaikan seorang Ustad yang dikeliling oleh para jamaah. Tetapi model

pertanyaan Nova bagaikan aku sebagai terdakwa. Ini kesampatanku untuk mengatakan

kebenaran Islam, untuk menyampaikan agama yang haq ini. Aku tidak boleh gentar

dengan mereka. Ucapku lirih dalam hati.

“Baik. Islam! Adalah berarti selamat. Dalam kata lain juga Islam bisa diartikan sebuah

kedamaian. Atau penafsiran yang lain, bahwa Islam itulah yang membawa kesalamatan”

kataku santai.

“Lid, tentang selamat itu sendiri. Konsepnya dalam Islam seperti apa?” tanya Nova.

“Konsep keselamatan dalam Islam itu adalah pasrah dan taqwah! Tetapi harus dibedakan

tentang arti pasrah itu sendiri. Pasrah dalam Islam, bukan berarti hanya diam menunggu.

Tetapi konsep pasrah dalam Islam adalah, melakukan sebuah perbuatan kebaikan dalam

dirinya sehingga tercapai kebaikan untuk alam ini. Seperti apa yang disebutkan dalam Al

Qur’an bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik dari umat-umat yang lain. Dari

perbuatan kebaikan itulah yang akan menjadikan ketakwaan bagi diri. Seperti halnya

berbuat adil. Dalam Islam perbuatan adil adalah sebuah perbuatan yang sangat baik.

Karena adil termasuk mendekati ketakwaan.” Aku menghela nafas. “Sebentar! Untuk

lebih fokus. Lebih baik sebuah pertanyaan-pertanyaan itu adalah ajaran-ajaran Islam yang

kalian tidak mengerti. Jangan terpatok pada konsep keselamatan. Karena pada dasarnya

konsep keselamatan dalam Islam itu, sulit diterima dimata orang yang tidak mengerti

tentang Islam. Tetapi manakalah konsep itu dijalankan, maka akan terjadi gejolak-gejolak

jiwa untuk terus melakukannya. Dan dijamin tidak akan ada keraguannya.” Selaku.

“Iya, sebaiknya seperti itu!” ucap Hendra.

“Baik, Lid! Aku mau tanya tentang pernikahan. Atau dalam hal ini, dibolehkannya pria

berpoligami? Dan kenapa wanita tidak boleh berpoliandri?” tanya Dewi.

Aku tersenyum, karena memang inilah yang sering dipertanyakan oleh orang-orang kafir

dan umat Islam yang ragu dengan keIslamannya.

“Dalam Al Qur’ann surat Ash-Shaff: 6. ‘Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata:

"Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab



(yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya)

seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)….’

Surat ini menunjukkan tentang dibolehkannya poligami pada orang-orang Nasrani. Dan

itu ada dalam Al Qur’an bukan dalam Injil.

Lalu surat Al Qur’an An-Nisa: 3 ‘Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku

adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka

kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika

kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budakbudak

yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat

aniaya.’ Ini adalah sebagian besar dalil atau penguat dalam ajaran Islam untuk

berpoligami.

Hikmah dari poligami sangat banyak. Kita sudah mendengar bahwa wanita

dijaman sekarang sangat banyak. Karena banyaknya wanita, hingga saat ini pun aku

sekarang dikelilingi oleh tiga wanita” candaku. Dewi dan Rani terlihat tersenyum sinis.

Kalau Hendra hanya tersenyum tanpa maksud. Nova, tidak menunjukkan senyumnya

sama sekali. Dia terlihat menunggu penjelasanku kembali.

Setelah itu aku meneruskan penjelasanku. “sesungguhnya, poligami merupakan

kebutuhan bagi pria. Bukan berarti, hanya karena nafsu syahwat pria lebih besar. Tetapi

lebih didasari oleh sebuah hal yang sakral atau suci. Dan ini membuktikan kebenaran Al

Qur’an. Bahwa dimasa yang akan datang, jumlah wanita lebih banyak dari jumlah pria.

Bahkan ada sebuah hadits yang menyatakan bahwan disuatu masa nanti para lelaki akan

dikelilingi oleh 40 wanita. Sebagai istrinya. Dan sekarangpun telah terjadi. Adanya

poligami membuat sebuah perlindungan untuk wanita, agar tidak terkena fitnah dunia.

Apalagi berzina. Perbuatan yang sangat dilaknat oleh Allah. Jikalau ada seorang wanita

yang tidak punya harta dan saudara, lalu kita membantunya. Meskipun melewati istri

kita. Pasti masyarakat akan berfikiran buruk terhadap wanita itu. Andaikata seorang

wanita yang tidak punya apa-apa dan siapa-siapa. Apakah kita akan membiarkan terlunta,

dengan ketidakpastian bantuan kita? Ataukah akan kita menolong dengan menikahinya!

Dan memuliakannya seperti wanita-wanita yang dimuliakan dengan jalan dinikahi.

Sungguh sebuah hal yang harus kita fikirkan dengan akal. Bukan dengan emosi dan

keegoisan kita sendiri. Kalaulah memang tidak ingin berpoligami, maka janganlah kita

mengecam poligami yang pada dasarnya itu memang benar. Bahkan benar menurut akal.”

“Tapi, dalam Al Qur’an tadi. Manusia diharuskan berlaku adil. Apakah manusia bisa

berlaku adil?” tanya Dewi lagi.

Dalam Al Qur’an. Pun disebut ‘Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di

antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu

janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan

yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri

(dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

(QS Annisa 123).’ Yang dimaksud adil dalam Al Qur’an adalah. Mewajibkan keadilan

dalam perkataan dan perbuatan. Manakalah dia lebih condong kepada suatu ucapan

ataupun perbuatan, maka itulah yang dikatakan ketidakadilan. Adapun adil dalam

percintaan, seorang manapun tidak akan pernah bisa berbuat adil. Seperti apa yang

menjadi doa Rasulullah Muhammad Saw. ‘Allahumma hadzaa fasmii fiimaa amliku falaa

talumnii fiimaa tamliku walaa amlik’ yang artinya. ‘yaa Allah, inilah pembagianku pada

apa yang aku miliki. Maka janganlah Engkau mencelaku pada apa yang Engkau miliki,

sedangkan aku tidak memiliki.’ Dalam doa Rasulullah ini sangat jelas, bahwa manusia

tidak dapat berlaku adil tentang cinta. Karena cinta merupakan sebuah rasa, yang hanya

Allahlah bisa berlaku adil, bukan manusia. Mahluk yang memiliki keterbatasan. Maka

syarat untuk berpoligami adalah keadilan dalam perkataan dan perbuatan. Bukan keadilan

dalam perkara yang terdapat dalam hati manusia! Bagaimana!” ucapku. Mereka berempat

terlihat diam. Setelah itu aku teruskan penjelasanku lagi “maka janganlah, kita

menganggap bahwa orang yang berpoligami itu rendah. Karena sebenarnya, orang yang

berpoligami dengan diiringi oleh pemahaman akhidahnya. Maka sesungguhnya mereka

adalah orang-orang yang mulia! Karena poligami adalah tindakan mulia. Tindakan untuk

menyelamatkan wanita. Tindakan untuk memuliakan wanita. Maka seharusnya wanita

yang mulia. Siap untuk memuliakan wanita lainnya. Dengan jalan memperbolehkan

suaminya untuk bertindak mulia. Berpoligami.” Setelah itu aku tersenyum.

“Kalau begitu, lebih baik konsep pernikahan umat Kristen. Yang mereka, tidak ada

poligaminya. Dan sehidup semati!” seloroh Rani.

Aku tersenyum, ternyata banyak umat kristen yang tertipu dengan injilnya sendiri.

ucapku dalam hati. “bukan seperti itu, coba kamu buka Ulangan 24:3” serta mertapun

mereka mengambil injil yang berada di tas masing-masing. Setelah itu aku langsung saja

mengatakan “(Ulangan 24) ‘24:3 dan jika laki-laki yang kemudian ini tidak cinta lagi

kepadanya, lalu menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu serta

menyuruh dia pergi dari rumahnya, atau jika laki-laki yang kemudian mengambil dia

menjadi isterinya itu mati, 24:4 maka suaminya yang pertama, yang telah menyuruh dia

pergi itu, tidak boleh mengambil dia kembali menjadi isterinya, setelah perempuan itu

dicemari; sebab hal itu adalah kekejian di hadapan TUHAN. Janganlah engkau

mendatangkan dosa atas negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi

milik pusakamu.’ Juga kalian buka perjanjian baru Matius pasal 5. yang berbunyi ‘5:31

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai

kepadanya. 5:32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya

kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan

perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah’ disitu diterangkan bahwa seorang wanita

yang diceraikan. Maka haram untuk dinikahi kembali. Dan ini merupakan sebuah

penghinaan terbesar bagi seorang wanita. Manakalah seorang laki-laki yang sukanya

menganiaya istrinya. Dan istrinya memint cerai. Maka dalam hukum injil. Wanita itu

najis untuk dinikahi. Masih banyak pasal-pasal dalam injil yang membahas itu.

membahas kenajisan seorang wanita yang telah diceraikan.

Tetapi dalam Islam. Tidak! Seorang wanita tidaklah najis atau haram untuk

dinikahi manakalah sudah diceraikan. Meskipun dalam Islam cerai dibolehkan tetapi

cerai merupakan perbuatan yang halal tetapi sangat dibenci oleh Allah! Oh iya aku lupa.

Masalah tentang poliandri. Kenapa wanita tidak boleh menikah dengan pria lebih dari



satu kali. Mungkin jawabnya sangat mudah sekali. Apakah seorang wanita mampu

memberikan anak yang pasti pada masing-masing suaminya. Karena mengingat sperma

yang dihasilkan itukan terkumpul menjadi satu. Jadi kasihan tuh, anaknya! Bingung siapa

bapaknya! Karena pada saat berpoligami suami pasti tahu, itu adalah anaknya. Nah, kalau

poliandri apakah seorang istri tahu, siapa yang jadi bapak anaknya nanti?”

Seketika itu, mereka tertawa. Entah itu masuk dihati mereka, atau hanya dianggap

sebuah kebercandaa. Wallahualam.

“Tapi, Lid. Banyak orang yang berpoligami. Tapi akhirnya ya, istri-istrinya minta cerai.

Atau si suami tidak adil. Biasanya lebih condong ke istri mudanya!” tanya Hendra.

“Iya, Hen. Itulah yang terjadi sekarang. Karena mereka belum tahu ilmu tentang

berpoligami. Tetapi mereka memaksakan diri mereka sendiri. Jadi, karena kita sudah

mengetahui ilmu poligami. Maka kita tidak akan menentang poligami, bukan! Tetapi kita

harus menentang orang-orang yang menyimpang dari ajaran-ajaran berpoligami itu

sendiri.” jawabku lugas.

Hendra hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanda setuju.

“Apakah, nanti kamu juga akan berpoligami, Lid?” tanya Nova dengan nada datar. Serasa

menyimpan sesuatu dalam kalbunya.

Aku tersenyum, “yach, lihat nanti. Apakah istri pertamaku mengijinkan apa tidak!

Kalaulah aku tidak di ijinkan oleh istri pertamaku, untuk menikah lagi. Aku akan setia,

menunggu untuk diijinkan menikah lagi.” jawabku.

“Yee sama aja. Berarti kamu nggak setia sama istri” ucap Rani.

“Eee… begini Ran. Sebuah kesetian adalah kata abstrak dalam kehidupan. Setia pun

relatif untuk diucapkan. Dalam Islam kesetian itu adalah keistiqomahan. Berbanggalah

seorang istri manakalah, suaminya istiqomah atau setia dalam agamanya. Termasuk

dalam poligami. Karena seorang yang istiqomah dalam agama Islam. Dia termasuk

orang-orang yang tidak akan menyakiti istrinya. Bahkan menikah lagi, seharusnya

menjadi sebuah kebanggan tersendiri bagi istri. Karena, dalam sebuah hadits. Dinyatakan

bahwa Rasulullah Muhammad Saw. akan berbangga pada kita yang mempunyai istri

lebih dari satu dan mempunyai anak banyak. Jadi kesetian bukan pada mahluk Allah.

Tetapi kesetian harus pada aturan Allah. Dan Allah sendiri.” jelasku.

“hehe.. wah nggak ada tema lain yach selain pernikahan!” selaku.

Semua tersenyum,

“Tema pernikahan itukan, lebih digemari” ucap Nova, sambil tersenyum simpul. Entah

apa maksud yang terkandung dalam hatinya. “Lid, kalau wanita dalam Islam wajib nggak

pake jilbab? Lalu kenapa harus pake’ jilbab? Kan nggak bisa ngetren and nggak bisa

bebas! Kesannya kok dipaksakan, gitu.” Tanya Nova.

“Wajib! Kenapa harus pake jilbab? kesannya nggak bebas! Hem…. Begini Nov. Aku

jelaskan semuanya biar tahu. Jilbab banyak namanya. Seperti Hijab, Burqo, lalu abaya

atau dalam kata kita kebaya. Lalu ada juga khimar, kalau khimar ini bukan jilbab. Tetapi,

sebuah penutup kepala yang biasanya digunakan oleh orang nasrani dan yahudi. Khimar

tidak menutupi aurat, tetapi hanya menutupi kepala! Sedangkan Jilbab, Hijab, Burqo,

abaya atau kebaya. Adalah sebuah penutup aurat yang sangat sempurna, untuk menjaga

para mata-mata jahil yang ingin menikmati tubuh wanita. Namun sayang, jilbab dan

abaya atau kebaya, akhirnya terdistorsi menjadi pakaian yang tidak menurut syari’at.

Atau pakaian syar’i. Sekarang lebih banyak perempuan yang memaknai jilbab, abaya

atau kebaya yang sama dengan khimar.

Jilbab merupakan pakaian yang membebaskan para wanita dalam jeratan fitnah

dunia. Sungguh, jilbab merupakan sebuah pemuliaan terhadap wanita. Pemuliaan pada

tubuh-tubuh wanita yang sangat indah nan sempurna. Tidak ada pengecualian. Tidaklah

seorang yang mulia itu, memperlihatkan kemuliaannya pada yang bukan tempatnya.

Apalagi, dengan berjilbab seorang wanita tidak akan terpenjara mengikuti trend-trend

pakaian yang setiap tahun pasti berubah. Dengan berjilbab, seorang wanita akan terbebas

dari kehidupan glamour. Dan orang yang berjilbab tidak akan pusing-pusing mikirin

bajunya menurut trend apa tidak. Tetapi mereka akan lebih condong memikirkan apa

yang akan dia perbuat, dari keistiqomahan kepada Tuhannya. Sehingga dengan bebas,

wanita berjilbab dapat berbuat amal dengan ketenangan jiwanya. Dan Jilbab adalah

pakaian trendy, sejak jaman Rasulullah sampai akhirnya jaman nanti. Karena terbukti,

saat kemunculan Islam. Jilbab tidaklah pernah dipakai oleh wanita Arab. Dan pada

jaman-jaman sebelumnya pula, wanita-wanita hanya dijadikan sasaran nafsu syahwat

para lelaki. Dengan begitu, akhirnya Islam membebaskan wanita dari jeratan nafsu

syahwat lelaki. Subhanallah. Tetapi sekarang, wanita-wanita yang tidak berjilbab.

Mereka hanya menjadi objek pemandangan yang indah bagi para lelaki. Hanya untuk

nafsu syahwat lelaki. Masya Allah.

Kalaulah ada seorang yang mengatakan bahwa jilbab adalah pakaian wanita Arab.

Atau jilbab merupakan pakaian kondisional di Arab. Karena daerahnya yang panas!

Maka secara tegas, pernyataan itu langsung ditolak oleh wanita-wanita yang ada di

negara ini. Karena menurut mereka, bahwa didaerah tropis kita yang cenderung berhawa

panas, mataharipun yang kadang tidak sungkan-sungkan bersinar terik. Lalu, wanitawanita

negara ini sering berpendapat “apa nggak kepanasan tuh, kalau berjilbab!” inilah

yang sering dinyatakan oleh wanita-wanita negara ini. Dengan pernyataan seperti itu,

maka panas bukan berarti menghambat wanita untuk berjilbab. Karena di Arab, panas

terik matahari lebihi panas dari negara kita ini.

Maka dari itu, janganlah kita menganggap bahwa jilbab adalah sebuah pemaksaan

pakaian terhadap wanita. Tetapi seharusnya lebih diartikan bahwa jilbab adalah

kebutuhan bagi wanita. Karena jilbab adalah pembebasan bagi wanita. Mungkin jilbab

akan jadi kewajiban bagi seorang muslimah yang tidak begitu mengerti tentang agama

Islam. Seperti layaknya bayi, yang wajib untuk kita suapi meskipun mereka menangis

tidak mau makan. Karena itu untuk kebaikan mereka sendiri. Dan jilbab akan menjadi

kebutuhan bagi wanita, manakalah seorang wanita sudah mengerti tentang arti jilbab bagi

dirinya sendiri. Seperti layaknya orang dewasa yang tidak diwajibkan untuk makan,

tetapi dengan sendirinya mereka membutuhkan makanan tersebut.” Jelasku dengan

panjang lebar, dan tegas.

Mereka semua mengangguk, entah tanda mengerti atau setuju. Wallahualam.

“Oh ya Khalid, aku ingin bertanya!” sela Hendra.

“Apa, Hen?”

“Mungkin ini rumor atau entah apalah namanya! Aku sering mendengar, bahwa orangorang

yang dijuluki Ikhan apa Akhan entah apa namanya!”

“Ikhwan!” potongku.

“Iya, itu! Katanya sich lebih sering bergaul dengan sesame Ikhwan. Dan mereka nggak

mau bergabung dengan yang lainnya! Kesannya eksklusif banget gitu loh.” Ujar Hendra

terlihat memikirkan sesuatu.

“Iya benar, kayak yang cewek-cewek jilbaber itu juga gitu!” sela Rani.

“Hem, iya. Aku sering mendengar seperti itu! Kadang seseorang itu merasa enjoy atau

senang jika mereka mempunyai kelompok sendiri! Kelompok yang dapat mengerti apa

yang kita inginkan. Nah mungkin disitu kesimpulan dasar! Tetapi memang, kita tidak

boleh menafikkan kebutuhan bersosialisasi dengan yang masyarakat. Hanya kadang,

banyak para ikhwan dan akhwat yang canggung jika berkumpul dengan selain mereka.

Kesannya seperti mereka itu orang aneh. Seperti juga kalau kalian barada pada kumpulan

Ikhwan atau Akhwat! “ Candaku.

Mereka semua tersenyum setuju.

“Jadi, kalaulah kita tidak saling menganggap aneh. Dan mau menerima seseorang itu apa

adanya. Tidak mengkritik sesuatu hal yang memang nyata-nyata itu benar. Tidak saling

menghujat meskipun melihat sebuah kesalahan. Tetapi saling menyayangi dan

menyadarkan manakalah kita bersama-sama! Pasti tidak ada anggapan seperti. Tapi,

banyak juga kok Ikhwan atau Akhwat yang mereka juga senang bergaul dengan selain

golongan mereka. Ya bisa diambil contoh, aku” ucapku sambil tersenyum.

“Wah, sudah masuk waktu ashar nich. Ok, mungkin segitu aja. Insya Allah kalau

memang ada yang perlu ditanyakan lagi, bisa lain waktu.” Kataku sambil melihat

arlojiku.

Mereka mengangguk setuju.

 “Baik, semoga apa yang kita dapatkan menjadi sebuah pintu hidayah bagi kita. Untuk

dapat menemukan sang Maha haq. Maha pemilik kebenaran. Dan menjadi orang-orang

yang benar. Amien.”

Entah apa yang dilakukan Nova, layaknya dia mengucapkan “Amien.” lirih dimulutnya.

Seakan khusyuk, meminta sebuah kebenaran. Meminta apa yang terlihat dimatanya.

Entah sebuah kebenaran, atau sebuah kebimbangan. Semoga saja kebenaran.

“Ok, aku duluan.” Salamku ke mereka.

Lega sudah, pertemuanku dengan mereka. Ternyata mereka memang benar-benar

ingin belajar tentang Islam. tidak ada perdebatan yang sengit dalam pertemuan dua

pemeluk agama yang sangat bertolak belakang. Sungguh besar rahmat Allah, yang telah

menjadikan aku dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan teman-temanku yang non

Muslim. Kini langkahku menuju sebuah peraduan yang damai. Menuju rumah yang

nyaman. Menuju keindahan dalam balutan dan buaian sayang Maha Pengasih lagi Maha

Penyayang.



JILID 6

Sebuah kenikmatan yang teramat dalam. Saat sebuah kebutuhan telah aku

laksanakan. Layaknya kenyang, saat orang-orang menelan makanan-makanannya.

Bahkan layaknya tidak akan pernah kenyang. Bagaikan seorang yang memakan-makanan

yang lezat. Tetapi kenikmatanku bukan karena kekenyangan makanan, atau bahkan tidak

menikmati kekenyangan lezatnya makanan-makanan dunia. Tidak, bukan itu semua.

Yang aku nikmati adalah sebuah rasa kenyang dalam ruh, jiwa ini. Yang membuatkan

tidak kenyang adalah lezatnya dalam menyembah, bersimpuh. Pada sang Maha pencipta

kelezatan. Sungguh nikmat.

Aku masih duduk bersila. Menikmati dzikir-dzikirku yang terasa bagai sebuah

candu. Benar-benar sebuah candu. Memang ada benarnya apa yang dikatakan Karl Marx.

Kalaulah Karl Marx, menyatakan agama adalah candu. Maka sesungguhnya Karl Marx

lupa, atau mungkin bahkan Karl Marx tidak tahu. Candu yang diberikan dalam

kenikmatan beragama, merupakan esensi dari kehidupan. Candu yang tidak

memabukkan. Candu yang membuat orang akan terus ingat, tentang perbuatan

keburukannya. Candu yang membuat orang akan terus melakukan perbaikan dalam

dirinya. Candu yang membuat manusia-manusia terlena akan buaian kasih sayang-Nya.

Buaian yang akan membuat manusia ingat, akan ada hari pembalasan bagi

perbuatanannya. Yang membuat manusia, menjadi lebih sempurna. Karena rasa

keimananannya terhadap Tuhannya. Bukan seperti Karl Marx. Yang tidak bertuhan.

Senja memerah, matahari sudah semakin condong kebarat. Menandakan

pergantian masa dan waktu. Saat lama aku berdzikir. Entah apa yang terjadi dalam diriku.

Sebuah hal yang mengingatkanku terhadap janjiku. Janji untuk kembali melihat si dekil

yang berada dipersimpangan lampu merah. Aku melupakannya. Aku lupa akan mengajak

dia untuk ikut dalam kajian teman-teman seprofesinya. Aku harus kembali, dan mengajak

dia. Sebelum dia dihancurkan akhidahnya, oleh para missionaris.

Bergegas dengan cepat, aku langsung bangkit dari dzikir pribadiku. Aku harus

dapat membuat dzikir umum. Yang bisa membuat kemashalatan bagi seluruh alam. Dapat

mengentaskan kekeringan ruhiyah pada setiap mahluk di bumi Allah ini. Langkahku

tegap, cepat. Menuju lokasi si dekil itu.

Lalu-lalang mobil dan motor seakan tidak akan pernah henti. Di perempatan

lampu merah, aku mencari sesosok tubuh dekil. Tubuh, yang dihiasi oleh kotoran-kotoran

dunia. Tetapi, tetap berselimutkan kesucian. Kesucian anak yang tak tahu akan dosa.

Yang mereka tahu, hanya ingin memuaskan rasa perutnya untuk dapat hidup lebih lama

lagi. Mataku terus mencari. Mencari sosok yang membuat hatiku pedih. Sosok anak yang

membuatku harus kembali. Kembali untuk memberikan kasih dan sayang.

Lama sudah aku mencari sosok sidekil. Tetapi masih nihil. Tidak dapat aku

temukan. Kakiku melangkah menuju warteg yang berada tak jauh dari perempatan lampu

merah. Bermaksud untuk menanyakan keberadaan sidekil.

 “Pak, permisih!” sapaku pada pemilik warteg

“Iya, ada apa dek?” jawabnya

“Bapak tahu anak kecil yang sering berada di lampu merah itu!” tanyaku sambil

menunjukan jariku kearah lampu merah.

“Oh, Ujang maksud mas yach!” jawab pemilik warteg

“Iya, pak!” jawabku sekenanya, karena aku sendiri belum tahu namanya. “lalu sekarang

Ujang kemana Pak?” ucapku lanjut.

“Ujang sudah nggak disini lagi mas!” jawabnya pemilik warteg singkat.

“Hem, lalu dimana Ujang sekarang Pak?” sergahku

“Ujang kecelakaan, ditabrak mobil! Biasa Mas, tabrak lari” jawabnya pemilik warteg

dengan enteng.

Seketika itu pun jantungku berdetak keras. Entah kenapa, aku benar-benar khawatir

dengan kondisi Ujang.

“Apa Ujang di rumah sakit?” tanyaku.

“Nggak mas, setelah tertabrak Ujang langsung mati mas! Mas apanya Ujang?”

Bagaikan sebuah cambuk yang mendera ditubuh ini. sekujur tubuhku merasakan rasa

sakit yang teramat. “Saya bukan siapa-siapanya Ujang pak! Kalau gitu permisi dulu pak!”

Pemilik warung itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

Langkah kakiku begitu berat, seraya aral menggelayuti tubuhku. Aku tak kuasa, aku telah

terlambat. Terlambat untuk menolong Ujang. Terlambat untuk menapak pahala yang ada

didepan mata. Terlambat dari segala-galanya. Aku adalah orang terbodoh, aku adalah

orang yang terkejam. Aku adalah orang yang dholim. Anak kecil yang butuh bantuan,

uluran tangan, kasih-sayang tidak dapat aku berikan. Kini ia sudah berada di akhirat.

Menanti surga yang dijanjikan sang penguasa alam. Surga bagi Si suci yang tak tahu

akan dosa. Lamunanku tersentak saat didapanku sosok alim yang aku segani sedang

memandangiku. Terlihat sangat khawatir. Ustad Fadlan.

“Assalamualiakum!” salam Ustad Fadlan. Saat mendekatiku.

“Walaikumsalam” jawabku sambil menyalami tangan Ustad Fadlan.

 “Khalid, antum kenapa! Ana lihat antum berjalan dengan perasaan yang bimbang.

Bahkan dengan tatapan yang menerawang tak tentu apa yang antum lihat! Apakah antum

ada masalah” sergah ustad Fadlan langsung.

“Nggak ada apa-apa kok Ustad! Ana cuma sedih, karena tidak dapat menolong mahluk

Allah.” jawabku. “Eh.. ngomong-ngomong Ustad dari mana?” tanyaku langsung.

“Oh… ana baru dari ngisi kajian dimasjid kampus! Iya, ana sebenarnya ada perlu sama

antum. Ayo antum ikut kerumah sebentar, ada yang perlu ana bicarakan sama antum!

Jelas ustad Fadlan.

Aku hanya mengangguk, sambil menaiki SupraX yang dikendarai Ustad Fadlan.

Motor melaju dikeramaian jalan yang dipenuhi manusia yang mempunyai hajat mereka

masing-masing.

***

“Khalid, ceritakan apa yang membuat antum sedih!” pinta Ustad Fadlan.

“Ustad, saat ana sedang berjalan kerumah antum untuk Liqo’! Ana melihat seorang anak

kecil yang sedang mengais rezeki di perempatan lampu merah. Ana ingin mengajak dia

masuk kerumah singgah, dan ingin memberikan perhatian kepada dia untuk bisa menjadi

anak yang sholeh. Karena saat itu ana sedang terburu-buru. Akhirnya ana menunda,

untuk mengajak dia kerumah singgah. Akhirnya tadi setelah sholat Ashar, ana berencana

ingin bertemu dia. Tetapi saat ana cari, anak itu tidak ada. Akhirnya ana tanya seorang

pemilik warung. Dan ternyata nama anak itu adalah Ujang. Tetapi sayang, ana

terlambat!”

“Maksud antum terlambat kenapa?” tanya ustad Fadlan

“Anak itu telah meninggal. Dia korban tabrak lari! Ana sedih karena terlambat menolong

anak itu.” Jawabku menyesal.

Ustad Fadlan tersenyum, lalu mengatakan “Khalid, semua itu adalah takdir. Antum

terlambat menolong anak itu, bukan berarti antum terlambat. Tetapi memang itu sudah

ditakdirkan oleh Allah. Meskipun antum mengajak anak itu kerumah singgah, tetapi

kalau takdirnya meninggal. Pasti meninggal. Jadi, antum tidak usah terlalu sedih.

Cukuplah antum mendoakan anak itu. Dan jangan lupa, anak yang belum baliqh. Adalah

anak yang masih suci dari pandangan Allah. Maka anak itu, sudah ditunggu oleh

surganya Allah.” Jelas ustad Fadlan.

Memang taujih ustad Fadlan, membuatku menjadi lebih tenang.

“Khalid, ana mau membicarakan sesuatu hal!” sergah ustad Fadlan. Saat aku sedang

merenungi apa yang diucapkan ustad Fadlan.

 “Apa itu, ustad?” tanyaku penasaran.

“Khalid, antum sekarang sudah hampir menyelesaikan skripsi. Sebentar lagi antum akan

menyelesaikan kuliah. Khalid, ana ada sebuah permintaan! Entah, antum bisa

menerimanya apa tidak! Ana sangat percaya dengan antum, makanya ana ingin meminta

sesuatu kepada antum!” ustad Fadlan memberhentikan perkataannya. Terlihat raut

wajahnya gusar, entah kegusaran apa yang melanda pada diri ustad Fadlan.

“Ustad, seandainya ana bisa menolong antum. Maka ana akan merasa sangat bangga

sekali! Apa yang bisa ana bantu ustad!” Ucapku mantap.

Ustad Fadlan menghirup nafas dalam-dalam, lalu mengatakan “Khalid, ana punya

keponakan perempuan. Ana diserahi orang tuanya untuk memilihkan seorang pemuda

yang bertanggung jawab, untuk menikah dengan keponakan ana ini! Khalid, apakah

antum bersedia menikah dengan keponakan ana?”

Entah apa yang terjadi pada diriku. Aku terdiam. Bagaikan sebuah beban berat mendarat

pada diriku. Beban yang aku sendiri tidak kuat untuk memikulnya. Aku termenung. Aku

tidak dapat menolak permintaan seorang yang telah membimbingku. Seorang yang selalu

menjadi orang tuaku. Tapi apakah aku mampu, menikahi seorang wanita yang dilahirkan

dari nasab orang-orang yang istqomah. Nasab orang-orang yang telah berjuang untuk

selalu menyebarkan dakwah Islam ini.

“Khalid, ada apa? Apakah antum tidak berkenan?” tanya ustad Fadlan, cemas.

Aku tergagap mendengar ustad Fadlan bertanya seperti itu. Bagaimana aku menolak

permintaan manusia berwibawa seperti ustad Fadlan. Pastilah permintaan dan keputusan

ustad Fadlan memilihku bukan main-main. Pasti dengan pertimbangan yang sangat

matang sekali. Karena ini menyangkut masa depan seseorang. Tetapi apakah aku mampu.

“Bukan begitu Ustad!” jawabku

“Lalu kenapa? Apakah antum sudah dijodohkan!” sela ustad Fadlan.

“Tidak, Ustad! Ana belum dijodohkan. Maksud ana bagini Ustad. Apakah ana pantas

menikahi seorang akhwat yang antum pilihkan itu, Ustad” Jawabku pelan

Ustad Fadlan tersenyum, lalu mengatakan “Khalid, ana memilih antum dengan

pertimbangan-pertimbangan yang sangat matang.”

“Tapi, Ustad. Ana belum bekerja. Bagaimana ana akan menghidupi istri ana nanti?”

sergahku.

Ustad Fadlan tersenyum kembali, sambil mengatakan “Khalid, rezeki dan jodoh Allah

yang mengatur. Janganlah kita khawatir dengan semua itu. Pasti dengan menikah rezeki

akan datang dengan sendirinya. Itu janji Rasulullah. Kalaulah antum belum punya

kerjaan. Nanti kita pikirkan. Yang terpenting, apakah antum bersedia apa tidak?” ucap

ustad Fadlan tegas.

“Ustad, kalaulah ustad sudah memandang ana pantas menikah. Dan akhwat yang antum

pilihkan itu adalah yang terbaik buat ana. Ana, bersedia ustad!” ucapku lirih.

“Alhamdulillah.. baik kalau gitu kita atur besok.” Ustad Fadlan terlihat sangat senang.

“Ustad. Kalau boleh tahu, siapa nama akhwatnya?” tanyaku

“Namanya, Zahra! Insya Allah antum tidak akan kecewa!” ucap ustad Fadlan tegas

sambil tersenyum.



JILID 7

Dikamar, aku memikirkan apa yang telah aku ucapkan. Entah aku begitu bimbang

dengan perkataanku. Atau mungkin aku terlalu terburu-buru menjawabnya. Aku

seharusnya meminta waktu untuk memikirkannya. Aku tak tahu harus berbuat apa.

Kebimbangan menggelayuti diriku. Pikiranku melayang, entah apa yang aku pikirkan.

Seakan, bayang-bayang sekilas wajah-wajah wanita yang aku kenal berjalan bergantian.

Nova, wanita cantik itu berjalan sambil tersenyum padaku. Wajah indonya memukauku.

Sungguh kecantikan yang luar biasa dianugerahkan Allah pada gadis kafir itu. Ukhti

Farah, bagaikan seorang bidadari yang tersenyum anggun padaku. Wajahnya tertunduk,

malu. Sesekali matanya melirikku dan saat aku melihat matanya dia langsung

menunduduk. Benar-benar seorang bidadari. Sungguh wanita-wanita dambaan pria.

Tetapi mereka akan lepas dariku. Mereka tidak akan menjadi milikku. Dan aku tidak

boleh lagi memikirkan mereka. Memang benar kata teman-temanku kalau “Ikhwan juga

manusia, punya rasa cinta juga. Jangan samakan dengan Rasulullah.”

Pagi ini matahari bersinar cerah, secerah suasana yang telah dianugerahkan Allah

pada manusia. Tetapi aku masih tetap bimbang. Entah kegusaran apa yang melanda pada

sendi-sendi fikirku. Padahal aku akan mendapatkan seorang bidadari pilihan. Seorang

yang telah dipilih untuk pendamping hidupku. Dan yang memilihkan bukan orang

sembarangan. Beliau merupakan seorang yang aku segani. Karena kewibawaan beliau.

Sungguh aku tidak dapat menolak permintaan seorang yang benar-benar mulia.

Saat aku akan beranjak pergi. Suara dering telephone mengharuskan aku untuk

mengangkatnya.

“Hallo…!” sapaku

“Hallo… asssalamualaikum!” jawab si penelphone.

“Akhi Khalidnya ada?” tanya si penelephone

“Iya saya sendiri, ini siapa yach?” tanyaku penasaran. Penasaran karena baru dua kali aku

ditelephone seorang wanita pagi-pagi.

“Ini Farah!” jawab si penelphone.

Bagaikan sebuah petir menggelegar. Seorang akhwat yang aku kagumi menelephon aku.

Saat-saat aku akan menikah dengan seseorang akhwat yang aku tidak mengenalnya.

“Iya, ada apa Ukh?” tanyaku

“Gini Akh, ana butuh bantuan antum! Ana kan lagi ada acara ditempat kajian. Nah ana

butuh seorang ikhwan untuk mengisi kajian ditempat ikhwannya. Antum bisa nggak

Akh? Ana benar-benar meminta tolong sama antum akh? Soalnya ana nggak begitu kenal

banyak para ikhwan, selain antum!”

Entah siapa yang bisa menolak keinginan bidadari. Apalagi dia sangat berharap sekali.

“Kapan, Ukh?” tanyaku

“Nanti jam 8 pagi!” jawabnya

Seorang akhwat yang aku kagumi meminta tolong dengan berharap. Aku tidak dapat

menolaknya, tetapi aku juga tidak dapat mengingkari janjiku.

“Afwan, ukh. Ana tidak bisa menuruti rencana anti! Ana ada janji ukh” Jawabku singkat.

“Oh.. kalau gitu afwan yach Akh! Syukron atas waktunya. Assalamualaikum!” ucap

Farah, terdengar sangat kecewa.

“Walaikumsalam” jawabku. Sedih sekali menyakiti hati seorang yang aku kagumi.

Aku tutup gagang telphone. Dan berangkat pergi kerumah ustad Fadlan. Janji

untuk melihat seorang calon pendamping hidupku. Pendamping yang akan

mendampingiku dalam segala hal.

Dalam perjalanan menuju rumah ustad Fadlan untuk berta’aruf dengan seorang

akhwat yang akan dijadikan calon istriku. Aku naik angkot. Itung-itung biar nggak malu

karena bau keringat. Nggak lucu, kalau mau ta’aruf si akhwat bersin-bersin saat ngobrol

dengan aku. Karena mencium aroma minyak wangi alami. Tetapi, pikiranku terus

menarawang jauh. Menarawang dalam asa pikir yang tak terjangkau. Sungguh aku benarbenar

bingung. Bingung dengan kejadian semua ini. Aku menjadi takut, ragu dan juga

bimbang. Karena aku belum memberitahukan kabar yang sangat penting ini kepada

kedua orang tuaku. Mungkin kedua orang tuaku akan mengatakan

“Waduh, disekolahkan tinggi-tinggi kok yach nikah nggak bilang-bilang!” atau

“Khalid, nikah ya kok nggak minta restu orang tua!” atau malah yang lebih parah

“Nikah kok nggak bilang, sama orang tua. Apa sudah nggak butuh lagi sama orang tua!”

Aku benar-benar bingung.

Angkot melaju dalam kecepatan yang tak terlalu tinggi. Biasalah, angkot

perkotaan jalannya seperti kura-kura. Silih bargantinya penumpang juga seperti ikan asin

yang digoreng. Kalau sudah waktunya matang langsung diangkat biar nggak gosong.

Hem, emang apa hubungannya. Aku masih bimbang dalam perasaan yang tak menentu.

Perasaan yang membuatku akan menjadi ragu. Ragu dalam ketidaksadaran akan

pernikahan yang terlalu cepat. Bagiku. Tetapi aku memang mengharapkan untuk

menikah. Tetapi bukan pernikahan yang seperti ini. Terlihat dipaksakan sekali. Entahlah

perasaanku benar-benar berkecambuk.

“Mas, mau turun dimana?” ucap supir angkot mengagetkan lamunanku.

“Oh, mau turun di Jl. Teungku Umar pak!” jawabku sekenanya.

“Mas ini gimana, ya sudah kelewatan! Inikan sudah diterminal” kata supir angkot,

enteng.

“Waduh, sama juga bo’ong! Jalan… jalan deh” gumamku lirih.

Aku rogoh uang ribuan untuk bayar angkot. Setelah itu aku berjalan menuju

rumah Ustad Fadlan. Jarak rumah ustad Fadlan dengan terminal sekitar 1 km. Cukup

untuk memeras keringat. Berjalan dalam persimpangan gang-gang perumahan. Tak

jarang beberapa anak-anak kecil perumahan yang sedang terlihat bermain ayunan.

Mereka riang, gembira. Mereka benar-benar manusia suci, sebelum mengetahui

kekotoran dan kekejian dunia ini.

Rumah ustad Fadlan sudah terlihat. Tak seperti biasanya. Ada sebuah mobil sedan

parkir didepan rumah ustad Fadlan. Langkah demi langkah kakiku sangat berat. Bagaikan

berjalan dengan beban berat yang teramat sangat. Kakiku telah menapaki pekarangan

rumah ustad Fadlan. Tinggal selangkah lagi, aku sudah sampai didepan pintu. Kakiku

semakin berat, sungguh berat sekali. Akhirnya, setelah dengan perjuangan yang

melelahkan. Aku sudah berada didepan pintu rumah ustad Fadlan. Kini saatnya aku harus

berjuang kembali. Mengumpulkan sisa-sisa energiku, untuk bisa mengetuk pintu yang

sudah tepat berada didepanku.

“Tok…tok…tok! Assalamualaikum” entah tangan siapa itu, yang pasti bukan aku yang

menggerakkan tanganku. Nah lalu siapa?

“Walaikumsalam!” jawab seisi rumah.

“Deg….” Seketika jantungku bagaikan berhenti. Aku sudah ditunggu, sudah banyak

orang yang berada dirumah ustad Fadlan. Pasti mereka menantikan aku. Pikirku.

Seseorang membuka pintu.

“Khalid!” serta merta ustad Fadlan memelukku erat. Pelukan sebuah persaudaraan. Atau

mungkin layaknya pelukan seorang Bapak pada anaknya. “Ayo, masuk Khalid!” ucap

ustad Fadlan.

“Sebentar yach Khalid! Masih ada tamu, biasa pertemuan pengurus masjid perumahan”

kata Ustad Fadlan sambil mempersilahkan aku masuk ke bilik tengah.

“Iya, Ustad!” aku langsung memasuki ruangan bilik tengah.

Ruang yang biasanya dipakai oleh ustadzah Heni untuk mengisi kajian. Terlihat

deretan tengah terpampang tabir (kain pembatas) antara laki-laki dan wanita. Aku masuk

dalam ruang itu, sesuai dengan perintah ustad Fadlan.

Alhamdulillah, ternyata pikiranku salah! Aku benar-benar mengira kalau itu keluarga si

Akhwat. Hem.. pasti aku akan benar-benar kikuk kalau bertemu dengan si Akhwat

Sekarang. Gumamku sendiri

Tak seberapa lama ustad Fadlan datang dengan istrinya. Ustadzah Heni. Dengan cepat

ustadzah Heni langsung masuk pada ruangan tabir kedua.

“Gimana, ustad? Apa sudah selesai!” ucapku membuka percakapan.

“Alhamdulillah. Semuanya lancar!” jawab ustad Fadlan dengan senyum.

“Untuk ta’arufnya, jadi nggak ustad?” tanyaku penasaran.

“Ya pasti jadi, Akh! Nah akhwatnya kan sudah dari tadi diruang tabir kedua” Jawab

Ustad Fadlan.

Hatiku bagaikan diterjang gelombang pasang yang besar. Karena pastilah gumamku

didengar jelas si Akhwat. Entah, apakah aku masih siap menatap si Akhwat. Karena rasa

malu ku sudah teramat sangat.

“Oh!” kataku pasrah.

Ustad Fadlan hanya tersenyum.

“Assalamualaikum” terdengar ustadzah Heni, istri ustad Fadlan mengucap salam dari

balik tabir.

“Walaikumsalam” serempak aku dan ustad Fadlan menjawab salam.

“Gimana Bi, apa sudah bisa dimulai proses ta’arufnya” tanya ustadzah Heni pada ustad

Fadlan.

“Iya, bisa langsung dimulai!” ucap ustad Fadlan. “Silakan akh Khalid, untuk menanyakan

sesuatu hal yang ingin antum tanyakan” ucap lanjut ustad Fadlan, mempersilahkan.

Aku benar-benar kikuk. Entah malu, atau bahkan malu-maluin. Mulutku bagaikan

terkunci. Berat sekali untuk membuka sebuah percakapan. Apalagi bertanya tentang

sesuatu hal pada si Akhwat.

“Ehm…” ustad Fadlan memperingatkan aku untuk segera bertanya.

Tak seberapa lama langsung ustadzah Heni berkata “Abi, biarkan akh Khalid. Biasalah,

perjumpaan pertama sama-sama malu. Nanti juga kalau sudah jadi suami istri, pasti

sama-sama mau”

Ustad Fadlan langsung tertawa, sambil mengatakan “Umi, ada-ada saja!”

Aku hanya tersenyum malu. Entah, mungkin si Akhwat juga tersenyum malu dibalik

tabir.

“Assalamualaikum, Ukhti” salamku pada si Akhwat.

“Walaikumsalam” jawab si Akhwat dengan lembut.

Sejenak hatiku berdesir. Mendengar suara si Akhwat yang benar-benar lembut. Sungguh

kelembutan suara yang pernah aku dengar. Kelembutan suara yang membuat

bulukudukku merinding. Tetapi tetap, aku tidak boleh tertipu suaranya.

“Nama anti, ukhti Zahra?” tanyaku

“Iya!” jawabnya singkat

“Ukhti, sudah kerja apa masih kuliah” tanyaku.

“Ana, masih kuliah!” jawabnya singkat.

“Apa anti sudah siap, menikah dengan ana Ukh?” tanyaku lagi

“Ana, siap!” jawabnya. Lagi-lagi dengan singkat.

“Ana cuma mau mengingatkan anti. Kalau ana, belum kerja! Masih berstatus mahasiswa.

Dan keluarga ana tidak begitu kaya. Bisa digolongkan, dari golongan menengah

kebawah” kataku menakut-nakuti.

“Akhi, ana pengen menikah dengan antum bukan karena harta antum. Atau bahkan

jaminan antum! Kalaulah antum belum bekerja. Asal antum mau, pasti ada pekerjaan

buat antum! Ana cuma mengingatkan antum saja. Bahwa antum, tidak akan bisa

memberikan ana jaminan kepastian untuk bisa menghidupi ana! Kalaulah ana menikah

dengan antum, antum bukanlah penjamin hidup ana. Atau bahkan bisa memberikan

nafkah kepada ana! Allahlah yang menjamin rezeki tiap-tiap umatnya. Lalu kenapa kita

harus takut untuk melangkah dalam pernikahan, karena alasan soal rezeki atau nafkah.

Semua serahkan ke Allah. Kalau ana jadi istri antum, ana siap hidup menderita karena

harta. Tetapi berlimpah-limpah keimanan! Dan ingat akh, menikah juga termasuk salah

satu pintu rezeki!

Subhanallah ucapku lirih dalam hati. Yaa Allah, aku siap menikah sekarang juga, kalau

engkau memang memberikan bidadari ini padaku. Ucapannya lembut, tutur katanya

santun. Tidak menggurui. Tetapi tetap, dalam dihati. Sungguh bidadari yang turun

kebumi. Entah siapa dia. Pokoknya aku sudah tidak butuh lagi wajah cantiknya. Aku

tidak butuh lagi keindahan dan kemerduan suaranya. Asal wanita ini siap berjalan

denganku menuju Jannah Illahi. Aku akan menikahinya. Tetapi tetap, kalau bisa yang

cantik dan mempunyai kemerduan suara yang seperti ini.

“Akh Khalid! Antum kenapa melamun” suara ustad Fadlan mengagetkanku.

“Oh, tidak ada apa-apa ustad” jawabku sekananya. “Ukhti, apakah anti benar-benar siap

menikah dengan ana?” tanyaku.

“Ana siap, sesiap antum yang telah meluangkan waktu untuk hadir disini!” ucap si

akhwat serius.

Sebenarnya aku jadi malu sendiri. Karena sebenarnya aku sama sekali belum siap. Belum

siap untuk menikah secepatnya ini. Tetapi mungkin bukan belum siap, hanya kaget saja.

“Afwan ukhti, bukan maksud ana ingin menyinggung atau bahkan menyakiti perasaan

anti! Ana hanya ingin meminta sesuatu hal sebelum kita menikah”

“Apa itu akhi?” sela Akhwat terlihat dengan nada cemas.

“Seperti dalam sebuah hadist muslim yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, menuturkan

Aku berada di sisi Rasulullah, lalu seseorang datang kepada beliau untuk

memberitahukan bahwa dirinya ingin menikahi seorang wanita Anshar, maka Rasulullah

bertanya : ‘Apakah engkau telah melihatnya?’ Ia menjawab: ‘Belum.’ Rasulullah

bersabda: ‘Pergilah dan lihatlah dia; sebab di mata orang-orang Anshar ada sesuatu’

Maksud ana, bahwa sebenarnya saat kita akan menikahi seseorang. Maka kita

diperbolehkan untuk melihat orang yang akan kita nikahi! Apakah ana boleh melihat

anti” Jelasku

Entah kenapa suasana menjadi hening. Hanya terdengar sayup-sayup bisikan antara

akhwat dan ustadzah Heni. Tak lama ustadzah Heni keluar dari tabir, sambil membuka

sedikit kain tabir yang memanjang itu. Lalu ustadzah Heni, memanggil suaminya. Ustad

Fadlan. Tak lama setelah mereka berdua berbincang-bincang. Ustad Fadlan

mendatangiku.

“Akh Khalid, apa antum sudah selesai dengan semua pertanyaan antum?” tanya ustad

Fadlan.

Aku hanya mengangguk. Menandakan selesai.

Hem, mungkin si akhwat malu kalau dilihat langsung. Ya sudahlah! gumamku dalam

hati, agak menyesal.

 “Kalau begitu, silahkan antum melihat calon antum” ucap ustad Fadlan mempersilahkan

aku melihat dari balik tabir yang terbuka.

Alhamdulillah ucapku syukur dalam hati. Minimal aku bisa melihat wajah calon istriku.

Kalaulah dia tidak secantik dugaanku, tetapi aku sudah melihatnya. Maka aku tidak akan

pernah kecewa dengan dia. Tetapi seadainya dia cantik. Mungkin Allah memang

bermaksud memberikan aku ujian. Ujian menerima istri yang cantik, tentunya.

Aku melangkah menuju tabir yang sedikit terbuka. Jantungku berdegup kencang,

seakan-akan jantung ini ingin meloncat keluar. Tubuhku menjadi panas dingin dan

tanganku bergetar. Aku benar-benar gugup sekali. Entah kenapa. Saat tanganku

menggapai kain tabir, mencoba untuk melihat. Masya Allah.

Lututku menjadi lemas. Tubuhku pun tak ayal menjadi lemas, ingin ku terjatuh.

Tetapi aku masih tetap berusaha mempertahankan kondisi tubuhku. Keringat dingin pun

mengucur lirih dalam pelipis keningku. Mataku pun sangat susah untuk berkedip,

bagaikan aku melihat sebuah bencana besar. Jantung dan nafasku pun, bagaikan terhenti.

Mulutku tidak dapat berkata apapun. Semuanya kaku.

“Akh Khalid! Antum sudah selesai?” tegur ustad Fadlan, mengagetkanku.

“I..ya ustad, sudah selesai!” ucapku terbata-bata.

Serta mertapun ustad Fadlan menutup kain tabir itu kembali. Menghilangkan pandangan

yang membuat mati rasa tubuhku. Sungguh benar-benar diluar dugaanku. Diluar

kesadaranmanusia. Sungguh perencanan Maha perencanaan yang sangat matang. Maha

mengetahui kegelisahan hati hambanya. Maha mengetahui akan kebutuhan hambanya.

Dan Maha membuat kehidupan hambanya lebih berarti. Aku masih tetap terdiam.

Terpaku dan membisu, tidak dapat berkata apapun. Tubuhku masih tetap merasa sangat

lemas. Teapi kini mulut dan hatiku, akhirnya bisa aku kuasai. Kini aku bisa mengucap

syukur dan takbir, berkali-kali.

“Apa ada pertanyaan lagi, Akh?” ucap Akhwat, dibalik tabir.

“Masih, ada? Ana mau bertanya tiga hal!” ucapku.

“Apa itu, akhi?” ucapnya lembut

lagi-lagi suara ini membuat jantungku lemah. Sungguh kemerduan sebuah suara bidadari

dunia.

“Sebenarnya, nama lengkap anti siapa?” ucapku

“Nama ana, Farah Zahrani! Kalau dikampus biasa dipanggil Farah, tetapi kalau untuk

dirumah ana dipanggil Zahra”

 “Apakah anti tahu, kalau anti akan dijodohkan dengan ana?” tanyaku lagi

“Ana tahu! Dan ana setuju saat keluarga menjodohkan ana dengan antum” ucapnya

lembut.

“Satu lagi. Kalaulah anti tahu, lalu kenapa anti meminta ana untuk mengisi kajian yang

anti selenggarakan” tanyaku, dengan nada yang agak bingung

“Akhi, apa antum lupa kalau antum dulu sering ngetest para akhwat! Nah sekarang ana,

gantian akhwat yang ngetest antum. Tetapi Alhamdulillah, paman ana. Ustad Fadlan.

Tidak salah memilihkan seorang ikhwan yang akan menjadi suami ana kelak” ucap Farah

dengan kelembutan hati dan suara.

Ustad Fadlan terlihat hanya tersenyum, sambil mengangguk-agukkan kepala.

Sungguh benar-benar kenikmatan yang tiadatara. Aku telah mendapatkan bidadari dunia.

Yang akan mendapingiku selama-lamanya. Bahkan diakhirat kelak, dia akan menjadi

bidadariku. Tak henti-hentinya ucapan takhmid dan takbir, berkumandang lirih

dimulutku.

“Terima kasih ukh! Sudah semua pertanyaan ana” kataku, sambil melihat dan

menganggukan kepala pada ustad Fadlan.

“Baik, kalau gitu kita sudahi dulu acara ta’aruf kita ini. Tinggal penghitbahannya! Ana

akan telphone antum jika sudah matang rencananya” ucapUstad Fadlan.

Aku hanya mengangguk pelan.

***

Dalam perjalanan pulang kerumah kontrakan. Cuaca begitu panas dan terik, tak

aku rasakan. Langkahku mantap, menapaki perjalanan dalam setiap panas yang

menyengat tubuh ini. Sungguh, aku benar-benar sangat gembira. Entah kegembiraanku

karena akan menikahi wanita cantik, atau karena menikah dengan gadis impian. Farah

Zahrani. Yang terpenting bahwa aku telah mendapatkan seorang bidadari. Seorang wanita

yang sempurna dalam segala hal. Wajah, tubuh, kecantikannya tidaklah membuat Farah

lupa dengan menjaga kesempurnaannya. Jilbab.

Lalu lalang mobil dan motor yang sedang hilir mudik. Bagaikan sebuah pernakpernik

hiasan dunia. Manakala hati benar-benar telah dirasuki cinta. Cinta, ya benar kata

itu yang tepat untukku saat ini. Entah apakah perasaanku ini sudah bisa disebut cinta.

Cinta memang membuat orang buta. Cinta membuat orang menjadi lupa, terlena hingga

akhirnya terjebak dengan kata cinta. Cinta, tak ayal adalah kata yang selalu menghiasi

para laki-laki dan perempuan didunia ini. Cinta, selalu membuat keleluasaan manusia

dalam menghalalkan segalanya. Cinta, yang akhirnya menjadikan orang benar-benar

terlihat gila. Entah apa makna cinta. Kata orang, cinta itu adalah perasaan yang berbungaFajar

bunga saat berdekatan dengan yang dicintainya. Lalu kata pelajar, cinta adalah rasa

senang saat berduaan dengan yang dicintainya. Kata remaja, cinta adalah gabungan rasa

antara dua lawan jenis yang sedang dilanda asmara. Atau kata sufi, cinta adalah rasa

penghambaan diri pada sang pencipta. Entah mana yang benar. Tetapi menurutku apa

yang dikatakan Ibn al-Qyyim ada benarnya “cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas,

bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan

tidak jelas, (berarti) definis cinta adalah cinta itu sendiri.”

Tapak kaki terus berjalan. Menembus rintangan-rintangan aspal yang

bergelombang, bergelombang karena tergerus arus deras air hujan yang menjatuhkan diri

didaerah perkotaan. Lubang-lubang tanah aspal yang tak beraturan, terus aku terjang. Tak

pernah aku perdulikan. Karena memang, seharusnya yang memperdulikan pemerintahan.

Terus aku melangkah, dalam setiap rasa panas yang mendera. Kini tinggal beberapa blok

saja, aku sudah sampai dirumah kontrakan.

Tak terasa didepan sudah terlihat rumah kontrakanku. Bergegas aku mempercepat

langkahku. Kini aku sudah berada pada titik awal pintu masuk rumah. Sebelum menuju

titik kedua pintu rumah. Kamarku. Aku rogoh saku celana kusamku, mencari kunci dari

rumah kontrakanku.

Lega rasanya sudah masuk rumah. Berteguk-teguk air putih, telah menghilangkan

dahagaku. Aku rebahkan tubuhku dikasur. Sungguh terasa nikmat sekali. Setelah berjalan

menerjang panas, lubang-lubang aspal yang membara. Kini, aku tinggal marasakan

kesejukan semilir sepoi kipas angin berputar. Wajah Farah, hadir kembali dalam

ingatanku. Rongga-rongga otakku layak sebuah poros yang berputar, hanya untuk

memikirkan satu orang. Farah. Kecantikannya benar-benar luar biasa. Berbalut jilbab

yang besar, layak sebuah prisai yang tak akan pernah bisa ditembus. Sungguh

kehormatan yang luar biasa bagiku. Bisa memperistri dia. Aku takkan takut-takut lagi

untuk memberitahukan kepada keluarga, tentang rencana pernikahanku. Entahlah,

mungkin aku akan dikira oleh keluargaku sudah nggak tahan pengen nikah. Atau

mungkin, orang-orang desa mengira kalau aku menghamili anak orang. Hingga pengen

cepat-cepat menikah. Memang begitulah orang kampung. Kalau ada seorang pemuda

yang berpacaran mereka melihatnya biasa. Kalau ada pemuda yang bertunangan mereka

menganggap luar biasa. Hingga layaknya sebuah pertunangan adalah pesta pernikahan.

Dan membiarkan anaknya, yang hanya sekedar bertunangan dilepas bagai seorang yang

sudah menikah. Mereka menganggap pertunangan hanya sekedar pelegalan hubungan

mereka. Mereka lupa dengan hukum-hukum Islam. Sangat lupa atau bahkan tidak

mengerti sama sekali.

Orang yang ingin menikah muda, malah sering dibilang nafsunya besar, atau

hamil diluar nikah. Kalau alasan yang kedua ini sering sekali. Mereka tidak menganggap

orang yang ingin menikah muda, adalah seorang yang ingin menjaga kehormatannya.

Baik kehormatan bagi pemuda itu maupun kehormatan bagi keluarga. Seorang yang

menikah muda, tidak diidetikkan seorang yang menjaga agamanya. Tapi malah dibilang

yang nggak karuan. Tetapi aku yakin, dengan pemahaman Bapak yang begitu luas. Pasti

Bapak tidak akan menganggap jelek pernikahannku. Apalagi Ibu. Seorang wanita yang

selalu membimbingku dalam setiap langkah perbuatan kebaikan “Jikalau itu adalah

kebaikan maka janganlah engkau ragu ikut dengan kebaikan itu” ucap Ibu saat-saat aku

akan meninggalkan beliau. Sungguh mulia kedua orang tuaku. Kalau untuk adekku,

Nurul. Dia pasti akan mendukungku. Karena dari dulu Nurul ingin mempunyai kakak

perempuan yang cantik dan baik hati.

Aku bangkit dari kasur kusamku, mengambil alat tulis. Dari pada telphone, lebih

baik aku kirim surat untuk memudahkan maksud. Aku akan memberitahukan keluarga

dikampung, kalau sebentar lagi aku akan menikah. Menikah dengan seorang wanita yang

sempurna. Sempurna karena kecantikan hatinya. Dan kekuatan iman yang menopang

kecantikannya. Hingga dia pantas disebut. Sang bidadari.

Assalamulaikum wr, wb.

Untuk Bapak dan ibu yang berada dikampung

Serta Nurul adekku.

Bapak dan Ibu yang dimuliakan oleh Allah

Bagaimana kabar keluarga disana? Khalid harap, baik-baik saja. Karena Khalid

disini alhamdulillah juga baik-baik saja. Sekolah Nurul bagaiamana? Apa sudah ujian?

Semoga Nurul tetap giat dalam belajar. Alhamdulillah Khalid sudah melaksanakan

skripsi dan Insya Allah akan selesai kuliah ditahun-tahun ini. Dikota, Khalid juga sudah

bekerja. Alhamdulillah Khalid selalu dapat beasiswa dan tulisan-tulisan yang Khalid

kirim ke media sering dimuat. Jadi Khalid masih belum membutuhkan uang. Bapak Ibu

tidak usah mengkhawatirkan Khalid dikota. Alhamdulillah untuk masalah biaya kuliah

dan kehidupan Khalid sehari-hari, sudah tercukupi.

Bapak dan Ibu. Sehubungan dengan Khalid menulis surat ini. Ada suatu hal yang

sangat penting sekali, yang ingin Khalid sampaikan. Yaitu berkenaan dengan

pernikahan. Khalid telah bertemu dengan seorang wanita yang sangat baik. Wanita ini

adalah teman sekuliah Khalid. Namanya Farah Zahrani. Farah adalah muslimah yang

berjilbab. Dan selalu menjalankan perintah agama Islam dengan taat. Tiada yang tersisa

dari sunnah dan hukum Islam yang dia lalaikan. Sungguh, Khalid benar-benar bangga

dan senang yang teramat sangat. Jika Farah Zahrani menjadi istri Khalid. Khalid

sebenarnya sudah berencana akan menikah ditahun ini. Bapak dan Ibu tidak usah

khawatir masalah pernikahan kami ini. Karena memang tidak ada masalah dalam

pernikahan kami. Tidak seperti yang dilakukan oleh teman-teman Khalid didesa. Yang

menikah cepat karena ada sesuatu yang terlanjur. Seperti hamil diluar nikah. Khalid dan

Farah tidak pernah berpacaran. Kamipun tidak pernah berduaan.

Jadi, seorang wanita yang bernama Farah Zahrani. Adalah seorang muslimah

yang beriman. Bapak dan Ibu pasti akan rugi sekali jika tidak menjadikan Farah

menantu Bapak dan Ibu. Keluarga Farah Zahrani, adalah seorang ulama dikota. Dan

Farah Zahrani termasuk saudara ustadnya Khalid. Jadi Khalid pasti sangat beruntung

jika mempunyai istri Farah. Bapak dan Ibu. Khalid mengharapkan sekali restu Bapak

dan Ibu.

Demikian surat Khalid. Semoga Bapak dan Ibu dapat mengerti keinginan Khalid.

Salam sungkem kepada Bapak dan Ibu. Semoga Allah selalu membimbing kita.

Wassalamualaikum wr, wb.

Khalid Hendriansyah

Selesai sudah menulis surat untuk kedua orang tuaku. Kini tinggal

mengamplopinya dan membelikan perangko. Setelah itu besok langsung dikirim. Kilat

khusus.

Aku nyalakan tipe simbaku. Tak lama nasyid penggerak semangat pun

berkumandang.

“Islam adalah satu,

satu iman satu hati satu jiwa

adilnya tertinggi dihadapan Rabbi…”

Aku merebahkan tubuh ini. Capek yang aku rasakan cukup membuat kantukku

tak tertahan. Bayangan-bayangan perjuangan pun merasuk dalam angan.



JILID 8

Suasana pagi begitu sejuk. Matahari bersinar tetapi tidak begitu terik. Temanteman

kontrakan sudah banyak yang bersiap untuk berangkat kuliah. Seperti biasanya.

Aku masih santai duduk-duduk diteras, sambil menunggu siapa yang akan berangkat

duluan. Itung-itung bisa nitip ngeposkan surat dikampung. Tak lama muncul Heri

dengan, terlihat sudah siap untuk berangkat kuliah.

“Akh, mau berangkat yach!” sapaku

“Iya! Antum nggak bimbingan Akh?”

“Nggak, lagi pengen nyantai dulu! Oh ya, ana bisa nitip ngeposkan surat akh?”

“Wah surat-suratan sama siapa nich!” setelah Heri melihat alamat yang dituju. Dia

mengatakan “Kenapa nggak lewat telphon aja? Kan lebih cepat dan efisien!” Jelasnya.

“Hem… nggak, ana lebih leluasa kalau pake surat! Biasalah, katakan dengan penamu”

ucapku bercanda.

Heri mengangguk-angguk sambil terlihat senyum.

“Ok, akh! Ana berangkat dulu. Assalamualaikum”

“Walaikumsalam! Akh, ini uang untuk beli perangkonya” kataku sambil merogoh saku

celana.

“Nggak usah, Akh! Nanti aja, totalan belakang” ucapnya sambil ketawa-ketawa.

“Ok deh, makasih!”

Kini surat telah dikirim. Tinggal menunggu balasannya. Aku masih tetap dudukduduk

dalam ruang batas yang tak tentu. Anganku kini menerawang, menembus megamega

yang riak berarak mengelilingi bumi dengan putihnya. Sosok Farah kembali

bersamayam di otakku. Farah bagaikan hantu yang terus mengikutiku. Menjadikan aku

lupa akan semuanya. Mungkin Allah ingin menguji tentang keistiqomahanku untuk

menjaga niat. Niat untuk menyempurnakan agama Islam ini. Menikah. Aku seharusnya

tidak boleh termakan oleh rayuan bayang-bayang fana ini. Bayang-bayang Farah adalah

syetan yang menginginkanku untuk melepaskan niatku. Sungguh cobaan yang sangat

sulit untuk dipertahankan. Tetapi aku harus bisa. Aku harus bisa mempertahankan,

menjaga niatku. Untuk aku persembahkan pada istriku kelak. Farah Zahrani.

“Akh, ngelamun aja!”

Sontak aku kaget. Saat Samsul menegurku.

 “Hem… antum ini kok senangnya ngagetin orang!”

“Nah, antum sendiri kok ngelamun aja! Antum nggak bimbingan?”

“Nggak! Ana sudah bisa nyantai sekarang. Tinggal nunggu ujian skripsinya aja!”

“Wah enaknya, antum sudah nggak ada beban lagi! Nggak kayak kita-kita lagi. Yang

beban kuliah masih berada dipundak. Berat!” ujar Yanto yang sudah berada disamping

Samsul.

“Iya dong! Makanya kalian kuliah yang baik-baik. Jangan sampai mengecewakan orang

tua! Orang tua kalian itu susah-susah bayar kuliah, makanya jadi anak yang bisa

membanggakan orang tua” kataku sambil berlagak jadi orang tua.

“Iya… Mbah!!!” serentak ucap Yanto dan Samsul, sambil ketawa.

“Akh Deni kemana? Apa nggak ada kuliah dia? Ana dari tadi nggak melihatnya!”

“Loh, antum itu gimana! Akh Deni kan pulang kekampung. Katanya, kakak

perempuannya mau menikah!” jawab Yanto.

Samsul mengiyakan perkataan Yanto, dengan mengangguk-anggukan kepala.

“Oh!”

“Nah kalau antum kapan Akh?” tanya Yanto

“Antum? Siapa nich! Ana apa Akh Samsul?” jawabku sok tidak tahu maksud Yanto.

“Antum itu ngeles aja Akh!” ujar Samsul

“Udah-udah nanti antum terlambat loh! Tuh dah pukul 8.30!” ucapku mencoba

mengakhiri pembicaraan.

“Hehehe… ada yang mencoba untuk mengalihkan pembicaraan! Ana dengar-dengar

sudah ada seorang Ikhwan yang berta’aruf dengan ukhti Farah, loh Akh!” ucap Yanto

ngejek

“Hehhee… antum keduluan nich akh!” ujar Samsul sambil cengengesan.

“Yeee… biarin. Tuh ikhwan pasti orangnya cakep and smart! Soalnya, sudah berani

berta’aruf dengan ukhti Farah” ujarku

 “Yup… pasti! Yang pasti sich, nich ikhwan kalau kemana-mana nggak jalan kaki. Nggak

suka blusukan diperkampungan kumuh. Lalu nggak bergaul dengan preman-preman

kampung” ujar Samsul sambil ketawa.

Kami serempak ketawa bareng.

“Udah deh! Ana berangkat dulu, nanti bisa-bisa ana nggak boleh masuk kelas” ucap

Samsul

“Iya, ana juga mau berangkat!” sahut Yanto

“Assalamualaikum” serempak mereka berdua mengucap salam

“Walaikumsalam”

Teman-temanku belum tahu, kalau sebenarnya. Seorang ikhwan beruntung, yang akan

menikahi ukhti Farah. Adalah ikhwan yang biasanya kalau kemana-mana jalan kaki.

Sukanya blusukan diperkampungan kumuh. Lalu senangnya bergaul dengan premanpreman

kampung. Ucapku dalam hati. Aku masih duduk dalam kesendirian. Sendiri

karena teman hidup masih belum terikat. Terikat dalam janji suci Ilahi. Teh dan sebuah

buku Fiqih Prioritasnya Dr. Yusuf Qaradhawi, menemaniku. Suasana lambat laun

menjadi sepi, keramaian hilir mudik para mahasiswa, siswa sekolah dan pekerja. Sudah

tak tampak lagi.

“Kebanyakan orang-orang yang pergi ke tanah suci pada musim haji setiap tahun

adalah orang-orang yang tidak lagi dibebani untuk melaksanakan kewajiban ini, karena

mereka telah melakukannya pada masa-masa sebelumnya. Orang-orang yang pergi ke

tanah suci dan sebelumnya belum pernah melaksanakan ibadah ini, jumlah mereka tidak

lebih dari 15%. Kalau kita asumsikan bahwa jumlah jamaah haji 2.000.000 orang, maka

jumlah orang yang baru pertama kali melakukan ibadah ini tidak lebih dari 300.000

orang. Alangkah baiknya bila dana yang mereka keluarkan untuk ibadah sunnah itu,

dimana jumlah mereka ada mayoritas, begitu pula orang-orang yang melakukan ibadah

umrah sunnah sepanjang tahun, khususnya pada bulan Ramadhan. Dialihkan untuk

mendanai perjuangan di jalan Allah SWT. Atau untuk menyelamatkan saudara-saudara

mereka, muslimin dan muslimat, yang terancam kehancuran material maupun spiritual.

Dan untuk membiayai mereka dalam menghadapi musuh-musuh mereka yang ganas,

yang menginjak-injak kehormatan mereka, dan tidak menginginkan keberadaan mereka

di dunia ini. Negara-negara di dunia ini sebenarnya melihat dan mendengar keadaan

mereka, akan tetapi mereka berdiam diri dan tidak bergerak, karena sesungguhnya

kemenangan itu berada di pihak yang kuat dan bukan kekuatan di pihak yang benar.

Bisyr al-Hafi pernah mengatakan, “kalau kaum Muslimin mau memahami, memiliki

keimanan yang benar, dan mengetahui makna fiqih prioritas, maka dia akan merasakan

kebahagiaan yang lebih besar dan suasana kerohanian yang lebih kuat. Setiap kali dia

dapat mengalihkan dana ibadah haji untuk memelihara anak-anak yatim, memberi makan

orang-orang yang kelaparan, memberi tempat perlindungan orang-orang yang terlantar,

mengobati orang sakit, mendidik orang-orang yang bodoh, atau memberi kesempatan

kerja kepada para penganggur.”

Masya Allah. Ucapku lirih dalam hati.Buku fiqih prioritasnya Dr. Yusuf Al Qaradhawy,

seharusnya dapat menggugah para orang-orang muslim yang kaya untuk dapat bersatu

merapatkan shaff dalam barisan perjuangan. Sehingga tidak terjadi suatu kehendak yang

hanya bersifat keshalehan pribadi, tetapi tidak mendapatkan sebuah kemaslahatan pada

masyarakat. Banyak sekali orang-orang yang hanya menginginkan keshalehan individu.

Sehingga menafikkan keshalehan umum. Menganggap bahwa, suatu hal yang menurut

kehendaknya menyenangkan. Maka itulah yang harus dia lakukan, untuk menyenangkan

hatinya. Yaitu sebuah kesenangan yang hanya menentramkan hatinya, tetapi

mengacuhkan kesenangan saudara-saudaranya. Banyak orang-orang muslim yang masih

sangat membutuhkan uluran tangan dari saudara-saudara muslim yang lainnya. Kalau lah

kita hanya menyalahkan para misionaris yang sedang gencar-gencarnya memurtadkan

orang-orang Islam. Itu tidaklah adil. Karena letak dari kesalahannya, adalah karena kita

tidak pernah perduli dengan saudara-saudara kita sesama muslim. Sehingga Itsar, satu

kata dalam barisan muslimin telah terkoyak dan rusak. Itsar hanya menjadi selogan

kosong, dan hanya menjadi kenangan sejarah yang menganggumkan. Bukan menjadikan

semangat kita, untuk menjadikan contoh bagi diri dalam mencintai saudara-saudara

muslim.

Aku jadi teringat sebuah cerita para pasukan muslim yang akan bertempur

malawan tentara kafir. Saat-saat para tentara kafir mengira bahwa tentara Islam tidak

pernah melatih kekompakan. Tetapi, tidak diduga-duga. Saat tentara kafir melihat tentara

Islam yang sedang menyebrang sungai. Hingga salah satu tentara Islam kehilangan

kantong air minumnya kedalam sungai. Tanpa dikomandopun, seluruh tentara Islam

langsung mencari kantong air milik saudara seimannya. Melihat kejadian itu, seketika

tentara kafir langsung menyerah. “Bagaimana kita akan menyerang sebuah pasukan.

Yang pasukan itu sangat perduli dengan temannya. Kalau kita bunuh salah satu tentara

Islam. pastilah mereka semua akan membinasakan kita” ucap panglima perang tentara

kafir. Sungguh ini menjadi pelajaran bagi umat Islam. Pelajaran untuk saling perduli

dengan saudara seimannya. Itsar.



JILID 9

Aku beranjak dari tempat dudukku. Teringat, kalau aku mempunyai sebuah

kewajiban. Kewajiban untuk saling mengingatkan. Aku ingat, kalau saat aku harus

mengisi kajian para preman. Bergegas aku mengambil handuk serta peralataan untuk

mandi. Biasa, kalau lagi nggak kuliah atau nggak ada kegiatan. Mandi hanya sore saja.

Paling nggak aku harus sudah membiasakan diri mandi dua kali sehari. Agar nanti nggak

malu kalau sudah menikah dengan seorang bidadari.

Benar-benar segar rasanya. Sungguh Allah benar-benar maha sempurna.

Menciptakan sesuatu tiada yang sia-sia. Bahkan air pun, sungguh sangat berharga.

Sampai-sampai Allah, selalu mengiming-imingkan surganya dengan air sungai yang

mengalir segar. Sungguh bodoh bagi orang-orang yang mengatakan “perumpamaan Allah

itu hanya untuk orang-orang Arab saja! Allah, hanya menakut-nakuti orang Arab dengan

Api. Dan memberikan gambaran surganya dengan air! Ya, memang orang Arab pasti

takut api karena mereka tinggal didaerah panas. Dan mereka akan senang dengan air

karena mereka benar-benar membutuhkan”

Pernyataan yang bodoh. Sesungguhnya semua manusia pada dasarnya menyukai

air dan tidak menyukai api atau yang berhawa panas. Lalu apakah orang-orang Eskimo

suka memakan api? Karena mereka tinggal di kutub! Tentu tidak, jikalau mereka terbakar

mereka pun akan kepanasan. Dan sesungguhnya, api yang sangat kecil pun bisa

menyakiti manusia. Tidak seperti es atau air.

Kini aku sudah bersiap untuk berangkat. Menuju ladang pahala yang siap untuk

dicangkul. Dan semoga aku dapat menuai hasilnya kelak. Desa kumuh tempat mangkal

kajian para preman tidak jauh dari tempatku. Jadi hanya dengan berjalan kaki, maka akan

lebih cepat. Kalau naik angkot, malah harus muter-muter dulu. Matahari begitu terik,

meskipun waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi. Langkahku tegap penuh semangat,

menuju pahala yang menanti untuk aku petik. Dan aku nikmati kelak dimasa yang akan

datang.

Mata ini sudah memandang sederetan rumah-rumah kumuh yang membentang.

Beda sekali dengan perumahan-perumahan yang aku lewati. Sungguh ironis, kehidupan

hedonis yang menyekat mereka. Menyekat antara si miskin dan si kaya. Apalagi kekuatan

kapitalis yang begitu gencarnya menghancurkan orang-orang miskin. Tapi tunggu, umat

Islam akan bangkit. Memumpuk kejayaan masa silam yang gemilang. Dan umat-umat

kafir menjadi umat-umat yang meminta perlindungan umat Islam. Allahu Akbar.

Sebuah rumah kecil, sudah terlihat. Tempat mangkal kajian para preman. Rumah

Bang Jamal.

“Assalamualaikum” salamku

serentak orang-orang yang didalam rumah menjawab “Walaikumsalam”

Sungguh lega, kini aku sudah dikelilingi orang orang-orang yang siap untuk menimba

ilmu. Berjihad dalam mencari Ilmu.

“Maaf, saya terlambat yach?”

Bang Jamal tersenyum.

“Oh, tidak Khalid! Kita hanya berkumpul lebih awal saja”

“Wah ada sesuatu yang penting yach Bang?” tanyaku heran

“Iya, Khalid! Bahkan sangat penting sekali. Kita berkumpul lebih awal disini, untuk

membicarakan sesuatu pada kamu, Khalid!” ucap bang Jamal

“Apa itu Bang?” tanyaku penasaran.

“Kita lagi mau meminta pendapat kamu. Apa hukuman bagi orang yang keluar dari

agama Islam?” ucap bang Jamal. Dan serentak anak buah bang Jamal pun berharap

meminta jawaban kepadaku.

“Hukum bagi orang yang murtad, dalam Islam! Pertama-tama si murtadin itu disuruh

untuk kembali pada agama Islam dan bertobat. Tetapi kalau tidak mau kembali ke agama

Islam, maka harus dipenggal kepalanya atau dibunuh!”

Semua orang-orang yang berada dirumah Bang Jamal, memperhatikan penjelasanku.

“Kalau begitu, kita harus membunuhnya sekarang!” sontak teriak Udin, anak buah bang

Jamal.

“Iya, kita harus memenggal kepalanya!” ucap Ghofar menyetujuinya. Anak buah bang

Jamal yang satu ini memperlihatkan raut muka yang sangat geram.

“Sebentar! Sebentar, Bang! Ini ada apa?”

“Khalid, Efendi telah murtad! Dia sudah tidak beragama Islam lagi” ucap bang Jamal.

“Oh! Tapi sebentar! Seharusnya kita harus mempertanyakan kebenarannya dulu, dan

setelah itu kita harus memperingatkan Efendi dulu, untuk masuk pada agama Islam lagi

dan menyuruhnya untuk bertobat! Dalam Islam orang murtad tidak langsung dipenggal

atau dibunuh” ucapku

“Tapi, Efendi sudah nyata-nyata murtad kok! Dia sendiri yang bilang kalau dia sudah

pindah agama” ucap Udin.

 “Hem, kalau seperti itu pun. Kita tidak boleh membunuh Efendi! Karena kita bukan

dinegara Islam. Kita dinegara yang memiliki hukum sendiri. Jadi kita tidak bisa

seenaknya menghukum orang dengan sekehendak kita” kataku.

“Tapi, Khalid. Efendi telah murtad. Bukankah dalam hukum Islam, seorang yang murtad

harus dibunuh” sahut Ghofar lagi, sembari mengepalkan jarinya. Seraya ingin sekali

menghajar efendi.

Memang jika para preman sudah dibekali dengan pemahaman ilmu agama yang kuat.

Semangat mereka untuk menerapkan agama Islam menjadi sangat tinggi. Tetapi, tetap

aku harus bisa mengontrol semangat para preman ini. Karena, jika tidak. Para mujahidmujahid

ini akan mengalami kesulitan hukum. Dan sebagai murabi, aku harus bisa

mengarahkan pandangan para preman ini. Pikirku.

“Khalid, sebaiknya kita datangi saja Efendi. Lalu kita tanya tentang kemurtadannya. Itu

akan lebih baik” ucap bang Jamal.

“Iya, memang sebaiknya begitu. Tetapi jika memang Efendi murtad. Dan tidak lagi dapat

diajak kembali kedalam agama Islam. Saya harap, tidak ada kekerasan. Biarlah Efendi

tetap berpegang teguh dengan keyakinannya. Tetapi kita, tidak akan berhenti berjuang

untuk membela agama yang haq ini” kataku tegas.

“Kami tidak akan melakukan tindakan kekerasan, Khalid! Kamu bisa percaya pada

kami!” ucap bang Jamal.

Aku hanya mengangguk. Kami pun berangkat menuju rumah Efendi. Barisan-barisan

mujahid yang terlihat garang dengan kemurtadan saudaranya. Bagaikan sebuah gemuruh

ombak yang melaju untuk menyingkirkan batu karang. Langkah-langkah tegap, terus

manapaki jejak-jejak para mujahid. Sebuah rumah yang terlihat sama dengan rumah

lainnya sudah terlihat dihadapan.

“Efendi keluar kami…!” teriak Ghofar dengan keras.

“Iya cepat keluar kamu…! Kita nggak sudih melihat orang munafik seperti kami” ucap

Udin.

“Iya….!” Serentak mengiyakannya.

Tak lama Efendi keluar dari rumah. Dandanan kumuh, kusam, kusut. Tidak

ditemui lagi pada sosok Efendi. Kulitnya yang hitam kusam, sekarang menjadi hitam

manis. Rambut yang biasanya awut-awutan, menjadi licin dan mengkilat. Sungguh benarbenar

berbeda sekali dengan Efendi yang dulu.

“Ada apa, ini?” Tanya Efendi.

 “Dasar munafik! Sok tidak tahu kedatangan kita!” Ucap Ghofar keras, sambil

mengepalkan jemari tangannya.

“Sebentar kawan-kawan!” ucapku serius, “kita tanya dulu kebenaran berita itu kepada

Efendi. Kita masih ingat janji kita sebelum datang kesini bukan! Ingat tidak boleh ada

kekerasan sama sekali. Saya yang bertanggung jawab atas semua ini”

“Iya! Kawan-kawan. Biar Khalid yang menanyainya, dan kita tetap harus memegang

janji-janji kita sejak awal” ucap bang Jamal.

Semua memandang Efendi dengan tatapan yang tajam. Tatapan kebencian yang

memuncak. Tetapi tetap, mereka harus bisa menahan diri. Efendi terlihat begitu santai,

dia tidak memperlihatkan rasa takutnya kepada teman-temannya. Wajahnya terlihat

sangat yakin, bahwa dia tidak akan disakiti.

“Efendi, apa kamu tahu kami datang kesini bermaksud untuk apa?” tanyaku

“Aku tidak tahu! Apa yang sebenarnya kalian inginkan dari aku?”

aku tersenyum, lalu mengatakan “Efendi, kami dengar engkau sudah keluar dari agama

Islam? Kami kesini untuk menanyakan hal itu!”

“Oh…! Hanya masalah itu” ucap Efendi dengan agak sombong. “ya.. aku memang sudah

keluar dari agama Islam! Karena kalau aku tetap beragama Islam maka aku akan seperti

kalian. Yang kumuh, kotor dan miskin!” lanjutnya.

“Sialan kau…! Dasar munafik! Pengkhianat!” umpat beberapa para pengikut bang Jamal

kepada Efendi. Serentak hampir-hampir mereka akan menghajar Efendi.

“Berhenti….! Sabar…! Sabar... teman-teman” teriakku.

“Ini sudah penghinaan Khalid! Aku tidak akan membiarkan munafik itu hidup!” ucap

bang Jamal dengan keras. Bang Jamal yang tadinya bersikap tenang. Menjadi benarbenar

marah. Wajah kebenciannya tertuju pada seorang murtadin, yang telah menghina

agama Islam.

“Iya Bang..! Tapi kita harus tetap sabar. Ingat janji kita tadi sebelum berangkat! Sabar

Bang. Dan tolong percayakan semua pada saya” ucapku menenangkan bang Jamal.

Lambat laun emosi bang Jamal kian mereda. Nafas yang memburu sudah bisa

dikendalikan. Wajah merah dan tatapan tajam berangsur-angsur mereda. Tetapi Efendi

hanya tersenyum sinis. Efendi benar-benar tidak menampakkan wajah seorang yang

ketakutan. Dia terlihat sangat yakin dengan keyakinan yang dia anuti sekarang.

“Kawan-kawan, ingat kepala kita harus tetap dingin. Hati boleh panas, tetapi kepala tetap

bisa berfikir realitas. Kita bisa melihat Efendi, sebenarnya dia ketakutan. Tetapi karena

dia meyakini agama yang dia anuti sekarang. Dia merasa sangat yakin bahwa dia akan

selamat dari kita. Ingat kawan-kawan, Islam adalah rahmatanlil‘alamin. Dalam syariat

Islam, kita harus melindungi orang yang berada di sekitar kita. Meskipun ada

sekolompok yang kita lindungi itu adalah orang-orang kafir. Tetap kita harus melindungi

dia. Sungguh, sangat besar nikmat Allah yang telah memberikan petunjuk kepada kita.

Sehingga kita mengetahui yang benar dan yang salah. Saat ini, kita sedang diuji untuk

mengetahui itu semua. Efendi sangat yakin dia tidak akan kita sakiti. Karena Efendi tahu

bahwa Islam tidak pernah menyakiti siapa pun. Jadi kita tetap harus bersifat sabar.

Meskipun Efendi murtad dari agama Islam. Tetapi ingat, kita hidup bukan di Negara

Islam. Saya tidak mau, ada orang yang terpancing dengan ucapan-ucapan Efendi yang

menyakitkan. Kita harus ingat tujuan awal kita! Yaitu hanya mengklarifikasi kemurtadan

Efendi. Tidak lebih dari itu! Sekarang kita sudah tahu bahwa Efendi sudah murtad.

Dengan begini maka kita harus lebih waspada terhadap pemurtadan di daerah kita.”

“Tapi Khalid. Apa yang akan kita lakukan kepada Efendi?” tanya Ghofar

“Tidak ada! Yang bisa kita lakukan adalah, berdoa kepada Allah agar Efendi diberi

hidayah kembali oleh Allah. Sekarang kita bubar saja. Dan saya tidak ingin terjadi

sesuatu pada Efendi. Ingat bahwa kita umat Islam, yang cinta damai, menebarkan

selamat, dan menjadi rahmat”

“Hem, baik Khalid! Saya yang akan menjamin tidak akan terjadi apapun di daerah ini”

ucap bang Jamal.

Tatapan sinis Efendi, menebarkan permusuhan kepada umat Islam. Serentak kami

pun membubarkan diri. Tidak akan pernah terjadi kerusuhan, selama umat Islam tidak di

terzhalimi. Tidak akan pernah terjadi perusakan didaerah Islam, meskipun daerah itu juga

dihuni oleh orang-orang non Islam. Karena Islam adalah memberi kedamaian,

keselamatan dan kebahagiaan.



JILID 10

Langkahku gontai, semangatku pun menurun. Semua ini adalah sebuah kesalahan

besar. Kesalahan yang telah menyebabkan seorang harus keluar dari agamanya. Sungguh

aku sangat malu. Sangat berdosa. Ternyata dakwahku tidak sebagus apa yang aku

impikan. Ternyata dakwahku tidak seindah angan-anganku. Terciptanya daerah kumuh

yang Islami, masyarakat kumuh yang bisa mandiri. Sungguh sangat memalukan, sangat

ironis dengan kenyataan yang aku bayangkan. Aku telah gagal. Gagal dalam memberikan

hidayah kepada seseorang, dan gagal dalam membina sebuah kebenaran.

Tetap, langkahku gontai dalam setiap menit penderitaan jiwa yang meronta atas

semua yang telah terjadi. Aku menyangka, bahwa aku sudah dapat menjadikan seorang

bermental baja, kuat dalam agamanya, dan tidak mudah luntur dalam melihat sebuah

gemerlapnya dunia. Sungguh semua itu telah gagal. Aku kembali ke rumah kontrakan

dengan kekalutan jiwa. Rasa bersalah yang teramat dalam, serta rasa berdosa yang terus

menekan rongga pikiran.

***

Aku dudukkan tubuh ini dalam kursi kayu bercat cokelat yang mengelupas. Aku

ambil segelas air minum. Dinginnya air yang telah aku minum, sedikit membuatku terasa

lebih baik. Tetapi semua itu hanya sementara. Rasa bersalah kembali hinggap, hingga

menyesakkan dada. Rasa berdosa pun tidak luput menekan rongga fikirku. Semuanya

berada tepat dihadapanku. Semuanya. Iya benar, semua kesalahan terletak kepadaku.

Terletak pada kelalaianku, ketidak seriusanku dalam berdakwah, ketidak pekaanku dalam

mengetahui permasalahan yang ada. Sungguh semua ini benar-benar kesalahanku.

Inginku berteriak keras. Tetapi aku takut. Takut jika para tetangga dengar, dan

mengira aku gila. Inginku menangis tersedu-sedu kepada Allah. Tetapi aku takut, jika

tangisanku akan membuat teman-temanku bingung dikira ingin menikah. Sungguh aku

bingung dan berdosa.

“Tlluuutt….tlluuuut”

Hem, deringan telphone ini tidak mengetahui kegalauan hati. Dari tadi bunyi terus.

Teman-teman pada kemana sich. Ucapku dalam hati. Dengan langkah yang teramat

malas aku mengangkat telephone.

“Halo…!”

“Halo..selamat malam!”

Hem nih akhwat kok telephone malam-malam! Pasti mau cari Samsul untuk ngingetin

kalau besok ada syuro’.

“Bisa bicara dengan Khalid!” ucap wanita itu membuyarkan lamunanku.

 “Iya ini Khalid! Ini siapa yach?” tanyaku penasaran. Penasaran baru kali ini di telephone

akhwat malam-malam.

“Ini aku Lid! Nova” ucapnya

“Oh, iya ada apa Nov! Kok tumben malam-malam telephone” ucapku. Padahal dalam

hatiku mengatakan Hem wanita kok telphone malam-malam. Nggak sopan, tau!

“Maaf ya Lid. Aku telephone malam-malam. Aku cuma mau memberitahu kamu!”

Wah aku harus hati-hati nih. Ternyata nih cewek bisa baca pikiranku pikirku dalam hati

sambil ngetawain diri sendiri.

“Wah ada apa nich Nov?” tanyaku penasaran

“Khalid, aku tahu kamu marah sekarang! Kamu marah karena ada seorang muridmu yang

telah keluar dari agama Islam”

Loh tahu dari mana Nova? Ucapku dalah hati

“Kamu tahu dari mana Nov?” tanyaku penasaran

“Aku tahu semuanya Lid! Semua itu adalah hasil usaha dari papaku. Kini Efendi sedang

menyusun sebuah rencana untuk mengkristenkan semua desa kumuh itu Lid! Dan kamu

harus hati-hati Lid. Efendi dan teman-teman papaku, merencanakan sesuatu yang akan

mencelakakanmu. Saya mohon kamu berhati-hati!”

“Hem, terima kasih Nov! Tetapi kenapa kamu memberitahukan itu semua kepadaku!”

“Khalid, aku tidak ingin kamu celaka. Aku tidak ingin seorang yang bisa membimbingku

dari jalan kegelapan menuju kejalan yang terang, celaka. Sungguh Khalid aku sangat

mengkhawatirkan kamu!”

“Iya Insya Allah aku akan berhati-hati! Kamu tidak usah begitu khawatir terhadapku.

Karena semua takdir ada di tangan Allah. Kita pasrahkan saja kepada Allah” ucapku

“Iya, sudah dulu Khalid! Mungkin kita tidak akan bertemu lagi seperti ini. Aku mohon

kamu berhati-hati”

Tak sempat aku mengucapkan beberapa kata perpisahan. Nova menutup

telephonenya.

Sungguh ironis. Benar-benar menjadi sebuah peringatan bagiku. Bahwa musuhmusuh

Allah selalu akan mencelakai umat Islam dengan cara apapun. Gundah hati ini

semakin memuncak.



Aku kembali ke kamar, dan mengambil buku suci pedoman hidup manusia. Al

Qur’an. Hanya inilah cara satu-satunya yang dapat memperkuat diriku lagi.

[2.214] Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang

kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka

ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacammacam

cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:

"Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu

amat dekat.

[16.110] Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah

sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu

sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[2.218] Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan

berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha

Pengampun lagi Maha Penyayang.

[3.142] Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi

Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.

[5.35] Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang

mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat

keberuntungan

[5.54] Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari

agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai

mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang

mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah,

dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah,

diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-

Nya) lagi Maha Mengetahui.

[9.16] Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah

belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan

tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang

yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

[9.41] Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan

berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik

bagimu jika kamu mengetahui.

[25.52] Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap

mereka dengan Al Qur'an dengan jihad yang besar.

Kini aku sudah menjadi kuat kembali. Semangat dan tenagaku telah pulih

kembali. Layaknya mobil yang telah diisi dengan bahan bakarnya, yang bisa melaju dan

melesat jauh. Maka aku pun begitu. Kini semua tenagaku pulih kembali. Aku sudah siap

untuk kembali ke medan pertempuran. Aku tidak akan pernah takut lagi.Ghirohku adalah

sebuah kobaran api yang akan melalap para penghina dan musuh-musuh Islam. Allahu

Akbar.

***

Pagi begitu cerah. Tetap sama seperti biasanya. Hilir mudik para pelajar,

mahasiswa, pekerja. Semua tetap sama. Tapi kini aku kembali diisi dengan tenaga yang

tak akan mudah menyerah. Semuanya telah masuk kedalam relung darahku. Menambah

semangat juangku. Untuk kembali lagi seperti dulu. Bukan orang-orang yang kehilangan,

ghiroh untuk berjuang.

Tetapi tidak seperti biasanya. Kontrakan yang biasanya ramai dengan para ikhwan

yang akan berangkat kuliah. Sekarang menjadi sepi. Entah kemana saudara-saudara

seperjuanganku. Semenjak dari tadi malam. Tidak terdengar suara gaduh para ikhwan

yang sedang bercengkrama, atau ramai berdiskusi tentang segala hal. Entah kemana

mereka.

Sebuah kertas yang berserakan, berada di depan pintu kontrakan. Entah kertas

siapa ini. Mungkin saja hasil ujian teman-teman yang terjatuh. Tak berpikir panjang aku

segera menyelamatkan kertas itu. Dari pada nanti, diambil orang. Sehingga tahu aib

terbesar di kontrakanku. Pantang mendapat nilai D. Bisa-bisa menjadi rumor atau gosip

paling baru. Setelah aku ambil. Terlihat sekilas, bukan seperti kertas ujian. Tetapi

terdapat sebuah tulisan dibaliknya. Entah dari mana pikiran ini. Serasa ingin membaca

sebuah tulisan yang terlihat sangat acak-acakan. Aku tak ambil pusing, langsung saja aku

membacanya.

***

Masya Allah. Sungguh ini bukan tulisan biasa. Ini sebuah untaian kata-kata

seorang ikhwan yang putus asa. Entah punya siapa ini. Apakah kepunyaan temantemanku?

Terbesit tanya dipikiranku. Kata-kata yang menusuk jiwa. Sebuah penyadaran

yang aku harus sadar dengan kata-kata itu. Aku harus menyembunyikan kertas ini.

Sebelum dibaca teman-teman. Aku harus tahu, ini kertas siapa!

“Assalamualaikum!” ucap Samsul dan Deni saat baru datang.

“Walaikumsalam” jawabku. “dari mana Akh! Kok pulangnya cepat banget”

“Nggak dari mana-mana!” ucap Samsul malas.

Sekilas Heri, mengerdipkan mata kanannya. Seraya memberikan pesan untuk tidak

meneruskan pertanyaanku.

Memang tidak seperti biasanya sahabatku yang satu ini. Samsul. Seorang ikhwan

yang sangat bersamangat. Kini terlihat sangat layu. Sangat tidak bersemangat. Entah apa

yang membuat dirinya menjadi seperti itu. Tak seberapa lama, Samsul langsung masuk

kekamarnya. Raut mukanya terlihat sangat gelisah.

“Akh, emangnya ada apa?” tanyaku kepada Heri.

“Entahlah Akh! Nggak jelas. Mungkin karena gosip teman-teman” ucapnya malas

 “Ha! Gosip? Emang Akh Samsul di gosipin apa? Seperti artis aja!” ucapku sambil

tersenyum.

“Antum kok malah bergurau Akh!”

“Nggak, bukan begitu. Ana hanya bingung aja!” ucapku

“Bingung, kenapa?”

“Iya, bingung. Kok masih ada gosip? Kita kan dilarang untuk ghibah!”

“Nah itu Akh. Ana juga bingung! Malah gosipnya menyebar luas sekali dikalangan kita.”

ucap Heri dengan agak bingung.

“Hem, ternyata kita memang harus banyak belajar untuk menjaga lisan kita ya Akh!

Emangnya gosipnya apa, Akh?”

“Afwan, Akh! Kalau antum pengen bertabayun, mendingan langsung kepada Akh Samsul

aja. Biar lebih jelas”

“Hem, iya benar juga! Harus langsung kepada orangnya. Agar lebih jelas”

Tak seberapa lama Samsul keluar dari kamar. Wajahnya masih terlihat lesu.

Seperti sedang mencari sesuatu yang hilang.

“Akh, mencari apa?” tanyaku penasaran

“Afwan, Akh! Antum tahu potongan kertas nggak. Mungkin aja terjatuh disekitar sini!”

“Ini!” jawabku, sambil menunjukkan potongan kertas yang dimaksud.

Samsul mengangguk dan diambilnya kertas itu dari aku. “Akh, Antum membaca isi

kertas ini?” tanya Samsul, terlihat agak malu.

“Iya! Ana baca. Afwan, ana lancang membacanya.”

“Tidak apa-apa! ini memang salah ana. Tidak menempatkan sesuatu yang penting pada

tempatnya!” ucapnya, terlihat kesal dan malu.

“Akh, ana pengen bicara dengan antum! Bisa?” sergahku, saat Samsul akan memasuki

kamarnya.

“Tafadhol! Dikamar ana aja, Akh” Samsul sambil membuka pintu kamarnya.

Aku langsung saja masuk kekamar Samsul.

 “Ada apa, Akh?” tanya Samsul

Aku tersenyum. “Bukan ana, yang ada apa! Tetapi antum, ada apa? Boleh tahu?”

Samsul menunduk lesu dia terdiam. Setetes air matanya jatuh. Tak lama, Samsul

mengangkat kepalanya. Terlihat berat sekali.

“Akh, ana telah melakukan sesuatu kesalahan yang besar! Kesalahan yang membuat ana

menjadi benar-benar terjerembab kedalam lubang kenistaan. Lubang fitnah yang teramat

dalam. Ana, tak sanggup berdiri lagi akh! Ana malu. Sungguh ana malu” ucap Samsul

dengan deraian air mata yang sudah tak tertahankan lagi.

“Afwan, memangnya apa kesalahan antum!” tanyaku penasaran.

“Akh, suatu kali ana pernah membonceng seorang akhwat! Yang pada saat itu, dia

memang tidak mempunyai uang lagi untuk pulang. Ana pada saat itu kasihan! Sehingga

muncul ide untuk membonceng akhwat itu. Karena pada saat itu ana juga nggak punya

uang untuk ana berikan kepada akhwat itu!” Samsul berhenti sejenak, mengusap air

matanya. “Ana yang memaksa akhwat itu untuk mau dibonceng. Dengan dalih bahwa ana

saat itu membawa tas yang besar, yang dapat menjaga hijab antara ana dan akhwat itu!

Setelah itu, ana mengantar akhwat itu pulang. Lalu tak lama munculah ghibah (gosip)

antara ana dan akhwat itu. Mengingat ana dan akhwat itu memang dekat. Dekat dalam

artian, bahwa akhwat itu adalah sekretaris ana.” Secara mendadak Samsul langsung

menghentikan perkataannya. Tangisnya berderai kembali, sambil terisak dia kembali

mengatakan “ana telah merusak Akhwat itu! Dia telah tercemar dengan noda yang ana

buat. Dan orang yang paling ana segani, malah percaya dengan orang lain. Dari pada

dengan ana.”

“Mentor antum?” tanyaku

“I..ya!” jawab Samsul terbata-bata.

“Ana boleh tahu, mentor antum siapa?”

“Akhi Shulthon!” jawabnya singkat.

“Akhi Shulthon! Ikhwan ekonomi itu yach? Adek kelas ana!” tanyaku penasaran.

“Iya, akh!”

“Hem! Begini akh! Ana mungkin, perlu menceritakan tentang kasus ikhwan yang lain.

Pernah ada seorang ikhwan yang pada saat itu dia sedang naik angkot. Yang pada saat

itu, angkotnya sangat penuh. Sehingga ikhwan itu harus berdesak-desakan dengan

penumpang yang lainnya. Dan lucunya, disamping Ikhwan itu ada seorang akhwat. Yang

terpepet juga bersama sang ikhwan. Ironisnya lagi, si akhwat berada pas disamping kanan

ikhwan, yang pada saat itu si akhwat sudah sangat terpojok. Sehingga terlihat, bahwa si

Ikhwan sedang berdua-duan dengan si akhwat. Sesudah peristiwa itu, tak lama. Muncul

ghibah, bahwa si Ikhwan sedang berdua-duaan dengan akhwat, didalam angkot. Dan

yang ironisnya lagi, bahwa si Akhwat adalah kader bawahan si Ikhwan. Hanya sayang si

Ikhwan tidak mengetahui si Akhwat adalah kader bawahannya, karena si Ikhwan tidak

pernah memandang Akhwat di organisasinya dengan tatapan langsung! Setelah muncul

ghibah itu, kabarnya si Akhwat sudah tidak pernah terlihat lagi diorganisasi! Kata

beberapa sumber, bahwa si Akhwat malu dan futur akibat dari ghibah itu.” Sejenak aku

menatap Samsul dengan senyum. “menurut antum, siapa yang salah?” tanyaku.

“Apakah itu benar, pernah terjadi?” balik tanya Samsul

“Iya memang pernah! Dan yang terkena itu adalah Senior ana. Sebelum antum masuk

kuliah!”

“Ana bingung, Akh! Entahlah, siapa yang salah?” ucap Samsul, serba salah.

“Tidak ada yang salah! Yang salah, adalah yang percaya.”

“Maksud, antum?”

“Iya, yang salah adalah yang percaya dengan cerita itu. Karena pada dasarnya, semua itu

adalah ujian. Baik yang melihat si Ikhwan dan si Akhwat pada saat di angkot, maupun

juga si Ikhwan dan si Akhwat. Karena pada dasarnya, ujian bagi yang melihat si Ikhwan

dan si Akhwat itu, adalah ujian bagi lisannya. Dan ujian bagi si Ikhwan dan Akhwat itu,

adalah ujian kekuatan keimanan mereka berdua. Saat dilanda dengan peristiwa seperti itu.

Jika mereka kuat menahan ujian itu, maka mereka akan mendapatkan peringkat yang baik

di hadapan Allah swt. Tetapi jika mereka tidak kuat, maka akan menjadi kerugian bagi

mereka!”

“Lalu bagaimana dengan kasus ana?” ucap Samsul bingung.

“Ya.., sama! Jika antum dan si Akhwat kuat dengan ujian itu. Dan antum memang nggak

ada maksud apapun selain menolong akhwat pada saat itu. Maka Insya Allah, akan

ditutupi oleh Allah dengan sendirinya.”

“Lalu sikap ana gimana, pada ikhwan dan akhwat yang sudah mempercayai ghibah itu?”

“Antum tinggal, diam saja! Nggak usah memperbesar masalah. Kalau mereka bertanya,

katakan yang sebenarnya! Kalau mereka nggak nanya, dan ngomong dibelakang. Ya

sudah, dosa ditanggung mereka. Toh kita sudah diingatkan Allah, untuk selalu

menerapkan rasa ingin tahu kita dengan bertabayyun.”

“Iya, ana akan menerapkan taujih antum!” ucap Samsul, terlihat sangat lega.

“Akh, apakah hina seorang Ikhwan yang menolong Akhwat? Padahal kita selalu

diajarkan untuk menolong. Apalagi pada saudara seiman kita sendiri. Ya, memang pada

dasarnya kita tidak diperbolehkan berkhalwat, atau bahkan bersentuhan dengan yang

bukan muhrim. Tetapi secara garis besar, jika masih ada bentuk pertolongan yang lebih

baik. Maka cara itulah yang harus dipergunakan. Tetapi manakala memang tidak bisa.

Ya.., dengan terpaksa kita tetap harus menolong. Meskipun kata saudara-saudara kita, itu

dilarang atau tidak syar’I. Kalau memang tidak ada pertolongan lain, maka ana yakin.

Bahwa itu juga termasuk rhukso.”

Tak lama Samsul merobek-robek kertas yang berada digenggamannya. Kertas

yang menuliskan semua isi hatinya. Yang bertuliskan.

“Aku bingung, aku benar-benar bingung. Sungguh aku benar-benar bingung.

Hanya kata bingung yang dapat aku berikan. Ya Allah sungguh aku benar-benar bingung.

Sungguh tidak aku sangat bingung, mungkin aku sudah gila. Sangat-sangat gila. Semua

otakku berpatri pada kegilaan. Sehingga semuanya menjadi gila. Bingung dengan

kegilaan yang mendalam. Ya Allah apakah engkau memberikan aku rasa gila ini begitu

dalam? Sungguh aku tak kuasa mendapatkan rasa gila ini.

Ya Allah maafkan semua salahku. Jadikan aku begitu kuat. Kuat sehingga aku

bisa mengalahkan hati dan nafsuku. Sekuat aku bisa menghabisi musuh-musuhMu. Ya

Allah berikan aku kekuatan. Kekuatan yang mampu menahan rasa maluku kepada

hamba-hambaMu yang tahu dengan kejelekanku. Sekuat-kuatnya ya Allah. Aku

maluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu sungguh aku sangat malu ya Allah.

Aku bingung, gila dan malu. Semua ada pada diriku. Aku terkucil, aku benar-benar

terkucil. Menjadi orang buangan yang tidak dihargai makhlukMu. Ya Allah apakah aku

harus berhenti dari jalanMu.

Ya Allah apakah aku harus keluar dari jalanMu, ataukah aku harus mencari jalan

lain yang menuju kepadaMu. Yang orang-orangnya tidak suka mencemooh, yang orangorangnya

tidak merasa paling tinggi, yang orang-orangnya tidak merasa paling sholih,

apalagi yang orangnya suka memerintah seenaknya sendiri. Ya Allah jangan kumpulkan

aku dengan orang yang sukanya membicarakan kejelekanku. Jangan dekatkan aku

dengan mereka. Jangan biarkan aku berdekatan dengan manusia-manusia yang telah

menafikkan kebenaranmu. Yang selalu membicarakan kebenaranMu tetapi mereka

sendiri yang mengacuhkannya. Yang begitu senang membicarakan kejelekan saudaranya.

Ya Allah kumpulkan aku dengan hamba-hambaMu yang sukanya mengingatkan

aku dengan kelembutan bahasa mereka, kesantunan perilaku mereka, dan selalu

menjadikan aku teduh dalam naunganMu. Ya Allah temukan aku kepada mereka.

Sungguh sampai saat ini aku belum menemukannya, yang aku temui hanyalah orangorang

yang sukanya membicarakan kebenaranMu tetapi tidak melakukan kebenaran itu.

Yang sukanya hanya mengingatkan orang lain tetapi diri mereka selalu lupa dan selalu

alpa.

Ya Allah berikan aku kesabaran, kesabaran yang selalu dapat membimbing dari

jalanMu kejalanMu. Ya Allah aku dulu begitu senang denganMu, tetapi aku sekarang

malah menjauhiMu. Aku dulu adalah orang yang brutal, tetapi santun dihadapanMu. Aku

dulu adalah orang yang naïf, tetapi patuh dengan aturanMu, aku dulu adalah orang-orang

yang keji, tetapi aku sangat menyayangiMu. Ya Allah kata meraka aku berada pada

jalanMu, tetapi sungguh ya Allah aku tidak merasakan berjalan dengan orang-orang yang

selalu mengikutiMu, Kenapa ya Allah? Orang yang aku anggap sangat dewasa. Ternyata

hanya seorang yang menyakitkan hati. Orang yang aku anggap pembela, ternyata hanya

bisa menjadikan keluasan dalam berpikir saja. Sungguh ya Allah, aku ingin kembali

kepadaMu. Ini doaku ya Allah. Panggil aku. Berikan aku kenikmatan seperti dulu lagi.

Kenikmatan yang salalu mengingatMu. Berjalan pada kewajibanMu. Senang dengan

sunnah-sunnah RasulMu. Tidak terlepas dari kebaikan yang Engkau anggap baik. Ya

Allah aku mohonn pertolonganMu. Sungguh ya Allah tolong aku.

Tolooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

ooooooooooooooooooooooong aku ya Allah. Aku sangat miskin. Aku sangat dholim, aku

sangat pusing. Berontak pikiranku ya Allah. Sungguh. Aku sangat benci semua ini.

Tetapi aku mohon ya Allah, jangan memberikan pikiran kepadaku untuk membenciMu.

Aku membenci semua ini. Tetapi aku mohon lagi ya Allah, berikan aku kesenangan

untuk selalu menyembahmu LAGI. Aku futuuuuuuuuuuuurr. Aku

gillllllllllaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Sangat gilaaaaaaaaaaaaaaaa. Aku ingin menangis ya

Allah. Tetapi aku malu. Sangat malu. Aku malu selalu menangis dihadapanmu. Dengan

dosa-dosa yang selalu aku perbuat. Memang ya Allah aku adalah makhluk yang selalu

berbuat salah dan dosa. Tetapi apakah aku harus selalu berdosa.

Yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa Allah. Aku memang orang bodoh, goblok dan brengsek. Entah

kata-kata buruk apa lagi yang harus dituju padaku. Ya Allah aku muak, sungguh ya

Allah. Aku muak dengan semua ini. Tapi ya Allah jangan buat aku muak kepadaMu.

Jangan berikan perasaan kepadaku rasa muak “



JILID 11

“Post-post!” ucap seseorang diteras depan rumah.

“Iya..!” sahutku sambil dengan cepat mendatangi Pak post.

“Khalid Hendriansyah?”

“Iya, saya pak!”

“Tolong tanda-tangani disini!” ucap Pak post, sembari menunjukkan kertas yang akan

aku tandatangan.

“Terima kasih Pak!” kataku.

Pak post hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dan berlalu dari hadapanku.

Surat yang sudah lama aku tunggu-tunggu. Yang akan memberikan sebuah

keputusan yang akan menapak masa depanku. Menepak keinginanku dalam menggapai

bidadari surga. Menapaki jalan-jalan surga yang Insya Allah aku lewati dengan bidadari

Allah. Menapaki kehidupanku selanjutnya. Kehidupan dengan seorang bidadari. Bidadari

yang sudah lama aku rindu dan impikan.

Aku duduk dalam sofa tua yang penuh dengan luka-luka perang. Sehingga harus

ditambal, untuk menutupi luka-lukanya. Sofa butut. Kubuka perlahan-lahan, sebuah surat

kiriman keluargaku yang ada di kampung. Saat aku buka, ternyata ada beberapa lembar

surat yang telah dituliskan, selain ucapan pembuka. Tertulis dipojok kiri atas setiap

suratnya. Bapak, Ibu, dan Nurul. Hem, serpertinya aku harus mendapatkan banyak

masukan dari keluargaku nich. Atau bahkan kritikan pedas dari Bapakku, hem! Pikirku.

Surat pertama, dari Bapak.

Untuk Khalid,

Anakku

Le, Bapak kaget saat menerima surat kamu. Bapak jadi teringat masa-masa kecil

kamu dahulu. Masa, saat kamu masih ingusan. Bapak juga teringat, saat Bapak

memarahi kamu karena mencuri mangganya Bude Narsih. Apalagi Bapak masih ingat,

saat kamu mandi d kali. Bapak menghajar kamu habis-habisan. Bapak sangat khawatir

Le, pada saat itu. Bapak merasa, bahwa kamu belum dapat melindungi diri kamu sendiri.

Le, Bapak nggak melarang kamu menikah. Kamu memang sudah besar. Sudah tidak akan

mencuri mangga lagi, apalagi mencuri harta orang lain. Kecuali, mencuri hati seorang

gadis yang akan kamu jadikan Istri! Bapak yakin, kamu sudah dapat menentukan

kebenaran dan kesalahan. Bapak sangat percaya, kepada kamu. Bapak tidak akan

mengatur kamu. Karena Bapak yakin kamu bisa mengatur diri kamu sendiri, dan bisa

mengatur istri kamu. Bapak sangat yakin. Apalagi saat kamu pulang dari kota. Bapak

sangat merindukan kamu. Merindukan tilawah kamu, merindukan shalat berjamaah di

masjid, rindu saat kamu menjadi imam shalat. Ilmu agamamu sekarang lebih tinggi dari

Bapak. Bapak yakin, kamu bisa mendidik istri kamu. Bapak juga yakin, pilihan calon

istrimu. Meskipun didesa, banyak para pemudanya menikah muda. Dikarenakan sudah

melakukan hubungan diluar batas. Tapi Bapak yakin, kamu bukan seperti pemudapemuda

itu. Kamu adalah anak Bapak. Yang sudah Bapak ajari tentang keImanan,

tentang keTauhidan, tentang keEsaan. Bapak percaya kamu, Le. Lanjutkan pernikahan

kamu, masalah kamu lulus kuliah atau belum, nggak masalah bagi Bapak. Apalagi

tentang kamu sudah kerja apa belum, itu pun bukan soal bagi Bapak. Setelah kamu

menikah, dan tidak punya pekerjaan. Kamu bisa pulang, sawah kita masih menunggumu,

anak-anak didesa ini masih butuh seorang ustad. Teruslah Le. Bapak merestuimu.

Hem, Bapak! Sungguh aku tak akan pernah mengecewakan beliau. Doakan terus

Pak! Doakan Khalid. Agar menjadi seorang pemuda yang Bapak harapkan. Ucapku

dalam hati. Setetes air mata kenangan jatuh diatas surat yang ditulis Bapak. Aku bahagia

berasama Bapak!.

Aku tersenyum dengan surat yang ditulis oleh Bapakku. Sungguh, aku teringat

betul masa lalu itu. Masa kecilku. Saat-saat aku melakukan sesuatu yang seperti biasa

dilakukan anak-anak pada umumnya didesaku. Tetapi aku benar-benar merasakan benar.

Memang didikan Bapak telah tertanam pada diriku. Tidak akan pernah aku lupakan.

“Dalam sebuah perjalan, menyusuri pantai utara

berkereta ditengah malam, Surabaya Jakarta.

Ku teringat masa indah. Dimasa-masa kecilku

Kenangan bersama ayah. Dikampung halaman.

Sungguh indah, terlalu manis untuk dilupakan

Sungguh mesra, meski beriring ketegangan….

Ayah terima kasih, ananda haturkan kepadamu

Yang telah mendidik dan membesarkanku bersama ibu.

Ayah engkaulah guruku yang terbaik sepanjang usiamu

Yang telah membimbing masa kecilku

Meniti jalan Tuhanku

Allah semoga engkau berkenan membalas segala kebaikannya

Menerimanya dan meridhoinya d hadiratmu”

Tak terasa Nasyid Suara Persaudaraan melantun di bibir ini.

Surat kedua, dari Ibu.

Untuk Khalid

Anakku

Khalid, apa kabarmu nak dikota? Kamu baik-baik saja kan, nak? Kamu nggak

kenapa-napakan? Ibu kaget, saat Bapak memberitahu Ibu. Kalau kamu ingin menikah.

Memangnya kamu sudah punya calon istri? Ibu dan Bapak sudah sepakat. Kalau

merestuimu dalam menikah nanti. Tapi Ibu masih sangsi. Apakah benar, kamu nggak

ngapa-ngapain anak gadis orangkan? Ibu kaget, ujug-ujug. Kamu langsung ingin nikah.

Meski Bapak meyakinkan kamu nggak akan melakukan perbuatan yang dilarang agama.

Tapi, sebagai seorang Ibu. Ibu nggak mau, kamu melakukan hal-hal yang diluar agama.

Ingat khalid, kamu masih punya Ibu dan adikmu Nurul. Tapi, Ibu akan berdoa agar kamu

baik-baik saja. Khalid, Ibu sangat menyayangi kamu. Jangan kecewakan Ibu ya nak. Dan

jikalau kamu menikah nanti. Bapak dan Ibu serta keluarga disini hanya bisa memberikan

restu dari sini. Kami tidak dapat berangkat kekota, ingat Nak. Biaya perjalanan kekota

mahal. Kami hanya akan mengirim sedikit uang, untuk biaya pernikahanmu nanti. Jika

kamu benar-benar menikah dikota. Sudah ya Nak, jaga kesehatan. Jangan terlalu banyak

keluar malam. Jangan terlalu kecape’an. Ibu disini menyayangimu.

Shubhanallah, sungguh Ibu sangat memperhatikan aku. Ya seperti itulah ibuku.

Seorang wanita yang benar-benar sangat menjaga anak-anaknya. Aku tersenyum dengan

surat Ibu. Bersalaman dengan seorang wanitapun aku belum pernah. Apalagi saat

bertaaruf dengan ukhti Fara. Keringat dingin meluncur dengan derasnya, meskipun

keringat itu nggak aku undang untuk datang. Bagaimana aku mau menyakiti seorang

wanita. Tapi sungguh, aku betul-betul akan selalu teringat pesan ibu.

Surat ketiga, dari adikku. Nurul

Buat mas Khalid

Yang tercinta

Apa kabar mas? Hehee… Nurul kaget! Tapi tenang Mas. Nurul kagetnya nggak

langsung kebentur atap kok. Paling-paling cuman melotot aja. Tapi mata Nurul nggak

sampai keluar kok. Bener. Nich buktinya, masih bisa buat nulis. Hehe…! Mas Khalid,

emang sudah ada calonnya? Mas, kan dalam Islam nggak boleh pacaran! Ingat loh mas,

pacaran itu haram. Mas, pacaran itu banyak mudharatnya. Dosanya juga banyak,

apalagi kan itu mendekati zina. Nurul yakin mas Khalid lebih mengetahuinya. Makanya

Mas, cepat selesain kuliahnya. Lalu pulang. Biar disana nggak ketemu sama cewek yang

pake’ pakaian tetapi seperti nggak berpakain. Dikota, kan banyak cewek-cewek

berpakain seksi plus. Taukan maksudnya hehee…! Mas Khalid, kalau nanti pulang. Biar

Nurul kenalkan sama salah seorang ustadzah Nurul. Namanya mbak Nadia. Orangnya

cantik banget loh mas. Apalagi Nurul seneng dengan jilbabnya. Ituloh mas, jilbab yang

gedhe! Yang biasanya disebut jilbabers. Nurul sering ngobrol sama mbak Nadia. Mbak

Nadia itu seumuran mas Khalid. Baru lulus dari kuliahan. Mbak Nadia itu,

keponakannya pak Suroso. Ituloh mas, yang punya peternakan sapi perah. Katanya sich,

mbak Nadia itu tinggal disini disuruh sama pak Suroso. Untuk ngajar ngaji anak-anak

desa sini. Mas pulang aja, nanti tak kenalin sama mbak Nadia. Orangnya cantik loh mas,

bener. Nurul nggak bo’ong. Kalau ada mas Khalid, pasti mbak Nadia nggak akan di

goda sama remaja-remaja desa sini. Biasalah mas, anak-anak desa pada nggak tahan

pengen berkicau kalau nemuin yang bening-bening kayak mbak Nadia and yang pasti

Nurul juga hehe…! Udah Mas nggak usah nikah sama gadis kota. Nikah aja sama mbak

Nadia Hehe..! Tapi kalau mas Khalid dikota nemuin gadis yang kayak mbak Nadia sich,

Nurul nggak papa! Tapi kalau mas Khalid dikota nemuin cewek-cewek yang pakaiannya

ketat-ketat and lalu dijadiin istri mas Khalid. Huh… tujuh turunan Nurul nggak akan

nerima tuh cewek. Wes, udah duluh ya mas Khalid. Nurul belum mandi nich, biasalah

mau berangkat sekolah. Udah Wassalam.

Nurul, adikku satu-satunya. Alhamdulillah, sekarang sudah ada akhwat yang

membimbing dia. Hem, sekarang Nurul bisa juga menceramahin aku. Alhamdulillah

semua sudah berubah. Nadia, seorang akhwat yang mau mengajar didesaku. Aku jadi

teringat dengan salah satu teman akhwat. Namanya hampir sama, Nandia. Dia termasuk

salah satu temannya ukhti Farah. Nandia memang baru lulus kemarin. Dan rencananya

ingin sekali mengajar anak-anak dipedesaan. Apakah mungkin Nadia adalah Nandia.

Hem..! entahlah yang penting di desaku ada seorang akhwat yang sudah siap berdakwah

disana. Pikirku. Kalaulah Nurul melihat ukhti Farah. Pasti dia akan menyatakan setuju,

meski nggak aku menanyakan hal itu padanya.

Surat sudah selesai aku baca. Semua pada dasarnya menyetujui rencanaku

meskipun ada riak-riak sedikit ketidakpercayaan keluargaku. Tapi aku yakin, jika mereka

melihat ukhti Farah. Keluargaku akan setuju. Bahkan akan sangat bersyukur. Aku

letakkan surat di meja kayuku. Tak terasa adzan ashar telah mengumandang.

***

“Gimana, akh Khalid?” tanya ustad Fadlan.

“Ana, sudah memikirkannya Ustad!”

“Lalu, kapan antum siap mengkhitbah?”

“Tafadhol, semua terserah antum. Keluarga ana sudah merestui rencana ana!”

“Baik, kalau begitu secepatnya! Besok, kita datang kerumah Zahra. Ana sebagai saksi

antum! Gimana siap?”

“Tapi ustad! Ana belum ada persiapan apapun!” ucapku galau.

“Persiapan apa? Antum mau bersiap apa lagi?” tanya ustad Fadlan bingung.

“Ana harus mengumpulkan uang dulu, untuk biaya pernikahan! Dan beberapa hal yang

memang perlu ana persiapkan.” Ucapku bingung.

“Antum, sudah nggak usah memikirkan itu semua! Yang penting ruhiyah antum sudah

siap. Maka kesiapan yang lain-lain, akan menjadi tanggungan yang sudah siap.” ucap

ustad Fadlan dengan senyum.

Aku hanya bisa mengangguk. Pasrah.

***

Senja sore ini, memerah. Awan bergumpal lebat. Bagaikan sekelompok bantalbantal

putih. Bersih, mengagumkan hati. Mengagumkan karena Allah menciptakannya

untuk memang benar-benar dinikmati. Hingga di resapi makna yang terdalam pada semua

ciptaanNya. Pada semua hal yang telah diciptakanNya. Sungguh benar-benar

mengangumkan. Keelokan yang tak akan pernah dapat diciptakan insan manapun.

Nikmat benar memandang keindahan sore hari. Tetapi, tidak dapat dipungkiri

lagi. Bahwa jantung ini masih tetap berdegup kencang. Berdegup kencang bagaikan

sebuah letupan kereta batu bara yang melaju perlahan-lahan. Melaju pada saat berjalan di

medan perang. Perang yang tak teralakan antara kegalauan dengan keyakinan. Perang

melawan segala kesenangan dengan kebingungan. Apalagi ketakkaburan, seorang hamba

yang akan menyunting wanita yang sangat mulia dari pandanganku. Wanita yang benarbenar

berada dalam mimpi indahku. Wanita yang akan selalu menyertaiku dalam segala

bentuk kegiatanku, dakwahku. Apalagi mengiringi aku memasuki Jannah Ilahi hingga

dia menjadi seorang bidadari. Sungguh, ini menjadi kenyataan. Manakalah sebuah

kenyataan itu telah menggapaiku. Tetapi benar-benar aku gugup sekali untuk meraih

kenyataan-kenyataan itu.

Hingga saat ini. Aku masih merenungi semuanya. Merenung dalam kegalauan

seorang ikhwan. Kegalauan seorang laki-laki yang akan mendapatkan keberuntungan

yang besar. Keberuntungan yang akan mengantarkan menuju keberuntungankeberuntungan

yang lainnya. Amien.

”Akh, antum ngelamun apaan?” tanya Deni. Sambil menepuk pundakku.

“Eh, antum Akh!” ucapku kaget. “antum sudah kembali ya? Hem, sudah diajarin

mengucap salam. Kok nggak mengucap salam!” lanjutku.

“Ye… antum itu gimana sich Akh! Ana dari tadi mengucap salam, tapi antum diam aja

nggak jawab salam ana!” ucap Deni kesal.

“Ha….! Sudah yah? Oh, Walaikumsalam!”

“Nah, gitu dong! Jawab kalau ada orang salam”

“Afwan, tadi nggak dengar!” ucapku sambil senyum. “Eh iya, ngomong-ngomong antum

kok cepat banget? Emang istri antum dimana? Ditinggal didesa yach!” godaku.

“Hem, Akh. Yang menikah itu kakak ana! Bukan ana.” Ucap Deni. Setelah sambil

cengengesan. “Yang seharusnya itu, ana yang nanya! Antum dah siap-siap menikah

nggak?” lanjutnya.

“Sudah dong! Ana dah siap menikah.”

“Bener, Akh?”

 “Iya benar, ana dah siap menikah. Bahkan sejak jadi janin, ana sudah disiapkan oleh

Allah untuk menikah!” gurauku.

“Yee, kalau itu sich ana juga dari dulu! Ana mau masuk dulu, Akh! Dari tadi ana belum

tidur sama sekali. Ngantuk nich!” ucap Deni sambil akan beranjak menuju kamarnya.

“Iya tafadhol! Kalau nggak ngantukan, bukan Akhi Deni namanya” gurauku.

“Seepp!” sahut Deni. Sambil berlalu dariku.

Aku melanjutkan merenungi kegalauan hati ini. Kegalauan, yang entah aku

sendiri tidak mengerti. Kenapa aku harus bimbang. Kenapa aku harus galau, entahlah.

Besok, adalah waktu yang terpenting dari hal yang terpenting pada berbagai kehidupanku

selama ini. Aku seorang anak orang desa. Yang tidak mempunyai kekayaan yang

seberapa. Kecuali hanya sepetak beberapa sawah. Kini akan menikahi seorang gadis.

Anak konglomerat muslim. Seorang gadis yang sangat mulia dimata orang yang

memandangnya. Seorang wanita yang begitu mempesona jika orang memandangnya.

Bukan hanya wajahnya yang terlihat cantik. Tetapi akhlaq dan akhidahnya juga terpancar

dari rona-rona wajahnya. Tidak akan pernah ada orang akan menolaknya, jika diberikan

seorang bidadari seperti dia. Tetapi aku, aku seorang yang rendah. Seorang laki-laki yang

tidak mempunyai apa-apa untuk dibanggakan. Apalagi untuk diberikan. Sungguh sangat

menggelikan. Bahkan membingungkan memang.

Besok. Hari yang akan mengubah seluruh hidupku. Mengubah segala sesuatu

yang ada padaku. Besok. Mengubah kehidupanku menjadi semakin berwarna. Semakin

menunjukkan kebesaran Allah kepada hambanya. Kini aku harus lebih memperdalam

akhidahku. Memperdalam ruhiyah, juga tak kalah pentingnya. Apalagi aku juga harus

memperdalam membaca buku-buku tentang pernikahan. Pokoknya semuanya harus

diperdalam. Biar nanti saat aku sudah beristrikan bidadari. Tidak malu-maluin.

Senja yang merona itu, kini semakin lama semakin menghilang. Keindahan senja

itu menjadi berangsur-angsur berganti kehitaman. Hitamnya malam yang pekat dengan

kehidupan lain. Kehidupan para makhluk hidup malam. Kehidupan para pemiliki malam.

Kehidupan yang akan membangunkan mereka untuk keluar dalam balutan bingkaian

malam. Kini keindahan senja telah hilang. Berganti keindahan malam yang bertaburkan

bintang. Bertaburkan lampu-lampu yang mempesona. Bertaburkan keceriaan para

makhluk malam. Apalagi bertaburkan para pedagang asongan. Makhluk pemilik malam.

***

Sholat Isya’ sudah aku laksanakan. Tilawah sudah aku lakukan. Sebuah

kewajiban yang selalu memberikan kenikmatan kepadaku. Semua sudah aku lakukan.

Termasuk membaca al ma’tsurat. Dzikir pagi petang. Kini saatnya aku menambah

khasanah keilmuanku. Ilmu yang akan membibingku dalam semua kehidupanku. Dalam

berbagai hal yang akan membimbingku pada sebuah jalan yang haq. Yang akan

menjadikanku seorang yang benar-benar dapat melukan segala sesuatunya dengan

berlandaskan kebenaran. Tetapi bukan prasangka kebenaran.

Buku Kado pernikahan untuk istriku karangan Mohammad Fauzil Adhim.

Terpampang jelas dihapanku. Hem, semua sangat cepat. Bagaikan angin topan yang

meniupkan kekuatannya. Dulu aku sering mengejek seniorku saat mereka membaca

karangan sang maestro pernikahan. Mohammad Fauzil Adhim. Tetapi kini, aku tidak

memungkiri kehebatan seorang Mohammad Fauzil Adhim. Dalam memberikan solusisolusi

sebuah pernikahan. Memang benar-benar membuatku lebih tahu segalanya.

Malam terus begerak. Dalam bingkaian dingin yang menyeruak. Sungguh tiada

bosan aku membaca buku karangan Mohammad Fauzil Adhim. Tetapi aku tetap harus

menjaga tubuhku. Aku tidak boleh beralarut-larut untuk saat ini. Karena besok adalah

hari penting yang akan mengubah hidupku. Mengubah seluruh dimensi kelajanganku.

Malam bertaburan bintang.

Malam, aku datang esok

Kan meraih bintangmu

Ku jadikan sebagai bintang yang tertinggi

Tinggi lebih dari penempatanmu. Malam.

Karena aku akan meninggikan bintangmu

Atas nama Ilahi

Untukmu bintangku.

Farah Zahrani.



JILID 12

Pagi, hembusan anginmu terasa. Desah embunmu, membuatku merasakan

kedinginanmu. Entahlah, pagi ini aku benar-benar merasakan hal-hal yang tidak

biasanya. Aku benar-benar gugup pagi ini. Sejenak aku membaca ayat-ayat suci yang

selalu menenangkan jiwaku. Menentramkan kegundahan hati ini. Benar-benar obat yang

sangat ampuh untuk menyembuhkan segala macam penyakit. Al Qur’an.

Sesaat wekker bututku berbunyi. Pukul 7 pagi. Ini saatnya aku berangkat. Degup

jantungku mengiringi setiap langkah kakiku. Saat-saat yang sangat berharga buatku.

Langkahku tegap mantap, diiring dengan jantung yang berdegup kencang. Diiringi

dengan rasa hati yang benar-benar tak karuan. Sungguh aku benar-benar gugup.

Untuk saat ini kebiasaanku tidak boleh aku lakukan. Berjalan kaki. Tidak enak

rasanya jika tercium aroma yang menyegarkan suasana. Yang membuat suasana jadi

segar. Dirasakan oleh mertua dan calon istriku. Tapi aku yakin. Jika seseorang mencium

bau badanku pasti mereka tidak akan pernah tertidur lagi. Sungguh benar-benar obat

penghilang ngantuk yang efisien.

Tetap sama. Perjalanan dengan angkot sama seperti aku berjalan dengan kaki.

Apalagi seperti bersafari di mobil yang pengap dan panas. Tetapi semilir angir dari kaca

jendela angkot membuatku merasakan kenikmatan udara yang diberikan Allah. Sebuah

kebenaran yang nyata. Manakalah kita merasakan kesusahan, lalu Allah mengentas kita

dari kesusahan itu. Sehinga merasakan kenikmatan yang benar-benar diberikan oleh

Allah untuk kita. Kenikmatan yang tidak akan pernah terpungkiri oleh akal dan jiwa ini.

Angkot terus melaju, melaju dengan kecepatan layaknya kura-kura yang sedang berjalan.

Tetapi aku menikmatinya. Aku nggak boleh kelewatan lagi. Kalau kayak yang kemarin

bisa-bisa jalan lagi.

“Jl. Teungku Umar Pak!” teriakku.

Angkot berhenti. Tepat didepan jalan masuk rumah ustad Fadlan. Aku turun sambil

membayar ongkos angkot. Kini tinggal beberapa meter saja, aku sudah berada di rumah

ustad Fadlan. Dengan langkah pasti dan galau di hati. Aku berjalan menuju rumah ustad

Fadlan. Kini aku sudah berada didepan rumah ustad Fadlan. Bingung juga saat akan

mengetuk pintu. Tapi aku harus berani. Berani untuk menerima bidadari yang telah

diberikan kepadaku.

“Assalamualaikum” salamku

“Walaikumsalam” Jawab ustad Fadlan didalam rumanya. Ustad Fadlan tersenyum,

sambil mempersilahkan masuk.

“Gimana ustad? Jadi?” tanyaku bingung.

 “Loh, ya jadi kan! Istri ana sekarang sudah berada dirumah Zahra. Dan mereka

menunggu kita disana! Kita berangkat sekarang, Akh!” ajak ustad Fadlan. Bersemangat.

Aku hanya menganggukan kepala. Kami berangkat bersama, menaiki motor milik ustad

Fadlan.

***

Ustad Fadlan berhenti didepan sebuah rumah yang sangat besar. Rumah-rumah yang

berada di perumahan elit dan eksklusif. Jantungku berdetak semakin kencang.

“Akh, kita turun disini!” ucap ustad Fadlan. Mengagetkanku.

Aku mengangguk sambil senyum yang aku paksakan.

Kami berdua memasuki gerbang pelataran rumah. Entahlah, ini sebuah rumah

atau istana. Aku belum pernah masuk kedalam rumah seperti ini. Kecuali hanya bisa

melihat gerbangnya saja didepan. Masya Allah, sangat besar sekali rumah ini. Pelataran

yang luas. Ditumbuh-tumbuhi tanaman-tanaman yang berkelas. Ya Allah, aku kecil

disini. Aku sangat rendah ya Allah. Aku benar-benar merasa rendah ya Allah.

“Khalid!” ucap ustad Fadlan.

“Iya, Ustad!”

“Antum, jangan mempunyai sifat minder disini. Kita semua manusia. Dihadapan Allah

kita semua sama. Tiada yang dapat diunggul-unggulkan selain keimanan kita. Khalid,

antum jangan pernah menjadikan diri antum terkucil dari keduniawiaan ini. Kuatkan hati,

bahwa antum pun bisa mendapatkan semua ini. Dan tentunya, untuk kemajuan dakwah

ini.” Seru ustad Fadlan.

Ucapan ustad Fadlan benar-benar menusuk hati. Membangkitkan semangat kembali.

Semangat yang tadi hampir-hampir rapuh ditelan keraguan atas kemiskinanku.

Tibalah kami memasuki bagian dalam rumah besar ini. Aku benar-benar

menguatkan diri. Mencoba kembali kepada tujuan awalku. Menikah untuk kemajuan

dakwah dan keimananku nanti. Bukan yang lainnya. Kami berjalan pada sebuah ruangan

yang sangat besar, dihiasi dengan berbagai lukisan ayat-ayat suci dan kaligrafi-kaligrafi

indah. Dulu aku hanya melihatnya di desktop computer. Tetapi sekarang aku melihat

dengan jelas. Lukisan-lukisan kaligrafi indah itu.

“Assalamualaikum, wahai saudaraku!” ucap ustad Fadlan. Kepada seorang berjenggot,

berperawakan besar.

Orang itu tersenyum. “Walaikumsalam, wahai saudaraku Fadlan.” sambil memeluk erat

ustad Fadlan. Dan langsung menyalamiku. “apakah dia?” ucapnya.

Ustad Fadlan hanya tersenyum sambil mengangguk.

Langsung saja Bapak itu memelukku. Erat sekali. Bagaikan seorang Bapak yang

memeluk anaknya. Sungguh aku menemukan kegembiraan yang mendalam dalam hati.

“Khalid, ini adalah Ustad Hanafi! Calon ayah antum.” Ustad Fadlan memperkenalkanku

dengan Bapak itu.

Ustad Hanafi hanya tersenyum. Subhanallah, sungguh aku benar-benar beruntung. Aku

mendapatkan seorang Bapak yang begitu sangat berkharisma. Wajahnya begitu cerah,

tatapan matanya tajam tapi begitu mempesona, di keningnya terlihat sekali. Kehitamhitaman,

bekas sujud yang membekas. Sungguh aku sangat beruntung sekali. Allahu

Akbar.

“Assalamalaikum, Ustad!” ucapku.

“Walaikumsalam, anakku!” jawab Ustad Hanafi. “Antum tidak usah formal-formal

begitu anakku. Biasa aja!” lanjut ustad Hanafi.

“Bagaimana, saudaraku?” tanya Ustad Fadlan. yang aku tidak mengerti maksudnya.

“Bagaimana apanya, saudaraku? Ana rasa semua sudah jelas! Ana saat melihat Khalid,

untuk yang pertama kali ini. Sudah langsung merestuinya! Jadi langsung saja, menikah

sekarang!” kata Ustad Hanafi. Dengan senyuman yang begitu berkharisma.

Aku benar-benar kaget. Rencananya hanya mengkhitbah. Tapi aku langsung menikah

sekarang. Apa benar?. Ustad Fadlan hanya tersenyum. Entah bagaimana raut mukaku

saat ini. Aku kaget sekali dengan rencananya yang serba mendadak. Serba cepat.

“Ana menyerahkan semua kepada antum, saudaraku!” Jawab Ustad Fadlan.

“Baik kalau begitu! Sekarang kita langsung menikahkan mereka berdua. Pendapat antum

bagaimana Khalid?” tanya ustad Hanafi.

“Apa semua sudah dipersiapkan ustad?” tanyaku bingung.

Ustad Hanafi tersenyum. “Anakku, semua sudah dipersiapkan! Antum tidak usah repotrepot

mempersiapkan apapun! Bagaimana antum siap, menikah sekarang? Untuk masalah

walimatul bisa bulan besok!”

Aku hanya menunduk dan tersenyum. Senyum yang aku paksakan. Senyum yang

kebingungan. Tidak seperti pernikahan yang biasa dilakukan didesaku. Sungguh baru kali

ini aku mengetahui kemudahan pernikahan. Yang sangat mudah.

“Zahra, Anakku.” Panggil ustad Hanafi.

 “Iya, Abi!” jawabnya

Subhanallah suaranya masih sangat merdu. Sungguh menggetarkan jantung ini. mana

mungkin aku tidak menerima seorang bidadari yang satu ini.

“Bagaimana? Sudah siap!” tanya ustad Hanafi.

“Sudah, Abi! Ana sudah siap.” Jawabnya.

“Assalamualaikum! Maaf saya terlambat!” ucap seseorang yang berseragam.

“Walaikumsalam! Anda datang pada waktu yang tepat.” Ucap Ustad Hanafi. “Khalid, ini

adalah petugas dari KUA. Yang akan mengurus pernikahan kalian sekarang juga

termasuk sekaligus dari penghulu kalian!” jelas ustad Hanafi.

“Baik. Kalau semua sudah siap!” ucap penghulu itu. “saya harap untuk pengantin wanita

dan prianya duduk didepan saya. Untuk saksi dari laki-laki, silakan duduk disebelah kiri

saya. Dan untuk wali dari perempuan, silakan duduk disebelah kanan saya.”

Masya Allah. Jantungku berdetak kencang. Tidak pernah aku duduk bersebelahan persis

seperti ini, dengan seorang akhwat. Apalagi dengan seorang akhwat yang aku kagumi.

Semua ini terasa mimpi. Mimpi yang benar-benar terjadi. Farah Zahrani akan menjadi

pendamping hidupku.

“Baik, tirukan kata-kata saya!” ucap penghulu itu. “Dengan ini, saya Khalid

Hendriansyah, menikahi Farah Zahrani binti Hanafi Iqbal dengan mas kawin seperangkat

alat sholat dan buku skripsi.”

Sambil bersalaman dengan ustad Hanafi. Aku melafalkan ucapan sakral itu. “Dengan ini,

saya Khalid Hendriansyah, menikahi Farah Zahrani binti Hanafi Iqbal….” Entah kenapa

mulutku kaku. Aku gugup.

“Baik kita ulangi sekali lagi.” Ucap Penghulu itu. “Dengan ini, saya Khalid

Hendriansyah, menikahi Farah Zahrani binti Hanafi Iqbal dengan mas kawin seperangkat

alat sholat dan buku skripsi.”

“Dengan ini, saya Khalid Hendriansyah, menikahi Farah Zahrani binti Hanafi Iqbahl

dengan mas kawin….” Aku benar-benar gugup. Aku tidak dapat melafalkannya dengan

lancar.

Suasana menjadi agak hening. Serasa aku benar-benar menjadi orang yang tidak

dapat melakukan sesuatu yang mudah. Sungguh aku sangat gugup sekali.

“Hem…! Alhamdulillah” sela ustad Fadlan. Mengagetkan. “Alhamdulillah, dengan

begini kita tahu. Bahwa Khalid memang belum pernah menikah!”

Semua yang ada diruangan ini tertawa. Aku malu sekali.

“Khalid, tenanglah. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu!” ucap Ustad Hanafi.

Dengan kekharismatikannya.

“Bagaimana? Mau diulang?” ucap penghulu itu.

Aku hanya mengangguk. “Bismillah” ucapku lirih.

“Baik, kita ulang.” Ucap Penghulu itu lagi. “Dengan ini, saya Khalid Hendriansyah,

menikahi Farah Zahrani binti Hanafi Iqbal dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan

buku skripsi.”

“Dengan ini, saya Khalid Hendriansyah, menikahi Farah Zahrani binti Hanafi Iqbal

dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan buku skripsi.” Ucapku lancar.

Alhamdulillah.

Selanjutnya Penghulu itu mempersilahkan ustad Hanafi untuk mengikuti kata-katanya.

“Untuk wali pengantin wanita, tolong tirukan saya. Saya terima nikahnya anak saya yang

bernama Farah Zahrani dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan buku skripsi.”

Seketika itu pandangan ustad Hanafi kepadaku terlihat sangat serius. Ustad Hanafi

memegang tanganku erat. Seraya mengatakan Aku serahkan anakku, untuk berjuang

bersamamu. Jagalah ia, jangan kau sakiti dia.

“Saya resmikan pernikahan pasangan pengantin ini.”

Ya Allah, ucapan penghulu benar-benar membuatku melambung. Aku kini sudah

mempunyai seorang istri. Seorang yang akan menemaniku sepanjang waktu. Setiap saat

akan ada yang membelaiku. Menjadikan aku raja. Dan aku akan menjadikan dia ratu. Ya

Allah sungguh kenikmatan yang begitu indah.

Tetes air mata mengalir lirih dalam pelupukku. Keindahan ini harus aku lewati tanpa

disaksikan oleh kedua orang tuaku. Kebahagianku, adalah kebahagiaan kedua Bapak dan

Ibuku. Kini aku berbahagia, tanpa disaksikan oleh kebahagianku. Bapak dan Ibu.

“Anakku, sekarang engkau resmi menjadi suami dari anakku. Apakah yang engkau

risaukan sekarang!” tanya ustad Hanafi kepadaku.

“Ustad, sungguh ana sangat berbahagia sekali menikahi seorang bidadari. Tidak pernah

terlintas sedikitpun rasa kecewa. Tetapi Ustad, sayangnya kebahagiaan ana tidak dapat

dirasakan oleh kedua orang tua ana yang berada didesa.”

“Anakku, janganlah kamu memanggilku dengan sebutan Ustad! Aku lebih senang jika

engkau memanggil Abi! Anakku, kebahagian anak adalah kebahagian orang tua. Abi

yakin, orang tua antum disana sangat berbahagia. Meskipun tidak menyaksikan

kebahagiaanmu, tapi Abi yakin. Mereka sekarang juga merasakan kebahagiaan itu.” Jelas

ustad Hanafi.

Ya memang benar apa yang dikatakan ustad Hanafi.

***

“Akhi!” panggil Farah istriku dengan lembut.

Entah bulukkudukku merinding. Bagaikan bertemu dengan hantu. Tetapi hantu yang

sangat cantik. “Iya Istriku!” jawabku.

“Apa boleh, ana memanggil antum Kanda!” ucap Fara Istriku, dengan terlihat malu-malu.

“Tafadhol! Anti mau panggil ana apa aja. Ana senang kok. Selama yang memanggil

adalah anti!” rayuku.

Farah terlihat sangat malu. Pipinya memerah, dari warna putih kulitnya. Sungguh

mempesona. Entah apa yang harus aku lakukan. Kami hanya duduk berdua. Disebuah

kamar besar berinterior mewah.

“Dinda! Apakah anti senang menikah dengan ana?” entahlah aku merasa sangat bodoh

didekatnya. Sebuah pertanyaan yang tidak layak untuk dijawab pikirku sendiri.

Farah hanya tersenyum. Lalu memegang tanganku. Diciumlah tangan kananku, lalu

disentuhkan dipipinya dan dibelai-belaikan sendiri. Sungguh jawaban yang efektif. Tidak

menggunakan suara. Tetapi langsung pada tindakan.

“Dinda. Ana mau tanya!” kataku. Membuka pembicaraan yang monoton.

“Apa itu, Kanda?”

“Dinda. Ana bingung dengan pernikahan kita? Sangat cepat. Ana kaget!” ucapku

bingung.

Farah tersenyum. “Kanda, mungkin antum ingat bahwa menyegerakan pernikahan itu

adalah hal yang terbaik. Tetapi memang bukan terburu-buru. Apakah antum ingat. Bahwa

dalam hadist. Rasulullah bersabda. “Jika datang kepada kalian orang yang kalian ridhai

agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika kalian tidak melakukannya, maka akan

menjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” Ana dan Ustad Fadlan, meyakinkan

Abi. Bahwa antum adalah seorang yang benar-benar dapat dipercaya. Dan sesungguhnya

ana sudah lama mencintai antum. Tapi ana ingin menutupi semuanya. Ana malu terhadap

Allah. Karena ana mencintai ikhwan yang seharusnya tidak berada di hati ana. Tetapi kini

kanda sudah menjadi suami ana” jelas Farah sambil menyandarkan kepalanya didadaku.

Jantungku, tetap berdetak tidak beraturan. Keringat dingin terus mengalir,

meskipun didalam kamar ini air conditioner kurasakan sangat dingin.

“Dinda ana juga sangat mencintai antum. Alhamdulillah, Allah benar-benar mengabulkan

doa ana untuk memiliki salah satu bidadari-Nya.” Kataku dengan membelai kepala istriku

yang masih terbalut jilbabnya.

“Kanda, ana sangat mencintai antum” ucap Farah dengan manja.

“Ana juga mencinta anti, sayang!”

Entah rasa berani dari mana yang aku dapatkan. Seketika itu, aku langsung

memeluk tubuh Istriku. Farah. Dan seketika itu, Istriku mematikan lampu kamar.

***

Aku terbangun dari tidurku. Saat aku merasakan belaian lembut diwajahku.

“Kanda. Bangun!” ucapnya lembut dan lirih.

Aku membuka mata dengan senyuman. Seketika itu, aku merasakan ciuman

hangat dikeningku. Aku masih tersenyum. Dan menikmati kemesraan belaian istriku.

“Kanda, sayang. Bangun. Sudah Shubuh! Kanda mandi dulu ya!” Ucapnya lembut.

Ucapannya begitu mesra. Aku tidak tahan untuk berlama-lama dalam buaian

mimpi yang tidak pasti. Aku harus bangun. Aku harus merasakan seluruh kemesraan

yang diberikan istriku kepadaku. Aku benar-benar menikmatinya.

“Mandi, ya sayang! Kalau mandi berdua, gimana?” godaku.

“Ih, sudah berani nakal ya sekarang!” ucap istriku. Sambil mencubit hidungku. Lalu

menarikku dari kasur.

Sholat shubuh aku jalani dimasjid kompleks perumahan elit itu. Dengan berjalan

kaki berempat, bersama keluarga baruku. Abi, Umi, Istriku. Ada kesan yang mendalam

saat kami berjalan bersama. Meskipun dinginnya pagi menusuk kulit. Tetapi aku

merasakan kehangatan yang luar biasa berjalan dengan keluarga ini. sangat

menentramkan hati. Masjid kompleks perumahan elit itu, begitu asri. Interiornya memang

terlihat sangat bagus. Mengesankan sekali. Hanya sayang. Jamaah sholat shubuhnya bisa

dihitung dengan jari. Seperti biasa. Ada sebuah ungkapan yang terpatri dibenakku.

Ketakutan-ketakutan besar orang-orang Yahudi adalah. Manakalah mereka melihat

penuhnya jamaah pada setiap masjid. Pada waktu sholat shubuh.

Selesai sholat shubuh kami berjalan-jalan di taman kompleks. Sangat

menyenangkan. Karena aku bisa berjalan mesra dengan istriku. Tak lupa disertai cubitanFajar

cubitan mesra diantara kami berdua. Mungkin itu yang membuat iri beberapa burung

pipit yang melihat kami berdua. Beriak dan berarak kicau meraka. Sangat menambah

kemesran kami berdua. Sepertinya burung-burung itu, mengelu-elukan kami

berdua.Tetapi aku tetap harus bisa menjaga image dihadapan mertuaku. Sebenarnya sich,

biar nggak malu. Belum pernah aku sebahagia ini.

“Dinda. Kanda balik dulu kekontrakan yach! Ana mau mengambil beberapa barangbarang

ana yang ada disana!” kataku mesra.

“Dinda, Ikut!” ucapnya manja.

“Dinda, sayang. Jangan dulu! Setelah walimatul. Baru anti bisa ana ajak kemana-mana.

Biar nggak terjadi fitnah maksud ana!”

“Tapi, Dinda pengen disamping Kanda terus!” rayunya manja. Sambil memegang lengan

kananku.

“Sayang. Kanda nggak lama kok! Nanti juga balik lagi.” Kataku sembari membelai mesra

pipinya yang lembut.

“Iya udah, tapi Kanda. Ana yang ngantar Kanda ya! Ana nggak mau, Kanda berjalan

kaki!”

“Hem… sayang. Berjalan kaki itu kan kebiasaan Kanda! Ana nggak, ujug-ujug setelah

menikah dengan anti langsung lupa dengan kebiasaan” Ucapku dengan senyum.

“Tapi, Kanda. Ana nggak mau, melihat Kanda capek!” ucapnya manja.

“Insya Allah, Kanda nggak akan capek-capek banget kok! Paling-paling kalau capek, kan

ada Dinda yang mijitin!”

Farah tersenyum simpul sambil memelukku. “Ya, udah! Kanda kan nggak punya HP.

Ana beliin nih buat Kanda!” sembari menunjukkan Siemens yang terbaru. “Kanda nggak

boleh menolak. Karena ini adalah pemberian istri, Kanda!”

Aku tersenyum. Memang tidak ada gunanya juga menolak. Karena toh, semua

milik istriku adalah milikku juga. Semua milikku adalah milik istriku juga. Setelah itu

aku langsung berangkat ke kontrakanku.

***

“Assalamualaikum!” ucapku saat melihat Deni dan Samsul akan berangkat kuliah.

“Walaikumsalam!” jawab mereka hampir bersamaan.

 “Akh, antum itu kemana aja sich! Seharian kok nggak pulang-pulang.” Sergah Samsul

yang kelihatan agak bingung.

“Iya nich. Antum itu kemana aja? Tuh tadi malam, ada akhwat yang telphone-telphone

jam 12 malam sampai jam 3 pagi. Nyariin antum terus! Antum ada apa akh? Akhwat itu

terdengar sangat bingung sekali!” sahut Deni.

“Iya nich afwan. Ana ada acara yang sangat mendadak. Jadi nggak sempat memberitahu

kalian! Emang siapa akhwat itu?” tanyaku penasaran.

“Hem… ada apa nich? Khitbah yach? Wah kok nggak ngajak-ngajak!” sahut Samsul.

“Hem… antum itu, mau tahu aja!” jawabku sekenanya. Padahal benar.

“Ana nggak tahu siapa nama akhwat itu. Dia nggak bilang! Hanya saja diterdengar sangat

bingung sekali.” Kata Deni serius.

“Hem… ya semoga saja nggak ada apa-apa!” jawabku.

Serempak keduanya mengucapkan “Amien!”

Tluutt…tlluutt... HPku berbunyi.

Tak ayal Deni dan Samsul berteriak kegirangan. “Wah… sudah punya HP nich! Siemens

yang terbaru lagi. Waduh seru nich! Dapat dari mana akh! Boleh pinjam dong!”.

Aku hanya nyengir sambil mengatakan “Udah-udah sana… kuliah menunggu!”

Aku melihat Hpku. Ternyata SMS. Tertanda Dinda sayang. Tertulis Kanda, ana kangen.

Kanda kangen nggak sama Dinda?.

Heheh… baru ditinggal 1 jam aja sudah kelimpungan gitu. Padahal aku aja, juga sangat

kangen sekali hhee…



JILID 13

“Assalamualaikum…” Yanto dan Heri mengucap salam hampir bersamaan.

“Walaikumsalam…” jawabku. Sambil membereskan barang-barang yang akan aku bawa

kerumah baruku.

“Wah, mau pindahan ya Akh?” tanya Yanto. Heran.

“Nggak cuma mau melakukan kegiatan observasi aja kok! Paling ya sebulan.” Jawabku.

Aku nggak boong kok, aku kan bener-bener mau observasi istriku.” Gumamku dalam

hati. “Apa yang antum bawa itu Akh?” lanjutku.

“Hem, afwan ya Akh! Entah ini berita buruk apa baik buat antum.” Raut muka Yanto

terlihat agak sedih.

“Emang itu kertas apa, Akh!” Tanyaku penasaran.

“Ini adalah Undangan pernikahan! Undangan pernikahannya, Ukhti Farah. Antum

keduluan orang Akh.” Sela Heri. Sambil tersenyum.

“Yee…” sergahku. “emang ukhti Farah nikah sama Ikhwan mana? Pasti beruntung

sekali Ikhwan itu.” Tanyaku. Seperti penasaran.

“Nggak jelas, entah ukhti Farah menikah dengan Ikhwan mana. Tapi yang jelas memang

sangatlah beruntung Ikhwan itu.” Ucap Yanto. Dengan senyum.

“Ana rasa memang benar kata Antum. Dan pastilah Ikhwan ini, bukan Ikhwan

sebarangan. Dia pasti seorang ikhwan yang benar-benar hebat!” jawabku serius.

Alhamdulillah, semua sudah direncanakan oleh Allah. Dan juga oleh mertua dan

ustadku. Sungguh, aku kini hanya seperti anak kecil. Yang serba mempunyai apa-apa.

Alhamdulillah, karena teman-teman masih belum tahu. Siapa yang akan menjadi

pendamping hidup ukhti Farah. Sungguh memang Ikhwan yang beruntung. Pikirku.

“Hem, ya pasti lah!” Jawab Yanto dan Heri bersamaan.

“Ok! Aku mau berangkat dulu. Kalau ada apa-apa, telphone di HPku aja yach.” Aku

beranjak sambil mengambil tasku. Tas yang terisi baju-baju dan segala keperluan seharihariku.

“Wah, keren nich! Antum punya HP sendiri sekarang. Nomornya berapa?” tanya Deni

sambil mengambil HPnya untuk memasukkan nomor HPku.

“Antum tanya Akh. Samsul atau Akh. Deni! Mereka sudah tahu nomor ana. Ana keburuburu

nich, Afwan. Dah dulu yach! Assalamualaikum.” Ucapku sambil melangkahkan

kaki.

Fajar Agustanto (Blackrock1/Fajar001/Jaisy01)

www.ggs001.cjb.net

***

“Kanda… lama banget sich!” sergah istriku. Sambil berlari memelukku.

“Kanda kan nggak lama-lama banget, sayang.” Jawabku. Sambil senyum, tak lupa untuk

mencubit sayang hidung istriku.

“Wah… yang pengantin baru. Mesra banget!” Ummi. Ibu mertuaku. Mengagetkan kami

berdua.

Aku tersenyum malu.

“Ummi… jangan gitu dong! Kan Farah jadi malu.” Ujar Istriku manja, sambil memeluk

Ummi.

Ummi tersenyum hanya tersenyum. “Khalid, antum udah makan siang?”

Aku hanya tersenyum sambil menganggukan kepala. Waduh malu juga nich kalau

ngomong belum!

“Kanda, gimana sich! Ana kan nunggu Kanda. Kok malah makan diluar! Kanda kan udah

punya rumah. Kalau mau makan ya dirumah. Nggak boleh diluar. Kalau makan diluar itu,

ajak-ajak dinda. Huh!” ucap Istriku panjang lebar.

“hehe… ana baru tahu kalau dinda cerewet!” ucapku sambil senyum. Tak lupa membelai

pipi istriku.

“Khalid, antum belum tahu! Kalau Farah anaknya cerewet banget?” Kata Ummi sambil

tersenyum.

“Ummi… buka rahasia aja!” Istriku sambil memeluk Ummi dari belakang. “Kalau gitu

kanda tetap harus makan dirumah! Dinda udah siapin semuanya dimeja makan!”

“Hem… disiapin apa disuapin.” Kataku sambil tersenyum.

“Maunya…?” goda istriku.

Aku hanya tersenyum.

Istriku, mengajakku menuju ruang makan. Hem lumayan, dari tadi pagi nggak

makan. Keroncongan juga nich.

Disela-sela makan. Farah, istriku. Menatapku. Entah kenapa, terlihat tatapannya begitu

aneh. Tatapan-tatapan sendu. Tak seberapa lama.

 “Kanda. Apakah Kanda mencintai Dinda?” entah kenapa istriku menanyakan hal itu.

Aku terdiam. Aku tatap wajah istriku dalam-dalam. Dinda ana nggak akan mau

meninggalkan anti. Ana sayang anti. Gumamku dalam hati.

“Kanda… jawab dong!” istriku kesal. Karena aku diam saja.

Kembali aku tersenyum. Berusaha memberikan senyuman yang termanis. “Dinda.

Kenapa anti menanyakan itu! Padahal, nyata-nyata Allah telah memberikan bidadari

tercantik didunia ini kepada ana. Ana tidak akan pernah, tidak mencintai anti! Sungguh

Allah telah memberikan rasa cinta yang teramat dalam kepada ana, untuk mencintai

anti!”

“Tapi, Kanda. Kenapa Kanda, masih malu-malu terhadap ana. Dan juga, kenapa Kanda

tidak menjadikan rumah ini adalah rumah Kanda juga? Ana tadi melihat raut muka

Kanda. Kanda malu untuk mengatakan, sesuatu. Kanda malu untuk makan bersama

dirumah ini!” ucapnya serius.

“Afwan Dinda. Ana memang malu tadi! Ana belum memberikan nafkah sama sekali

kepada anti!” Aku tertunduk lesu. Dengan masih memegang sendok dan garpu.

“Ana ikhlas. Antum memang belum dapat memberikan nafkah kepada ana saat ini!

Tetapi ana merasa antum telah memberikan nafkah batin ana dengan sangat berlebih.”

Istriku, menarik nafas dalam-dalam. “Kanda. Ana sayang sekali terhadap Kanda! Ana

sudah tidak butuh lagi materi. Insya Allah, ana sudah sangat berlebih untuk materi.

Meskipun kanda hanya memberikan ana uang seribu rupiah saja. Ana rasa, Kanda telah

memberikan nafkah materi yang sudah berlebih kepada ana.”

Aku menggangguk. “Hem… kalau limar ratus rupiah gimana?” godaku.

“Yee… nawar!” seketika itu wajah istriku berubah menjadi ceria. Tak seberapa lama, dia

menundukkan kepala. “Kanda. Ana nggak mau antum seperti tadi! Kanda harus ingat,

semua yang ada disini adalah keluarga Kanda! Kita bukan orang lain.”

“Insya Allah. Iya Dinda! Ana juga merasa bahwa ana berada dirumah sendiri. Ana

merasakan kehangatan keluarga, dirumah Dinda.” Aku tersenyum. “Ini Dinda yang

masak yach?” selaku.

“Yee… kok mengalihkan perhatian sich!” ucap istriku. Seperti sewot. Tetapi semakin

cantik saat seperti itu. “Iya ini ana yang masak! Khusus special buat antum!” jawabnya

kalem. Sambil senyum simpul.

“Hem, pantes!”

“Pantes? kenapa? Ada yang salah? Nggak enak yach!” istriku terlihat kaget dan agak

bingung. Terlihat, takut kalau masakannya tidak enak.

 “Hem… enak sich! Lebih enak lagi, kalau Dinda belajar memasak lagi! Hehe…”

jawabku.

Sambil memelukku, istriku berkata. “Afwan ya Kanda, kalau masakan ana nggak enak.

Ana memang baru belajar memasak!”

“Nah. kalau begini masakan anti lebih enak lagi.”

“Yee… maunya!” Sambil melepaskan pelukannya. Lalu berganti dengan mencubitku.

Selesai makan. Kami berdua menuju ruang tamu. Membicarakan konsep-konsep

pernikahan kita. Beberapa hal yang memang dan harus dipersiapkan untuk pernikahan.

Hal-hal yang terkecil pun semua masuk hitungan. Seperti halnya musik dalam

pernikahan. Kami tidak ingin nanti pernikahan kami diisi dengan nyanyian-nyanyian

yang biasa digunakan oleh pekerja-pekerja soundsystem. Minimal nasyid pernikahan. Ya

kalau boleh sich nasyid haroki. Biar lebih seru maksudnya. Tapi sayang usulku langsung

ditolak oleh istriku. ”Nanti bukan dikira nikahan. Malah dikira mau demonstrasi! Atau

yang lebih parah. Dikira ngomporin orang untuk berjihad.” itu katanya.

Dalam hal acara pesta pernikahan. Kami pun sudah sepakat untuk mengadakan

dirumah. Sebenarnya sich bukan kesepakatanku. Hanya saja itu sudah tersebar

diundangan. Tetapi, untuk metode atau cara pernikahan. Masih tetap diberikan

keleluasaan kami berdua untuk mengurusinya. Tak lupa kami juga akan memakai hijab.

Untuk membatasi antara ikhwan dan akhwat maksudnya. Masalah hijab. Aku jadi

teringat taujih ustad Ahmad Jalalludin. Tentang ikhtilat atau hijab. Taujih ustad Ahmad

Jalalludin membuatku tahu akan semua itu. Dan sangat masuk akal sekali. Hanya saja,

masih banyak ikhwan dan akhwat yang masih belum mendengarkan taujih itu.

Ternyata memang benar. Mempunyai istri itu sangat menyenangkan. Teman

hidup yang begitu memperhatikan. Tidak salah, beberapa ikhwan yang menikah

mengatakan seperti itu.

***

Pesta pernikahan kami tidak begitu meriah. Tapi bagi kami berdua, pesta

pernikahan ini sangat mengesankan. Dipadukan dengan walimah. Dan tanpa ada lagulagu

yang membuat orang menjadi lupa diri. Atau bisa dikatakan tidak syar’i. Aku

beberapa kali menemui teman-teman ikhwanku. Dan istriku, Farah. Menemui temanteman

akhwatnya.

Aku baru saja menemui Prof. Susilo. Baru tahu kalau Abi adalah teman dekat Prof.

Susilo. “Aku tidak menduga skripsi kamu cepat selesai, Khalid! Dan aku tidak menduga,

kalau bisa menjadi sebuah mas kawin” ucap Prof. Susilo. Yang beberapa orang

tersenyum. Termasuk Abi.

Terlihat sekumpulan Ikhwan memakai baju koko berseragam. Melayangkan

senyum. Sekumpulan ikhwan itu membuatku jadi malu sendiri. Yanto, Deni, Heri dan

Samsul.

“Assalamualaikum” serempak ucap mereka berbarengan.

“Walikumsalam” ucapku sambil tersenyum.

Yanto dan Samsul terlihat cengengesan.

“hehe… ternyata Ikhwan yang terbaik itu adalah antum sendiri ya!” ucap Deni.

Aku hanya tersenyum.

“Hem. Katanya observasi Akh!” kata Yanto.

“Iya! Ana observasi istri sendiri!” ucapku. Disambut gelak tawa teman-temanku yang

lain. “

Hari ini walimahan. Sungguh menyenangkan. Mengabarkan kepada khalayak. Bahwa aku

dan Farah Zahrani. Menjadi sepasang suami istri. Sepasang mujahid dan mujahidah yang

sedang dilanda cinta. Yang akan maju dalam arena jihad. Dimedan yang akan semakin

terjal. Jihad yang sesungguhnya. Menurutku.



JILID 14

Malam yang indah. Aku dan istriku berjalan beriringan. Sedari kampus, aku

langsung berjalan-jalan dikeremangan malam. Indah. Bintang-bintang menaburkan segala

cahanya untuk menyemarakkan perjalanan kami berdua. Bulan bersinar dengan

keremangan cahanya. Sungguh indah. Atau mungkin sebenarnya ini biasa. Hanya saja

karena aku tidak pernah menikmati suasana seperti ini. Atau karena pada saat itu aku

tidak mempunyai seorang pendamping disisiku. Semua keindahan ini memang benarbenar

menjadikan kita benar-benar bersyukur. Sungguh, nikmat mana yang akan kamu

dustakan.

Sudah delapan bulan aku menikahi seorang bidadari. Hidupku benar-benar

menjadi sangat berarti. Aku benar-benar merasakan kasih sayang seorang bidadari.

perangai yang lembut, tutur kata yang menyejukkan hati, sifat pengayom. Membuat aku

benar-benar menikahi seorang bidadari surga. Tak lupa wajah yang cantik. Meskipun itu

bukan prioritas. Kami berdua selalu melalui hari-hari dengan indah. Hari-hari penuh

ibadah.

Tetap. Kami berjalan pada setiap relung-relung malam. Cahaya lampu tetap

menyinari. Meskipun jalan-jalan yang kami lalui. Sepi. Hanya beberapa lalu-lalang mobil

dan motor sesekali. Indah. Benar-benar indah. Serasa kamilah yang memiliki dunia.

Setiap langkah kami berjalan. Menyusuri trotoar disamping jalan yang beraspal. Ku

hentikan langkahku sejenak. Seketika istriku pun berhenti. Aku memandangi dengan

lembut wajah istriku. Sungguh nan elok wajah yang berseri dibalut dengan jilbab yang

menutupi tubuhnya. Sungguh sangat cantik. Tubuh yang indah itu, bagaikan terbalut

dengan prisai yang tidak akan pernah bisa tertembus dengan apapun. Meskipun dengan

pedang dan peluru sekalipun.

“Ada apa, sayang?!” tanya istriku. Dengan membelai lembut pipiku.

Aku hanya diam dan tersenyum. Istriku semakin membalai lembut pipiku. Sangat mesra.

“Ayo dong sayang! Ada apa sich? Kenapa kanda menatap dinda seperti itu?” serunya

memohon jawaban.

“Nggak ada apa-apa kok! Ana hanya beruntung mempunyai istri, dinda?”

“Nggak! Bukan antum yang beruntung, kanda! Tetapi ana. Ana sudah sangat lama sekali

memandam rasa simpati yang membuahkan cinta. Yang sangat lama. Ana sangat

mencintai kanda!” istriku, memelukku dengan erat. Butiran air mengalir dimatanya.

Aku mengusap pipi istriku dengan lembut. “Dinda, sayang. Ana juga sangat mencintai

anti dari dulu!” Aku tersenyum. “Sayang, sudah yach! Nggak enak kalau dilihat orang!”

lanjutku.

Seketika itu istriku melepaskan pelukannya. Dia menoleh kekiri dan kekanan. Terlihat

malu jika kami berdua dilihat oleh orang. Tetapi suasana saat itu memang sepi. Setelah

itu istriku tersenyum. Senyuman yang menandakan, bahwa dia sudah terlihat berlebihan.

Aku pun tersenyum. Senyuman sayang, yang kutujukan untuknya.

Bulan tetap bersinar, redup cahanya. Sehingga bintang-bintang pun tetap

menemani sang bulan. Untuk menambah keindahan. Sejenak aku memandangi bulan.

Tidak lupa menyapa bintang-bintang. Hanya ingin mengatakan wahai bulan dan bintang,

lihatlah. Aku disisi sang bidadari.

“Hem…. Ternyata kita bertemu disini. Khalid!” ucap seseorang. Berada dikeremangan

malam.

Istriku tersentak. Kaget.

Entah siapa mereka. Terlihat jumlah mereka sekitar enam orang. Aku tidak bisa melihat

jelas. Malam benar-benar telah menutupi mereka. Cahaya lampu jalan, pun. Tidak begitu

jelas menyinari mereka. Apalagi rembulan dan bintang-bintang. Cahaya mereka terlalu

redup untuk memberikan terang.

“Aku sudah lama mencarimu. Khalid!” ucap sosok tak dikenal itu.

Aku seperti mengenal suara itu.

Dia mendekatiku. Cahaya lampu jalan tepat berada diatasnya. Tatapannya sangat tajam.

Tertuju kepadaku. Matanya bagaikan menyimpan dendam yang sangat dalam. Wajahnya

bengis.

Efendi! Benarkah dia Efendi? Sebuah pertanyaan berlabu dibenakku. Manakalah seorang

murtadin tepat dihadapannku. Aku pun dengan cepat memegang tangan istriku. Isyarat

agar dia berada dibelakangku.

“Dinda. Nanti dinda harus lari! Ana akan hadapi mereka.” Bisikku lirih.

Istriku menggelengkan kepalanya. “Kanda. Ana nggak akan meninggalkan kanda

sekarang!” bisiknya lirih.

“Harus. Anti harus meninggalkan ana nanti! Ini permintaan ana.” Bisikku lirih sambil

mencengkeram tangan istriku.

Istriku tetap menggelengkan kepalanya. Dia menatapku khawatir.

“HAI! Khalid. Kamu sembunyikan dimana gadis itu?” Bentak Efendi.

Entah aku bingung. Siapa yang di maksud Efendi. Aku tidak pernah melakukan apa-apa

terhadap dia. apalagi menyembunyikan seorang gadis. “Apa maksudmu, Efendi!”

 “Hah…! Berlagak, nggak tahu lagi.” Bentak Efendi. “Kepung, mereka! Jangan lupa,

ambil gadisnya! Hahaa…” perintahnya dengan bengis.

Seketika itu pun aku langsung bersiap siaga. Ini saatnya aku menguji beladiriku. Sudah

empat tahun ikut Tapak Suci. Baru kali ini aku bisa melawan penjahat sesungguhnya.

Gumamku dalam hati. Secara langsung aku pun menyerang orang yang berada

dibelakang istriku.

Perkelahian pun tak terelakkan. Pukulan anak buah Efendi, beberapa kali. Aku

patahkan. Dan dengan cepat, aku pun membalasnya. Celah sudah terbuka. Aku harus

memerintahkan istriku lari. Karena betapapun, aku akan sulit mengalahkan enam orang.

“Sayang…! Lari….. cepat!” teriakku keras.

Anak buah Efendi terlihat akan memegang lengan kiri istriku. Aku pun langsung

memberikan ikan terbang (tendangan kedepan) “Bukk…” Dia langsung terjungkal.

Alhamdulillah. Ucapku dalam hati. Istriku sudah bisa berlari menjauh. Aku tidak akan

pernah menyerah dengan begundal-begundal bengis kafir itu. Ragaku bagaikan terbakar.

Bara api sudah berkobar. Ruhul jadid pun telah mengembang. Darah Khalid bin Walid

pun telah mengalir. Allahu Akbar. Dengan sangat kesiagaan penuh pun aku menghajar

mereka. Pukulan katak mengenai muka Efendi. Dua orang disamping kiriku, terkena

sambaran harimauku (tendangan menyamping). Beberapa ada yang dibelakangku.

Dengan sangat keras pun aku langsung berbalik dan langsung menghantamkan katak

kembar (dua pukulan berbarengan) kepada mereka.

Tenagaku bagaikan terkuras habis untuk menghadapi enam orang sekaligus.

Beberapa pukulan mereka telah mengenaiku. Sakit memang. Tetapi rasa sakit itu sudah

tidak dapat aku rasakan lagi. Ini adalah jihadku. Jika Allah mentakdirkan aku syahid.

Maka ya Allah hambamu datang. Dengan berlari maju, layaknya Jet Lee menghajar

musuh-musuhnya. Pukulan dan tendanganku beberapa kali mengenai mereka. Dan

beberapa kali bisa ditangkis oleh mereka. Terlihat sekali, Efendi dan kawan-kawannya

sangat kewalahan menghadapiku.

“Huh… bagaimana? Jangan pernah remehkan tentara-tentara Allah. Jangan kalian

anggap, mujahid-mujahid Allah adalah orang yang lemah! Karena orang-orang kafir

seperti kalian, tidak akan bisa menghadapi tentara Allah.” Kataku. Bernada mengejek.

Darah mengalir pelan dihidungku. Terlihat pula kepala, dan hidung Efendi pun berdarah.

Beberapa wajah dari kawan-kawan Efendi, terlihat lebam. Ada juga yang meringis

kesakitan, karena aku telah mematahkan tangan atau hidungnya. Kami berhenti sejenak

untuk mengatur nafas. Sungguh pertarungan yang sangat tidak seimbang. Meskipun

tenagaku bagaikan terkuras habis. Tapi aku pun melihat hal yang serupa dialami Efendi

dan kawan-kawannya. Aku tidak akan pernah menyerah menghadapi mereka. Khalid bin

Walid saja bisa menghabisi puluhan orang pada saat berperang. Masa, hanya enam orang

aku harus kalah.



Aku menatap tajam kepada mereka. Sedikit demi sedikit, aku sudah bisa

menguasai nafasku. Tidak ngos-ngosan seperti tadi. Terlihat Efendi mengeluarkan

goloknya. Dia tersenyum bengis kepadaku. Seperti akan mencincang diriku. Tidak

semudah itu.

Seketika itu pun, Efendi dan kawan-kawannya menyerangku bersamaan. Spontan

aku langsung menghindaar dari beberapa serangan mereka. Beberapa kali, golok Efendi

menyerangku. Tetapi dengan cepat pun aku bisa menangkis serangannya. Dengan cepat

aku pun langsung menghajar kawannya yang lain. Terlihat dari belakang Efendi

menyerangku. Secepat itu pun aku langsung berbalik menangkis serangannya.

Secepatnya aku bisa merebut golok yang berada ditangannya. Tetapi, terasa ada benda

tajam yang menusuk punggungku. Rasanya sangat nyeri. Aku pun berbalik, langsung

melayangkan golok kearah kawan Efendi yang menusukku dari belakang “Sree….t!”

Kesalahanku adalah, hanya memperhatikan Efendi. Aku tidak memperhatikan kawankawannya

kalau mereka membawa pisau.

Kawan Efendi terkena sabetan golok yang kurebut dari Efendi. Beberapa saat

mereka memandangiku. Dan akhirnya mengalihkan pandangan kesalah satu kawan

Efendi yang terkena sabetanku.

“Sudah, mundur!” bentak Efendi. Terlihat ketakutan.

Entahlah dia, ketakutan karena telah menusukku. Atau ketakutan karena aku masih bisa

bertahan, dan membawa golok pula. Mereka langsung lari, sambil membopong temannya

yang terluka. Tak lama mereka menghilang dari keremangan malam. Kini aku sendiri,

merasakan nyeri yang teramat dalam. Tetapi aku tetap bersyukur. Istriku tidak dapat

mereka lukai.

Kepalaku terasa ngilu, pening sekali. Mataku menatap kabur dalam cahaya lampu

malam. Tubuhku terasa sangat lemas sekali. Seketika itu pun, mataku hanya bisa melihat

gelap. Sangat gelap sekali.

***

“Sayang, bangun!” ucap lirih istriku.

Sedikit demi sedikit aku membuka mata ini. Terasa sangat berat sekali.

Istriku tersenyum lembut. Dan mengusap rambutku dengan tangannya yang halus. Jemari

lentiknya membelai mesra keningku. “Kanda, tidak apa-apa kan!” tanyanya.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Aku ingin sekali bertanya kepadanya. Bertanya

tentang keadaannya. Tetapi mulutku terasa sangat berat. Aku tidak bisa mengucapkan

sepakatah-kata pun.

Istriku terlihat mengerti apa yang ingin aku tanyakan. “Alhamdulillah, dinda nggak apaapa

kok! Kanda istirahat aja.”

Aku tersenyum. Jawaban keprasahan dan kesyukuran. Alhamdulillah.

“Kanda, ana akan mempunyai adik loh!” ucap istriku. Sambil tersenyum mesra, dan

terlihat gembira.

Aku gembira. Tapi, entah apa maksudnya. Adik yang dimaksud itu. Apa istriku

mengandung. Atau Ummi yang mengandung.

“Sudah ya, kanda! Dinda pergi sebentar.” Ucapnya dengan tersenyum. Lambat laun

meninggalkan aku.

Aku ingin memanggilnya. Tapi mulutku keluh, tak bisa berkata apapun. Aku ingin

mengatakan Jangan tinggalkan aku. Tapi dia tetap beranjak dan tersenyum kepadaku.

Tak lama cahaya putih menyinari tubuhnya. Cahaya yang sangat kemilau dari tubuhnya.

Sangat indah sekali. Tapi aku tetap ingin memanggilnya. JANGAN TINGGALKAN AKU,

DINDA! Ucapku keras dalam hati. Tapi, istriku menghilang seketika. Bersama cahaya

putih indah yang berkilau. Aku tergagap. Seketika itu, aku langsung membuka mataku.

Kini, aku hanya melihat Abi dan Ummi. Yang menemaniku dengan terlihat sangat cemas.

Cahaya lampu dan beberapa orang berpakaian serba putih.

“Khalid, anakku! Engkau sudah sadar!” ucap Ummi terlihat gembira. Butiran air

mengalir dari mata Ummi.

Aku tersenyum lemas. Aku mencoba untuk bangun. Tapi “Ah…” sakit sekali tubuhku.

“Khalid, tetaplah berbaring. Tubuhmu masih belum cukup kuat. Kamu harus memulihkan

tenagamu dulu!” Abi memperingatkanku.

Aku hanya mengangguk. “Farah?” satu kata terucap dalam mulutku.

Abi dan Ummi saling menatap. Tersibak, wajah-wajah yang sangat mengkhawatirkan.

Wajah yang nampak hanya kesedihan, ketidakpastian.

“Antum istirahat saja dulu! Tidak usah mengkhawatirkan istrimu.” Ucap Abi.

Bagaimana aku tidak mengkhawatirkan istriku. Dia adalah orang yang paling

menyayangiku. Istriku adalah seorang bidadari yang akan sulit aku dapatkan didunia ini.

Bagaimana aku tidak mengkhawatirkannya. Dia adalah tulang rusukku yang hilang. Dia

adalah belahan jiwaku yang telah satu. Bagaimana aku tidak mengkhawatirkannya.

Hatiku tidak menerima semua ini.

 “Khalid. Antum, sudah jangan memikirkan Farah dahulu!” ucap Ummi.

Tapi bagaimana aku tidak mengkhawatirkan istriku. Sedangkan Ummi dan Abi terlihat

sangat khawatir.

“Abi, Ummi. Tolong jelaskan ada apa ini! Dimana Farah sekarang?” Aku benar-benar

bingung dengan semua ini.

Abi mendekatiku. Memegang lengan kananku. “Khalid, antum ditemukan oleh salah satu

binaan antum sendiri. Punggung antum tertusuk. Dan setelah itu antum, tidak sadarkan

diri selama empat hari. Selama itu, Zahra juga menghilang. Kami beberapa kali

menghubungi HPnya. Tetapi tidak pernah aktif. Kami sudah mencarinya, bahkan

melaporkan kepolisi. Tetapi sampai sekarang Zahra belum ditemukan.”

“HAH….!” Tubuhku terasa sangat lemas sekali. Semua ini memang salahku, kenapa aku

menyuruhnya lari dari perlindunganku. Benar, semua ini salahku. Pasti, Efendi dan

kawan-kawannya yang telah menculiknya.

Abi terlihat mengerti apa yang aku risaukan, betapa besar penyesalanku. “Khalid, ini

bukan salah antum! Ini takdir, semua ini hanya takdir. Sudah digariskan oleh Allah.”

Aku tetap merasakan perih yang mendalam, dihati ini. Entahlah, kepalaku terasa berat

sekali. Aku merasakan rasa pusing yang teramat sangat. Menyerangku tiada habisnya.

Dan, terlihatlah kegelapan itu kembali.

***

“Khalid. Sebenarnya aku sudah beberapa kali menghubungimu. Tetapi kamu, tidak

pernah ada dikontrakanmu. Aku juga sering mencari dikampus. Kamu, tidak pernah

datang kekampus. Aku tahu kabar kamu, dari teman-teman LDK. Kamu dirawat disini.”

Ujar Hendra. Yang terlihat mencemaskanku.

“Iya, terima kasih Hen! Sebenarnya, kamu ingin bicara tentang apa? Skripsi kamu? Atau

apa Hen!” jawabku.

“Khalid. Aku ingin mengatakan kepada kamu! Bahwa Nova menghilang. Dan, orang

yang dicurigai telah menculik Nova. Adalah kamu! Sejak saat itu, anak buah Papanya

Nova. Sibuk mencarimu! Makanya aku ingin memperingatkan kamu, agar kamu berhatihati,

terhadap mereka.” Jelas Hendra.

“Oh… jadi itu! Pantas Efendi bertanya seperti itu. Tapi aku pernah ditelphone oleh Nova

malam-malam. Dan dia terlihat khawatir sekali. Nova memberi tahukan rencana papanya

untuk mencelakaiku. Dan juga, Nova bilang. Kemungkinan dia tidak akan bertemu aku

lagi. Tapi anehnya, aku juga pernah ditelphone oleh seorang wanita malam-malam.

Diantara jam dua belas malam sampai jam tiga pagi. Tapi yang menerima telephone

teman-temanku. Saat itu, aku tidak berada dikontrakan.!” Jelasku juga, panjang lebar.

Meskipun Hendra memeluk agama Kristen. Tetapi aku percaya Hendra tidak akan

mencelakaiku. Karena aku tahu sifat Hendra. Dan Hendra, termasuk sahabat dekatku.

Walaupun kami berbeda keyakinan.

“Jadi, sekarang gimana?” tanya Hendra bingung.

“Entahlah! Aku juga bingung Hen. Istriku, hilang. Entah kemana dia! Aku sangat

mengkhawatirkan dia.”

“Kamu sabar aja, Lid! Seperti kata kamu. Tuhan itu memberikan cobaan, sesuai dengan

kemampuan hambanya. Aku yakin, kamu dicoba oleh Tuhan. Karena kamu mampu!”

“Insya Allah!”

Tak lama muncul beberapa orang memasuki kamar rawatku. Terlihat bang Jamal dan

kawan-kawannya.

“Assalamualaikum!” salam bang Jamal.

“Walaikumsalam!” jawabku, sambil tersenyum.

“Bagaimana kabar kamu Khalid!” tanya bang Jamal

“Alhamdulillah sudah agak mendingan, bang! Kabar bang Jamal sendiri gimana?”

tanyaku balik.

“Alhamdulillah! Baik-baik saja.” Jawab Bang Jamal. “Khalid, kita masih mencari

Efendi! Kalau Efendi sudah kami temukan. Lihat saja nanti.” Ucap bang Jamal dengan

menghantamkan tangan kanannya ditelapak tangan kirinya.

Aku tersenyum. “Bang Jamal tidak usah melakukan apapun, terhadap Efendi! Jika

memang bang Jamal sudah menemukan Efendi, bang Jamal tinggal serahkan saja ke

polisi.”

“Tidak, Khalid! Kami tidak akan melepaskan Efendi. Dia telah menghinaku. Dengan

mengeroyokmu, dia telah menantang perang.” Ucap bang Jamal berapi-api. Terlihat

kemarahan yang begitu besar.

“Iya, Bang! Tetapi alangkah damainya jika mengikuti aturan Negara ini. Aku nggak ingin

bang Jamal ada apa-apa nantinya.”

“Khalid. Meskipun aku dipenjara karena membunuh Efendi. Aku rela. Tapi aku tidak

akan pernah rela. Seorang saudaraku dizhalimi! Aku akan merasa terhormat jika, aku

masuk penjara karena membela hak saudaraku yang telah dizhalimi.”

 “Bang Jamal, aku takut jika yang terjadi balas-membalas masalah ini. Maka akan terjadi

isu sara yang akan membuat kacau daerah kita! Walau kita memang benar, tetapi tetap

kita tidak boleh membenarkan kekerasan yang sama dengan mereka. Tapi kita tetap

berjaga-jaga!”

“Tapi, Khalid. Ini kan juga termasuk jihad!” sergah bang Jamal. Serius.

“Iya bang, ini termasuk jihad! Tetapi Bang, sesungguhnya jihad pun banyak macamnya.

Dan seandainya bang Jamal melakukan sesuatu hal, yang bersifat kekerasan. Maka

bertambah sulitlah pemecahan permasalahan. Yang ada malah berlanjut kepada

kerusuhan. Ini sudah menyangkut sara bang! Abang bisa mencari Efendi. Tetapi jangan

menyakitinya. Bawah dia ke kantor polisi!” ucapku memang agak keras.

Bang Jamal terlihat berfikir kembali. “Baik Khalid, aku akan menurut kepadamu! Tetapi

tetap aku nggak akan pernah terima, kamu dizhalimi!”

“Iya bang, terima kasih!”

“Khalid. Aku ingin bertanya!”

“Iya, apa bang.”

“Kamu ternyata pintar beladiri yach!” ucap bang Jamal heran.

“Tidak, bang. Aku hanya bisa sedikit-sedikit!” ucapku merendah.

“hehe.. sedikit-sedikit, kok bisa melawan enam orang!”

Aku hanya tersenyum.

“Aku benar-benar tidak menyangka. Kalau kamu benar-benar pintar beladiri! Aku kira,

para ustad seperti kamu. Bisanya cuma bisa berdakwah saja!”

“Bang, jangan melebih-lebihkan! Aku hanya bisa sedikit-sedikit kok. Dan sebenarnya,

beladiri itu pun dakwah loh Bang. Rasulullah, adalah orang yang paling pintar

beladirinya. Masa, umatnya tidak bisa beladiri. Seharusnya para dai dan ustad itu, malah

harus dibekali dengan ilmu beladiri juga!” ucapku serius. “Ya. Jaga-jaga saja, kalau ada

preman yang menguji ustad itu!” sindirku.

“Hehe… iya! Seperti kamu dulu.” Ucap bang Jamal. Sambil tersenyum lebar.

“Oh, iya! Kenalkan temanku Hendra.” Ucapku sambil menunjuk Hendra.

Setelah bang Jamal bersalaman dengan Hendra. Mereka berdua berpamitan

kepadaku. Setelah semuanya pergi. Aku kini sendiri. Kembali teringat seorang yang aku

cinta. Istriku. Yaa Allah, wahai penggenggam ruh. Penggenggam segala apa yang ada

didunia. Lindungilah bidadariku. Lindungilah hambamu, lindungilah mujahidahmu. Yaa

Allah, pertemukan aku dengannya kembali. Berikanlah kebahagianku yang lalu. Bahagia

dengan bidadari yang engkau beri. Yaa Allah sesungguhnya, hanya engkah yang dapat

memberikan kebahagiaan. Tapi yaa Allah, aku meminta-Mu. Untuk mengembalikan

bidadari-Mu kepadaku. Engkau yang memberi, Engkau pula yang mengakhiri. Maka

janganlah Engkau akhiri pemeberian-Mu kepadaku.

***

“Gimana Akh! Enak nggak dirawat disini?” tanya Samsul disela-sela berjalan dikoridorkoridor

rumah sakit. Mengantarku pulang.

“Ya, enak juga. Banyak yang dapat ana ambil hikmahnya!”

“Ada, perawat yang akhwat nggak akh!” ucap Deni sambil nyengir.

“Huu… maunya!” ucap kawan-kawanku serempak. Bagaikan paduan suara.

“Banyak, akh! Semua perawat disini rata-rata akhwat.” Jawabku sekenanya. “Nah itu dia!

Perawat akhwat!” lanjutku, sambil menunjuk seorang perawat yang memakai baju putih

rok pendek dan bertopi kecil putih.

Seketika itu teman-temanku tertawa. Perawat yang aku tunjuk itu melihat kami. Terlihat

salah tingkah sikapnya.

Itulah, kata akhwat sudah menjadi hegomoni seorang yang berjilbab besar. Padahal,

akhwat atau pun ikhwan. Hanyalah kata bahasa arab biasa. Yang berarti wanita atau

pria. Jika kata-kata ikhwan dan akhwat itu terus bermakna aktivis dakwah. Janganjangan

malah kata-kata itulah yang membuat dakwah tidak berjalan dengan lancar.

Jangan-jangan, kata itulah yang telah mempersulit dakwah. Jangan-jangan, kata itulah

yang membuat dikotomi sesama umat Islam. Jangan-jangan, sudah terjadi pembedaan.

Jangan-jangan, akan mudah mengakibatkan perpecahan umat. Jangan…..

“Akh, itu! Keluarga antum sudah datang.” Ucap Samsul, mengagetkanku.

Abi dan Ummi. Terlihat menjemputku. Mercades hitam, tetap setia mengantar Abi dan

Ummi.

Dalam perjalanan pulang. Aku terus mengingat istriku. Disetiap laju mobil ini,

aku masih teringat dengan jelas kenangan bersamanya. Bidadariku. Bayang-bayang

istriku terus terpusat dalam relung benakku. Sudah satu bulan aku dirawat dirumah sakit.

Tetapi tetap, istriku masih belum ditemukan.

***



Hari demi hari, aku lalui. Sebongkah harapan yang sia-sia. Sudah empat bulan,

istriku tidak ditemukan. Efendi pun, belum ada kabar ditangkap oleh aparat atau oleh

bang Jamal dan kawan-kawannya. Hati ini bagai tersayat belati yang tajam. Dimana

cinta, saat-saat hidup hambar tanpanya. Aku ingin dia kembali.

Setiap detik dakwahku, kini kujalani tanpa seorang bidadari. Aku kini kembali

sendiri. Menapaki dakwah-dakwah yang terus berjalan sesuai dengan waktu yang telah

digariskan. Aku tetap harus bangkit. Meskipun bidadariku tak kunjung datang. Entahlah

dimana dia. Yang terpenting, semoga Farah tetap dilindungi Allah swt.



JILID 15

Tak terasa, sudah enam bulan aku sendiri. Tetapi tetap, aku harus berkreasi. Di

pagi yang cerah ini. Aku nikmati segalanya. Kehangatan cahaya mentari, burung-burung

yang berikicauan. Kini aku sudah tidak berada dikontrakan lagi. Rumah Farah kini aku

tinggali sendiri. Abi dan Ummi sedang memperdalam ilmu agama di Mesir.

Koran adalah sarapan pertamaku, disamping juga teh hangat dan gorengan

dimeja. “Seorang tewas, tertembak dibagian kepalanya.” Tertulis kecil dibarisan bagian

kriminal. Foto mayat itu terpampang jelas. Lelaki tambun bertato. Berwajah garang dan

bengis penuh kebencian. Apakah benar ini Efendi? Gumamku dalam hati. Aku tak

percaya apakah itu benar-benar terjadi. Apakah itu benar-benar Efendi. Efendi telah mati

tertembak. Tepat dikepalanya. Aku benar-benar kaget. Seorang yang aku cari-cari, kini

telah tertembak mati.

“Tluutt….Tluttt…..” Bunyi HPku. Tertulis di LCD “Bang Jamal”

“Hallo… Assalamualaikum!” jawabku.

“Walaikumsalam…! Gimana kabar kamu Khalid?” ucap bang Jamal diujung sana.

“Alhamdulillah baik-baik saja Bang! Bang Jamal sendiri?”

“Aku juga baik-baik saja! Sudah lihat koran hari ini?” tanya bang Jamal. Terlihat

gembira.

“Sudah bang! Efendikan?” ucapku memastikan.

“Iya benar!”

“Siapa bang yang melakukan?” tanyaku penasaran.

“Yang penting aku sudah berjanji kepada kamu, Khalid! Untuk tidak membunuh Efendi.

Tapi Insya Allah ada banyak tentara Allah yang siap menghabisi murtadin yang sudah

nyata-nyata menyatakan perang terhadap umat Islam” kilah bang Jamal.

“Iya, pasti banyak tentara-tentara Allah!” ucapku pasrah.

“Kamu tenang aja, Khalid! Teman-teman Efendi sudah akan dihabisi juga. Beberapa

orang telah kami bawa ke Polisi. Yang lain, yang melawan. Kami habisi.” Bang Jamal

pasti.

“Bang, saya ingatkan. Hati-hati, Islam juga melarang umat Islam membunuh seorang

yang sudah menyerah. Atau bahkan menyiksa tawanan perang. Islam tidak membenarkan

hal itu! Karena Rasulullah sudah berpesan untuk tidak pernah membunuh musuh yang

sudah menyatakan dirinya menyerah.”

 “Iya, Khalid! Kami akan menuruti apa kata kamu. Kami akan kasihkan kepolisi

langsung! Ok, aku hanya mengabari itu aja kok. Tidak akan pernah aku rela, saudaraku

dizhalimi! Meskipun dia lari keujung dunia sekalipun. Aku akan mencarinya!”

“Iya, bang! Tetap semangat. Dan tetap istiqomah!” ucapku.

“Ok! Baik-baik ya, Khalid! Assalamualaikum..!” seketika itu, bang Jamal langsung

mematikan hpnya.

“Walaikumsalam!” Jawabku pelan.

Kini Efendi sudah pergi. Dijemput oleh malaikat Izra’il. Semoga dia masih

mendapatkan pengampunan. Tapi, meskipun Efendi telah mati. Istriku belum kembali.

Atau mungkin tak akan pernah kembali! Semoga dia tetap mengingatku.

“Ting…Tung” bunyi bel rumah. Membuatku tersentak dari lamunan. Segera aku beranjak

untuk membukakan pintu.

Hem, paling-paling Samsul. Dia ingin memberitahukan tentang Efendi. Basi! Pikirku.

“Assalamualaikum” ucap Samsul. Saat aku baru setengah membuka pagar.

“Walaikumsalam! Masuk akh.” Ucapku.

“Nggak, ana sebentar aja kok! Ana hanya mau”

“Mau memberitahu apa ana sudah baca berita koran hari ini!” selaku.

“hehe… iya!” jawabnya cengengesan.

“Udah..!” jawabku. Sambil menganggukkan kepala.

“Oh…! Lalu gimana?” tanya Samsul penasaran.

“gimana apanya?” ucapku balik.

“ya itu! Anak buahnya sudah ketangkap belum?”

“Kelihatannya sudah! Bang Jamal, sudah menemukan mereka!”

“Oh! Bagus lah” ucapnya singkat.

“Nggak mau masuk beneran?” tanyaku penasaran.

 “Nggak, Akh! Ana cuma, mau mengajak antum. Di LDK ada dauroh, tapi sayang ada

satu murabbi yang berhalangan hadir! Antum siap gantiin?” ucap Samsul, terlihat serius.

Sayang juga kalau aku melepaskan amanah yang besar ini. “Ok, ana bisa!” jawabku

sambil menganggukkan kepala. “kapan, waktunya?”

“Ya hari ini. kira-kira setengah jam lagi!” jawabnya. Terlihat pasrah. Takut kalau aku

nggak siap dengan materinya.

“Ok. Sekarang! Ayo berangkat!” ucapku. Sambil langsung menutup dan mengunci pagar

rumah.

“Alhamdulillah…!” Samsul terlihat sangat senang dengan jawabanku.

***

“LDK, merupakan lembaga yang representative dalam mewujudkan cita-cita berdakwah

dalam kampus. Di LDK, anggota-anggotanya tidak harus sudah mengerti tentang ajaranajaran

Islam. Tetapi yang terpenting anggota-anggota LDK, siap dan mau untuk belajar

serta mengamalkan ilmunya. Baik ilmu agama dan ilmu umum, untuk diterapkan dan

diajarkan serta diamalkann kepada masyarakat. Jadi dakwah kita ini, tidak harus

dimonopoli oleh segelintir orang. Tetapi, malah lebih bagus bila banyak orang-orang

yang terlibat aktif dalam dakwah kita! Baik, ada yang bertanya?” ucapku. Setelah

panjang lebar memberikan materi keLDK an.

Terlihat salah satu mahasiswa yang mengangkat tangannya.

“Iya! Silakan.” Jawabku.

“Assalamualaikum…! Saya ingin menanyakan tentang rutinitas LDK di kampus ini. Dan

setelah saya menjadi anggota LDK, keuntungan apa yang bisa saya dapatkan? Itu saja

terima kasih”

“Hem… terima kasih atas pertanyaannya! Rutinitas kegiatan LDK dikampus ini, sangat

beragam. Mulia dari sholat berjama’ah, kajian rutin, riyadho atau olah raga, rihla atau

rekreasi rohani dan pelatihan-pelatihan. Sebenarnya kalau di jelaskan kegiatannya, sangat

banyak sekali. Yang terpenting, kegiatan-kegiatan tersebut adalah upaya untuk

memberikan Tarbiyah kepada kita. Semua itu untuk dapat meningkatkan tingkat

pemahaman dalam pengetahuan agama kita. Jadi, kegiatan-kegiatan kita. Tidak hanya

melakukan pengajian semata. Tetapi juga pelatihan-pelatihan. Dengan begitu kita dapat

meningkatkan intelektualitas kita dibidang lainnya. Karena dakwah itu sangat penting.

Dan berdakwah itu banyak sarananya. Maka kita harus memakai sarana yang dapat kita

pakai untuk dapat meningkatkan dakwah itu sendiri! Keuntungan yang akan anda

dapatkan, pastilah sangat banyak. Saya tidak bisa menyebutkan keuntungan itu sekarang.

Karena keuntungan yang didapatkan, adalah terletak dari segi apa yang anda inginkan!”

jelasku. Panjang lebar.

Peserta-peserta LDK itu memang terlihat sangat bersemangat memperhatikan apa yang

disampaikan oleh pembicara. Sejak awal, hingga akhir. Mereka sangat menyimak, materi

yang telah diberikan kepada mereka. Beberapa ada yang tidak fokus memperhatikan

materi. Ngantuk, melihat-melihat sekeliling atau berbicara dengan temannya tanpa

memperhatikan pembicara. Tetapi itu pun, tidak berlangsung lama. Karena panitia

langsung tahu apa tindakan selanjutnya jika acara terlihat membosankan. Dengan

menciptakan beberapa permainan yang dapat merangsang otak kanan untuk kembali

aktif. Sehingga acaranya bisa benar-benar membuat pengalaman baru buat mereka.

Beberapa akhwat, teman-teman istriku. Bertanya tentang kondisiku,

perkembangan pencarian istriku, memberikan support untuk selalu sabar dan

blaa….bla…

Itu membuatku teringat kembali. Teringat bidadariku lagi. Teringat masa-masa

kasih dan sayangku berpacu dan beradu dengan kesetiaan sang bidadari. Apalagi teringat

senyum sang bidadari. Sungguh benar-benar menjadi penghangat kalbu dalam segala

kondisi. Apalagi menjadi penyembuh dalam segala hal penyakit yang aku alami. Tapi

entah dimana bidadariku. Kini dia telah berlari dalam keremangan malam, yang akhirnya

tak kembali. Bidadariku berlari dan terus berlari dalam keremangan malam. Keremangan

saat aku melihat terakhir kali bersamanya. Memegang erat tangannya. Merasakan

ketakutanku teramat dalam, jika istriku tertanggakap oleh Efendi. Semua sudah berakhir.

Beberapa ikhwan lebih banyak memberikan dukungan moral. Dukungan moral

untuk mencari pengganti bidadariku. “Untuk saat ini, ana belum bisa dan belum siap

mencari penggantinya!” itulah jawaban yang selalu aku lontarkan kepada para ikhwan.

Ikhwan-ikhwan yang belum mengetahui rasa sebuah cinta didalam hati. Cinta yang

dianugerahkan Allah untuk makhluk-Nya, yang kini entah dimana. Lama aku berada

disini, membuat keteringatanku muncul kembali. Menghiasi rongga fikir yang hampir

terselubungi oleh kegelapan.

Lelah, aku sudah lelah berbincang tentang semua ini. Aku ingin kembali. Kembali

berada pada bayang-bayang istriku lagi. Kembali pulang dan menikmati indahnya

kemesraan dalam kenangan.

***

Aku masuk kedalam rumah besar itu. Rumah yang terisi dengan kenangan indah.

Tetapi sekarang, suram semuanya. Keindahan yang aku inginkan hanya menjadi impian

dan kenangan. Kerinduan yang teramat dalam, selalu keluar dalam ingatan. Setiap kali

aku memandang segala yang berada dirumah besar ini.

“krucukk….krucukk..”

Hem, kelihatannya perut ini sudah mulai berdendang. Mengeluarkan nasyid yang

berpadu dalam alunan melodi yang tak beraturan.

Segera saja aku menuju ruang makan. Ruang yang setiap makan siang,

dihidangkan dengan kelezatan masakan bi Iyem. Seorang karyawan yang bertugas

memasak. Biasanya disebut pembantu. Tetapi kalau dirumah ini disebut, karyawan.

Terlihat masakan yang sangat lezat. Ayam goreng yang dibumbui dengan aneka

rasa. Entah apa nama bumbu itu. Yang penting terlihat lezat sekali. Apalagi aroma

makanannya sangat menyengat sekali dihidung. Hem. Sungguh nikmat sekali. Apalagi

ada sambal terasinya, dan lalapan. Oh itu ada sayur asam, dan ikan pindangnya juga.

Enak sekali. Ini waktunya untuknya untuk makan enak. Memang seharusnya, yang

berhak makan enak dan banyak gizinya. Itu adalah para da’I dan para ustad. Karena

sangat butuh banyak tenaga dalam berdakwah. Pikirku sambil mencium aroma makan

yang tersedia dimeja makan.

Tanpa komando lagi. Setelah berdoa. Aku langsung menyantap makananmakanan

itu dengan lahap. Dengan penuh kenikmatan. Benar-benar tidak salah

memperkerjakan bi Iyem. Entah kenapa perut terasa sangat lapar. Wah, ini pasti ujian

kenikmatan dari Allah. Gumamku dalam hati.

Terdengar suara bi Iyem keluar dari dapur. Sudah biasa, bi Iyem pasti menawarkan aku

minuman.

“Enak nggak, Kanda!”

“HA....” Seketika itu juga aku terdiam. Saat menyantap makanan dengan lahapnya. Aku

terperana. Suara itu. Suara bidadariku. Apakah benar aku tidak bermimpi. Apa benar ia

telah kembali.

“Jawab dong Kanda! Enak nggak masakan Dinda!” ucapnya dengan penuh kemanjaan.

Ya Allah benarkah ia! Apa benar dia bidadariku? Apakah dia benar-benar Engkau

kembalikan kepadaku? Seketika itupun, aku balikkan badanku kebelakang.

Dia tersenyum, wajahnya seperti yang dulu. Sangat cantik. Terlihat binar matanya,

menandakan kerinduan yang teramat dalam. Butiran air keluar dari pelupuk matanya.

Apakah aku tidak bermimpi? Ya Allah apakah Engkau benar-benar memberikan mimpi

yang teramat indah ini? Jika benar ini mimpi, jangan bangunkan aku ya Allah.

“Kanda, kok diem aja sich? Dinda kangen!” ucapnya dengan penuh manja.

“A..pa benar…. A..pa benar. Apakah ana tidak bermimpi!” ucapku terbata-bata.

Serta mertapun istriku langsung memelukku. “Kanda, afwan. Ana meninggalkan kanda!

Ana sangat mencintai kanda! Ana benar-benar telah membuat kanda tersiksa! Maaf kan

dinda, Kanda!” ucap istriku dengan tangisan kebahagiaan.

 “Dinda, ana kangen sekali! Ana benar-benar sangat lemah, saat dinda tidak berada disisi”

“Iya, afwan kanda! Ana, sangat menyesal”

Sejenak aku tatap wajah istriku. Benar-benar sangat cantik.

“Dinda! Apakah dinda tidak apa-apa?” tanyaku penasaran.

Istriku menggelengkan kepalanya. “Alhamdulillah ana baik-baik saja!”

“Anti selama ini dimana? Apakah anti benar-benar telah diculik oleh Efendi?”

Istriku tersenyum, lalu menggelengkan kepala lagi. “tidak kanda! Ceritanya panjang.

Nanti saja ceritanya. Ana mau memperkenalkan seseorang!”

“Siapa, dinda?” tanyaku penasaran.

“Ukhti, mari masuk saja!” panggil istriku.

Tak lama, datang seorang wanita. berjilbab besar menutupi auratnya. Terlihat dia

menundukkan wajahnya. Tetapi sebenarnya aku pun tidak begitu memperhatikannya.

Biasa, jaga image didepan istri.

“Kanda, kenalkan. Ukhti Nova!” ucap istriku.

Saat terdengar namanya. Aku langsung menatapnya dengan tajam. Aku merasa sangat

kenal dengan ukhti itu. Aku merasa pernah melihat dia sebelumnya. Seperti, seorang

akhwat yang aku lihat dipengajian kampung binaanku. Desa kumuh itu. Aku ingat, benarbenar

wajahnya mirip sekali. Tetapi aku juga, merasa bahwa dia adalah Nova. Gadis

Kristen itu. Apakah benar dia? tanyaku dalam hati.

“Assalamualaikum…!” ucap Ukhti Nova.

“W..alaikumsalam!” aku benar-benar tergagap untuk menjawab salamnya.

“kenapa, suamiku!” ucap istriku manja. Seperti cemburu.

“Ah, tidak. Ana hanya teringat seorang teman saja!” jawabku sekenanya.

“Teman, apa teman!” goda istriku. Sambil mencubit pinggangku.

“Iya teman!” ucapku sambil tersenyum. Sakit.

Nova hanya tersenyum.

***

Malam telah menghanyutkan kami berdua. Aku dan istriku. Sudah sangat lama

aku tidak merasakan kehangatan belaian kasih sayang istriku. Ini benar-benar kenikmatan

yang telah diberikan Allah kepadaku. Setelah ujian yang sangat berat aku lalui. Karena

sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Sungguh besar nikmat Allah.

“Kanda. Kanda kangen nggak sama dinda?” ucap istriku dengan manja.

“Dinda, ana begitu benar-benar tersiksa saat anti menghilang! Ana benar-benar tidak

bersemangat sekali”

“Iya, dinda tahu!”

“Ha! Dinda tahu?” ucapku penasaran.

“Selama ini, dinda hanya pergi sebentar. Saat kanda menghadapi Efendi dan kawankawannya.

Ana benar-benar takut. Saat itu ana mencemaskan kanda. Tapi setelah ana

lari. Ana malah teringat dengan ukhti Nova. Sebenarnya ana sudah lama membina ukhti

Nova. Hanya saja, ana masih merahasiakannya. Ukhti Nova lari dari rumah itu pun atas

usul ana. Sekarang ukhti Nova tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Ana takut jika nanti

ukhti Nova pulang. Malah tambah parah keadaannya.”

“Hem jadi akhirnya, anti rela mengorbankan ana!” ujarku dengan memalingkan muka.

“Kanda. Bukan begitu maksud ana!” ucapnya dengan membelai pipiku. “Ana rasa, kalau

kanda lebih mampu menghadapi musibah daripada ukhti Nova.”

“Hem, lalu selama ini anti ada dimana?”

“Ana berada dirumah kita yang kedua! Selama ini ana terus memantau kanda. Kanda

kemana, dimana, sama siapa. Ana mengetahui segalanya. Apalagi saat kanda berada

dirumah sakit. Ana tetap memantau kanda.” Ucap istriku serius.

“Wah dinda, berbakat juga jadi spionase yach!”

Istriku tertawa kecil. “Ana hanya menjaga suami aja kok, kanda! Oh, ya. Ana baru tahu,

kalau kanda benar-benar pintar beladiri! Kanda, kok tidak pernah cerita kalau kanda bisa

beladiri?”

“Siapa dulu, kanda!” ucapku sambil menepuk dada.

“Iya, siapa dulu. Suami dinda!” sahut istriku, dengan berasandar didadaku. “Kanda,

sayang. Dinda ingin meminta tolong! Bisa nggak?”

“Apa, sayang!”

 “Boleh nggak ukhti Nova tinggal disini!” tanya istriku dengan sangat menjaga

ucapannya.

“Loh itu kan terserah anti, ini kan rumah anti!”

“Kanda, sayang! Ini rumah kita, bukan hanya rumah ana” ucap istriku bernada kesal.

“afwan sayang, iya-iya. Ini rumah kita!” jawabku, sambil membelai mesra rambut istriku.

Senyumnya kembali merekah. Sambil kembali bersandar didadaku. “Kanda, apa boleh

ukhti Nova tinggal disini?” tanya istriku lagi.

“Iya boleh dong, dinda!”

“Maksud ana, boleh nggak ukhti Nova tinggal di rumah ini!” tanya istriku sekali lagi.

“Iya sayang, boleh!” jawabku mempertegas.

“bukan itu, maksud ana!” ucap istriku terlihat kesal karena ketidaktahuanku. Setelah

mendesah, istriku mengatakan “maksuda ana, kanda mau nggak menjadi suami ukhti

Nova!”

“Ha…!” seketika itu pun aku terperanga. Aku tidak percaya dengan ucapan istriku.

Entahlah pikiran apa yang terlintas dibenak istriku.

“Kanda! Mau nggak?” ucapnya, seraya menggoyang-goyangkan tubuhku. Dengan tetap

bersifat manjanya.

“Apa maksud anti?” tanyaku heran.

“Tidak ada maksud apapun! Ana hanya ingin kanda menikahi ukhti Nova. Itu aja!”

jawabnya polos.

“Sayang-sayang, anti nggak apa-apa kan?” tanyaku penasaran. Dengan memperhatikan

wajah istriku, sambil memegangi kepalanya.

“KANDA! Ana nggak kenapa-napa.” Ucapnya sedikit keras.

Aku terdiam sesaat sambil melihat tajam kearah istriku.

Sesaat istriku menarik nafas panjang. Dengan sedikit mendesah istriku mengatakan.

“Kanda, ana hanya ingin menjadi muslimah yang baik! Muslimah yang menyayangi

saudara sendiri! Ana nggak ingin menjadi akhwat yang egois. Ana ingin membagi

kebahagiaan yang ana miliki bersama kanda. Dengan membaginya kepada akhwat lain!

Kanda, sungguh ana tidak kenapa-napa. Ana tidak punya penyakit yang kronis apalagi

bosan terhadap kanda. Sehingga dengan mudah ana mau melepaskan kanda. Kanda, ana

memang sangat menyayangi kanda. Ana sangat bahagia bersama kanda. Tetapi, saat-saat

kebahagian yang kita pupuk bersama. Ada segolongan akhwat, yang tidak merasakan

kebahagiaan kita. Mungkin ini berat bagi ana. Dan memang itu sangat berat bagi ana.

Untuk mengikhlaskan kanda membagi rasa kasih sayang, yang kanda punyai. Kanda,

sesungguhnya semua ini ana lakukan, karena ana sayang terhadap saudara ana yang lain.

Ana ingin akhwat lain, juga merasakan kebahagiaan kita. Kanda, sesungguhnya poligami

itu juga termasuk rahmat dari Allah, dan merupakan sebuah langkah dakwah. Dan apakah

kanda lupa, bahwa surga adalah jaminan bagi wanita yang mengikhlaskan suaminya

untuk menikah lagi!” Istriku tertunduk. Terlihat jelas, butiran-butiran intan yang berada

dimatanya berjatuhan.

Aku tertunduk lesuh. Amanah yang diembankan istriku, terlalu berat. “Sayang, ana takut.

Ana takut, jika ana tidak bisa berlaku adil!”

Istriku memelukku erat. “Kanda, ana yakin antum bisa berlaku adil. Sesungguhnya,

penilaian adil dan tidaknya. Hanya ana yang bisa merasakannya. Saat bersama kanda, ana

semakin yakin. Bahwa kanda bisa berlaku adil. Ya, meskipun kanda tidak dapat berlaku

adil masalah hati. Tetapi yang penting adil dalam pandangan syari’at sudah kanda jalani.

Ana sangat ikhlas.”

“Sayang, ini sangat berat!”

“Kanda, ana akan membantu mengingatkan kanda. Jika suatu saat kanda akan berbelok

arah jalan. Ana siap menjadi jaminan.”

“Hem..!” desahku. Aku benar-benar bingung. Semula, sebelum nikah. Aku merasa

mudah untuk berpoligami. Tetapi saat sudah menikah dan mendapatkan Farah Zahrani.

Aku merasa cukup, untuk hanya memeliki satu istri.

“Mau, ya! Jika memang kanda menyayangi dinda. Ana mohon, kanda bersedia!” paksa

istriku. Jemari-jemarinya memegang erat jemariku. Layaknya menguatkan aku untuk

mau menerima permintaannya. Permintaan yang sangat berat sekali.

Aku hanya menganggukkan kepala, tanda menyetujuinya. Meskipun dengan

keterpaksaan. Tetapi tetap aku harus bisa, berlaku adil.

Istriku tersenyum. Meskipun jelas dimatanya, terlihat gejolak yang sangat besar

dihatinya. “Terima kasih kanda, sayangku!”

“Lalu kata Abi dan Ummi nanti?” tanyaku bingung. Benar-benar masalah yang sulit,

kata-kata apa nanti yang terucap dari mertuaku. Mungkin, “sudah dikasih harta, istri

yang sholeh dan cantik. Masih saja belum cukup!” pikirku.

“Abi sudah mengatakan, “Terserah jalan yang kau pilih, jika itu baik menurutmu maka

lakukanlah.” Dan Ummi mengakatan “Alhamdulillah, anakku sudah dewasa. Dan

sekarang menjadi wanita yang hebat!” itulah ucapan beliau berdua” ucapnya dengan

senyum.

“Ha… Anti sudah mengatakannya! Berarti selama ini Abi dan Ummi tahu keberadaan,

dinda?” tanyaku semakin bingung.

“Iya! Abi dan Ummi sudah tahu lama keberadaan ana. Saat hari kelima, kanda dirawat

dirumah sakit. Ana langsung menghubungi Abi dan Ummi untuk tidak khawatir tentang

keberadaan ana. Dan tetap, keberadaan ana tidak boleh diberitahukan kepada siapapun.

Termasuk, kanda!” jelas istriku.

***

Pernikahan keduaku sudah terlaksana. Wali dari istriku yang kedua, Maria Nova.

Adalah petugas dari KUA. Pernikahan keduaku berjalan baik, beberapa teman-temanku

datang memberi selamat. “Wah, ditinggal istri, malah dapat dua istri!” bisik Samsul.

Beberapa teman-teman Nova dari UK3 (Unit Kegiatan Kerohanian Kristen Katolik) juga

hadir, memberikan selamat. Termasuk Hendra. Rasa kekeluargaan masih tetap berjalan

baik, meskipun keyakinan kami sangat berbeda. Tetapi tetap, dalam koridor hubungan

sesama masyarakat. Istri pertamaku, Farah Zahrani. Terlihat wajahnya sangat gembira,

meskipun matanya menyiratkan sebuah kegundahaan. Kegundahan seorang wanita,

seperti kegundahan kecemburuan ibunda Aisyah.

Satu bulan setelah aku menikah. Aku pulang kedesa, dengan membawa kedua

bidadariku. Dua sayap, yang akan senantiasa memberikan jalan kesejukan. Yang akan

mengajakku terbang, kedalam singgasana Ilahi. Tetapi, tetap. Kedua sayapku merupakan

amanah yang sangat besar, diembankan oleh Allah kepadaku. Jika aku tidak dapat

berlaku adil. Maka, nerakalah tempat bagi manusia yang tidak bisa berlaku adil.

Bapak dan Ibu sempat kaget, saat aku memberitahukan tentang kedua istriku.

Tetapi setelah itu, Bapak dan Ibuku menjadi orang tua yang sangat berbangga sekali. Saat

melihat bagaimana sifat akhlak kedua istriku. Apalagi, hanya aku didesa yang masih

muda tetapi sudah mempunyai dua istri. Selain pak Haji Ridwan yang beristri dua juga.

Tetapi itu semua bukan karenaku, karena Allah yang telah membimbing mereka kedalam

jalan-Nya. Nurul, terlihat sangat gembira. Karena, selama ini yang diidam-idamkannya

telah terwujud. Yaitu, mempunyai kakak perempuan. Bahkan, lebih baik daripada apa

yang diimpikannya.

Dan ternyata benar. Nadia, ustadzah Nurul. Adalah teman istriku Farah Zahrani.

Yang bernama Nandia. Sempat aku dan kedua istriku, bersilahturahmi dipengajian yang

dibina oleh Nandia. Tetapi tak lama, aku dan istri-istriku bergegas pulang. Karena masih

banyak amanah yang belum sempat dikerjakan. Dalam perjalanan pulang, akupun

mengatakan kepada istri-istriku “bagaimana, bidadari-bidadariku! Siap untuk menambah

saudara lagi nggak!”

 “Ih.. maunya! Dua belum cukup yach.” Serempak jawaban tanpa komando. Dan beberapa

cubitan pun, mendarat dipinggangku.

“Aduh…. , Sakit sayang!”



BIOGRAFI

Penulis mempunyai nama pena Blackrock1, nama pena ini diambil berdasarkan

kebiasaan pada saat Blackrock1 sebagai nama Chatter si penulis dahulu. Blackrock1

merupakan sebuah nama yang berarti “Batu Hitam” dengan maksud sebagai penafsiran

bahwa Batu Hitam atau Blackrock ini merupakan Hajjar Aswad yang ada di Mekkah,

yaitu sebagai batu pemersatu umat Muslim sedunia. Dan angka satu diambil karena

berdasarkan penafsiran bahwa agama yang haq di dunia ini hanya “1” yaitu ISLAM.

Karya Blackrock1 di terbitkan di Deteksi Jawa Pos dan majalah Khazanah sebagian besar

untuk kalangan sendiri termasuk dimedia kampus. Berikut biografi lengkap tentang

Blackrock1 :

Nama Pena : Blackrock1 / Jaisy01

Nama : Fajar Agustanto

Alamat : Jl. Kepodang 56 Larangan Candi Sidoarjo JATIM 61271

No Telp : 081330261804

Agama : Islam

Jenis Kelamin : Laki – laki

Motto : Semangatku adalah jihadku dan jihadku adalah gerakku,

gerakku adalah kekuatanku, kekuatanku adalah Allahu

Akbar.

Email : Fajar212000@yahoo.com

Tokoh Idola :

- Muhammad Saw, Hasan Al Banna, Nashurudin Al bani, Yusuf

Qaradhawi

- Kh. Ahmad Dahlan, Muhammad Natsir, Buya Hamka.

Pengalaman Org :

- Tapak Suci Putra Muhammadiyah (Pencak Silat) 1998 - 2003

- Sekretaris PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Komisariat

Ubhara Surya 2002 - 2003

Fajar Agustanto (Blackrock1/Fajar001/Jaisy01)

www.ggs001.cjb.net

- Sekretaris DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) Fakultas Hukum

Ubhara Surya 2002 – 2003

- Anggota KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia)

Institut Teknologi Sepuluh Nopember

- Ketua FMM (Forum Mahasiswa Muslim) Ubhara Surya 2003 – 2004

- Menristek BEM Ubhara Surya 2003-2004

- Sekretaris UKKMI (Unit Kerohanian Keagamaan Mahasiswa Islam)

Ubhara Surya 2003 – 2004

- Kabid Pengkaderan Organisasi DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa)

Fakultas Hukum Ubhara Surya 2003-2004

Tidak ada komentar:

Posting Komentar